DOSA-DOSA YANG BISA MENGHALANG-HALANGI PENGAMPUNAN
Wajib bagi setiap muslim menjauhi dosa-dosa yang dapat mengakibatkan menghalang-halangi pengampunan Allah dan dikabulkannya do’a yang dipanjatkan pada malam nisfu Sya’ban. Telah diriwayatkan, bahwa dosa-dosa tersebut adalah: syirik, membunuh dan berzina, sebagaimana tersebut dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Mas’ud yang telah disepakati akan keshahihannya, bahwa ia bertanya kepada Rasulullah SAW :
“Dosa apakah yang paling agung? Rasulullah SAW menjawab: Jika engkau menjadikan sekutu kepada Allah, padahal Ia yang menjadikanmu. Ibnu Mas’ud bertanya lagi: Kemudian apa lagi? Rasulullah menjawab: Jika engkau membunuh anakmu karena engkau takut ja akan makan bersamamu. Ibnu Mas’ud bertanya lagi: Kemudian apa lagi? Rasulullah menjawab: Jika engkau berzina dengan perempuan halalnya tetanggamu”. Kemudian Allah menurunkan ayat sebagai pembenar dari sabda Rasulullah SAW:
(H.R. Muslim)
Sabda Rasul , lafadz menggunakan Ha’ tanpa titik, artinya istri tetanggamu. disebut karena menjadi halal bagi suaminya atau karena ia bertempat tinggal bersama suaminya, Adapun arti dari adalah engkau berzina dengannya atas dasar suka sama suka. Karena demikian adalah suatu bentuk kejahatan yang dialakukan oleh istri kepada suami, dan suatu ketertarikan hati terhadap seorang lelaki yang menzinainya. Perbuatan seperti itu adalah sebuah kejahatan besar, terlebih jika dilakukan terhadap tetangga sendiri, maka akan lebih jahat dan lebih runyam, Karena seorang tetangga senantiasa berharap dari tetangganya yang lain suatu perlindungan dan pembelaan bagi dirinya dan bagi istrinya. Dan ia berharap suasana aman dan tentram dan jauh dari kejahatan. Rasulullah SAW telah memerintahkan untuk berbuat baik dan hormat kepada tetangga. Namun jika semua itu telah dibalas dengan perbuatan zina dengan istrinya, sementara sang istri juga ikut andil dalam sebuah kejahatan berupa kerelaannya menuruti kemauan pezina, maka sungguh hal ini merupakan perbuatan yang amat biadab.
Adapun firman Allah. , artinya: janganlah engkau membunuh jiwa yang asal muasal dijadikannya secara terhormat dan terjaga, kecuali ia yang sudah menghilangkan status asal muasalnya.
Termasuk dosa yang bisa menghalang-halangi ampunan adalah permusuhan. Yaitu dendamnya seseorang kepada saudaranya karena didasari rasa benci yang mengikuti hawa nafsu. Itu juga sebagai penghalang suatu pengampunan Allah di waktu-waktu Allah berkenan memberikan pengampunan dan rahmat, sebagaimana tersebut di dalam kitab Shahih Muslim:
“Diceritakan dari Abu Hurairah secara marfu’: Pada hari Senin dan Kamis pintu pintu surga dibuka, maka pada hari itu Allah akan mengampuni semua hamba-Nya yang tidak menyekutukanNya dengan suatu apapun, kecuali seorang yang diantara dia dan saudaranya ada permusuhan, maka Allah berfirman: Lihatlah kedua orang ini, sampai keduanya mau berdamai”.
Sebenarnya dosa-dosa itu harus dijauhi di setiap waktu dan saat, baik di bulan Sya’ban atau di bulan yang lain, seperti disebutkan di beberapa hadits shahih. Akan tetapi, upaya menjauhi itu hendaknya semakin kuat dan hati-hati di masa-masa tertentu yang berkah dan utama, seperti di bulan Ramadlan, Asyhurul Hurum, (empat bulan mulia) dan di malam nisfu Sya’ban.
Oleh karenanya, hendaknya setiap muslim meresapi keagungan dan kehormatan malam nisfu Sya’ban, dan hendaknya mencermati keagungan itu dengan penuh penghormatan, akhlag mulia dan syukur kepada Allah SWT. Implementasinya adalah konsistensi kepada perbuatan yang baik dan manfaat serta menjauh dari perkara mungkar dan haram di setiap saat agar hubungannya dengan Allah SWT selalu terjaga, dan tidak termasuk orang-orang yang tidak mempuyai malu dalam setiap bermu’amalah dengan Allah.
Juga hendaknya selalu meminta kepada Allah SWT petunjuk dan pertolongan kepada jalan yang turus, demikian tadi itu kebiasaan orangorang yang mulia. Adapun orang-orang yang hina, maka ampunan dan kemurahan Allah itu justru menjadikannya bertambah membangkang akan perintah Allah, berpaling dari kebaikan, lupa kepada Allah dan meremehkan Syar’at-Nya, Orang-orang mulia itu ketika menyikapi kemurahan Allah, maka ia bertambah malu, merunduk dan menyesali perbuatan-perbuatannya. Dikatakan oleh Sya’ir:
“Jika engkau menghormati orang yang mulia, maka ia semakin membuatmu simpati dengannya. Namun, jika engkau menghormati orang yang hina, maka ia semakin menjadi-jadi pembangkangannya.”









One Comment