Kitab Tasauf

Terjemahan Kitab Idhotun Nasyi’in

PARA PEWARIS BUMI

Barangsiapa yang dapat memperlakukan sesuatu dengan baik, maka dia adalah orang yang pantas menguasai sesuatu tersebut, meskipun sesuatu itu tidak diwariskan oleh ayah atau nenek moyangnya. Sebaliknya, barangsiapa yang tidak dapat memeliharanya, bahkan merusaknya, maka apa yang ada pada kekuasaannya itu akan terlepas dari tangannya dan berpindah ke tangan orang lain yang dapat memeliharanya dengan baik, meskipun orang yang pertama (yang tidak bisa memelihara apa yang dimiliki dengan baik) itu memiliki akte-akte yang menetapkan, bahwa dialah pewaris sesuatu tersebut dan didukung oleh saksi-saksi yang adil.

Segala sesuatu yang ada di alam ini adalah milik Allah swt. Allah mengaturnya sesuai dengan kehendak-Nya, memindahkannya dari orang yang dikehendaki kepada orang yang dikchendaki-Nya. Semuanya adalah hak Allah swt., tetapi meskipun demikian Dia menghubungkan kehendak-Nya itu pada adanya sebab-sebab, sesuai dengan iradah-Nya. Oleh sebab itu, barangsiapa yang berusaha menempuh sebab-sebab untuk memperoleh sesuatu yang telah digariskan oleh Allah dan memasuki pintu-pintu yang disediakan untuk meraihnya, maka orang seperti itulah yang paling berhak mendapatkan warisan suatu perkara daripada orang yang tidak layak menguasai perkara itu.

Semua bangsa di atas hamparan bumi ini adalah pelayan-pelayan Allah swt. dan buruh-buruh yang diperintahkan bekerja demi kemakmuran bumi. Oleh sebab itu, siapa saja yang lebih dahulu mengabdinya, maka Allah akan melapangkan jalan bagi orang tersebut memegang kekuasaan di permukaan bumi. Sebaliknya, siapa pun yang tidak baik pengabdiannya dalam memakmurkan bumi, maka Allah akan mencabut kekuasaan orang tersebut dengan paksa.

Apabila kalian menunjuk seseorang sebagai pembantu untuk melakukan suatu pekerjaan, maka kalian pasti akan selalu mengawasinya dengan ketat. Apabila kalian menilai baik kerja orang tersebut, maka kalian pasti mempertahankan dan menetapkannya pada pekerjaan tersebut, bahkan jika pekerjaannya tambah baik, maka kalian tentunya akan menaikkan upahnya. Sebaliknya, jika orang yang kalian tunjuk sebagai pembantu tersebut buruk cara kerjanya atau bahkan menyimpang dari apa yang kalian inginkan, maka kalian masih menoleransinya untuk pertama kalinya dengan memberi peringatan kepadanya. Tetapi, jika orang itu tidak mengindahkan peringatan kalian (tidak berusaha memperbaiki kerjanya) dan dia tidak lagi bisa diharapkan kebaikan kerjanya, maka sudah pasti kalian mengambil pekerjaan yang dikerjakan orang itu dan kalian memecatnya sebagai pembantu. Dengan menarik pekerjaan dari tangan orang yang bisa melaksanakan dengan baik dan memberhentikannya sebagai pembantu itu, kalian berarti melakukan tindakan atau kebijakan yang benar-benar tepat. Tetapi, apabila kalian lengah, tidak memperhatikan keteledoran pembantu tersebut atau kalian tidak mengetahui ketidakbaikan pekerjaan pembantu itu, maka, kalian akan mengalami kemaslahatan kalian menjadi berantakan. Tentu saja tidak seorang pun ingin usahanya berantakan, kecuali orang yang tidak sehat akalnya.

Manusia adalah khalifah Allah yang diserahi tugas memakmurkan dan membangun bumi oleh-Nya. Apabila manusia berlaku baik di seluruh bumi ini, mengaturnya dengan baik, membangun kawasankawasan yang perlu dibangun, mengeluarkan hasil buminya dan mengolah kekayaannya dengan cara sebaik mungkin, berbuat adil dalam segala persoalan, menyebarkan ilmu pengetahuan di kalangan penduduk dan tidak menyimpang dari peraturan yang telah digariskan oleh Sang Pencipta, yakni Allah swt., maka manusia seperti itulah yang benarbenar dinamakan khalifah Allah dan semua urusan pengendalian tugastugas berada di tangan kekuasaannya.

Sebaliknya, barangsiapa yang buruk perilakunya dan tidak baik dalam melaksanakan tugas-tugas yang diserahkan kepadanya, sesuai hukumhukum Allah serta melupakan apa yang sudah diamanatkan, maka manusia seperti itu akan dikenai apa yang telah dialami oleh manusia yang semacam dengannya. Keadaannya berbalik total, kalau semula mulia berubah menjadi hina. Kalau semula tinggi kedudukannya berbalik menjadi rendah. Kalau semula berkuasa, berbalik dikuasai (hilang kekuasaannya). Kalau semula kaya berbalik menjadi miskin. Apa yang dimilikinya (berupa kehormatan dan kekayaan) dicabut oleh Allah dan diwariskan kepada orang lain. Kekuasaan yang ada padanya dicabut oleh-Nya dan diberikan kepada orang lain. Hal ini sudah dijelaskan oleh Allah dalam firman-Nya:

“Dan sungguh telah Kami tulis dalam Zabur sesudah Kami tulis dalam Loh Mahfudz, bahwasannya bumi ini diwarisi oleh hambahamba-Ku yang saleh.”

Yang dimaksud dengan kata-kata Ash-Shalihun (orang-orang yang saleh) dalam ayat tersebut adalah orang-orang yang mampu menata atau memanage bumi dengan baik, mengatur pekerjaan-pekerjaan dengan sempurna dan memperbaiki kondisi penduduknya, dengan cara menyebarkan ilmu pengetahuan, menegakkan keadilan, berhati-hati menghadapi lawan dan menciptakan usaha-usaha yang bermanfaat, seperti bidang pertanian, perindustrian dan perdagangan. Jadi, kata Ash-Shalihun tersebut, sama sekali bukan orang-orang yang sering rukuk dan sujud, sementara enggan berusaha melakukan hal-hal yang menyebabkan dapat menguasai bumi. Masalah ibadah adalah masalah spiritual (keagamaan), yang membuatnya hanya kembali pada yang melakukannya saja di akhirat nanti, sedangkan urusan menata bumi adalah persoalan material (duniawi) yang tidak mungkin ditempuh, kecuali melalui usaha yang telah ditunjukkan oleh Allah swt. dan perantaraan-perantaraan yang siapa saja mau menggunakan lantaran itu, pasti dapat memegang atau menguasai kekuasaan di bumi ini.

Wahai, generasi muda, sesungguhnya bangsamu sekarang ini telah dilanda krisis moral yang menyebabkan mereka enggan melakukan pekerjaan yang bermanfaat dan meninggalkan usaha-usaha yang menjadi sebab mereka layak memakmurkan dan mewarisi bumi. oleh sebab itulah, bangsa kalian saat sekarang ini tertimpa kesengsaraan, berbagai bencana, kesulitan-kesulitan dan semakin hari semakin bertambah parah penyakitnya. Kalianlah yang menjadi sumber kebahagiaan bangsa, tumpuan harapan bangsa, dapat meringankan penderitaan bangsa dan dokter-dokter yang mampu mengobati penyakit-penyakit yang berjangkit pada mereka.

Oleh karena itu, perbaikilah kondisi bangsa kalian, luruskan langkah mereka, dan ajaklah mereka bekerja atau beramal yang baik, sehingga mereka layak menjadi pewaris bumi dan pelaku-pelaku pembangunan kemakmurannya, sehingga bangsa kalian akan kembali seperti semula, dengan memperoleh kejayaannya di masa lampau. Cukuplah sudah, apa yang diperbuat oleh musuh kalian, yang mengeruk kekayaan negara bangsa kalian dan cukuplah kiranya apa yang diperbuat oleh lawan dalam merusak moral, identitas dan segala sesuatu yang membuat bangsa kalian jaya.

Wahai, generasi muda, kalian sekali lagi kalian semua, adalah pelita harapan, bintang penunjuk dan tumpuan harapan bangsa. Oleh sebab itu, berbuat baiklah untuk bangsa kalian, curahkanlah segala kemampuan kalian untuk mereka dan kobarkanlah api semangat cita-cita kalian, maka bangsa kalian akan menjadi bangsa yang baik, kehidupan kalian bersama mereka menjadi baik dan kalian bersama bangsa kalian bangkit menjadi bangsa yang besar dan maju.

TRAGEDI PERTAMA

Ingatlah, terhadap tragedi atau kejadian yang pertama kali terjadi, sebab dalam kejadian pertama itu terdapat grafika naik, turun, maju, mundur, bahkan mati atau hidup.

Kita telah menyaksikan banyak sekali di antara orang-orang yang tidak memperhatikan tragedi atau kejadian yang pertama terjadi, mereka tidak mempedulikan dan menganggapnya sebagai suatu persoalan biasa. Padahal andaikata mereka mengerti, bahwa akibat segala persoalan itu tergantung pada permulaannya, dan berjalan sesuai dengar perjalanan permulaannya, maka sudah barang tentu mereka akan sadar dan memperhatikan pada peristiwa-peristiwa pertama yang terjadi, mereka akan berusaha keras mengerahkan segala kekuatan untuk mencegah berlangsungnya tragedi pertama itu dan menghadapinya dengan segala kekuatan untuk menolak tragedi pertama itu, bagaikan gunung kokoh menghadapi setiap bahaya yang menyerangnya.

Akibat atau kesudahan segala sesuatu, baik atau buruk itu mengikut baik-buruk permulaannya. Apabila permulaan sesuatu itu baik, maka dapat dipastikan hasil atau akhir sesuatu itu, baik pula. Sebaliknya, jika permulaan sesuatu itu buruk, maka hasil atau kesudahan perkara itu juga buruk.

Ada sebagian orang melakukan suatu usaha. Dia melaksanakan usahanya itu dengan penuh kesungguhan. Di saat dia giat melakukan usahanya itu, tiba-tiba dia tertimpa suatu musibah, kecil atau besar. Lalu orang tadi menjadi ciut nyalinya untuk melanjutkan usahanya dan takut menyempurnakan usahanya sesuai rencana semula, menjadi malas dan patah semangatnya sebelum dia meraih hasil yang dia harapkan. Penyebab utama kegagalan seperti itu tidak ada lain kecuali ketiadaan sifat sabar dalam diri orang tersebut dan kecil nyalinya.

Dalam hadis Nabi Muhammad saw. disebutkan:

“Ukuran kesabaran itu semata-mata dapat dilihat pada waktu pertama kalinya terjadi tragedi”

Di sana ada lagi orang yang giat melakukan suatu usaha, secara terus-menerus menghadapi cobaan, dirundung berbagai rintangan dan hambatan dari segala sisi. Tetapi orang ini menghadapinya dengan hati yang teguh dan tabah, hingga dia mampu mengalahkan cobaan, rintangan dan hambatan tersebut, dan terus maju melanjutkan usahanya, meraih apa yang diinginkan dengan semangat yang tidak mengenal lelah, sampai akhirnya berhasil mencapai apa yang diharapkannya. Keberhasilan orang tersebut hanya karena dia tetap teguh dan sabar dalam menghadapi trapedi yang mula-mula menimpanya, selalu waspada terhadap rintangan-rintangan yang menghadangnya pada awal-awal usahanya dan dia berusaha keras menepis segala bisikan yang menakut-nakuti serta membuang semua keluhan hati, Dia dapat melakukan yang demikian itu, sebab dia memiliki keberanian dan kebiasaan sabar ketika pertama tertimpa musibah.

Apa yang kita saksikan berupa kegagalan, sebagian besar orang yang melakukan banyak usaha itu semata-mata disebabkan gampang gelisah dan mengeluh tatkala menghadapi rintangan pada tahap-tahap awal usahanya. Oleh sebab itu, waspadalah selalu dan bertabahlah menghadapi tragedi yang pertama terjadi dalam permulaan usaha.

Sikap diam dan acuh tak acuh terhadap kerusakan yang muncul pertama kali dalam hal yang berkaitan dengan ideologi atau akidah yang kalian percaya itu, akan menyebabkan meluasnya kerusakan tersebut dan menjalar pada persoalan-persoalan yang lain.

Ketakutan atau keciutan nyali kalian dalam mempertahankan hak kalian yang sah itu, menyebabkan lawan semakin berani merongrong dan menggerogoti hak-hak kalian yang lain.

Kegemaran manusia melakukan kejahatan dan kebiasaan mereka melakukan kemungkaran itu semata-mata karena mereka selalu menganggap enteng pentingnya mengendalikan hawa nafsunya, yang selalu mendorong pada perbuatan jelek pada saat mula-mula dia condong berbuat kerusakan.

Hujan itu mulanya berupa gcrimis, kobaran ap: dalam kebakaran berasal dari sepercik percikan bara api dan pohon yang besar-besar itu awalnya hanyalah berupa  biji yang sangat kecil.

Penyakit kecanduan minuman keras dan ketergantungan pada obatobat terlarang (drug) itu hanya bermula dari coba-coba mencicipi segelas arak atau secuil tablet setan itu. Begitu pula gelora cinta dalam jiwa yang membuat gila itu, juga bermula dari panah asmara yang sekali menancap pada pandangan pertama.

Perang itu mulanya hanya berupa ucapan yang kadang-kadang sangat sepele, lalu berkembang menjadi ketegangan dalam hubungan, kemudian berakhir dengan pembunuhan yang menyebabkan kematian. Permulaan peristiwa besar dan dahsyat ini, juga karena perkara kecil yang tidak berarti.

Apabila kalian segera bertindak menyingkirkan setiap tragedi yang muncul pertama kali, sebelum tragedi melumpuhkan kalian dan berusaha menolak setiap rintangan sebelum rintangan itu menghantam kalian, maka kalian akan selamat dari segala macam malapetaka kehancuran, kalian akan hidup tenang tentram dan berhasil dalam usaha serta terhormat di kalangan masyarakat kalian.

Wahai, generasi muda, sesungguhnya salah satu penyakit kita yang menghalangi kita mencapai cita-cita adalah sifat mudah berkeluh kesah ketika menghadapi tragedi pertama yang menimpa kita dan ketidaksabaran kita ketika pertama menghadapi cobaan. Akhlak atau watak seperti itu (mudah berkeluh kesah dan tidak sabaran) apabila telah bersarang pada jiwa sesuatu kaum atau bangsa, maka bangsa itu pasti mudah diperbudak, hina, segala usahanya sia-sia dan perbuatannya bagaikan debu yang berhamburan diterpa angin kencang. Angin yang melenyapkan hasil jerih payah usaha itu, tiada lain kecuali sifat takut dan ketidaksabaran menghadapi rintangan pertama.

Oleh sebab itu, kalian -semoga Allah melindungimuharus membiasakan diri bersabar dan teguhkanlah jiwa kalian ketika menghadapi tragedi pertama dalam usaha, maka kalian pasti akan merasa gampang dan merasa ringan menghadapi tragedi berikutnya. Selanjutnya, kalian akan selalu sukses dalam segala usaha.

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25Laman berikutnya
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker