Kitab Tasauf

Terjemahan Kitab Idhotun Nasyi’in

NASIONALISME

Saya belum pernah merasa heran sama sekali, melebihi keheranan saya terhadap orang yang mengaku berjiwa nasionalisme dan mengklaim, bahwa dia telah berkorban dengan darah dan hartanya demi negara: Namun, orang tersebut ternyata berupaya keras merusak benteng-benteng ketahanan negara, dengan berbagai macam tindakan kesewenang-wenangan.

Tidak setiap orang yang menganjurkan semangat nasionalisme itu berjiwa nasionalisme sejati. Sebelum engkau melihatnya sendiri ia telah melakukan pekerjaan yang dapat menghidupkan negara dengan mengorbankan segala miliknya yang berharga dan yang tidak berarti demi kemajuan negara serta mau berusaha bersama-sama orang lain untuk menjunjung tinggi martabat negara dan bekerja keras bersama kawan-kawan senasib membela negaranya.

Adapun orang yang berusaha melakukan sesuatu yang dapat melemahkan kekuatan negara dan mematahkan sendi-sendinya, maka dia masih jauh disebut orang nasionalis, walaupun dia telah berteriakteriak dengan suara yang dapat didengar ke seluruh penjuru negeri dan berulang-ulang menyatakan: “Saya adalah orang nasionalis tulen”.

Nasionalisme yang sejati adalah kecintaan berusaha untuk kebaikan negara dan bekerja demi kepentingannya, sedangkan seorang nasionalis tulen adalah orang yang rela mati demi tegaknya negara dan rela sakit demi kebaikan rakyatnya.

Ingatlah, bahwa negara itu memiliki beberapa hak yang harus dipenuhi penduduknya. Seorang anak, baru dianggap sebagai anak yang sebenarnya, apabila dia telah melaksanakan kewajiban-kewajiban terhadap ayahnya. Begitu pula putra bangsa, tidak bisa disebut putra yang baik, kecuali jika dia mau bangkit, sanggup memikul beban dan tanggung jawab untuk mengabdi pada negara, mempertahankan negara dari rongrongan para provokator dan membendung usaha-usaha para pengkhianat atau pejuang-pejuang palsu.

Di antara kewajiban-kewajiban yang harus dipenuhi oleh setiap putra bangsa adalah meningkatkan jumlah orang-orang terpelajar yang bermoral tinggi dan baik, yang telah tertanam kuat dalam dadanya kata mutiara yang amat terkenal, yakni:

“Cinta tanah air itu bagian dari keimanan”.

Upaya meningkatkan jumlah orang-orang terpelajar tersebut tidak akan terwujud, kecuali dengan mengorbankan harta dengan niat ”demi kemaslahatan umum”, mencurahkan tenaga dan pikiran untuk mendirikan lembaga-lembaga pendidikan yang dapat menghembusk jiwa nasionalisme pada jiwa para pelajar, yang dapat menumbuhkan gagasan-gagasan mulia dan amal saleh dalam jiwa mereka dan yang sanggup membangkitkan mereka -tatkala mereka menjadi dewasaunti berkhidmat, demi kepentingan negara yang sedang berada di ambang kehancuran akibat ulah putra-putra negara yang tidak bertanggur jawab, yang kejahatannya melebihi kejahatan musuh-musuh yang sebenarnya.

Dari orang-orang terpelajar yang sedang tumbuh itu, akan keluar gagasan dan upaya-upaya yang dapat menegakkan kehidupan umat ini, yakni umat yang hampir lenyap -karena kebodohan dan kehinaannyamasuk dalam catatan bangsa-bangsa yang telah punah.

Manakala kaum terpelajar yang telah terdidik dengan pendidikan yang benar itu tumbuh dan mulai melibatkan diri dalam kehidupan sosial, maka di antara mereka pasti ada yang membuat kejutan hebat, yang belum pernah dilihat mata, belum pernah terdengar oleh telinga, bahkan belum pernah terbayangkan dalam benak pikiran manusia sebelumnya.

Pendidikan yang hak (benar) merupakan roh (jiwa) kehidupan dan ilmu pengetahuan merupakan darah segar suatu negara. Tidak mungkin kita hidup bahagia tanpa pendidikan yang benar, dan ilmu pendidikan mendorong pada usaha dan bekerja, sedangkan ilmu pengetahuan menunjukkan pada jalan kebahagiaan.

Kita sangat memerlukan industri-industri dan perusahaan-perusahaan nasional serta perdagangan yang dikelola secara nasional, agar negara dapat mencapai kemerdakaan (independensi) dalam bidang ekonomi dan terbebas dari sikap menggantungkan diri kepada pihak asing. Barangsiapa yang berusaha memerdekakan negara dan membebaskannya dari meminta-minta bantuan kepada pihak asing, maka dia adalah orang nasionalis tulen yang dihormati oleh setiap orang.

Setiap akhir (hasil) usaha, pasti ada pendahuluan-pendahuluannya, sedangkan pendahuluan kemerdekaan adalah meningkatkan pendidikan dan pengajaran kepada generasi muda, agar mereka menjadi tangan-tangan (pejabat-pejabat) negara yang mau bekerja, menjadi rohnya yang kuat dan menjadi darah yang mengalir ke dalam seluruh bagian urat negara. Oleh karena itu, tingkatkanlah pendidikan anak-anak, maka negara pasti berjaya.

Cinta tanah air merupakan tabiat atau naluri (sifat yang melekat pada jiwa) setiap orang, yang tidak seorang pun mengingkarinya, kecuali orang-orang pembohong dan yang cemas jiwanya. Hal yang memalingkan seseorang dari cinta tanah air, hanyalah pendidikan yang salah satu ketidakberesan dalam cara berpikir otaknya atau adanya darah keturunan asing, orang semacam inilah yang memprovokasi orangorang pribumi, agar memasuki negara tempat ia dilahirkan, dibesarkan dan menikmati hasil-hasil buminya. Darah asing itulah yang membuatnya tiba-tiba merindukan tanah air, yang sama sekali belum pernah dia kenal.

Tanah air kita tidak lain adalah tempat kelahiran ayah dan leluhurnya. Darah keturunan asing itulah yang menjadikan dia merindukan pada sekelompok bangsa yang belum pernah dia kenal adat istiadat, belum dia mengerti bahasanya dan belum pernah sama sekali terjadi ikatan dengan mereka. Dia bersikap seperti itu, hanya karena dia merasa bagian dari bangsa tersebut. Orang yang demikian ini, sebaiknya cukup dengan kerinduannya itu saja, tidak perlu berusaha menjelekkan dan membuat kerusakan negara yang memberinya tempat tinggal dan perlindungan, lebih-lebih sesudah negeri yang dirindukan itu tidak lagi menganggap penting leluhurnya, bahkan telah mencampakkannya bagaikan mencampakkan biji buah saja dan orang berdarah asing itu tidak perlu berbuat menghalang-halangi atau menggagalkan setiap usaha pribumi membangkitkan negara.

Wahai, generasi muda, semua harapan bangsa ditumpahkan kepada kalian, maka bangkitlah engkau, giat menuntut ilmu -semoga Allah swt. melindungimudan berperangailah dengan perangai dan akhlak orang-orang terdahulu, karena negara telah memanggilmu dan engkau adalah orang yang ditunggu-tunggu.

Berhati-hatilah terhadap para pengkhianat perjuangan, waspadalah terhadap jebakan-jebakan mereka dan sadarilah kejahatan-kejahatan atau perbuatan-perbuatan makar mereka. Sebab, mereka itu adalah penyakit Degaramu yang sangat berbahaya dan racun yang mematikanmu. Ingatiah, bahwa tidak ada yang menyebabkan negara menjadi berantakan dan enggan melakukan usaha perbaikan, kecuali orang-orang pengkhianat dan pejuang-pejuang palsu tersebut, mereka itu adalah musuh yang paling jahat dan penyakit yang paling berbahaya.

Jadilah engkau seperti bencana dahsyat, penyakit ganas, maut yang mengerikan dan pengawas yang terus memata-matai terhadap mereka. Hati-hatilah engkau, jangan sampai terburu-buru tergiur oleh kedudukkan, sebelum engkau siap melancarkan perjuangan pada sasaran dan janganlah engkau berhenti memantau orang-orang yang hendak berbuat kerusakan.

Realisasikan cita-citamu, maka negara dan bangsamu akan hidup sejahtera bersamamu.

KEMERDEKAAN

Sesungguhnya setiap bangsa itu memiliki kematian, dan kematian setiap umat ini adalah hari kelenyapan (hilang) kemerdekaan umat atau bangsa itu sendiri.

Kemerdekaan adalah sebuah karunia Allah, Tuhan Yang Mahapencipta kepada makhluk-Nya, yang diharapkan makhluk itu bisa memanfaatkan dengan baik untuk dirinya sendiri dan orang lain.

Hurriyyah (kemerdekaan) dalam bahasa, berarti “pembahasan” dari segala ikatan. Al-Hurru (orang yang merdeka) adalah lawan Al-‘Ahdu (hamba sahaya), sebab dia (Al-Hurru) bebas dari ikatan perbudakan. Al-Hurru juga berarti “pilihan”. Bisa juga berarti “baik”, jika digabungkan dengan kata Ath-Thin atau Ar-Ramlu. Ramlatun Hurrun artinya: “Pasir yang bagus ditanami”, Ardhum Hurrun artinya “tanah yang bagus”.

Dari uraian makna kata Al-Hurriyyah-tersebut, engkau mengerti, bahwa kata Al-Hurriyyah (kemerdakaan) menunjukkan pengertian suci, bersih, bagus dan kemurnian sesuatu dari hal-hal yang mengotori dan menodainya.

Orang yang merdeka -dalam pengertian baru dan benar-, ialah orang yang murni pendidikannya, bersih jiwanya, berpegang teguh dengan sifat-sifat terpuji, menjauhkan diri dari sifat-sifat tercela, melepaskan diri dari segala bentuk ikatan perbudakan dan melaksanakan kewajiban yang menjadi kewajibannya.

Sesungguhnya manusia diciptakan oleh Allah swt. tidak untuk menjadi budak atau hamba orang lain. Tidak untuk menjadi bola yang ditendang ke sana-kemari sesuka hati, dibuat permainan tangan-tangan penguasa, dipermainkan menurut kemauan dan kesenangan hati para pembesar, tetapi manusia diciptakan oleh Allah swt., agar dia bekerja dan beramal, baik secara individu atau kolektif, sesuai hukum Allah yang berlaku, yakni kebebasan atau kemerdekaan.

Anugerah Allah yang besar berupa kemerdekaan ini tidak akan dicabut oleh Allah -dari umat manusia-, kecuali disebabkan rusak jiwa dan mental mereka yang dibuat oleh orang-orang yang zalim. Mereka yang zalim itu, tidak membiarkan mereka (bangsa yang hendak dijajah) mencurahkan hatinya dengan ilmu pengetahuan. Sebab mereka tahu benar, bahwa ilmu yang benar itu justru akan menunjukkan mereka mengetahui hak-haknya. Ilmu yang benar itu bagaikan percikan api yang mengobarkan cita-cita (membebaskan diri) dalam jiwa mereka dan membuat orang yang berakal peka, manakala diperalat oleh kekuasaan yang bertindak sewenang-wenang.

Khalifah Umar bin Al-Khaththab r.a. bertanya kepada ‘Amer bin Al-‘Ash. gubernur Mesir, tatkala anaknya berani memukul orang Mesir.

“Sejak kapan engkau memperbudak orang-orang yang dilahirkan Oleh ibu-ibu mereka dalam keadaan bebas (merdeka).”

Ingat, seseorang itu belum bisa dianggap merdeka, kecuali jika jiwanya telah mendapatkan pendidikan sempurna, tumbuh dalam hatinya kemauan keras, memiliki ilmu tidak sedikit, kemudian berani membebaskan diri dari cengkeraman dan kungkungan orang yang menguasainya dengan kekuatan dan paksaan. Barangsiapa yang belum bisa seperti itu, maka orang tersebut masih jauh dikatakan sebagai orang yang merdeka dan antara dia dengan kebebasan atau kemerdekaan, masih terhalang oleh hamparan hutan belukar yang sangat angker.

Tidak bisa disebut orang merdeka, orang yang menjadikan kemerdekaan sebagai kesempatan melakukan perbuatan yang hina, jalan menuju kerusakan, atau menjadikannya pedang untuk melenyapkan baju iffah,’ menggunakannya sebagai tombak untuk menusuk sifat-sifat keutamaan atau memanfaatkannya sebagai anak panah untuk merobekrobek kehormatan orang.

Bukanlah kemerdekaan, perbuatan seseorang yang dapat menimbulkan bahaya pada dirinya sendiri dan orang lain, misalnya memboroskan harta kekayaan, melecehkan sifat kemanusiaan, membelokkan perbuatan kemungkaran, melakukan pengerusakan tatanan kemasyarakatan dengan perbuatan-perbuatan yang menyakiti hati orang, mengadu domba, menggunjing, bermusuhan dan perbuatanperbuatan lainnya, yang tidak sesuai dengan akhlak mulia.

Sebenarnya, banyak orang yang mengaku sebagai orang merdeka, tetapi memakai pakaian budak, dia menjadi tawanan nafsunya, budak pemimpin atau penguasa, dan budak hawa nafsu amarah, yang jika mendorongnya berbuat kerusakan, patuh melakukannya. Jika nafsu amarah itu menggelitiknya, agar memfitnah dan mengancam orang lain, maka dengan cepat memenuhinya. Namun, apabila akal sehatnya mendorongnya untuk mengerjakan hal-hal yang dapat menghidupkannya, dan orang yang tajam pikirannya menganjurkan, agar melakukan sesuatu yang dapat mengangkat derajatnya serta apabila para kesatria mengajaknya agar bangkit bersama rakyat dan mendukungnya. Maka, dia berpura-pura tidak mendengar seruan tersebut, atau bahkan dia menempuh jalan berpolemik dengan orang yang menyerukan hal tersebut. Kemudian dia mengklaim dirinya sebagai orang yang merdeka. Kemanusiaan dan kebebasan tiada lain adalah dua faktor utama, kemakmuran dan dua unsur pokok kehidupan masyarakat yang harmonis.

Bangsa mana pun yang ingin mencapai puncak peradaban yang tinggi dan kemakmuran yang merata, maka harus bekerja keras mendidik individu-individu bangsa, memahami arti kebebasan dan kemerdekaan yang sebenarnya, harus mencekoki putra-putranya dengan nilai-nilai luhur bangsa yang bersih dan murni.

Wahai, generasi muda, bangkitkan berjuang untuk mencapai kemerdekaan yang sejati, yang bebas dari campur tangan orang munafik dan pengkhianat, karena kemerdekaan yang murni itulah jalan satusatunya mencapai kejayaan. Kemerdekaan yang sejati adalah jalan menuju kehidupan yang bahagia.

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25Laman berikutnya
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker