WANITA
Dalam bahasa Arab ada sebuah pepatah:
“Setiap wanita yang berkutang (BH) adalah bibi.”
Maksud pepatah Arab tersebut adalah di antara kewajiban setiap orang laki-laki adalah cemburu kepada setiap wanita, sebagaimana dia cemburu kepada istrinya sendiri. Karena setiap wanita adalah saudara perempuan ibu dalam jenis kelamin. Maka, dengan sendirinya setiap wanita itu adalah bibi laki-laki tersebut.
Keadaan kaum wanita dalam kehidupan sosial -senantiasa- berbeda menurut perbedaan dan perubahan jaman dan lingkungan. Ada yang sudah meningkat perannya dan ada yang masih rendah. Ada yang sudah mendapatkan kehormatan dan ada yang masih tertindas. Ada yang sudah menjadi intelektual dan ada yang masih bodoh. Semua itu mengikuti kemajuan dan kemunduran lingkungan,terang dan gelap jaman.
Kaum wanita tidak diciptakan, kecuali agar dia bersama kaum pria. Keduanya bisa kerja sama dalam mengarungi bahtera kehidupan ini. Hanya saja masing-masing dari keduanya memiliki pekerjaan atau tugastugas tertentu, yang tidak boleh dilanggar oleh masing-masing jenis tersebut. Kalau diibaratkan petani, maka laki-lakilah yang membajak tanah, menancapkan tanaman dan menabur benih. Sedangkan yang perempuan bertugas merawat benih dan tanaman dengan menyiraminya dan menyingkirkan segala sesuatu yang mengganggu atau merusak, yang ada di sekeliling benih dan tanaman tersebut.
Kebun itu bagaikan rumah yang dihuni satu keluarga. Tugas lakilaki tidak ada lain, kecuali berusaha bekerja untuk menghadapi seluruh keluarga, agar mereka bisa hidup bahagia. Adapun tugas perempuan, hanyalah mengatur rumah tangga, mendidik anak-anak, menanamkan akhlak terpuji pada jiwa mereka dan menyingkirkan kebiasaan-kebiasaan buruk dari hati mereka, agar nantinya dapat tercipta putra-putri terdidik Ini, Suatu masyarakat yang baik, yang mampu membangkitkan umat dan menegakkan serta mempertahankan negara.
Apabila kaum laki-laki mengabaikan apa yang telah menjadi tugas dan kewajibannya, sedang kaum wanitanya telah melampaui batas kodratnya atau justru tidak melakukan tanggung jawabnya, maka keharmonisan dalam rumah tangga akan rusak dan sendi-sendi kehidupan rumah tangga menjadi berantakan. Situasi rumah tangga yang seperti itu mempunyai pengaruh kepada umat dan negara. Kekuatan umat pudar dan pertahanan negara patah, sebab kebaikan umat dan kebangkitan negara itu tergantung pada kebaikan keluarga-keluarga dalam rumah tangga-rumah tangga.
Tidak dapat diragukan lagi, bahwa Kebahagiaan generasi muda yang merupakan penopang utama umat, itu lebih banyak bergantung pada kaum ibu (wanita). Sebab, kaum ibu atau wanita apabila ingin merusak akhlak mereka, maka rusaklah akhlak mereka dan jika ingin memperbaiki moral mereka, maka jadilah mereka, generasi muda, itu bermoral baik. Hal yang demikian itu disebabkan kendali pendidikan generasi muda berada di tangan kaum ibu atau wanita. Oleh karena itu, kaum wanita harus diupayakan menjadi wanita terhormat, tinggi kedudukannya, terpelajar, berpendidikan, berkepribadian baik, mampu mengatur kehidupan rumah tangga, mengerti tugas dan kewajibannya terhadap dunia rumah tangga.
Sesungguhnya mayoritas kaum wanita dunia timur sekarang ini dan beberapa ratus tahun sebelumnya, telah dibiarkan dan diperlakukan seperti binatang ternak. Kaum laki-laki waktu itu menganggap, bahwa wanita adalah sebuah alat yang dikendalikan kaum laki-laki, dioperasikan sesuai keinginan mereka dengan anggapan yang keliru, bahwa mereka, kaum wanita, itu diciptakan sebagai tawaran atau budak. Kaum laki-laki itu merampas hak-hak kaum wanita, baik hak yang berkaitan dengan hukum maupun materi dan mereka tidak memberikan kebebasan belajar atau menunut ilmu pengetahuan bagi kaum wanita. Akibat dari semua itu, kehidupan rumah tangga menjadi tidak harmonis, keluarga rusak dan masyarakat menjadi pudar, karena kemunduran pribadi-pribadi yang merupakan komponen masyarakat terkecil.
Dunia timur sekarang ini benar-benar mulai menyadari kelemahan dan kekurangan tersebut, dan orang-orang telah mendapat petunjuk Allah ke jalan yang lurus mulai bangkit. Mereka itu mulai sibuk mengupayakan pengajaran dan pendidikan anak-anak wanita mereka, sebab bangsa timur benar-benar yakin, bahwa kaum wanita merupakan sendi kehidupan sosial yang kokoh, dan menjadi sandaran kebangkitan umat yang kuat. Tetapi kesadaran bangsa timur seperti ini masih sangat lemah. Mudah-mudahan kesadaran seperti itu terus: bertambah meningkat bersama kalian semua, wahai, generasi muda yang mulia. Sesungguhnya para, generasi muda wanita itu mempunyai hak-hak besar yang harus kalian penuhi, karena mereka itu adalah bibi-bibi kalian, dan bibi itu seperti ibu, bahkan berfungsi sebagai ibu. Setiap orang, mesti menginginkan ibunya hidup bahagia.
Sesungguhnya kemunduran masyarakat yang kalian saksikan itu, semata-mata timbul atau akibat langsung dari keterbelakangan, kebodohan dan kerusakan pendidikan kaum wanita. Oleh karena itu, perhatikanlah pendidikan anak-anak wanita, didiklah mereka (dengan pendidikan yang benar), maka kalian akan meraih pahala semua amal kebaikan.
Ada perkara penting yang perlu diingat, yaitu sikap pemborosan, berlebihan dan penyimpangan kaum wanita dari kesederhanaan dalam berpakaian, perhiasan dan lain-lainnya, sehingga menghabiskan kekayaan laki-laki (suami) dan menimbulkan bencana dan fitnah di masyarakat. Hal itu sebenarnya karena mereka tidak mendapatkan pelajaran ilmu-ilmu yang berguna dan tidak mendapatkan pendidikan yang benar, meskipun mereka itu mengaku terpelajar.
Wahai, generasi muda, kalian wajib mendidik putra-putri kalian, manakala kalian nanti sudah menjadi kepala rumah tangga dengan pendidikan yang benar dan mulia. Berilah mereka pelajaran berupa ilmu pengetahuan yang bermanfaat, yang dapat mengantarkan pada kebangkitan negara dan kemuliaan umat.
BERUSAHA DAN TAWAKAL
Kami belum pernah mengetahui orang yang picik sekali akal pikirannya dan lemah sekali daya nalarnya, melebihi orang yang berani memulai melakukan suatu urusan sebelum mempersiapkan segala hal yang berkaitan dengannya.
Ya, ada yang lebih bodoh lagi daripada orang tersebut di atas, yaitu orang yang telah menerjuni medan pekerjaan, sebelum mempersiapkan segala sesuatu yang perlu dipersiapkan, padahal dia mengetahui, bahwa siapa saja yang bekerja seperti itu, pasti berakhir dengan kegagalan, kerugian dan berantakan.
Ada lagi yang tidak kurang tololnya daripada kedua orang tersebut, yaitu orang yang membiarkan segala urusannya penuh pasrah dan bergantung sepenuhnya pada nasib dan ketentuan takdu, tanpa berusaha bagaimana cara mendekatkan dirinya pada sesuatu yang jauh dan memudahan perkara yang sulit.
Kegagalan dalam mencapai sesuatu yang dicari atau yang diciptakan itu, muncul dari salah satu di antara dua perkara, yang keduanya itu paling banyak merusak segala usaha. Dua perkara itu adalah kelicikan (jubun) dan kecerobohan (tahawwur).
Sifat licik itu memalingkan orang untuk maju berusaha, mendorongnya pasrah pada ketentuan takdir. Padahal Allah swt. telah membuat sebab untuk segala sesuatu. Dengan kata lain, segala sesuatu Itu diciptakan oleh Allah melalui sebab, dan sebab keberhasilan dalam segala urusan adalah berusaha atau bekerja melalui jalur pintu yang semestinya.
Adapun kecerobohan, yakni bekerja tanpa perhitungan, itu mendorong orang mencapai tujuan sebelum mempertimbangkan atau memikirkan sebab-sebab yang dapat mengantarkan pada tujuan tersebut dan tidak mau memilih lantaran atau cara yang paling memungkinkan dapat mencapai tujuannya. Kecerobohan atau bertindak secara gegabah itu seringkali membawa akibat buruk, kesengsaraan dan kecelakaan. Pepatah Arab mengatakan :
”Barangsiapa yang selalu memikirkan akibat dari semua perbuatan, maka bakal selamat dari berbagai macam bencana.”
Cara agar dapat selamat dari berbagai macam bencana itu, cukup tidak tergesa-gesa dalam bertindak, artinya tidak terburu-buru melakukan pekerjaan, kecuali setelah mengetahui dengan tepat atau mendekati tepat, bahwa dia tidak mengalami kegagalan dalam pekerjaan yang akan dikerjakan, Ini bukan berarti mundur sebelum bertindak atau mundur karena benturan cobaan pertama, dan bukan berarti menunda karena ada keragu-raguan, lalu dijadikan alasan tidak bekerja, maka hal yang demikian itu adalah sama dengan kelicikan ‘jubun), bahkan itulah hakikat kelicikan.
Banyak juga orang yang menangani pekerjaan-pekerjaan besar, tetapi lama kemudian mengalami kegagalan. Untuk kasus seperti itu, tentu saja ada sebab-sebabnya, antara lain karena mengabaikan persiapan dan ketiadaan sebab atau perantara-perantara yang mendukung. Dalam pepatah Arab disebutkan:
”Ketika dua kambing bertumbukan, maka kambing yang tak bertanduk itu kalah.”
Pepatah itu sendiri untuk orang yang mengerjakan pekerjaan tanpa persiapan, yang tentu saja mengalami kegagalan.
Banyak sekali orang yang membiarkan persoalan dengan hanya pasrah (tawakal), bahwa persoalan itu telah ditentukan dalam takdir, Allah sudah pasti menyelesaikan urusan tersebut. Padahal yang seharusnya, adalah dia sendirilah yang lebih dulu mengatur penyelesaian persoalannya, kemudian pasrah atau menyerahkan kepada Dzat yang mengaturnya, yaitu Allah swt.
Ada seorang laki-laki berkata kepada Nabi saw:
“Saya biarkan saja unta saya itu lepas, tanpa saya ikat dan saya pasrah (tawakal). ”
Mendengar perkataan laki-laki tersebut, maka Nabi saw. langsung bersabda:
“Ikatlah dulu untamu, lalu bertawakallah. ”
Dalam pepatah Arab disebutkan: “Kedatangan ke tempat air dengan membawa air, itu suatu pertanda orang yang berakal cerdas.”
Maksud pepatah di atas, ialah orang yang hendak melakukan pekerjaan itu harus mantap dan percaya.
Pepatah lain menyebutkan:
“Belilah untuk dirimu sendiri dan untuk orang-orang di pasar.”
Maksud pepatah di atas, ialah seseorang itu hendaknya selalu berhatihati menjaga dirinya sendiri, sebelum melakukan suatu pekerjaan, dan agar selalu.meminta pertimbangan kepada orang-orang yang dipercaya dapat menunjukkan pada sesuatu yang membawa kebaikan.
Sebagian orang ada yang ketika berhasil memperoleh apa yang dicitacitakan, maka dia tidak serius mempertahankan dan memelihara keberhasilan itu. Ketika terlepas dari tangannya, maka dia menyesalinya bagaikan di Kusa’i. Tetapi penyesalan itu sama sekali tidak ada gunanya.
Perlu dungat, bahwa orang seperti itu adalah orang yang sangat sedikit ilmu pengetahuannya dan tidak memiliki akal yang cerdas Sebab, akal itu sebenarnya tidak mau mendorong seseorang ke arah kenistaan dan kepasrahan yang keterlaluan. Orang yang berakal adalah orang yang tidak enggan mendatangi suatu tempat yang ada airnya, sebelum dia benar-benar mengetahui jalan yang harus dilewati ketika kembali dari tempat tersebut. Orang yang berakal adalah orang yang mampu membandingkan dua perkara yang sama-sama berbahaya, untuk diambil yang paling ringan risiko bahaya, karena kejelekan itu masih bisa dipilih. Orang yang berakal itu bukanlah orang yang danat membedakan antara perkara baik dan buruk. Tetapi, orang berakal sebenarnya adalah orang yang dapat mengetahui yang terbaik di antara dua kejelekan, sebab kejelekan sebenarnya bertingkat-tingkat, sebagian kejelekan lebih ringan daripada yang lainnya.
Wahai, generasi muda, inilah nasihat yang sengaja ditujukan kepada kalian, yaitu:
Hendaklah kalian berhati-hati, jangan sampai kalian mengerjakan suatu pekerjaan secara langsung, sebelum cukup sempurna persoalan kalian dan jangan sekali-kali membiarkan suatu pekerjaan dari sekian banyak pekerjaan kalian, karena pasrah sepenuhnya pada takdir yang bakal datang kemudian. Jadi, orang yang berpikiran cemerlang adalah orang yang menyadari pentingnya suatu usaha atau ikhtiar, baru kemudian tawakal.









One Comment