Dalam hadits yang lain sayyidah “Aisyah juga meriwayatkan:
“Ketika itu malam nisfu Sya’ban bertepatan dengan giliranku, Rasulullah SAW pun ada bersamaku. Tiba-tiba pada tengah malam Beliau menghilang. Seperti layaknya seorang istri . akupun merasa cemburu dan curiga. Lalu aku kenakan baju buluku untuk menutupi tubuhku dan aku pun mencari beliau ke kamar-kamar istri beliau yang lain, tapi aku tidak menjumpainya, hingga akhirnya kuputuskan untuk kembali lagi ke kamarku. Tiba-tiba aku mendapatinya bagaikan baju yang terjatuh, beliau tetap melanjutkan sujudnya dan berdo’a dalam sujudnya:
Kemudian Rasulullah SAW mengangkat kepalanya sebentar dan kembali sujud seraya berdo’a:
Setelah selesai dari sujud yang ke dua, beliau kemudian mengangkat kepalanya dan berdo’a:
Setelah menyelesaikan semuanya, beliau langsung ikut bersamaku masuk ke dalam selimut, sedangkan aku masih menampakkan amarahku kepada beliau, sehingga beliau pun bertanya kepadaku : “Apakah arti dari amarah ini, wahai Humairo”?” Lalu aku ceritakan semuanya, beliau pun beranjak mendekatiku dan mengusap lututk, seraya bersabda: “Sungguh kasihan kedua lutut ini, ia tidak akap bisa bertemu denganku malam ini, karena malam ini adalah malan nisfu Sya ban, pada malam ini Allah SWT berkenan turun ke langi, dunia untuk memberi ampunan bagi hamba-Nya kecuali orang musyrik dan pendendam”.
Dalam hadits yang lain yang diriwayatkan oleh Imam Baihaqi:
“Pada malam nisfu Sya’ban Rasulullah SAW melakukan shalat serta memanjangkan sujudnya, hingga aku mengira bahwa beliau felah wafat. Kemudian aku beranjak untuk menggerak-gerakkan ibu Jari kaki beliau, hingga aku ketahui bahwa beliau masih bergerakgerak. Aku pun kembali lagi ke tempat tidurku. Aku dengar beliau berdo’a dalam sujudnya:
Setelah beliau selesai dari shalatnya, beliau mengangkat Kepalanya, seraya bersabda: “Wahai “Aisyah — dalam riwayat lain: wahai Humairo”apakah kau menyangka bahwa Nabi akan menghianatimu?” Aku menjawab: “Demi Allah, tidak wahai Rasulullah. Aku mengira Engkau wafat (dalam sujudmu) karena lamanya engkau sujud”. Lalu beliau bertanya: “Taukah kamu malam apa sekarang?” Aku menjawab: “Allah SWT dan RasulNya lebih mengatuhui”. Beliau bersabda: “Sekarang adalah malam nisfu Sya’ban. Sungguh pada malam ini Allah SWT berkenan melihat kepada hamba-hamba-Nya serta mengampuni mereka yang beristighfar, mengasihi orang-orang yang memohon belas kasihan kepada-Nya dan mengakhirkan para pendendam, selama masih berdendam”. (H.R. al-Baihaqi dari jalur “Ala’ bin Harits. Imam al-Baihaqi berkomentar: hadits ini tergolong hadits mursal yang jayyid, yakni “Ala’ tidak mendengar langsung hadits ini dari sayyidah ‘Aisyah).
Arti dari lafadz dalam hadits di atas adalah: berkhianat dan tidak memenuhi haknya. Dan makna yang dimaksudkan lafadz dalam hadits di atas adalah: apakah aku menghianatimu untuk menemui yang lain di saat malam giliranmu?.
Do’a-Do’a Yang Biasa Dipanjatkan Dan Yang Terbukti Dikabulkan
Sudah menjadi kebiasaan di masyarakat pada setiap malam nisfu
Sya’ban membaca surat Yasin dan do’a khusus, di antaranya:
Penulis berkomentar : redaksi dalam do’a yang benar setelah diteliti dan dikaji ulang adalah: (. ) Sedangkan penambahan lafadz (. ) dalam kitab-kitab yang popular adalah tidak benar, barang kali terjadi kesalahan oleh para penulisnya. Hal tersebut dikarenakan perkara yang sudah tertulis di sudah tidak bisa dihapus ataupun pun di tambah lagi, Sebagaimana Allah SWT berfirman: dan aku sudah mengungkapkan hal tersebut secara elobal kepada guru-guru saya dan para imam ahli hadits dan fikih, dan ternyata mereka membenarkanku.
Masih banyak sekali do’a-do’a yang sejenis yang diriwayatkan oleh Ibnu Mas’ud, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam kitab “al-Mushonnaf” serta oleh Ibnu Abi Dunya dalam kitabnya “ad-Du’a”. Dari Ibnu Mas’ud, ia berkata: tidak ada seorang hamba pun yang membaca do’a ini kecuali Allah akan melapangkan ma’isyahnya.
Do’a-Do’a Pilihan Para Ulama’ Salaf
Ada beberapa do’a yang ma’tsur dari ulama’ salaf yang tentunya tidak terkhusus untuk dipanjatkan pada malam nisfu Sya’ban, akan tetapi sebagian ulama” arif billah menganggap baik untuk dipanjatkan pada malam itu, bahkan dianggap baik jika dipanjatkan di setiap malam sesuai dengan kemampuan dan kesiapan. Diantara do’a-do’a itu adalah do’a lailatul Qodar:
Do’a tersebut biasa dipanjatkan pada malam lailatul Qodar, dan baik jika dipanjatkan pada malam nisfu Sya’ban karena ia adalah malam termulia setelah lailatul Qodar.
Do’a Nabi Adam AS
Diantara do’a-do’a ulama’ yang dipanjatkan pada malam nisfu Sya’ban adalah do’a yang diriwayatkan oleh sekelompok ulama’ dengan sanad yang tidak dianggap masalah dari Abi Barzah, ia berkata, bahwa Rasulullah SAW bersabda: tatkala Nabi Adam turun ke bumi, beliau melakukan thowaf di Baitullah, setelah itu beliau melakukan shalat dua rokaat di belakang magom Ibrohim, kemudian beliau berdo’a :
Lalu Allah memberikan wahyu kepada nabi Adam, “Wahai Adam, Engkau telah berdo’a dengan sebuah do’a, maka Aku Ikan mengabulkannya. Tidak ada seorang dari keturunanmu yang berdo’a dengan do’a ini, kecuali Aku akan mengabulkan do’anya mengampuni dosa-dosanya, menghilangkan kesusahannya, dan akan aku berkahi setiap perdagangannya dengan pedagang, pedagang lain, dan Aku juga akan memberikannya dunia sekalipun ia tidak menginginkannya.
Do’a Syaikh Adbul Qodir Al-Jailani
Do’a ini dinisbatkan pada syaikh Abdul Qodir al-Jailani yang baik dibaca pada malam nisfu Sya’ban:
Do’a Imam Al-Haddad
Al-Imam al-Habib Hasan bin Syaikhul Islam al-Habib Abdullah bin Alawi al-Haddad telah mengumpulkan (mengkodefiksikan) do’a yang penuh berkah, sebagai berikut :
Ini adalah do’a pendek, Adapun do’a yang panjang dan sempurna adalah:









One Comment