KEDERMAWANAN
Harta kekayaan -seperti halnya kekuasaanitu berfungsi sebagai pelayan bagi manusia, di saat manusia terdesak oleh kebutuhan.
Apabila engkau melihat seseorang hendak menghantam dirimu, maka sudah pasti engkau akan memipertahankan diri dan menahan hantaman Orang itu dengan kekuatan yang engkau miliki.
Apabila engkau melihat seseorang yang memusuhi salah seorang yang lemah, maka semangat keberanian spontan mendorongmu untuk memprotesnya dan membela orang yang lemah, yang tidak berdaya itu sebagai sedekah, berupa kekuatan buat orang yang lemah tersebut. Semangat keberanianmu itu akan lebih keras dan ganas, jika engkau melihat musyh yang berdatangan hendak memerangi umat dan menghancurkan negara suatu bangsa.
Demikian pula halnya, apabila hatimu merasa membutuhkan sesuatu yang akan engkau manfaatkan, maka engkau pasti sanggup mengeluarkan sebagian hartamu untuk mendapatkan sesuatu yang engkau butuhkan itu.
Apabila engkau menjumpai orang miskin atau lemah, yang tidak memiliki daya kekuatan, maka sifat kesatria dan kasih sayang pasti menggerakkanmu. Lalu engkau memberikan sesuatu sesuai kerelaan hati untuk membantu meringankan penderitaan dan menutup kebutuhan Si miskin itu.
Apabila engkau menyaksikan seluruh bangsa membutuhkan uluran bantuan -sedangkan engkau mampu untuk memperbaiki kebobrokan dan kekacauan mereka-, maka sudah barang tentu engkau lebih terdorong untuk mengulurkan bantuan kepada mereka dan perasaan muntah memenuhi kebutuhan mereka itu lebih kuat.
Apabila sifat licik itu dapat menyebabkan orang enggan melawan orang yang hendak berbuat jahat kepada dirinya sendin atau lainnya, sehingga dia selalu menjadi sasaran kejahatan orang-orang yang jahat. Maka, begitu pula sifat bakhil atau kikir, juga dapat menyebabkan orang enggan memberikan sesuatu yang sedang dibutuhkan orang lain, sekalipun yang dibutuhkan itu sangat mendesak sekali. Barangsiapa yang licik atau takut membela dirinya sendiri dari gangguan dan kikir membelanjakan harta untuk menutup kebutuhannya sendiri, maka dia sudah pasti lebih takut membela orang lain dan lebih kikir membelanjakan hartanya, walaupun hanya sedikit demi kepentingan orang lain.
Sebagaimana halnya Tahawwur (berani tanpa perhitungan), sering-sering menyebabkan tersia-sianya kehidupan orang-orang yang ingin maju menghadapi segala rintangan, tanpa angan-angan dan perhitungan itu sendiri, sehingga keberanian mereka sama sekali tidak berguna dan tidak memberikan manfaat, maka seperti itu pulalah sifat israf atau pemborosan dan menghamburkan harta untuk hal-hal yang tidak perlu, ia dapat menyebabkan lenyap harta, sehingga pelakunya akan terus menerus dalam keadaan susah dan cemas.
Semua kesalahan di atas, adalah akibat diabaikannya sikap tengah-tengah (i’tidal). Karena itu, kalian harus menetapi sikap tengah-tengah, sedang, moderat atau i’tidal.
Orang yang kaya raya, hartanya bisa habis karena boros dan dibelanjakan untuk sesuatu yang tidak ada manfaatnya, baik untuk dirinya sendiri atau umat. Alubatnya, dia yang semula kaya raya menjadi miskin, kosong kantongnya, hampa kedua tangannya dan tidak memiliki apa-apa.
Kebakhilan itu sebenarnya menggiring seseorang pada kesengsaraan. Orang yang kikir itu sebenarnya semakin sengsara dalam mencari harta (emas), dan sifat kikir itu akhirnya menghalanginya untuk bisa hidup senang dan tenteram. Harta kekayaan itu hanyalah suatu perantara untuk dapat hidup berkecukupan, digunakan membantu meringankan beban penderitaan orang-orang miskin dan mengobati kesedihan orang-orang yang melarat.
Seperti halnya, kekuatan tanpa keberanian, juga tidak ada gunanya, karena yang memiliki kekuatan itu boleh jadi penakut atau berami, tetapi tanpa perhitungan. Demikian pula halnya harta kekayaan tanpa disertai kedermawanan, sama sekali tidak ada manfaat dan kebaikannya, sebab pemiliknya boleh jadi kikir atau pemboros.
Jika pemborosan itu menyebabkan harta ludes, maka kikir (tidak memberikan harta) itu memaksa orangnya hidup susah. Pemborosan dan kekikiran itu menyebabkan kehancuran dan bencana bagi orang yang memiliki kedua sifat tersebut, yakni boros dan kikar.
Sederhana atau sikap tengah-tengah, yaitu berbuat kedermawanan. Hal itu bisa mendatangkan kebahagiaan berupa harta. Allah swt. berfirman:
“Janganlah kamu menjadikan tanganmu sendiri terbelenggu ke lehermu, jangan pula tangan itu kamu ulurkan seluas-luasnya, sebab kamu akan duduk dalam keadaan tercela dan penuh penyesalan.”
Dengan demikian, bersikap sedang dan mengambil jalan tengahtengah dalam segala permasalahan itu menyebabkan terhindar dari segenap malapetaka. Oleh sebab itu, hendaklah seseorang menginfakkan hartanya untuk kepentingan diri, keluarga, orang-orang yang membutuhkan bantuan dan proyek-proyek yang mendatangkan kemanfaatan bagi orang banyak, dengan tidak berlebihan dan tidak pula sangat bakhil.
Perlu diketahui, bahwa berderma itu harus disesuaikan dengan jumlah harta yang dimiliki. Banyak sekali orang yang dermawan, yang dianggap oleh orang lain kikir, jika dibandingkan dengan orang lain, begitu sebaliknya.
Di tengah masyarakat ini, sebenarnya ada sekelompok orang -semoga Allah menjadikan mereka baikyang menganggap, bahwa kekikiran itu bisa menyebabkan hidup kekal di dunia, sehingga apabila engkau meminta kepada mereka, agar mengeluarkan sebagian kecil hartanya untuk membantu meringankan penderitaan orang-orang miskin atau untuk membiayai sebagian proyek-proyek penting, maka orang tersebut merasa sepertinya engkau mengajaknya untuk mengangkat senjata tombak melawan musuh, menghunus pedang dan mengorbankan nyawa dalam suatu pertempuran (gemetar, ketakutan dan merasa keberatan memenuhi permintaanmu). Di antara mereka ada yang kikir terhadap dirinya sendiri dan orang lain. Orang seperti ini adalah orang yang paling jelek. Di antara mereka ada yang kikir terhadap orang lain, tetap! royal untuk dirinya sendiri. Orang seperti ini adalah orang yang egois (mementingkan diri sendiri), yang lemah perasaannya dan tidak sehat pikirannya. Orang-orang yang berjiwa seperti ini mempunyai prinsip asal dirinya hidup, meskipun bangsanya mati, yang penting dirinya senang, meskipun bangsanya sengsara.
Di sana, ada lagi sekelompok orang yang menghambur-hamburkan dan memboroskan harta kekayaannya. Jika mereka melihat ada acara kemungkaran, maka cepat sekali tanggap dan mendukungnya, jika mereka mendengar di suatu tempat ada pesta (yang bersifat kesenangan hawa nafsu), maka dia langsung terbang ke tempat itu dan memberikan sumbangan uang, emas dan perak yang banyak, demi memeriahkan pesta tersebut. Tetapi, apabila mereka diajak melakukan kegiatan sosial, mereka pura-pura tidak tahu dan tidak mendengar. Kelompok orang seperti ini adalah orang-orang ketiga yang paling buruk dan mereka itu adalah orang-orang yang melampaui batas.
Wahai, generasi yang baik, menjauhlah dari kelompok orangorang tersebut. Tirulah jejak orang-orang dermawan yang mulia, sebab jejak para dermaw an itu adalah jalan yang jelas dan lurus. Sesungguhnya kedermawanan itu adalah sikap sedang dalam membelanjakan harta. di situlah tempat tumpukan permohonan bantuan, itulah sifat yang diidamidamkan setiap orang dan medan amal orang-orang mulia.
Berpegang teguhlah dengan sifat dermawan. Berlindunglah dalam benteng kedermawanan, jika engkau berbuat demikian, maka engkau bersama bangsamu akan hidup senang dan bahagia.
KEBAHAGIAAN
Orang-orang ahli pikir agaknya tidak pernah berpendapat tentang tafsir atau interpretasi suatu persoalan, sebagaimana mereka berbeda pendapat tentang tafsir kata bahagia.
Hal yang demikian itu dikarenakan bahagia itu termasuk sesuatu yang nisbi (relatif) dan pelengkap. Bahagia itu bukan merupakan sesuatu yang baik, yang disepakati semua orang. Namun, bahagia itu merupakan Sesuatu yang baik menurut seseorang yang memandangnya baik.
Mungkin si Zaid menilai baik pada suatu perkara, dan dia menganggapnya (menurut perasaannya) sebagai hal yang membahagiakan, serta menganggap orang yang menerima sesuatu tersebut sebagai orang yang bahagia. Tetapi Amar melihat sesuatu itu dan menganggapnya sebagai bencana, serta menganggap orang yang menerima sesuatu tersebut sebagai orang yang celaka.
Kebahagiaan itu sama halnya dengan kecantikan. Banyak pendapat dan pemahaman tentang itu dan interpretasinya berbeda, karena kecondongan setiap orang memang berbeda-beda. Kepastian pemikiran itu kembali pada perasaan dan kecenderungan masing-masing individu. Aneka ragam perbedaan dalam menilai kebahagiaan itu, semata-mata timbul dari aneka ragam perasaan dan kecenderungan.
Sebagian orang ada yang berpendapat, bahwa kebahagiaan itu terletak pada kebebasan makan, minum, kesenangan, pakaian, menghabiskan waktu untuk rekreasi dan bersenang-senang. Ada lagi yang beranggapan, bahwa kebahagiaan itu terletak pada asal mencari uang dan menyimpannya dalam kotak. Ada yang berpendapat, bahwa kebahagiaan itu terletak pada membaca buku-buku, mendalami ilmu-ilmu yang penting-penting dan membicarakan atau mendiskusikan tentang makna-makna yang terkandung dalam beberapa karya sastra. Ada lagi pendapat yang mengatakan, kabahagiaan itu ada pada perbuatan menyendiri di tempat yang sepi, jauh dari keramaian, menjauhi hidup mewah dan serba ada. Di antara orang-orang yang tersebut di atas, ada orang yang menyangka, bahwa kebahagiaan itu ada pada kekuasaan, karena dapat memilih secara bebas siapa yang berhak diangkat menjadi pejabat dan siapa yang perlu dilengserkan atau dipecat dari jabatannya, agar mereka loyal kepadanya, dan menuruti kemauannya.
Orang yang memperoleh kebahagiaan, ialah orang-orang yang melihat (menilai) sesuatu dengan akal pikiran, kemudian dia menetapkan garis tengah sebagai jalan yang harus dilaluinya dalam mencapai berbagai persoalan. Jalan tengah inilah yang disebut i’tidal, yakni berlaku sedang, sedangkan I’tidal (jalan tengah) dalam segala sesuatu itu adalah yang menyebabkan tercapai kebahagiaan.
Berlaku sedang dalam hal makan dan minum, merupakan kunci utama keselamatan jasmani dari berbagai penyakit dan gangguangangguan.
Berlaku sedang dalam rekreasi dan mencari hiburan, menyebabkan tumbuh kegembiraan dan pulih semangat dalam jiwa serta dapat menghilangkan kepenatan badan. Jika tidak pernah sama sekali rekreasi dan mencari hiburan, maka jiwa menjadi tidak bersemangat. Sebaliknya, jika berlebihan (terlalu sering) rekreasi (pelesir) dan mencari hiburan, akan menimbulkan kemalasan, kelelahan dan cenderung melakukan hal-hal yang merusak moral.
Berlaku sedang atau sederhana dalam mencari uang dan membelanjakannya, dapat menunjukkan ke arah yang baik dalam cara kerja (mencari uang) dan mendorong meninggalkan kerakusan dalam mengumpulkan harta halal dan tidak halal. Sedangkan kesederhanaan bekerja itu dapat menunjukkan pada cara-cara menginfakkan harta, sesuai dengan hukum agama, sehingga orang yang bersangkutan tidak menjadi orang yang kikir dan tidak pemboros. Tetapi dia bisa hidup dengan penuh kebahagiaan dan berkecukupan.
Berlaku sedang dalam belajar dan pengkajian tentang ilmu pengetahuan, dapat menyebabkan hati terasa senang dan dapat mengusir kejenuhan dan kebosanan.
Mencari kebutuhan hidup di dunia dan mencari ilmu serta amal untuk kepentingan agama (akhirat) disertai memperhatikan hal-hal yang menyehatkan badan dan menjernihkan akal pikiran itu, merupakan jalan untuk mencapai kebahagiaan di dunia dan akhirat.
Adapun menekan hati agar jauh dari sifat-sifat tidak terpuji dan bersih dari sifat-sifat kesombongan, merupakan ketinggian harga diri yang terpuji, yang menyebabkan jiwa menjadi mulia dan agung. Sebab, dia tidak mau menjadi hina dan selalu menjaga dirinya jangan sampai menjadi sasaran penghinaan, menghina orang lain atau mementingkan diri sendiri dan monopoli hak orang lain.
Semua yang diterangkan di atas, berupa keterangan-keterangan berkaitan dengan sikap.sedang dalam berbagai persoalan itu, dapat menimbulkan kebahagiaan bagi orang yang memiliki sikap sedang atau berlaku sederhana, yang kebahagiaan tersebut membuat hidupnya tenteram dan kehidupannya senang.
Barangsiapa yang ingin merasakan kebahagiaan dalam diri, keluarga, harta kekayaan, anak keturunan, teman-teman dan semua usahanya, maka harus menempuhnya melalui jalan tengah-tengah atau sedang. Untuk menempuh jalan tengah atau sedang ini, harus berpatokan pada ajaran agama, akal pikiran dan perasaan. Tiga hal itulah patokan terbaik dalam mengambil sikap tengah-tengah.
Wahai, generasi muda yang mulia, sesungguhnya jalan menuju kebahagiaan itu terbentang di hadapanmu. Carilah kebahagiaan dalam ilmu dan amal saleh serta akhlak yang terpuji. Jadilah engkau orang yang selalu mengambil sikap tengah-tengah atau sedang dalam segala persoalan, pasti engkau akan menjadi orang yang bahagia.









One Comment