Lafadz Rubaih menggunakan huruf ra’ yang didlammah, ba’ yang berititk satu, difathah dan setelahnya berupa huruf ya”. sedangkan huruf akhirnya adalah ha”? yang tidak bertitik, akan dibahas pada pembahasan yang akan datang. insya Allah.
Diriwayatkan dari Mahmud bin Labid, dia berkata:
“Rasulullah pernah keluar seraya bersabda: “wahai para manusia, agalah diri kalian dari syirik hati”. Sahabat bertanya: “apakah syirik hati itu?”. Beliau menjawab: “seseorang berdiri lantas melakukan Shalat dan menyempurnakannya dengan sungguh-sungguh sebab Ia mengetahui pandangan manusia yang tertuju kepadanya”. (H.R. Ibnu Huzaimah dalam kitab Shahihnya).
Niat Yang Bersifat Tambahan
Niat yang bersifat tambahan tidak dapat mencacatkan niat orang yang sedang shalat, yaitu ketika ia telah niat ikhlas karena Allah, kemudian terdapat niat lain yang masuk ke dalam niat yang asli dan ditambahkan kepadanya. Hal ini telah terdapat dalam hadits Yang menunjukkan akan diperbolehkannya hal tersebut, bahkan Menganjurkan, mendorong dan mengajak, untuk melakukannya.
Hadits yang paling shahih dalam masalah ini adalah hadits tentang shalat istikharah. Di sana juga terdapat shalat hajat dan banyak shalat-shalat lain dengan niat yang beraneka ragam tujuan-tujuan pribadi, hajat, kemaslahatan dan kemanfaatan yang bersifat duniawi. Dan kami akan menuturkan sebagian syahid (dalil penguat) akan hal tersebut.
Shalat Karena Allah Kemudian Untuk Istikharah
Diriwayatkan dari sahabat Jabir RA., bahwasannya dia berkata:
“Rasulullah SAW. telah mengajarkan kita ber-istikharah dalam segala permasalahan, sebagaimana (mengajarkan kita) surat dari al-Qur’an. Beliau bersabda: “ketika salah satu diantara kalian berkehendak kepada suatu perkara, maka hendaklah ia shalat dua raka’at selain shalat fardhu, kemudian ia berdo’a :
(atau ia mengucapkan). (atau ia mengucapkan) ( kemudian ia menyebutkan hajatnya)
Demikian sebagaimana disebutkan dalam Shahih Bukhari.
Sebagian ulama berijtihad memilih untuk membaca surat Yaasiin dalam shalat tersebut (separuh dibaca pada raka’at pertama dan separuh yang lain pada raka’at yang kedua), sebagian yang jain memilih untuk membaca surat al-Kafirun pada raka’at pertama dan surat al-Ikhlash pada raka’at yang kedua, yang lain memilih membaca ayat Kursi pada raka’at pertama dan beberapa ayat terakhir dari surat Al-Baqarah pada raka’at yang kedua dan sebagian lagi pada raka’at pertama memilih membaca ayat:
dan pada rakaat kedua membaca ayat:
Rasulullah SAW. bersabda : Kemudian hendaklah ia berdo’a – setelah shalat – (sementara ia dalam keadaan duduk ketika shalat, menghadap kiblat menghadirkan hajatnya kepada Allah) dengan do’a :
(la boleh menyebutkan hajatnya atau cukup dengan niat, karena Allah maha tahu akan kehendak hambanya )
(atau dia mengucapkan: )
Diperbolehkan untuk mengulang-ulang doa ini dalam posisi masih sedang duduk, karena Rasulullah SAW. menyukai terhadap do’a yang diulang hingga tiga kali. Sehingga hatinya menjadi tenang, maka hendaknya ia meneruskannya (baik melakukannya atau meninggalkannya) dengan menyebut nama Allah dan mengharap berkah-Nya.
Shalat Kepada Allah Seraya Disertai Niat Menghilangkan Kesulitan Dan Dikabulkan Hajat
Tidak diragukan lagi bahwa shalat adalah salah satu pintu menuju kebahagiaan yang paling agung . Allah berfirman:
“Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.”
Allah berfirman:
“Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezki kepadamu, Kamilah yang memberi rezki kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa.”
Disebutkan dalam beberapa Hadits bahwa jika Rasulullah sedang menghadapi suatu masalah yang penting, maka beliau berlindung dengan melakukan shalat. Shalat itu juga bisa mendatangkan rizki, menjaga kesehatan, menolak berbagai hal yang menyakitkan, mengusir penyakit, menguatkan hati, mencerahkan wajah, menjadikan jiwa riang, menghilangkan sifat malas, membangkitkan anggota badan, memberikan kekuatan, melapangkan dada, bagaikan makanan pokok bagi jiwa, menerangi hati, menjaga nikmat, menolak malapetaka, mendatangkan keberkahan, menjauhkan dari syetan, dan menjadikan dekat dengan Allah Dzat yang maha pengasih.
Secara global shalat itu membawa dampak yang sangat signifikan dalam menjaga kesehatan, memberikan kekuatan dan dapat menolak unsur negatif dari jiwa dan raga.
Jika ada dua orang yang salah satunya rajin melakukan shalat , maka ialah yang lebih sehat dan lebih sedikit mendapatkan terpaan berbagai penyakit dan malapetaka dibanding dengan yang lain .
Shalat juga memberikan dampak yang luar biasa dalam hal penolakan keburukan di dunia. Lebih-lebih jika shalat itu dilakukan sesempurna mungkin baik secara dhohir maupun batin. Tidak ada suatu apapun yang engkau jadikan perisai dari keburukan i dunia maupun di akhirat. Juga tidak ada suatu apapun yang bisa mendatangkan kebaikan dunia dan akhirat yang melebihi kedahsyatan shalat. Rahasia itu semua karena shalat itu adalah merupakan media yang menghubungkan seorang hamba kepada ‘rabbnya. Maka atas kadar persambungan itu akan dibukakan Pintu-pintu kebaikan dan diputusnya aliran-aliran keburukan ‘an sejauh mana kadar kualitas shalat itu, sejauh itu pula Allah ikan melimpahkan baginya taufiq , kesehatan jasmani dan rohani, keberuntungan, kekayaan, ketenangan, kenikmatan, kebahagiaan, dll. Semua itu akan segera datang menghampirinya.
Shalat Karena Allah Seraya Mohon Pengampunan
Diceritakan dari Ikrimah dan Ibnu Abbas RA bahwa Rasululloh SAW bersabda kepada Abbas bin Abdul Mutholib:
“Wahai Abbas wahai pamanku . Adakah aku memberimu, adakah aku menganugerahimu, adakah aku melakukan kepadamu sepuluh perkara, jika engkau melakukannya Allah akan mengampuni dosamu baik yang pertama-tama maupun yang akhir-akhir. Baik yang lama maupun yang baru baik yang disengaja maupun tidak, baik yang kecil maupun yang besar, baik yang samar maupun yang terang-terangan. Sepuluh perkara itu adalah hendaknya engkau melakukan Shalat 4 rokaat, setiap rokaat hendaknya engkau membaca surat al-Fatihah dan surat yang lain. Setelah engkau menyelesaikan pembacaan surat (selain al-Fatihah) disetiap rakaat, maka bacalah dalam keadaan engkau masih berdiri tegak disetiap rakaat:. 15 kali









One Comment