Kitab Tasauf

Terjemahan Kitab Idhotun Nasyi’in

SANJUNGAN DAN KRITIKAN

Saya telah melihat banyak orang yang senang mendengar pujian, meskipun pujian itu berisi kebatilan (palsu), dan susah hatinya jika mendengar kritikan, meskipun kritikan itu sarat dengan kebenaran. Hal yang demikian, timbul dari jiwa yang sudah tertipu oleh dirinya sendiri dan suka melakukan kebatilan.

Orang yang tertipu oleh dirinya sendiri itu, pasti beriang gembira jika dipuji, menari-nari jika mendengar pujian dan bergoyang-goyang kepalanya tatkala mendapat pujian. Pujian baginya ibarat arak yang jika telah merasuk dalam jasadnya, maka dia mengira telah berhasil memiliki bumi dan seluruh isinya. Padahal semestinya dia tidak memiliki hak apa-apa, kecuali harus ditempeleng dan ditinju, jika yang memuji itu jujur dan adil. Apabila ada seseorang mengritik pekerjaannya dan menerangkan kepadanya tentang pekerjaan yang sebenarnya, maka dia cemberut, bermasam muka, memalingkan muka, dengan penuh kesombongan, marah-marah, lalu berteriak-teriak dan menghardik-hardik.

Adapun orang yang berakal dan bijak, dia tidak suka dipuji oleh siapa pun, sebab orang memuji itu pasti hanya menyebut tentang kebaikan-kebaikan orang yang dipujinya dan pasti menutup-nutupi kejelekannya. Padahal setiap itu sebenarnya lebih mengetahui kebaikankebaikan yang dimilikinya, sehingga tidak perlu dikukuhkan (dengan pujian-pujian). Bahkan orang yang berakal dan bijak itu merasa lebih senang melihat ada pendapat yang menandingi atau menentangnya melalui kritikan yang sehat atau yang bersifat membangun. Sebab orang yang mengritik itu selalu mengemukakan kekurangan-kekurangan Orang yang dikritik, mengungkap kekeliriruan-kekeliruan dan menjelenterehkan kesalahan-kesalahannya, sehingga dengan kritikan itu dia terus mengetahui kekurangan, kekeliruan dan kesalahan dirinya. Akhirnya dia segera menjauhi segala kekurangan dan kesalahannya. Dengan demikian dia semakin berkurang cacatnya dan semakin bersih dari sifat-sifat negatif. Jika demikian, maka benarlah kata-kata mutiara:

“Temanmu yang sejati ialah orang yang berkata benar kepadamu, bukan orang yang selalu membenarkan ucapanmu.”

Andaikata tidak ada kritikan, maka banyak orang-orang yang bingung tertipu oleh nafsunya, banyak melakukan perbuatan-perbuatan dosa, menyimpang dari kebenaran dan banyak di antara mereka melakukan apa saja menurut kemauan hawa nafsunya. Kritik merupakan jalan ‘ yang lurus dan bukti paling kuat (untuk menilai adanya penyelewengan, pelanggaran, kesalahan dan sifat negatif lainnya). Dengan adanya kritik, semua kebenaran akan menjadi murni, keutamaan menjadi tampak jelas, kebatilan menjadi sirna dan benih-benih kesesatan menjadi lenyap.

Apabila suatu umat sudah berani melemparkan baju kebodohannya dan membebaskan akal pikirannya dari belenggu-belenggu kelemahan, lalu bekerja keras untuk mencapai kemakmuran, hingga mencapai kemajuan yang pesat, maka penyebabnya tidak ada lain, kecuali keberanian mereka menyampaikan dan menerima kritikan.

Sebaliknya, apabila suatu umat telah tertipu oleh manisnya pujian, yang terlena sebab pujian dan terbius oleh morfin sanjungan, maka umat itu akan tergilas oleh perubahan-perubahan Jaman dan akhirnya hancur sebab diterpa berbagai krisis.

Rahasia hidup dan mati suatu umat atau bangsa, tergantung adanya kritik. Sebab, kritik itu hakikatnya dapat membangkitkan cita-cita, mendorong seseorang menjauhi segala kekurangan dan keburukannya, memaksa setiap orang untuk terus bekerja, agar dia menjadi orang terpuji di hari kemudian. Orang itu mencurahkan segala kemampuannya untuk dapat menjadi orang yang maju tanpa kenal lelah dalam mewujudkan amal baik yang mendatangkan kebahagiaan di dunia dan akhirat, mendatangkan kemanfaatan dan kemaslahatan untuk dirinya sendiri dan umat di dunia dan akhirat.

Adapun sanjungan atau pujian -terutama sanjungan yang paling buruk adalah sanjungan yang berisi kebatilanitu meniupkan tipuan ke lubang hidung orang yang senang pujian dan memasukkan setan kesombongan dan kecongkakan di ubun-ubun orang yang senang pujian, sehingga orang tersebut merasa kebaikannya telah mencapai setinggi langit, melebihi bintang orion. Akibatnya, cita-cita orang itu mencari kemuliaan merosot dan lemah, keuletan dan keteguhannya menghadapi segala kesulitan menjadi patah. Akhirnya, ilmu pengetahuan dan pengaruhnya itu tidak berkembang, apabila dia berilmu, berbudi pekerti. Dia menjadi Orang yang bodoh dan hina dina, seperti sampah, jika dia tidak berilmu dan tidak berbudi pekerti.

Sementara itu, di sana ada sekelompok orang yang enggan bekerja, kecuali jika yakin, bahwa orang-orang akan memuji pekerjaan dan usahanya, menuju kemajuan dan keberanian mereka dalam usaha. Ada pula sekelompok orang yang makin bertambah semangat mencapai citacitanya, sesudah mendengar ada pujian yang diberikan kepada mereka dan semakin luar biasa giatnya dalam menyelesaikan tugas-tugasnya. Dalam hal ini tidak ada masalah diberikan pujian terhadap mereka dan pekerjaan yang mereka kerjakan, agar lebih bertambah maju dan semangat dalam melaksanakan tugas untuk umat atau bangsa.

Kami tidaklah mengecam pujian secara mutlak, tetapi yang kami kecam adalah orang yang mengharapkan pujian orang lain, dengan pujian yang semestinya atau tidak, dan merasa sakit hatinya, terhadap orang lain yang mengritik tindakannya, meskipun dia melakukan suatu perbuatan yang memang tidak boleh dibiarkan. Barangsiapa yang sikapnya seperti itu, maka jelaslah, bahwa dia itu termasuk golongan orang-orang yang gemar dipuji dengan tidak semestinya dan mereka itu adalah orang-orang yang berada dalam perangkap akhlak yang hina yang telah membuat banyak orang-orang tertipu dirinya binasa. Jadi orang yang senang dipuji itu, mestinya tidak sakit hati jika dikritik. Apabila pujian itu dianggap sebagai pendorong semangat untuk melakukan amal yang baik, maka kritikan itulah yang dapat menggerakkan hati nurani setiap orang agar menghindari hal-hal yang mengundang pemikiran negatif atau hal-hal yang membuatnya terperosok ke persoalan-persoalan yang sangat membahayakan.

Amar makruf dan nahi mungkar, yakni menganjurkan kebaikan dan melarang keburukan, itu tidak lain -kecuali merupakan sebuah bentuk kritik yang membangun. Andaikata tidak amar ma’ruf dan nahi mungkar, maka orang yang bodoh dan orang-yang bejat moralnya akan berbuat apa saja menurut keinginan hawa nafsunya tanpa mempedulikan akibatnya, semakin berani menyebarkan kebatilan dan semakin besar saja bendera atau pengaruhnya.

Kemudian di antara umat ini sebenarnya ada satu kelompok yang menggunakan kritik itu sebagai alat untuk tujuan menjatuhkan sekelompok masyarakat dan untuk mencemarkan nama baik mereka. Kelompok orang seperti ini tidak segan-segan melancarkan cacian, kata- kata kotor atau ucapan-ucapan tidak baik berupa gosip-gosip kepada orang-orang tertentu yang mereka anggap saingannya. Mereka tidak segan pula melancarkan teror dan caci maki terhadap orang-orang (kelompok) yang hendak mengritiknya. Pendeknya, kalian akan menyaksikan kelompok orang seperti di atas itu selalu mengarahkan ucapan-ucapan yang jijik dan kotor, hina dan rendah serta penuh kebatilan kepada orang-orang yang hendak mengritiknya. Sikap dan ucapan kelompok orang seperti itu tidaklah bisa disebut sebagai kritikan. Sikap seperti itu yang paling tepat disebut balas dendam. Perbuatan seperti itu jelas tercela dan menunjukkan kerendahan watak yang dihindari oleh orang-orang yang berbudi luhur.

Sebenarnya tujuan utama kritikan itu hanya untuk memalingkan orang yang dikritik dari perbuatan yang salah, baik perbuatan itu dilakukan secara sadar atau tidak. Jadi sikap ceroboh dan kasar (mengabaikan sikap lemah lembut) dalam mengemukakan kritikan ‘itu justru menimbulkan kecenderungan atau kefanatikan orang yang dikritik terhadap apa yang dia lakukan, meskipun jelas sekali kesalahannya. Tersebut dalam satu hadis:

”Barangsiapa yang menganjurkan kebaikan, maka hendaknya anjurannya itu dikemukakan dengan baik.”

Jadi, kritik itu harus disampaikan dengan cara yang baik, agar membawa hasil sebagaimana yang dimaksud. Allah berfirman:

“Tidak akan sama kebaikan dan keburukan, tolaklah kejahatan itu dengan cara yang sebaik-baiknya, maka tiba-tiba orang antaramu dan dia ada permusuhan seolah-olah tidak menjadi teman yang sangat setia. Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan, melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan, melainkan kepada orang yang mempunyai keberuntungan yang besar.”

Wahai, generasi muda, janganlah engkau tertipu oleh ucapan orang-orang yang menganggap bagus pada perbuatan kalian dan jangan pula tertipu oleh kata-kata manis orang-orang yang memuji-muji kalian. Sebab, sebagian besar apa yang mereka katakan tentang dirimu itu tidak benar, sebagian besar orang seperti itu hanya bermaksud untuk menyenangkan hati kalian saja atau bertujuan agar kalian suka memberikan sekadar sedekah beberapa rupiah kepadanya.

Janganlah sekali-kali kalian menempuh jalan yang buruk seperti di atas itu, sebab, hal itu pasti akan membawa kalian suka berkata dusta, padahal kalian telah mengerti betapa besar dan jelek dosa orang-orang yang berkata bohong. Perhitungkanlah atau peganglah komentar orang-orang yang mau menyampaikan kritikan terhadap tindakantindakan kalian dan mau menjelaskan kesalahan kalian, tentu kalian akan mendapat petunjuk ke jalan yang paling benar dan lurus.

Apabila kalian melihat pada diri orang lain sesuatu yang perlu di Kritik, maka luruskanlah langkah-langkah yang menuju kebenaran dan nasihatilah dia, agar melenyapkan kesalahannya dengan bahasa dan ucapan yang baik dan sopan.

Jangan sekali-kali menggunakan kata-kata kasar, sebab kata-kata yang kasar itu lebih menusuk daripada tusukan anak panah dan lebih menyakitkan daripada tikaman pedang. Perkataan yang kasar itu tidak akan mendatangkan manfaat, bahkan bisa membuat hati orang-orang tidak senang dan benci.

Jadilah kalian orang-orang yang lemah lembut dalam bertutur kata dan penuh kasih kepada sesama, maka kalian akan berhasil mendapatkan apa yang kalian inginkan.

Tersebut dalam kata hikmah:

“Air, meskipun lembut dan lemah, dapat memotong (melubangi) batu, meskipun keras”.

Allah swt. sudah jelas-jelas lebih menyukai ucapan-ucapan yang halus dan ramah. Sebagaimana firman-Nya kepada dua Nabi-Nya, yakni Musa dan Harun dalam menghadapi Fir’aun yang angkara murka itu. Dia berfirman:

“Pergilah kalian berdua kepada Fir’aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas, maka berbicaralah kamu berdua dengan katakata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia sadar atau menjadi takut kepada Allah.”

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25Laman berikutnya
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker