Kitab Tasauf

Terjemahan Kitab Madza Fi Sya’ban

Rasulullah juga memberitahu kepada kita bahwa sesungguhnya do’a itu akan mencegah dari datangnya bencana serta akan meringankan godar Allah SWT dengan godar yang lain. Dalam hal ini Rasulullah SAW bersabda:

“Kehati-hatian itu tidak bisa melepas godar, sedangkan do’a itu dapat merubah (keburukan-keburukan) yang telah turun ataupun yang belum turun. Sesungguhnya bala” itu pasti akan turun, lalu akan bertemu dengan do’a sehingga mercka berdua akan berusaha saling melemahkan satu dengan yang lain hingga kelak hari kiamat. t (H.R. Bazar, Thobroni dan Hakim, dan ia berkata: Sanadnya shahih)

Dalam hadits Rasulullah SAW bersabda:

“Tiada suatu perkara pun yang dapat menolak keputusan Allah SWT kecuali do’a. Dan tidak ada perkara yang dapat memanjangkan umur melainkan perbuatan baik.” (H.R. Tirmidzi dan ia berkata: Hadits hasan ghorib)

Metode yang harus digunakan oleh orang yang berdo’a supaya do’anya dikabulkan oleh Allah SWT adalah dengan tidak bosan-bosan untuk senantiasa meminta kepadaNya setiap waktu. Sebagaimana yang telah diajarkan oleh Rasulullah SAW kepada orang mukmin. Beliau bersabda:

“Siapapun yang ingin do’anya selalu dikabulkan oleh Allah SWT ketika mengalami kesusahan, maka hendaknya ia senantiasa memperbanyak berdo’a kepada-Nya dikala senang. “(H.R. Tirmidzi dan Hakim, masing-masing mengatakan : sanadnya shahih)

Dalam hadits Lain, Rasulullah SAW bersabda:

“Tidak ada perkara yang lebih mulia di hadapan Allah melebihi do’a yang dihaturkan hamba-Nya di waktu senangnya,”

Beberapa hadits yang diriwayatkan di atas menunjukkan sesungguhnya do’a merupakan sebab yang paling kuat yang mampu menolak perkara-perkara yang tidak diinginkan. Do’a bagaikan musuh bagi bala’ yang mampu untuk menolaknya, melumpuhkan kekuatannya, mencegah turunnya serta mengangkatnya kembali, atau jika bala’ tersebut sudah turun maka do’a akan meringankannya, Sebagaimana yang telah dijelaskan oleh hadits di atas bahwa antara bala’ dan do’a itu memiliki tiga peringkat. Pertama: Ada kalanya do’a lebih kuat daripada bala’, sehingga mampu menolaknya. Ke dua: Do’a lebih lemah daripada bala’, sehingga bala’ akan tetap mengenai hamba, meskipun demikian do’a akan tetap mampu menjadikan bala’ tersebut terasa lebih ringan. Ke tiga: Keduanya sama kuat, satu sama lainnya dapat saling mengcegah, tetapi bekas yang disebabkan oleh do’a itu nampak lebih akhir daripada bekas yang disebabkan oleh bala”. Dan terlambatnya bekas yang disebabkan oleh do’a dari bekas yang ditimbulkan oleh bala’ ini bisa disebabkan oleh beberapa faktor, di antaranya:

– Karena memang kekuatan do’a tersebut lemah sejak asalnya, dikarenakan Allah SWT tidak berkenan dengan do’a tersebut, sebab adanya perkara yang bertentangan dengan etika berdo’a.

– Atau disebabkan karena lemahnya hati orang yang berdo’a, dia Udak bersungguh-sungguh ketika menghadap kepada Allah SWT di saat berdo’a. Bagaikan busur yang lemah benangnya, sehingga anak panahnya pun meluncur dengan sangat lemah dan tidak ada kekuatannya sama sekali.

– Dikarenakan adanya perkara yang mencegah untuk diterimanya do’a tersebut, seperti: makan perkara yang haram, adanya dosa-dosa yang mengotori hati, dikuasai oleh sifat lupa kepada Allah SWT, terkalahkan oleh syahwatnya atau tidak bersungguh-sungguh dalam berdo’a.

Semua hal di atas termaktub dalam kitab “Mustadrok” karangan Imam al-Hakim. Diriwayatkan dari Abu Hurairah, Nabi Muhammad SAW bersabda:

“Berdoalah kalian semua kepada Allah SWT seraya meyakini akan dikabulkannya do’a tersebut. Ketauhilah bahwa sesungguhnya Allah SWT tidak berkenan menerima do’a yang diucapkan oleh orang-orang yang hatinya lupa.”

Doa juga merupakan sebuah obat yang mujarrab untuk menghilangkan sebuah penyakit. Akan tetapi, lalainya hati dan makanan yang haram dapat melemahkan kekuatan do’a tersebut. Sebagaimana keterangan dari sebuah hadits dalam kitab “Shahih Muslim”, diriwayatkan dari Abu Hurairah , Rasulullah SAW bersabda:

“Wahai manusia, Sesungguhnya Allah adalah Dzat yang Suci dan tidak menerima kecuali perkara yang suci. Dan Allah telah mmerintahkan orang-orang mukmin untuk melakukan perkara-perkara yang telah Ia perintahkan atas para utusan-Nya. Allah berfirman:

“Wahai rasul-rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik, dan kerjakanlah amal yang shaleh. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”.

“Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezki yang haik-baik yang Kami berikan kepadamu” ……….., kemudian Rasulullah SAW menutur seorang laki-laki yang bepergian jauh dengan keadaan rambut yang acak-acakan dan berdebu, kemudian laki-laki tersebut mengangkat kedua tangannya ke arah langit lalu berteriak: “Wahai Tuhanku… wahai Tuhanku….. “. Akan tetapi makanan, minuman serta pakaiannya adalah perkara yang haram, bagaimana mungkin do’anya dapat dikabulkan?”

Abdullah bin al-Imam Ahmad menuturkan sebuah cerita dalam kitab “az-Zuhud” karangan ayahnya: “Bahwa suatu ketika bani srail diberi bala’ oleh Allah SWT. Kemudian mereka keluar dari rumah-rumah mereka dan menuju ke suatu tempat. Lalu Allah SWT meurunkan wahyu pada Nabi mereka, untuk mengatakan kepada mereka: “Kalian semua keluar menuju ke tempat yang tinggi dengan membawa badan yang najis. Kalian naik ke tempat perkumpulan tersebut sambil menumpahkan air mata kalian, sedangkan kalian penuhi rumah-rumah kalian dengan perkara haram. sekarang Aku Sudah sangat marah kepada kalian, hingga semua yang kalian lakukan itu hanyalah menambah jauh jarak antara kalian dengan-Ku”,

Dalam sebuah Atsar Abu Dzar berkata:

“Dianggap cukuplah do’a yang disertai dengan kebaikan sebagaimana makanan yang sudah cukup lezat dengan hanya diberi garam,”

Do’a Malam Nisfu Sya’ban

Tidak ada ketentuan yang pasti dari Rasulullah SAW mengenai do’a khusus serta sholat yang dikerjakan pada malam nisfu Sya’ban. Rasulullah SAW hanya menganjurkan kepada umatnya untuk meramaikan malam nisfu Sya’ban dengan memanjatkan do’a dan melakukan berbagai macam ibadah lain secara mutlak tanpa ada kekhususan. Sehingga siapa saja yang membaca alQur’an, memanjatkan do’a, menuanaikan sholat, bersedekah, atau melakukan amal ibadah apapun yang ia mampu melakukannya pada malam nisfu Sya’ban, maka dia sudah tergolong orang-orang yang menghidupkan malam nisfu Sya’ban serta mendapatkan pahala dari Allah SWT.

Terdapat sebuah do’a yang terkandung dalam hadits yang diriwayatkan oleh sayyidah “Aisyah, yang terangkum dalam cerita yang panjang, beliau bercerita:

Suatu malam Rasulullah SAW singgah di kamarku kemudian menanggalkan pakaiannya, tapi tak lama kemudian Beliau langsung berdiri lagi dan memakai bajunya kembali. Sontak aku pun merasa Sangat curiga karena terkuasai oleh rasa cemburu yang membara. ku menyangka Beliua akan pergi menemui istrinya yang lain, emudian aku pun ikut keluar dan membuntutinya, sampai temukan Beliau berada di pemakaman Baqi’ul Ghorgod. Beliau sedang memintakan ampun bagi orang-orang mukmin dan orang-orang yang mati syahid. Aku pun berkata (di dalam hatiku), “Sungguh Engkau selalu memikirkan tentang Tuhanmu, sedangkan aku selalu memikirkan tentang dunia”. Kemudian aku kembali lagi ke kamarku dengan membawa amarah. Rasulullah SAW pun menemuiku, Beliau bersabda: “Apakah maksud dari amarah ini wahai “Aisyah”. Aku menjawab: “Sungguh engkau telah mendatangiku dan menanggalkan pakaianmu, tapi tak lama kemudian Engkau berdiri lagi, Engkau pakai kembali pakaianmu dan pergi meniggalkanku. Aku pun merasa curiga dan cemburu, aku menyangka Engkau pergi untuk menemui istri-istrimu yang lain, sampai akhirnya aku menemukan Engkau berada di pemakaman Baqi’ sedang melakukan apa yang menjadi hajatmu”. Beliau pun bersabda: “Wahai “Aisyah, apakah kau kawatir Allah dan Rasul-Nya akan berbuat aniaya kepadamu? Sungguh tadi telah datang malaikat Jibril menemuiku, dia berkata: Malam ini adalah malam pertengahan bulan Sya’ban. Pada malam ini Allah SWT berkanan memberikan pembebasan dari api neraka sebanyak bilangan bulu-bulu kambing kabilah Kalb. Pada malam ini Allah (dak berkenan melihat kepada orang musyrik, pendendam, orang yang congkak, anak yang durhaka kepada kedua orang tuanya serta orang yang membiasakan minum khomer”, “Aisyah berkata:

“Kemudian Rasulullah SAW menanggalkan bajunya kembali dan berkata kepadaku: “Wahai “Aisyah. apakah kau izinkan aku untuk beribadah pada malam ini?” Aku pun menjawab: “Iya. sungguh wahai Rasulullah”. Kemudian Rasulullah SAW pun melaksanakan sholat dengan sujud yang sangat lama, sampai aku menyangka beliau telah meninggal. Aku pun berdiri untuk mengusap telapak kaki Beliau, ternyata kaki beliau masih bergerak-gerak. Betapa bahagianya aku, ketika aku mendengar Beliau berdo’a dalam sujudnya:

Keesokan harinya aku baca do’a tersebut di hadapan Rasulullah SAW. Beliau pun bersabda kepadaku: “Wahai “Aisyah, Engkau telah mempelajari do’a itu? Aku pun menjawab:” Iya”. Lalu beliau bersabda: “Pelajarilah do’a itu, kemudian ajarkanlah. Karena sesungguhnya malaikat Jibril telah mengajariku dan memerintahkanku untuk mengulang-ulanginya ketika sedang sujud”

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28Laman berikutnya
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker