Imam al-Alamah Syaikh Burhanudin bin Abi Syarif RA. mengatakan: “Barang siapa mencurahkan pikiran dan mau menggunakannya, maka para utusan kebahagiaan silih berganti mendatanginya dengan membawa kebaikan dan kebahagiaan dari Allah ‘Azza wa Jalla. Duhai agungnya suatu kebahagiaan yang terus-menerus silih berganti. Bisakah shalawat seorang hamba membandingi shalawat Malikul Mulk? Bagaimana bisa, sementara seorang hamba hanya bershalawat kepada Nabi Muhammad SAW sekali, sementara Allah bershalawat kepadanya sebanyak sepuluh. Maka betapa Allah telah memberikan pahala yang besar.”
Dan diceritakan dari shahabat Anas RA. bahwa sesungguhnya Nabi Muhammad SAW bersabda:
“Tidaklah seorang hamba yang mengingatku, kemudian membacakan shalawat kepadaku, kecuali Allah akan menulis baginya sepuluh kebaikan, dan melebur sepuluh kejelekan, dan mengangkatnya sepuluh derajat.”
Besarnya pelipat gandaan pahala shalawat dan salam bagi orang yang bershalawat kepada Nabi Muhammad SAW, menunjukkan bagaimana Allah SWT memuliakan kekasih-Nya, dan memberitahukan keutamaan Nabi SAW dibandingkan dengan nabi-nabi yang lain. Oleh sebab itu, ketika malaikat Jibril memberikan kabar gembira kepada Nabi SAW, beliau langsung sujud sebaya rasa syukur kepada Allah SWT atas pemberian khusus dan hadiah yang agung.
Imam Ahmad dan Imam Hakim meriwayatkan sebuah hadits dari Abdurrahman bin Auf, dan menganggap shahih sanadnya, beliau mengatakan bahwasanya suatu ketika Rasulullah SAW keluar, kemudian saya mengikutinya, sampai pada akhirnya beliau masuk ke dalam kebun kurma. Kemudian beliau sujud, dan memperpanjang sujudnya, sehingga saya khawatir dan takut kalau-kalau Allah telah memanggil beliau. Kemudian saya mendatangi dan melihat beliau. Lalu Rasulullah SAW mengangkat kepalanya seraya bersabda: “Ada apa wahai Abdurrahman?” Kemudian saya menjelaskan semuanya kepada beliau. Dan Nabi bersabda: “ Sesungguhnya Jibril alaihissalam mengatakan padaku: “ Maukah aku beri kabar gembira? Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla berfirman: “Barang siapa bershalawat kepadamu, maka Aku bershalawat kepadanya, dan barang siapa mengucapkan salam kepadamu, maka Aku mengucapkan salam kepadanya.” Dalam sebuah riwayat ada tambahan, “Maka aku sujud kepada Allah sebagai rasa syukur.”
Imam Ahmad dan Imam Hakim, dan ia menyatakan kesahihan sanadnya, meriwayatkan dari Abdurrahman bin ‘Auf RA. ia berkat:
“Ketika Rasulullah keluar rumah, aku mengikutinya sehingga beliau masuk kebun kurma. Lalu beliau sujud dan berlama-lama dalam sujudnya, maka aku khawatir jikalau Allah telah mencabut ruhnya. Abdurrahman bercerita : Lalu aku datang untuk melihatnya, kemudian Rasulullah bangun mengangkat kepalanya dan berkata : ” Ada apa dengan engkau ya Abdurrahman ? Abdurrahman bercerita Aku tuturkan kepada beliau kekhawatiranku tadi, Abdurrahman bercerita : lalu Rasulullah SAW bersabda : “Sesungguhnya malaikat Jibril mengatakan kepadaku : Aku datang membawa berita gembira, Sesungguhnya Allah berfirman : “Barang siapa yang membaca sholawat kepadamu, maka Allah bersholawat kepadanya, dan barang siapa yang membaca salam untukmu. maka Allah memberikan salam kepadanya”. (Dalam suatu riwayat disebutkan) “Lalu aku bersujud karena Allah sebagai tanda syukur”.
Imam al-Hafidz al-Mundziri meriwayatkan sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Abi Dun’ya dan Abi Ya’la, lafadzya adalah: “Ada lima atau empat shahabat Rasulullah SAW yang tidak berpisah dengan Rasulullah, yang selalu menggantikan beliau dalam memenuhi kebutuhan baik siang maupun malam.
Abdurrahman bin Auf mengatakan: “Aku datang kepada Rasulullah, sementara beliau baru saja keluar. Kemudian aku mengikutinya. Lalu beliau masuk ke sebuah kebun dari beberapa kebunnya Asyrof. Kemudian beliau shalat, lalu sujud dan memanjangkan sujudnya. Saya pun menangis, dan mengatakan: “Allah telah mengambil ruhnya.” Kemudian Rasulullah mengangkat kepalanya dan memanggilku, lalu beliau bertanya: “Ada apa denganmu?” Saya menjawab: “Ya Rasulallah, engkau memanjangkan sujud, dan saya mengatakan Allah telah mengambil ruh Rasulullah SAW, mudah-mudahan itu tidak terjadi selamanya.” Kemudian beliau bersabda: “Aku bersujud, karena syukur kepada Tuhanku atas ujian yang diberikan kepadaku demi umatku. Barang siapa dari umatku bershalawat kepadaku, maka Allah akan menuliskan baginya sepuluh kebaikan, dan melebur darinya, sepuluh kejelekkan.”
- Barang siapa bershalawat kepada Nabi SAW, maka baginya, pahala sebanding dengan sepuluh budak yang ia merdekakan karena Allah Ta’ala.
Diceritakan dari Bara” bin “Azib Ra. sesungguhnnya Nabi SAW bersabda:
“Barangsiapa yang bershalawat kepadaku satu kali, maka Allah akan menulis baginya sepuluh kebaikan, dan melebur darinya sepuluh kejelekkan, dan Allah mengangkatnya sepuluh derajat, dan sholawat itu baginya sebanding dengan sepuluh budak.”
- Sesungguhnya shalawat itu menjadi sebab diampuninya dosa-dosa, dan itu semua tergantung dari keimanan, kecintaan. dan keikhlasan seorang mukmin dalam bershalawat kepada Nabi Muhammad SAW.
Imam Ibnu Abi “Ashim dan Imam Thabrani meriwayatkan hadits dari Abi Kahil RA, beliau mengatakan: “ Rasulullah SAW. berkata padaku:
“Wahai Aba Kahil, barang siapa bershalawat kepadaku setiap hal sebanyak tiga kali, dan setiap malam tiga kali, dikarenakan cinta dan rindu kepadaku, maka ia berhak mendapatkan ampunan Allah pada malam dan hari itu.”
Hadits diatas diriwayatkan Imam Mundzir dengan menggunakan lafadl (. ) dan ia menyebutkannya dalam kitab Jala’ul Afham dengan sanadnya.
- Shalawat kepada Nabi Muhammad SAW, akan bisa memintakan ampunan bagi si pembaca, dan bisa menenangkannya di alam kubur. Diceritakan dari sayyidah “Aisyah RA, beliau mengatakan: Rasulullah SAW, bersabda:
“Tidaklah seorang hamba yang bershalawat kepadaku, kecuali telah keluar seorang malaikat dengan membawa shalawat itu hingga menghadap kepada Allah Dzat yang Rahman “Azza wa Jalla.” Dan Allah SWT berfirman: “Pergilah dengan membawa shalawat tadi pada kubur hamba-Ku, agar memohonkan ampun bagi pemiliknya, dan menenangkannya”.
- Di antara kekhususan shalawat kepada Nabi SAW, adalah Rasulullah SAW akan memberikan syafaat kepada pembacanya.
Ibnu Abi Dawud meriwayatkan sebuah hadits yang bersumber dari Sahabat Abu Bakar as-Shidiq RA. beliau berkata: Saya mendengar Rasulullah bersabda ketika haji wada’ :
“Sesungguhnya Allah “Azza wa Jalla telah melimpahkan padamu dosa-dosamu ketika beristighfar. Barangsiapa beristighfar dengan niat yang sungguh-sungguh maka ia akan diampuni, dan barang Siapa yang mengatakan Laa Ilaaha Illallah, maka akan diberatkan limbangannya, dan barang siapa bershalawat kepadaku, maka aku akan memberikan syafa’at kepadanya di hari kiamat,”
- Di antara keutamaan shalawat kepada Nabi SAW, adalah bisa menghilangkan kefakiran dan bisa melimpahkan kebaikan dan keberkahan. Hal ini berdasarkan beberapa riwayat dari sanad yang berbeda-beda yang saling menguatkan.
Abu Na’im meriwayatkan dari Samurah bin Jundub RA. beliau mengatakan bahwasanya seseorang datang kepada Rasulullah SAW, dan berkata :
“Wahai Rasulullah, amal apa yang bisa lebih mendekatkan diri kepada Allah?” Nabi menjawab: “Ucapan yang jujur das menyampaikan amanah.” Lalu saya berkata: “Mohon ditambah lagi”, Nabi menjawab: “Shalat malam dan puasa pada hari-hari cuaca sedang panas.” Lalu saya berkata: “Mohon ditambah lagi”, Nabi menjawab: “Memperbanyak dzikir dan bershalawat kepadaku, bisa menghilangkan kefakiran.” Lalu saya berkali: “Mohon ditambah lagi”, Nabi menjawab: “Barangsiapa menjadi imam shalat, maka ringankanlah, karena sebagian dari mereka ad yang tua, sakit, lemah dan mempunyai keperluan.”
Imam al-Hafidz Abu Musa al-Madini meriwayatkan hadit dari Sahal bin Sa’ad RA. bahwasanya beliau mengatakan bahwa’ seseorang telah datang kepada Nabi SAW, lalu ia mengadukan keadaannya yang fakir dan kondisi yang serba kekurangan dalam memenuhi biaya hidup. Kemudian Rasulullah SAW bersabda :
Jika kamu masuk ke dalam rumahmu, maka ucapkanlah salam, baik di dalam ada orang atau tidak, kemudian ucapkanlah salam kepadaku, dan bacalah. satu kali.”
Lalu orang tersebut melakukannya, maka Allah pun melimpahkan rizki kepadanya sehingga bisa meluber kepada tetangga dan kerabat dekatnya.
- Diantara keutamaan shalawat kepada Nabi SAW, adalah arang siapa yang lebih banyak membacakan shalawat, maka Rasulullah SAW adalah orang yang paling berhak baginya.
Imam Tirmidzi meriwayatkan dari Anas RA. bahwasanya Nabi SAW bersabda :
“Orang yang paling berhak bersamaku pada hari kiamat adalah di antara mereka yang paling banyak bershalawat kepadaku.”









One Comment