Kitab Tasauf

Terjemahan Kitab Idhotun Nasyi’in

HARAPAN

Andaikata dalam kehidupan ini tidak ada harapan, tentu tidaklah ada orang yang berusaha mencapai cita-citanya. Tiada pula orang yang mengajak pada semangat nasionalisme, yaitu semangat memperjuangkan tanah air, dan tentu kehidupan ini terasa lebih sempit daripada lubang kadal serta terasa berat daripada memikul rantai besi yang dikalungkan di leher.

Saya tidak pernah melihat seseorang yang bekerja, kecuali orang yang telah yakin, bahwa usaha atau pekerjaan yang dia kerjakan itu memiliki kesan (hasil) yang baik dan bisa diharapkan manfaatnya, baik untuk diri pelakunya secara khusus atau untuk kalangan umum, yang akibat baiknya dapat dirasakan oleh umat yang sebangsa dan setanah air.

Hanya saja, di sana masih ada suatu persoalan yang amat penting.

Persoalan itu adalah adanya sekelompok orang yang sungguhsungguh tidak mau mengerjakan sesuatu, kecuali jika mereka telah meyakini dengan pasti, bahwa usaha mereka pasti membuahkan hasil. Sekelompok orang seperti itu apabila sedikit mengalami keraguan tentang keberhasilan usahanya, meskipun sangat tipis, setipis sarang laba-laba, maka mereka mundur dan tidak mau memupus keraguan tersebut. Sikap yang demikian itu bukanlah sikap orang-orang yang berhati teguh dan bukan perangai atau akhlak pejuang sejati.

Faktor yang menyebabkan mereka mundur itu tidak ada lain, kecuali lemahnya harapan atau rasa optimisme dalam jiwa mereka. Kelemahan sifat harapan (roja’), merupakan salah satu penyakit jiwa yang harus segera diobati dengan cara mengusir perasaan putus asa. Sebab, tipis harapan merupakan penyakit jiwa yang menjangkiti masyarakat luas dan merupakan virus yang membahayakan keberlangsungan pembangunan.

Kehilangan sifat Roja’ atau harapan adalah suatu penyakit tersendiri, yang berjangkit secara meluas pada tubuh setiap anggota masyarakat kita. Oleh karena itu, kita telah melihat jumlah orang-orang yang bekerja hanya sedikit dan orang-orang yang sukses dalam kehidupannya juga jarang. Bahkan mereka itu diliputi berbagai kerugian dan bencana kesengsaraan hidup, Andaikata mereka paham dan sadar, pasti mereka segera mencampakkan sifatyang tercela itu, lalu berpegang erat dengan sifat roja” atau perasaan optimisme, kemudian maju bekerja dengan keras, sebagaimana kerja orang-orang yang berkeyakinan, bahwa di dalam rasa putus asa itu terdapat penyakit. Sedangkan dalam roja atau Optimisme terdapat penawar atau tobatnya.

Kemudian di sana ada sekelompok orang yang tidak mempedulikan, betapa jauh cita-cita yang hendak mereka capai. Mereka itu merasa seolah-olah tidak ada penghalang yang menghadang di antara mereka dan apa yang mereka cita-citakan. Mereka itu berjuang mempertahankan prinsip dan keyakinannya, sebagaimana seorang hakim mempertahankan putusan yang dia jatuhkan. Mereka terus maju, bagaikan air bah yang terus mengalir deras. Mereka tetap konsisten, tidak bergeser dari citaCitanya sedikitpun. Mereka itulah kelompok manusia yang sejati dan karena merekalah umat atau bangsa ini akan hidup.

Golongan orang yang bekerja dengan semangat tersebut benar-benar mengerti, bahwa harapan keberhasilan pekerjaan (optimisme) merupakan pendorong utama untuk-maju dan merupakan sebab tercapai keberhasilan. Mereka itu sebenarnya tidak pernah dapat dibuat menganggur oleh kelemahan angan-angan dan keredupan cahaya cita-cita.

Golongan orang di atas berkeyakinan mantap tanpa diselubungi rasa keraguan maupun kebigungan sedikit pun, bahwa hidup disertai rasa putus asa adalah sebuah kematian. Mereka selalu berkata: Betapa sempit kehidupan ini, andaikata tidak ada angan-angan atau harapan yang luas.

Wahai, generasi muda, jadikanlah roja’ (optimisme) sebagai syiarmu dan angan-angan sebagai bajumu. Tinggalkanlah sikap menunda-nunda dan abaikanlah segala godaan yang membelokkan kalian semua dari apa yang telah menjadi cita-cita kalian semua. Jadilah kalian semua golongan orang-orang yang memiliki harapan besar, yang bercita-cita luhur, gemar berusaha dan giat bekerja. Allah adalah penolong kalian semua.

KELICIKAN

Saya telah meneliti tabiat-tabiat manusia, dan ternyata tidak saya temukan suatu perangai dari sekian banyak perangai yang lebih mendekati pada kehinaan, cela dan lebih dekat pada kematian dalam kehidupan, daripada sifa licik.

Sifat licik itu tidaklah bercokol pada jiwa suatu umat, kecuali membuat mereka hina dina. Menjadikan mereka tercela, mundur, dan hancur, lala mati.

Di saat umat diserang mendadak oleh lawan, jalu mereka merasa ketakutan untuk menangkal serangan-serangan lawan, tidak berani melawannya akibat perasaan takut telah berjangkit pada semua personel umat, maka musuh-musuh itu akan mudah menyusup ke lapisan umat, masuk ke rumah-rumah mereka dengan membuat berbagai kerusakan, menguasai negara dan memperbudak seluruh umat, tanpa ada seorangpun yang berani mempertahankan dan menentang kejahatan musuh tersebut.

Jika keadaan terus berlangsung seperti ini akan dikuasai oleh sekelompok orang jahat. Mereka dengan leluasa melakukan pengerusakan sawah, ladang dan melakukan pembunuhan terhadap anak bangsa. Mereka memperlakukan umat sebagai binatang yang tidak dapat berbicara. Andaikata umat ini tidak terkena penyakit licik, tentu mereka akan menghalau musuh-musuh tersebut sejauhjauhnya, sehingga mereka menderita kerugian. Andaikata saja tidak ada penyakit licik pada diri umat ini, pasti mereka dapat dipukul mundur, hingga mereka (para musuh itu) tidak berani kembali lagi.

Sikap diam, membiarkan perbuatan orang-orang yang bermaksud jahat terhadap umat adalah perilaku para pengecut. Sedangkan menentang dan memberantas kaum yang zalim, adalah bagian dari tandatanda keberadaan kehidupan yang menyenangkan bagi umat.

Sesungguhnya kehidupan umat yang maju dan terhormat itu, tergantung pada orang-orang yang berani.

Sungguh jelek, demi Tuhan yang menguasai Ka’bah, tampilnya di . tengah-tengah kita orang-orang yang bodoh berlagak seperti ulama, orang-orang curang berpenampilan seperti orang yang bersih, orang yang beku berlagak seperti orang maju dan cerdik, orang yang lemah, tidak mampu berjuang berpenampilan seperti orang yang cakap dan orang-orang yang mestinya sudah mati jadi bangkai, tetapi pakaiannya seakan-akan masih hidup tegar.

Ada yang lebih buruk daripada hal di atas, yaitu sikap kita sendiri yang menyerahkan segala macami persoalan kepada sekelompok orang seperti yang tersebut di atas dengan cara munafik, semata-mata ingin mendapatkan keuntungan pribadi atau memang karena kelemahan jiwa kita dan kemerosotan akhlak kita sendiri.

Yang paling jelek .lagi adalah sikap kita yang membela dan mempertahankan kedudukan orang-orang zalim, yang suka merampas hak-hak rakyat kecil dan suka menggunakan kekuasaan untuk mengeruk keuntungan pribadi serta orang yang bermaksud jahat terhadap umat. Lebih parah lagi, bila kita menganggap si zalim tersebut sebagai orang-orang yang baik, mempunyai niat atau maksud baik dan jujur atau profesional kerjanya.

Sesungguhnya sikap atau perangai seperti itu, yang sumbernya adalah licik, pengecut dan penakut, merupakan tindakan penipuan dan penghancuran terhadap umat. Sebab, perbuatan yang demikian itu berarti menyerahkan ‘umat kepada orang yang merusak kehidupan mereka, menghancurkan sendi-sendi kehidupan sosial mereka dan merusak sendi-sendi norma atau akhlaknya.

Wahai, generasi muda, saya memohonkan perlindngan kepada Allah untuk kalian semua, dari menjadi orang-orang yang pengecut, bodoh dan hina. Sesungguhnya kelicikan atau sikap pengecut merupakan induk dari segala penyakit umat.

Biasakanlah diri kalian semua dengan berani, pasti kalian semua menjadi orang yang bisa menjaga atau mempertahankan harga diri, jujur dalam berbicara dan berhasil dalam berjuang.

Sesungguhnya licik atau sikap pengecut, benar-benar membahayakan umat, bahkan dapat menjadikannya hina dina. Sebab, mereka hidup dibawah kekuasaan orang-orang zalim, diperlakukan sewenang-wenang oleh orang-orang bodoh dan diperdayakan oleh orang-orang yang lacur. Apabila keadaan umat tetap seperti itu, maka hancurlah masa depan Mereka.

Janganlah kalian semua takut dicela dalam usaha kalian menegakkan kebenaran dan janganlah kalian jerah oleh kekuasaan orang-orang yang zalim. Sebab sesungguhnya dalam ketakutan itu terdapat kehancuran. Sedangkan dalam keberanianlah terletak kehidupan yang menjanjikan.

Kalian semua kelak bakal menjadi bapak. Oleh karena itu, jadilah kalian semua sebagai teladan yang baik untuk anak-anak kalian semua. Jika kalian bisa seperti itu, maka umat ini akan hidup seperti layaknya kehidupan orang-orang yang bahagia.

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25Laman berikutnya
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker