Kitab Tasauf

Terjemahan Kitab Idhotun Nasyi’in

BERTINDAK TANPA PERHITUNGAN

Jika sifat licik atau pengecut merupakan perangai yang hina dan cacat yang luar biasa bagi orang yang terjangkit olch sifat tersebut, maka tindakan tanpa berpikir tidak kalah hina dengan sifat licik, karena dalam dua tingkah laku itu terdapat unsur yang membahayakan secara langsung terhadap umat manusia.

Kelicikan dalam semua pekerjaan menyebabkan kegagalan, sedangkan kecerobohan melakukan pekerjaan sebelum diperhitungkan secara mendalam, merupakan sebab ketidakberhasilan pula.

Kita telah menyaksikan sekelompok orang yang bersemangat bekerja keras mengurus berbagai persoalan, tetapi tidak lama kemudian mereka kembali tanpa membawa hasil (rugi). Mereka gagal dalam pekerjaan yang telah mereka kerjakan tanpa pikir panjang itu. Tidak lama kemudian, cita-cita mereka membeku.

Apa rahasia di balik semua yang terjadi itu?

Sesungguhnya rahasia dari semua kejadian tersebut jelas dan tampak bagi setiap orang yang berpikir. Sebenarnya, setiap pekerjaan dari berbagai pekerjaan itu, di antaranya ada yang kemungkinan bisa mencapai keberhasilannya dan ada yang tidak. Orang yang berakal adalah orang yang mempertimbangkan pekerjaan yang akan dikerjakan, sebelum menanganinya. Apabila dia melihat, bahwa pekerjaan itu dapat diupayakan berhasil, maka dia memusatkan perhatiannya pada pekerjaan Itu, lalu memulai mengerjakannya dengan semangat. Tetapi, apabila dia memperhitungkan, bahwa pekerjaan yang akan ditanganinya tidak membawa hasil, maka dia tidak mau menyia-nyiakan waktu terbuang sia-sia dalam mengerjakannya.

Kecerobohan adalah membahayakan. Ia seperti sifat licik. Keduanya sama-sama tidak menghasilkan keuntungan (kedua sifat tersebut merupakan penyebab kegagalan).

Apabila engkau melihat orang yang menyimpang dari tujuan yang benar, dan mengikuti jalan yang tidak benar dan engkau terlambat memberi petunjuk atau takut memulai memberi nasihat kepadanya, maka orang tersebut pasti terus berada dalam kesesatan. Begitu pula, apabila engkau ingin menasihati orang itu dengan keras atau mencegahnya secara kasar, maka dia tidak akan mendengarkan peringatanmu. Bahkan mungkin dia malah membandel dan semakin melampaui batas. (Apabila ini terjadi), maka lenyaplah kebaikan yang engkau idam-idamkan dan pupuslah hasil yang engkau cari.

Kecerobohan (bekerja tanpa perhitungan) adalah suatu rahasia besar dari berbagai rahasia kegagalan dalam semua pekerjaan. Pada sifat kecerobohan inilah berpusat sebab-sebab utama hilang hasil jerih payah kita dan lepasnya keberhasilan dari tangan kita.

Wahai, generasi muda, hindarilah sikap ceroboh, sebab ia penyeyab kegagalan. Jauhkanlah dirimu daripada cara bekerja yang tidak disertai perhitungan yang cermat, sebab hal itu berakibat jatuh dan gagal.

Jadilah, engkau termasuk orang-orang yang berjiwa sedang, tentu engaku menjadi bagian dari orang-orang yang bahagia dunia dan akhirat.

KEBERANIAN

Dasar utama keberhasilan berbagai pekerjan itu terletak pada diri pelaksana itu sendiri, yaitu rendahnya dalam jiwa pelaksana terdapat keberanian yang mendorongnya terus bekerja. Dia tidak akan mundur setelah berhasil mendapatkan sesuatu yang dicita-citakan.

Para pekerja (pejuang) tidak mungkin berhasil tanpa sifat atau perangai yang mulia ini. Keberanian dapat membuat orang yang memiliki sifat ini menguasai berbagai persoalan penting dan segala kesulitan dapat teratasi.

Keberanian adalah garis yang menengahi antara dua sifat: yang tidak terpuji, yaitu antara sifat pengecut dan sikap kecerobohan. Di dalam sifat pengecut terdapat keteledoran dan di dalam sikap ceroboh terdapat pengawuran, sedangkan dalam sifat berani ada keselamatan.

Keberanian, yaitu bertindak maju ke depan dengan penuh kemantapan dan mundur dengan tetap teguh.

Keberanian itu ada dua bagian, yaitu keberanian moril dan materiil. Keduanya merupakan bagian dari hidup.

Keberanian material, yaitu pembelaan seseorang terhadap negara dan dirinya sendiri dari bahaya yang ditimbulkan sendiri, dan memenangkan musuh-musuh dalam rangka memuliakan umat. Usaha itu dia lakukan terus hingga Allah melakukan suatu urusan yang mesti dilakukan (kemenangan untuk dirinya dan kehancuran musuhmusuhnya). Apabila dia menang, maka berarti dia telah berhasil.

Apabila dia belum dapat berhasil menggapai apa yang dia cita-citakan, maka dia tetap mendapatkan pahala orang yang bekerja dengan ikhlas.

Adapun keberanian yang bersifat moril, adalah keberanian menegur atau mencegah kezaliman penguasa yang zalim dan mencegah kesesatan orang yang scsat, memberi petunjuk kepada umat dengan nasihat yang baik, menuju jalan yang lurus dan terang.

Apabila keberanian seperti ini hilang, maka orang (penguasa) yang zalim itu tidak henti-hentinya melakukan kezaliman, kesesatan orang yang sesat itu semakin meningkat dan umat ini berjalan di atas jalan yang tidak benar. Akibatnya, dari semua ini adalah kehancuran total bagi umat.

Apabila keberanian seperti itu telah hilang, maka negara ini tidak ubahnya seperti harta jarahan yang terbagi-bagi. Negara ini kehilangan sesuatu yang kecil, hingga yang paling berharga. Umat berteriak-teriak, tetapi tidak ada yang memperhatikan. Golongan perusak dan penjarah itu terus melakukan kejahatan, tetapi tidak ada seorang pun yang mencegahnya. Kalau sudah demikian yang terjadi, maka negara benarbenar dalam ancaman bahaya besar, yang membuat setiap warganya sebagai hamba sahaya yang tidak berdaya dan harus menurut pada tongkat komandan sang penguasa. Kemudian, muncul bencana hebat yang menghapus karakteristik umat dan menghancurkan kemerdekaan dan kebebasannya, dan membuat umat ini lenyap atau musnah.

Begitulah keadaan umat, apabila mereka terjangkiti sifat takut, dan tidak memiliki keberanian moril maupun materiil.

Apabila umat tersebut bertindak secara gegabah dan berjuang mengatasi keadaan tersebut, maka besar sekali kemungkinannya tertimpa bencana, seperti yang mereka rasakan ketika dalam keadaan takut, sebab umat apabila mereka bertindak secara dadakan, sebelum membuat rencana dan persiapan, maka akibatnya buruk juga.

Apabila dipertanyakan jika seseorang itu harus memilih satu di antara dua perkara, yaitu: Bertindak secara nekat sebelum membuat perhitungan atau bersikap apatis dan takut. Mana di antara kedua sikap itu yang lebih baik bagi umat?

Jawabannya adalah, sesungguhnya di dalam sikap apatis, takut dan pengecut, sama sekali tidak ada kebaikan. Sedangkan tindakan tanpa perhitungan (tahawwur) itu bila dilakukan kadang-kadang atau mungkin membawa kesukseskan.

Tetapi yang paling dapat menyelamatkan umat dari bahaya di atas adalah penanaman jiwa berani pada diri setiap umat. Keberanian adalah benteng yang kukuh dan tempat berlindung yang aman.

Wahai, generasi muda, berjiwalah berani. Peganglah dengan teguh, jangan membiarkan penyakit takut dan rayuan untuk bertindak gegabah bersarang di hati kalian. Sesungguhnya licik merupakan suatu kebodohan dan tindakan gegabah merupakan kepongahan, sedangkan berani adalah perangai orang-orang yang beriman.

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25Laman berikutnya
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker