LENGAH DAN WASPADA
Keadaan umat atau bangsa itu sama dengan keadaan perorangan (individu), sama-sama memiliki sifat lengah dan waspada. Kadang-kadang sifat kelengahan lebih menguasai pada umat, hingga membuat mereka beku dan terbelakang. Akan tetapi kadang-kadang sifat kewaspadaan lebih menonjol dan membuat mereka semangat, hingga selalu sadar dan waspada. Kedua sifat ini senantiasa bersaing dan berebut posisi. Dua sifat itu tidak dapat berkumpul dan tidak akan berkumpul pada satu orang dan di antara keduanya tidak bisa saling mereda. Hal itu disebabkan keduanya berlawanan dan dua perkara yang berlawanan, pasti tidak dapat berkumpul dalam satu tubuh.
Kemenangan yang dicapai dua sifat ini mempunyai beberapa sebab. Sebab-sebab ini mungkin berbeda lahirnya, tetapi hakikatnya sama. Karena, sebab-sebab tersebut membuahkan kemenangan satu Narijah, yaitu timbulnya kesadaran dan kewaspadaan dalam tubuh umat atau kelengahan dan kebekuan kesadaran, atau kelengahan itu berbeda tingkat kekuatan dan kelemahannya, sesuai dengan bedanya sebab-sebab yang berpengaruh dalam sctiap orang dari umat yang telah terjangkit sifat itu.
Adapun faktor yang menyebabkan umat menjadi beku, terbelakang, mundur dan jatuh itu banyak.
Di antara sebab-sebab yang menjadikan umat ini beku dan terbelakang, adalah kebekuan pemikiran sebagian besar pemuka-pemuka agama dan sikap yang menghambat arus keinginan kuat umat untuk maju menjadi bangsa dan berpengaruh. Di antara pemuka-pemuka (ulama) agama tersebut ada yang menjadikan agama sebagai alat untuk mencapai maksudnya sendiri dan sebagai pengakuan untuk mencegah pemikiran orang banyak, agar menjabel (tidak memberikan) dukungan kepada golongan pembaruan dan agar tidak mengikuti gagasan para cendekiawan dan para pakar ilmu sosial, ekonomi dan politik, yang menghendaki segera dilakukan reformasi dalam segala bidang demi kejayaan umat.
Ulama yang berpendirian seperti itu, tidak segan-segan mengafirkan dan menganggap fasik orang yang tidak sejalan dengan pikirannya, menghalalkan yang haram dan mengharamkan yang halal, bahkan kadang-kadang menganggap halal darah orang-orang baik. Semua itu merupakan akibat keterbatasan pengetahuan (kebodohan) mereka, karena mereka tertipu oleh nafsunya sendiri atau kelemahan akhlak mereka, apabila mereka mau memahaminya.
Di antara sebab-sebab kemunduran umat itu adalah sikap diktator para pemimpin dan orang yang berpengaruh, juga kezaliman dan sikap intimidasi (penekanan) mereka terhadap orang yang bermaksud bangkit bersama umat membebaskan diri dari belenggu kerendahan, kebodohan dan kemunduran menjadi bangsa mulia, berpengetahuan dan penuh sadar dan waspada.
Di sini, masih ada lagi sebab-sebab lain, selain yang tersebut di atas, yang tidak mungkin diungkapkan dalam kitab singkat ini. Sebabsebab lain ini, sebagaimana sebab-sebab yang telah diuraikan, dapat menyebabkan kemunduran dan kebekuan umat serta mendorongnya pada kehinaan dan keterbelakangan.
Itulah keadaih umat ketika sedang dalam kelengahan atau ketidaksadaran. Ketidaksadaran imilah yang membuat mereka dalam belenggu penguasa yang hina.
Adapun keadaan umat ketika sadar dan waspada, tentu tidak sama dengan yang telah disebutkan di atas. Sebab, umat yang berada dalam kesadaran dan kewaspadaan, saat itulah mereka menjadi umat (bangsa) terhormat, tinggi kedudukannya, disegani, kuat, dan berbobot (diperhitungkan) suaranya serta luas kekuasannya.
Suatu umat atau bangsa tidak dapat berada dalam keadaan seperti itu, kecuali didahului oleh sebab-sebab yang bisa mengantarkan mereka pada tujuan (kejayaan) yang telah diterangkan di atas.
Sebab-sebab yang membuat umat memperoleh kejayaan itu banyak sekali.
Di antara sebab-sebab itu adalah tampilnya orang-orang yang berjiwa besar di tengah umat itu sendiri, yang merasa sakit hati atau sedih melihat umatnya dalam kebodohan, keterbelakangan dan kemunduran. Orang-orang tersebut lalu bangkit menanamkan di kalangan umat, nilai cita-cita yang luhur dan cara-cara membebaskan diri dari hal-hal yang membahayakan, menghidupkan semangat mereka dalam mempersiapkan diri, dan berjuang mencapai kedudukan yang luhur. Jika tiba waktunya, mereka tciah siap, maka mereka dapat mendorong atau menekan para penguasa, pejabat dan orang-orang penting yang bertindak sewenangwenang, agar segera mengubah keadaan masyarakat yang telah rusak menjadi lebih baik. Dengan cara seperti inilah hambatan-hambatan yang menghadapi kemajuan umat dapat tersingkirkan.
Manakala maksud tersebut telah terselesaikan (menghentikan kediktatoran penguasa), maka orang-orang berjiwa besar tersebut menyadari, bahwa apa yang baru berhasil mereka lalui, masih belum apa-apa jika dibandingkan dengan rintangan-rintangan yang bakal menghadang mereka dalam perjuangan memperbaiki umat. Sebab, menyingkirkan kezaliman, kesewenang-wenangan dan reformasi sosial dan politik itu, sama sekali belum cukup mengangkat derajat umat, jika mereka itu masih -tetap bodoh terbelakang. Sesungguhnya menyingkirkan kebodohan umat adalah persoalan yang lebih berat daripada menghilangkan kezaliman pemerintah dan sesungguhnya keterbelakangan dan kebekuan umat juga merupakan hambatan berat dalam usaha menjadikan mereka hidup terhormat dan disegani. Rintangan kedua ini lebih sulit dihadapi daripada para penguasa diktator dan pemuka-pemuka agama yang kolot dan jumud.
Apabila orang-orang terkemuka (yang memperjuangkan umat) itu mengetahui rintangan-rintangan yang mesti mereka hadapi, maka mereka harus berpikir tentang cara-cara menghilangkan kebekuan dan kebodohan umat. Juga paling cocok untuk itu tidak lain adalah dengan cara mengabarkan gerakan revolusi (perubahan) moral yang dapat membasmi moral penguasa yang bejat, tatanan peraturan-peraturan dan kebiasaan-kebiasaan yang berbahaya.
Cara yang paling ampuh adalah gerakan ini selain daripada penyebaran koran-koran yang benar, bebas dan jujur, yang tidak punya tujuan menjual kemuliaan dan harga diri dengan imbalan upah yang tdak berarti, yang diterima oleh pemilik koran-koran dengan cara tidak terpuji dan curang. Di samping itu, juga harus digalakkan penyebaran buku-buku yang bermanfaat di semua lapisan masyarakat atau umat. Sebab, mungkin sekali pengaruh buku-buku ini lebih besar daripada pengaruh koran-koran tersebut.
Oleh sebab itu, para pemikir wajib memperbanyak menulis dan menyebarkan buku-buku yang bermanfaat, yang dapat menggugah perasaan umat dan dapat menyadarkan mereka dari kelengahan. Hendaknya para cendekiawan tersebut mendukung koran-koran nasional yang jujur dan majalah-majalah yang bermanfaat dengan tulisan-tulisan mereka. Hal itu untuk mendorong umat menggemaninya dalam rangka meningkatkan jumlah para pembeli (pembaca)nya. Dengan cara itulah umat akan terus berjalan menuju kejayaan dan kebahagian.
Wahai, generasi muda, sadarlah kalian semua. Janganlah engkau menjadi golongan orang-orang yang mundur dan keterbelakang. Bacalah koran-koran yang nasionalismenya kental dan bacalah pula buku yang berbobot bahasanya, pasti kalian semua menjadi orang-orang yang berjaya.
REVOLUSI BUDAYA
Umat atau bangsa yang sedang dihinggapi suatu penyakit sosial, maka mereka itu benar-benar membutuhkan penyembuhan. Kebutuhan umat tersebut pada perbaikan akhiak mereka yang rusak dan perbaikan terhadap budaya mereka yang tidak baik, itu lebih serrus daripada kebutuhan orang yang sakit pada obat.
Bilamana ada orang yang sedang sakit, maka keluarga dan sangk kerabatnya pasti mendatangi seorang dokter yang mereka percayai (dapat menyembuhkannya). Dokter itu lalu memeriksanya dan memberikan resep obat yang dianggap cocok untuk orang yang sakit tersebut.
Kadang-kadang umat atau bangsa seluruhnya itu tertimpa penyakit, kecuali orang-orang yang memperoleh kasih sayang Tuhan. Tetapi mereka ternyata enggan pergi ke dokter spesialis penyakit sosial, untuk minta bantuan kepadanya, agar mengobati penyakitnya, meringankan sakitnya dan meyembuhkannya dari penyakit yang menimpanya.
Keengganan bangsa yang sedang sakit untuk berobat pada dokter spesialis penyakit sosial tersebut, bersumber pada dua perkara: Pertama, mungkin mereka tidak mengetahui penyakitnya sama sekali, sehingga mereka yang sedang dalam keadaan koma akibat penyakit yang menyakitinya, menganggap diri mereka tidak sakit dan bebas dari segala penyakit, Kedua, mungkin mereka itu benar-benar mengetahui, bahwa dirinya sakit dan mengetahui obat-obat yang mereka perlukan, hanya saja mereka itu tidak memiliki kepercayaan dan kemantapan terhadap adanya dokter yang dapat menyembuhkannya atau mereka itu enggan berpikir (berupaya) mencari dokter.
Banyak sekali umat yang mengirimkan putra-putrinya ke sekolahsekolah kedokteran, agar setelah mereka tamat, dapat mengobati tubuh umat atau bangsanya yang sakit. Tetapi, hampir tidak ada, kecuali sedikit sekali dari umat yang mengirimkan putra-putrinya ke lembagalembaga pendidikan yang mengajarkan moral dan ilmu sosial, agar mereka nanti dapat mendidik akhlak umatnya dan memperbaiki sistem kehidupan sosial mereka. Keadaan yang memprihatinkan seperti itu, tidak lain kecuali disebabkan kerusakan jiwa anggota umat itu sendiri yang lebih mementingkan kebutuhan materi daripada kebutuhan moril.
Umat memang membutuhkan kedua golongan sarjana (dokter) tersebut. Tetapi kebutuhan mereka pada sarjana-sarjana yang ahli dalam bidang persoalan sosial dan para pakar ilmu akhlak itu lebih besar dari kebutuhan mereka pada dokter ahli pengobatan penyakit yang menonjol.
Apabila umat telah tertimpa wabah suatu penyakit, maka wabah itu tidaklah menekan korban jiwa, kecuali sekitar sepuluh persen dari jumlah keseluruhan umat. Kemudian ditentukan obat pembasmi wabah penyakit tersebut. Tetapi, apabila umat telah dilanda penyakit sosial atan krisis moral, maka yang menjadi korban bisa mencapai sembilan puluh sembilan persen dari keseluruhan umat. Padahal, kalian semua pasti mengerti, wahai, generasi muda, bahwa menghancurkan kehidupan perorangan itu, lebih mudah daripada menghancurkan kehidupan umat.
Kemudian kalian tentu mengerti, bahwa umat atau bangsa itu tidak mungkin bisa bergerak dan bangkit, kecuali apabila di tengah-tengah mereka ada orang-orang yang aktif memperbaiki moral bangsa itu sendiri, mendorongnya untuk maju, menggugah kesadaran dan memacunya untuk terus maju hingga dapat mencapai keagungan.
Tingkat kesadaran umat atau kemunduran mereka itu bergantung pada kecakapan orang-orang yang berusaha mengobati (memperbaiki) mereka.
Umat atau bangsa mana pun tidak akan bisa bangkit, kecuali dengan meningkatkan akhlak yang baik mereka, yang didahului dengan membasmi akar akhlak (kebiasaan) mereka yang bobrok serta memperbaiki sistem kehidupan sosial mereka. Apabila urusan tersebut dapat diatasi dengan baik, maka persoalan-persoalan yang lain, misalnya reformasi tatanan sistem politik, ekonomi dan pembangunan, akan mudah diselesaikan.
Usaha meningkatkan moral bangsa dan memperbaiki kebobrokan tatanan dalam masyarakat itu tidak dapat berhasil, tanpa melaksanakan perubahan besar-besaran dalam bidang moral yang perlu dikobarkan dalam jiwa seluruh umat oleh para tokoh pembaruan dari kalangan sarjana-sarjana ilmu sosial dan moral sedikit demi sedikit, sehingga akar-akar kebobrokan moral dapat dijebol, kemudian diganti dengan moral atau kebiasaan-kebiasaan yang baik.
Gerakan moralitas itu berupa tampilnya individu umat yang baik tingkah lakunya, bersih (tulus) hatinya dan jelas tujuannya, yaitu mengubah kondisi sosial dan moral umat. Merekalah yang barus mengerahkan umat, agar meninggalkan kebiasaan buruk dan perangai yang tidak terpuji. Mereka harus terus-menerus bergerak memotifasi umat dengan segala upaya, tanpa mengenal lelah, hingga mereka dapat mencapai apa yang mereka cita-citakan.
Syarat utama (dalam mencapai keberhasilan gerakan moralitas) ini adalah gerakan tersebut harus dimulai sesuai dengan kondisi, sehingga apabila umat sekiranya telah siap untuk diajak maju, maka bawalah para pelopor gerakan ini melontarkan pikiran-pikiran yang lurus dan gagasan-gagasan yang tepat dan cocok dengan pertimbangan umat. Apabila gerakan moralitas tidak dilakukan dengan cara demikian itu, maka gerakan ini lebih mengakibatkan nasib umat itu dalam keadaan lebih buruk daripada keadaan mereka sebelumnya.
Hendaklah langkah pelopor gerakan moralitas ini sama dengan langkah yang ditempuh oleh para dokter jasmaniah dalam ha memberikan resep-resep kepada pasiennya.
Seorang dokter tidak akan memberikan makanan kepada pasiennya, kecuali sesuai dengan perkembangan kesehatannya. Sehingga apabila dia benar-benar sehat, maka barulah dokter memperbolehkannya makan makanan yang tidak membahayakan terhadap kesehatan, Langkahlangkah seperti itu hendaknya diperhatikan oleh para pelopor gerakan moralitas dalam usahanya mengubah moral umat.
Seluruh umat pada saat ini benar-benar memerlukan adanya gerakan moralitas, untuk memperbaiki keadaan nasib mereka dan mengentas mereka dari dekadensi moral.
Wahai, generasi muda, engkaulah dokter-dokter penyakit sosial itu. Engkaulah yang diharapkan menjadi pelopor gerakan moralitas ini. Di tanganmulah segala urusan umat. Engkaulah yang bakal disertai tanggung jawab mengubah cara berpikir umat dan menyebarkan nilainilai akhlak mulia di kalangan mereka.
Oleh sebab itu, bersiap-siaplah mulai saat ini menjadi orang-orang yang gigih dan berkemauan keras. Beranggapanlah, bahwa kalian adalah sama, bakal menjadi dokter, penasihat dan pembimbing umat yang tulus serta menjadi penasihat yang sejati, yang dapat mengamalkan petuahnya. Jika demikian, maka kalian akan dihargai oleh umat.









One Comment