ADA APAKAH DI BULAN SYA’BAN ?
Di bulan Sya’ban terjadi beberapa peristiwa dan kejadian yang seharusnya mendapatkan perhatian tersendiri dengan mengadakan berbagai macam kegiatan. Seperti: acara-acara seremonial, peringatan, seminar dan pertemuan-pertemuan religi yang lain.
Kami akan menuturkan sebagian peristiwa-peristiwa yang terjadi di bulan Sya’ban. Diantaranya adalah:
Perpindahan Qiblat
Pada bulan Sya’ban terjadi perpindahan qiblat dari Baitul Maqdis ke Ka’bah. Sebenarnya Rasulullah SAW sendiri sudah menunggu menunggu dan mendambakan hal tersebut. Setiap hari beliau selalu bangun dan memandang ke atas mengharapkan datangnya wahyu dari Allah SWT. Sampai sebelum akhirnya Allah telah memberikan apa yang membuat beliau menjadi tenang dan bahagia, Allah menurunkan sebuah ayat:
“Sesungguhnya kami sering melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan dimana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya.” (Q.S. al-Baqarah: 144)
Hal itu sesuai dengan firman Allah SWT:
“Dan kelak Tuhanmu pasti akan memberikan karunia-Nya kepadamu, lalu (hati) kamu menjadi puas.” (Q.S. ad-Dluhaa: 5)
Sehingga apa yang dikomentarkan oleh sayyidah “Aisyah telah menjadi sebuah kenyataan, yaitu:
“Aku tidak melihat Tuhanmu kecuali Ia selalu segera mengabulkan apa yang engkau inginkan.” (HR. al-Bukhori)
Kendati demikian, Rasulullah SAW selalu tetap berupaya melakukan sesuatu yang menjadikan Allah rela kepadanya.
Syaikh Abu Hatim al-Busty berkata: “Orang Islam sholat menghadap ke Baitul Maqdis selama 17 bulan dan 3 hari. Demikian itu karena Rasulullah SAW tiba di Madinah pada hari Senin tanggal 12 Robi’ul Awal. Lalu Allah memerintahkan beliau menghadap Ka’bah pada hari Selasa pertengahan bulan Sya’ban .
Pelaporan Amal
Di antara keistimewaan bulan Sya’ban adalah bulan dilaporkannya amal perbuatan manusia. Pelaporan ini adalah pelaporan yang sifatnya lebih luas dari pada pelaporan-pelaporan yang lain. Hal ini berdasarkan sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Usamah bin Zaid:
“Aku mengatakan: Wahai Rasulullah, aku tidak pernah melihat engkau berpuasa di suatu bulan dari bulan-bulan yang ada seperti engkau berpuasa di bulan Sya’ban, lalu beliau bersabda : Bulan itu banyak dilupakan oleh manusia. Ia adalah suatu bulan di antara bulan Rajab dan Ramadhan. la adalah suatu bulan yang mana pada saat itu amal perbuatan manusia dilaporkan kepada Allah Tuhan semesta alam. Dan aku ingin ketika amal perbuatanku dilaporkan, aku dalam keadaan sedang berpuasa.” Imam Mundziri berkata: H.R. Imam Nasa’i.
Penulis berkomentar bahwa hadits di atas juga diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam kitab Musnadnya.
Pelaporan amal perbuatan manusia itu tidak hanya terjadi di bulan Sya’ban saja, melainkan berdasarkan beberapa hadits, ada beberapa kali pelaporan amal pada waktu yang berbeda-beda. Dan hal itu tidak menjadikan saling menafikan, karena setiap laporan mempunyai pengertian dan tinjauan hukum tersendiri yang berkaitan dengan masing-masing pelaporan.
Pelaporan Amal Di Siang Hari Dan Di Malam Hari
Telah disebutkan dalam kitab Shahih Muslim sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Musa RA, beliau bercerita :
“(suatu ketika) Rasulullah SAW berdiri (seraya menyampaikan) lima kalimat. Beliau bersabda: Sesungguhnya Allah itu tidak tidur dan tidak seyogyanya jika Ia tidur. Allah itu berhak mengurangi pembagian dan menambah pembagian yang lain. Dilaporkannya amal perbuatan di waktu siang sebelum dilaporkannya amal perbuatan di waktu malam. Dan dilaporkannya amal perbuatan di waktu malam sebelum dilaporkannya amal perbuatan di waktu siang. Hijab-Nya adalah cahaya, jika hijab itu dibuka, niscaya kilauan dzat-Nya akan membakar seluruh makhluk-Nya hingga akhir penglihatan-Nya.”
Imam Mundziri berkata: Arti pelaporan amal perbuatan manusia yang terkandung dalam hadits di atas adalah: dilaporkannya amal perbuatan siang hari di permulaan malam yang tiba setelahnya. Dan dilaporkannya amal perbuatan malam hari pada permulaan siang hari yang jatuh setelahnya. Karena sesungguhnya para malaikat yang tugasnya berjaga akan naik di saat permulaan siang hari dengan membawa laporan amal perbuatan malam hari ketika telah berakhir, begitu pula mereka akan naik di waktu permulaan malam hari dengan membawa laporan amal perbuatan siang hari.
Demikian itu Imam Mundziri bertendensi pada sebuah hadits yang yang termaktub dalam kitab Shahihain dari riwayat Abu Hurairah RA.
“Rasulullah SAW bersabda: telah bergantian para malaikat (pencatat amal perbuatan) di malam hari dengan malaikat pencatat amal perbuatan di siang hari. Mereka akan berkumpul di saat shalat subuh dan sholat ashar, maka para malaikat yang semalaman dengan kalian akan naik. Lalu Allah (Tuhan mereka) bertanya, dan Ia adalah Maha Mengetahui, “Bagaimana keadaan hambahamba-Ku di saat sedang engkau tinggalkan dan di saat engkau sedang datang kepadanya? Para malaikat itu pun menjawab: Aku tinggalkan mereka sedang dalam keadaan melakukan shalat dan di Saat aku datang pun mereka juga sedang dalam keadaan shalat.”
Imam Mundziri dalam kitab at-Targhib berkata: Hadits tersebut di atas juga diriwayatkan oleh Imam Ibnu Huzaimah dalam kitab shahihnya. Adapun lafadz di sebagian riwayatnya adalah:
“Para malaikat (yang bertugas menulis amal perbuatan manusia) di waktu malam dan para malaikat yang bertugas menulis amal perbuatan manusia di waktu siang berkumpul di waktu shalat Subuh dan shalat Ashar, kemudian malaikat yang bertugas di waktu siang hari naik, sedangkan malaikat yang bertugas di malam hari menjalankan tugasnya. Lalu Allah SWT Tuhan mereka bertanya: Bagaimanakah keadaan hamba-hamba-Ku di saat engkau tinggalkan ? lalu mereka menjawab: Ketika aku datang kepadanya mereka sedang dalam keadaan shalat dan ketika aku meninggalkan mereka juga dalam keadaan sedang shalat. Mohon Engkau berkenan mengampuni mereka kelak di hari pembalasan.”
Wahai saudaraku seiman, camkanlah pada diri kalian bahwa engkau selalu disertai oleh para malaikat, baik di waktu malam maupun di waktu siang yang terus menerus memantau amal perbuatanmu, lalu dilaporkan kepada Allah Dzat yang Maha Agung.
Pelaporan Amal Secara Langsung
Imam Tirmidzi dan Imam Ahmad meriwayatkan dari Abdullah bin Saib RA, bahwasanya Rasulullah SAW senantiasa melakukan Shalat empat rokaat setelah tergelincirnya matahari, demikian itu sebelum diwajibkannya shalat Dhuhur. Lalu beliau bersabda :
“Di saat (seperti itu) pintu-pintu langit dibuka, maka aku senang Jika di saat itu ada amalku yang naik.”
Disarikan dari hadits di atas adanya keutamaan shalat sunah qobliyah Dhuhur.
“Diceritaknan dari Abu Ayub al-Anshori dari nabi SAW, beliau bersabda: shalat qobliyah Dhuhur empat rokaat tanpa adanya salam itu menjadikan pintu-pintu langit terbuka”.
Imam Thobroni juga meriwayatkan dari Abu Ayub, ia berkata :
“Ketika Rasulullah SAW bertempat tinggal (di rumahku), saat beliau hijrah ke Madinah, aku melihat beliau selalu melakukan shalat empat rokaat setelah melakukan shalat Dhuhur, dan beliau bersabda : sesungghnya jika matahari tergelincir maka pintu-pintu langit dibuka dan pintu itu tidaklah ditutup kembali kecuali jika Shalat Dhuhur sudah dilakukan. Aku senang jika pada saat itu aku melakukan amal kebajikan yang kemudian dilaporkan”.
Abdullah berkata : hendaknya seorang muslim senantiasa gemar melakukan shalat sunah qobliyah Dhuhur di saat waktu zawal dan memperbanyak do’a. Karena saat-saat seperti itu adalah saat dikabulkannya do’a, sebab pada saat itu pintu-pintu langit dibuka.
Tidak seyogyanya seorang muslim di saat itu disibukkan denyan urusan-urusan duniawi yang tiada abadi dan menyia-nyiakan berbagai macam kebaikan-kebaikan, do’a do’a yang dikabulkan, hembusan rahmat dan keberkahan yang bermanfaat bagi dirinya,
Pelaporan Mingguan Dan Dihaturkannya Amal Perbuatan Kepada Allah SWT
Imam Muslim dan Imam Tirmidzi meriwayatkan hadits dari Abu Hurairah RA, ia berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda :
“Setiap hari Kamis dan Senin catatan-catatan amal perbuatan dihaturkan kepada Allah lalu Allah mengampuni setiap seseorang yang tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun, kecuali orang-orang yang saling bermusuhan dengan saudaranya, maka Allah berfirman : tinggalkanlah mereka sampai mereka berdamai.”
Dalam riwayat yang lain :
“Pada hari Senin dan Kamis pintu-pintu surga dibuka. (Pada hari itu) Allah berkenan mengampuni semua hamba-Nya yang tidak menyekutukan-Nya dengan suatu apapun kecuali seseorang yang saling bermusuhan dengan saudaranya.”
“Diceritakan dari Abu Hurairah RA dari Rasulullah SAW, beliau bersabda : setiap hari Senin dan Kamis catatan amal perbuatan dihaturkan (kepada Allah). Maka aku senang jika amal perbuatanku dihaturkan sedangkan aku dalam keadaan berpuasa”. (H.R. Tirmidzi. Ia berkata : bahwa hadits tersebut adalah hadits hasan dan ghorib).









One Comment