Kitab Tasauf

Terjemahan Kitab Madza Fi Sya’ban

“Diceritakan dari Usamah bin Zai, ia berkata : aku katakan kepada Rasulullah SAW : wahai Rasulullah, kadang-kadang engkau berpuasa sunah sampai-sampai nyaris engkau tidak pernah berbuka (selalu berpuasa), dan kadang-kadang engkau tidak melakukan puasa sampai-sampai nyaris seakan-akan engkau tidak pernah berpuasa. Kecuali dua hari (jika kebetulan berada pada hari-hari yang biasa Rasulullah berpuasa pada hari-hari tersebut, jika tidak maka beliau selalu mengkhususkannya berpuasa). Beliau lalu bertanya : hari apakah itu? Aku pun menjawab : yaitu hari Senin dan Kamis. Beliau bersabda : pada hari-dari itu dihaturkannya catatan amal perbuatan kepada Allah Tuhan semesta alam, aku senang jika di saat dihaturkan perbuatanku aku sedang berpuasa.”

“Diceritakan dari Jabir RA. Bahwa Rasulullah SAW bersabda: pada hari Senin dan Kamis dilaporkan catatan amal perbuatan, siapapun yang minta pengampunan (pada hari itu) akan diampuni. Siapapun yang bertaubat, akan diterima taubatnya. (pada hari itu) orang yang mempunyai dendam dan permusuhan akan diabaikan sampai mereka mau bertaubat.”

Dari penjelasan beberapa hadits di atas, seorang muslim mengetahui akan keutamaan hari Senin dan hari Kamis, maka hendaknya menjauhkan diri dari sifat dendam dan permusuhan agar tidak terhalang saat dilaporkannya amal-amal perbuatan baik. Dan hendaknya di hari-hari itu memperbanyak amal sholeh dan bertutur kata yang baik karena masing-masing hari mempunyai ciri khas dan keistimewaan tersendiri.

Hari itu merupakan media atas berbagai peristiwa yang terjadi di dalamnya. Maka orang yang berakal sehat tidak akan memenuhi media tersebut kecuali dengan sesuatu yang menjadikan dekat kepada Allah, karena di suatu saat kelak media itu akan dibuka dan dipertanggung jawabkan isinya setelah ditutup dan diakhiri dengan sebuah kematian. Pada saat itu semua yang terkandung di dalamnya akan tampak jelas, baik berupa ucapan, amal perbuatan maupun gerak-gerik seseorang.

Jika yang termuat di dalam media tersebut hal-hal yang baik maka akan menghembuskan aroma yang harum yang menyebar kemana-mana, tentunya pemiliknya akan menjadi senang, gembira dan merasa aman. Namun, jika yang termuat dalam media tersebut hal-hal yang buruk maka akan mengeluarkan bau busuk, pemiliknya akan dilanda kegelapan dan ia akan dipermalukan di hadapan khalayak ramai, tentunya ia akan merasa sedih dan kebingungan yang tiada tara. Allah berfirman:

“Hari kiamat itu adalah suatu hari yang semua manusia dikumpulkan untuk (menghadapi) nya, dan hari itu adalah suatu hari yang disaksikan (oleh segala makhluk)” (QS. Hud : 103)

Penentuan Umur

Di dalam bulan Sya ban terdapat penentuan umur, artinya pada bulan itu ditampakkan penentuan itu kepada Malaikat. Karena apapun yang dilakukan Allah tidak dibatasi dan tidak terikat oleh waktu dan tempat.

“Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia (Allah), dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat” (Q.S asy-Syura 11)

Telah diriwayatkan sebuah hadits dari Sayyidah Aisyah RA beliau berkata:

“Sesungguhnya dahulu Rasulullah SAW berpuasa di bulan Sya’ban sebulan penuh. Aisyah berkata: Lalu aku bertanya: Wahai Rasulullah, Apakah bulan yang lebih engkau sukai berpuasa itu bulan Sya’ban? Beliau menjawab: Sesungguhnya Allah telah menulis (mentakdirkan) setiap jiwa yang akan mati pada tahun itu. Maka aku berharap di saat ajalku datang, aku sedang dalam keadaan berpuasa.” (H.R. Abu Ya’la, Hadits tersebut termasuk kategori Hadits Ghorib namun Sanadnya Hasan)

Oleh karena itu, dahulu Rasulullah memperbanyak berpuasa di bulan Sya’ban. Anas bin Malik RA bertutur kata:

“Bahwa Rasulullah SAW selalu berpuasa seolah-olah tidak pernah berbuka (tidak berpuasa), sehingga kita mengatakan: Tidak ada pada diri Rasulullah SAW berbuka (tidak berpuasa) selama setahun. Kemudian Rasulullah berbuka dan tidak melakukan puasa, sehingga kita berkata: Tidak ada pada diri Rasulullah SAW melakukan puasa sepanjang tahun. Puasa sunah yang paling disenangi Rasulullah adalah puasa bulan Sya’ban”. (H.R. Ahmad dan Thabrani)

Keutamaan Puasa Di Bulan Sya’ban

Rasulullah SAW pernah ditanya:

“Puasa apakah yang lebih utama selain puasa Ramadlan? Beliau menjawab: Puasa di Bulan Sya’ban. Lalu ditanya lagi: Shodaqoh apakah yang lebih utama? Beliau menjawab: yaitu bershodaqoh di Bulan Ramadlan“. (H.R. Tirmidzi, ia berkata ini adalah hadits Gharib)

Bahkan Sayyidah Aisyah berkata:

“Dahulu Rasulullah selalu berpuasa sehingga kami mengatakan, nyaris Rasulullah SAW tidak pernah berbuka (tiada hari tanpa puasa) dan di saat yang lain, beliau selalu berbuka (tidak puasa) sampai sampai kita mengatakan nyaris Rasulullah SAW tidak pernah puas, Saya tidak pernah melihat Rasulullah menyempurnakan puasa sebulan penuh kecuali di bulan Ramadlan dan aku tidak pernah melihat Rasulullah memperbanyak puasa pada suatu bulan seperti beliau memperbanyak puasa di bulan Sya’ban”. (H.R. Bukhori, Muslim dan Abu Dawud)

Diriwayatkan oleh Imam Nasa’i, Turmudzi dan yang lain, bahwa Sayyidah Aisyah berkata:

“Saya tidak pernah melihat Rasulullah berpuasa di suatu bulan yang melebihi bulan Sya’ban. Beliau melakukan puasa di Bulan itu kecuali hanya beberapa hari bahkan kadang-kadang beliau berpuasa seluruhnya ( sebulan penuh )”.

Dalam suatu riwayat yang dimiliki Abu Dawud. Sayyidah Aisyah berkata:

“Bulan yang paling disenangi Rasulullah untuk melakukan puasa adalah bulan Sya’ban, Kemudian bersambung dengan Bulan Ramadhan”.

Disebutkan dalam riwayat lain yang dimiliki oleh Imam Nasa’i bahwa Sayyidah Aisyah RA berkata:

“Rasulullah tidak pernah memperbanyak puasa di suatu Bulat yang melebihi bulan Sya’ban. Beliau berpuasa (keseluruhanya) atau paling tidak kebanyakan hari-harinya”.

Imam Bukhori dan Imam Muslim meriwayatkan bahwa Sayyidah Aisyah mengatakan :

“Rasulullah tidak pernah melakukan puasa di suatu bulan yang melebihi banyaknya berpuasa di bulan Sya’ban. Sesungguhnya beliau berpuasa di Bulan Sya’ban (Sebulan penuh). Beliau mengatakan: Beramallah semampumu karena sesungguhnya Allah itu tidak akan jemuh (membalas amal ibadah) sehingga engkau sekalian merasa jemuh (beramal). Pekerjaan shalat yang paling dicintai oleh Rasulullah adalah pekerjaan shalat yang dilakukan secara kontinyu, sekalipun hanya sedikit, dan beliau jika melakukan Shalat maka akan ditekuninya”.

Penajaman Pernyataan Tentang Puasa Sya’ban

Diceritakan dari Sayyidah “Aisyah RA, ia berkata:

“Rasulullah SAW tidak pernah melakukan puasa di suatu bulan yang melebihi puasa di bulan Sya ‘ban”. (H.R. al-Bukhorni)

Imam Muslim juga meriwayatkan dari Sayyidah “Aisyah RA, ia berkata :

“Dulu Rasulullah SAW berpuasa, sehingga kami mengatakan Rasulullah selalu berpuasa, dan kadang-kadang beliau berbuka (tidak berpuasa) sampai-sampai kita mengatakan beliau Selalu berbuka. Aku tidak pernah melihat beliau berpuasa di suatu bulan yang melebihi puasanya di bulan Sya’ban. Beliau dulu berpuasa di bulan Sya’ban seluruhnya, juga (kadang-kadang) beliau berpuasa di bulan Sya’ban kecuali beberapa hari, bahkan bisa dikatakan beliau berpuasa di seluruh hari-hari bulan Sya’ban”.

Syekh Mulla Ali Qori menjelaskan bahwa perkataan Sayyidah “Aisyah:

Artinya hari-hari yang tidak dilakukan puasa oleh Rasulullah pada bulan Sya’ban adalah sedikit.sekali, sehingga sampai disangkakan beliau melakukan puasa seluruh hari-hari bulan Sya’ban. Karena kalimat (.  ) dalam hadits menunjukkan arti “meningkat dan terus menerus“. Jadi perkataan Sayyidah Aisyah (.   ) tidak bertentangan dengan perkataan beliau (  ) juga tidak bertentangan dengan hadits lain:

“Bahwasanya Rasulullah tidak pernah berpuasa sebulan penuh, semenjak beliau datang di madinah kecuali puasa di Bulan Ramadlan”.

Dimungkinkan juga kata-kata (    ) Dalam hadits diatas adalah bermakna semestinya (keseluruhan), jadi pengertiannya adalah Rasulullah melakukan puasa di bulan Sya’ban sebulan penuh saat beliau belum berdomisili di Madinah.

Dengan demikian, maka kata-kata (.  ) adalah menunjukkan makna    (perubahan penjelasan) dari perkataan Sayyidah Aisyah    , yaitu jangan difahami jumlah hari yang sedikit itu adalah sepertiga bulan. Lalu beliau menjelaskan dengan kata-kata (     ) bahwa hari-hari yang tidak dilakukan puasa adalah sedikit sekali, sampai-sampai bisa dikatakan seakan-akan beliau berpuasa di bulan Sya’ban seluruhnya (sebulan penuh).

Riwayat lain dari Imam Bukhori dan Muslim bersumber dari Sayyidah Aisyah RA, beliau berkata:

“Aku sama sekali tidak melihat (Rasulullah) menyempurnakan puasanya di suatu bulan, kecuali di bulan Ramadlan. Dan aku tidak pernah melihat beliau memperbanyak puasa di suatu bulan yang melebihi puasanya di bulan Sya’ban”.

Disebutkan dalam riwayat lain juga dari Sayyidah Aisyah RA, beliau berkata:

“Beliau tidak pernah berpuasa selain bulan RamadHan yang melebihi banyaknya puasa di bulan Sya’ban , sesungguhnya beliau berpuasa keseluruhannya.”

Riwayat lain yang dimiliki Imam Abu Dawud :

“Bulan yang paling disenangi Rasulullah untuk melakukan puasa adalah bulan Sya’ban kemudian beliau menyambungnya dengan Ramadlan”.

Riwayat lain yang dimiliki Imam Nasa’i :

“Beliau berpuasa di bulan Sya’ban (secara utuh) atau berpuasa kebanyakan hari-hari bulan Sya’ban”

Riwayat lain juga:

“Beliau berpuasa di bulan Sya’ban secara keseluruhan”,

Hadits hadits diatas memberi penjelasan bahwa puasa di bulan Sya’ban adalah lebih utama daripada berpuasa di bulan Rajab atau bulan-bulan mulia yang lain, namun penjelasan di atas seakan-akan bertentangan dengan sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah (dengan riwayat Marfu’):

“Lebih utama-utamanya puasa setelah puasa Ramadlan adalah berpuasa di bulan Muharrom’”,

Para Ulama’ menjawab atas anggapan pertentangan di atas, bahwa dimungkinkan adanya keutamaan puasa di bulan Muharrom (.   ) itu baru diketahui oleh Rasulullah di akhir hayat beliau sehingga beliau belum sempat melakukan puasa di bulan itu, atau karena adanya udzur berupa bepergian atau sakit sehingga tidak sempat memperbanyak puasa di bulan tersebut. Demikian dikatakan oleh Imam Nawawi .

Namun Imam Mairok berkomentar: Kedua alasan di atas tidak lepas dari sebuah pemahaman yang jauh dari bisa dicerna, juga dikuatkan oleh sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Thabrani yang bersumber dari Sayyidah Aisyah RA.

“Dahulu Rasulullah SAW selalu berpuasa 3 hari di setiap bulan namun kadang kadang beliau mengakhirkan puasa tersebut. Sehingga bertemulah dengan puasa sunah (yang lain), lalu beliau berpuasa bulan Sya’ban”.

Disamping itu, beliau mengkhususkan bulan Sya’ban untuk dilakukan berpuasa, karena demi mengagungkan bulan Ramadlan. Maka status puasa di bulan Sya’ban adalah bagaikan sholat sunnah rowatib qobliyah sebelum melakukan sholat fardlu. Juga dikuatkan oleh sebuah hadits Ghorib yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi, sekalipun dalam deretan sanadnya terdapat seorang rowi yang bernama Shodaqoh, yang oleh Ahli Hadits dianggap kurang begitu kuat, bahwa Rasulullah pernah ditanya:

“Puasa apakah yang lebih utama selain puasa Ramadlan ? beliau menjawab: Puasa Sya ‘ban, karena demi mengagungkan Ramadlan”.

Puasa Sya’ban adalah bagaikan latihan untuk melatih diri dalam menghadapi puasa Ramadlan. Oleh karenanya, larangan berpuasa pada separuh terakhir (kedua) bulan Sya’ban adalah terkhusus bagi orang yang hanya berpuasa separoh kedua saja, yang mana ia tidak melakukan puasa di hari-hari sebelumnya. Atau ia tidak membiasakan berpuasa sepanjang tahun dan juga tidak berupa puasa qodho’ atau puasa nadzar, sehingga dikhawatirkan puasanya tadi itu justru akan membuatnya lemah di saat sedang berpuasa di bulan Ramadlan.

Keutamaan puasa Sya’ban juga dikuatkan oleh sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Nasa’i dan Imam Abu Dawud, yang dishahihkan oleh Imam Ibnu Khuzaimah yang bersumber dari

Usamah bin Zaid, ia mengatakan

“Wahai Rasulullah, aku tidak melihat engkau berpuasa di suatu bulan seperti engkau berpuasa di bulan Sya’ban? Beliau menjawab: Bulan itu banyak dilupakan manusia, yaitu bulan diantara Rajab dan Ramadlan. Pada Bulan itu dilaporkannya amal perbuatan manusia kepada Allah, Tuhan alam semesta, maka aku merasa senang jika ketika amal perbuatanku sedang dilaporkan aku dalam keadaan berpuasa”.

Hadits serupa juga diriwayatkan oleh Abu Ya’la yang bersumber dari Sayyidah Aisyah RA hanya saja dalam Hadits ini Rasulullah bersabda:

“Sesungguhnya pada tahun itu Allah menulis kematian setiap Jiwa, maka aku senang jika ajalku tiba, aku sedang dalam keadaan berpuasa”.

Hadits di atas memberikan suatu pengertian bahwa dahulu orang-orang gemar melakukan puasa di bulan Rajab, karena ja adalah salah satu bulan mulia. Maka diperingatkan jangan sampai melupakan puasa di bulan Sya’ban karena ada satu kelebihan, yaitu: Pada bulan itu dilaporkannya amal perbuatan dan ditentukannya ajal manusia.

Hadits di atas diperkuat juga dengan sebuah hadits yang diriwayatkan dari Sayyidah Aisyah bahwasanya ia berkata:

“Wahai Rasulullah, kenapa aku melihat engkau memperbanyak puasa di bulan Sya’ban ?. lalu beliau menjawab: Sesungguhnya di bulan ini telah dituliskan kepada malaikat maut siapa-siapa yang akan dicabut (nyawanya), maka aku berharap, jangan sampai ajalku termasuk yang ditulis kecuali aku dalam keadaan sedang berpuasa”.

Barang kali karena hikmah tersebut bulan Sya’ban mendapatkan prioritas dari Rasulullah SAW dalam sebuah hadits, beliau bersabda:

“Rajab adalah bulan Allah, Sya’ban adalah bulanku, Sedangkan Ramadhan adalah bulan umatku“. (H.R. Dailami dan lainya dari Anas)

Penulis berkomentar: Hadits di atas telah disebutkan oleh Imam Suyuthi secara mursal dan beliau berkata: Hadits tersebut diriwayatkan oleh Abu al-Fath bin Abi al-Fawaris dalam kitabnya al-Amali dari al-Hasan dengan riwayat mursal. Ja adalah termasuk kategori hadits dhoif.

Imam al-Manawi berkata: Imam al-Hafidz Zain al-Irogy berkomentar dalam Syarah Tirmidzi: Hadits diatas adalah hadits yang dhoif sekali, ia adalah merupakan salah satu mursalnya al-Hasan yang kami riwayatkan dalam kitab Targhib wa Tarhib milik imam Asbihani sedangkan mursal-mursalnya hasan tidak dianggap oleh ahli Hadits, disamping itu tidak ditemukan satu hadits pun yang menjelaskan tentang keutamaan bulan Rajab.

Perkataan mushonif di atas adalah bagaikan penjelasan bahwa ia tidak menemukan riwayat secara musnad. Sebab jikalau ia menemukannya, niscaya ia tidak akan meriwayatkannya secara mursal. Pernyataan ini disebut cukup aneh, sebab Imam Dailami juga meriwayatkannya dalam kitab Musnad al-Firdaus melalui tiga buah sanad. Begitu juga Ibnu Nashr dan lainya juga meriwayatkannya dari Anas dengan lafadz yang sama.

Imam al-‘Ijluni dalam kitab Kasyful Khofa?” mengomentari sabda Rasulullah SAW:

“Sya ban adalah bulanku, sedangkan Ramadlan adalah bulan Allah, Bulan Sya ‘han itu mensucikan, sedangkan bulan Ramadlan itu melebur (dosa )”.

Bahwa hadits di atas diriwayatkan oleh Imam Dailami bersumber dari Sayidah Aisyah RA diriwayatkan secara marfu’. Ibnu Ghors berkata: Guru kami al-Hijazi mengatakan bahwa hadits di atas adalah dhoif. Sabda Rasulullah SAW.  (Sya’ban adalah bulanku) artinya aku yang mengajarkan perbuatan amal ibadah di dalamnya.

Penulis berkata: Bisa jadi penisbatan itu karena pada bulan Sya’ban diturunkannya ayat yang memerintahkan bersholawat kepada Nabi SAW.

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28Laman berikutnya
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker