Ibnu Hibban mengatakan, bahwa dalam hadits ini menunjukkan arti bahwa orang yang paling berhak bersama Rasulullah pada hari kiamat (paling dekat dengan Rasulullah) adalah para ahli hadits, karena tidak ditemukan dari umat ini yang lebih banyak bershalawat kepada Nabi Muhammad SAW daripada ahli hadits.
Imam al-Allamah al-Haitami dan yang lainnya mengatakan: Hadits di atas memberi pesan kegembiraan yang besar bagi para ahls hadits, dikarenakan mereka senantiasa bershalawat kepada Nabi SAW, baik dengan ucapan maupun perbuatan, di saat siang ataupun malam, ketika membaca dan menulis. Merekalah yang paling banyak membaca shalawat, Oleh karena ku. merekalah yang bisa meraih derajat tersebut dan merekalah yang paling istimewa daripada golongan ulama’ yang lain
- Di antara keutamaan shalawat kepada Nabi SAW, adalah bahwasanya keberkahan dan kebaikan shalawat bisa dirasakan pada diri sendiri, anak bahkan cucu. Seperti yang diriwayatkan dari Hudzaifah RA. sesungguhnya ia berkata:
“Berkahnya bershalawat kepada Nabi itu bisa menemui orang yang mengucapkannya, anaknya bahkan cucunya.”
Harumilah Perkumpulan Dengan Shalawat Kepada Nabi SAW
Imam Hakim meriwayatkan dari Abu Hurairah, beliau mengatakan bahwasanya Rasulullah SAW bersabda:
“Tidaklah dari sebuah kaum yang mengadakan perkumpulan, lalu mereka berpisah dengan tanpa mengucapkan dzikir kepada Allah melainkan sama halnya mereka berpisah dari bangkai himar, dan mereka akan menyesal pada hari kiamat.”
Hadits ini juga disebutkan oleh Imam Mundziri dalam kitab at Targhib wa at-Tarhib, ia berkata: H.R. Abu Dawud dan Hakim. ia berkata: Hadits Shohih atas syarat Imam Muslim. Penulis berkata Imam Nawawi menshahihkan sanadnya dalam al-Adzkar dan athRiyadil.
Ibnu Jauzi dalam kitab Bustan menyebutkan, ketika ada sebuah majlis yang tidak dibacakan shalawat kepada Nabi SAW, maka ibarat mereka berpisah dari suatu tempat yang lebih busuk dari bangkai himar. Sehingga tidak heran bagi orang yang membacakan shalawat dalam majlisnya, mereka akan berpisah dari suatu tempat yang aromanya lebih harum dari gudang minyak wangi.
Hal itu dikarenakan Nabi Muhammad SAW, adalah sosok yang lebih harum daripada orang-orang yang harum, dan lebih suci daripada orang-orang yang suci. Dan ketika Nabi berbicara, maka beliau memenuhi ruangan dengan aroma misik. Begitu juga dengan majlis yang di dalamnya disebutkan nama Nabi Muhammad SAW, maka akan keluar darinya aroma wangi yang menembus langit ke tujuh sehingga mencapai ‘arsy. Dan setiap makhluk Allah, selain manusia dan jin, dapat menemukan aroma itu di permukaan bumi. Karena jika manusia dan jin bisa mencium aroma itu, maka niscaya mereka akan disibukkan dengan kelezatan keharumannya dan meninggalkan pekerjaannya. Malaikat dan semua makhluk Allah tidaklah mendapati aroma tersebut kecuali memohonkan ampun kepada ahlul majlis, dan Allah menulis bagi mereka kebaikan sebanyak bilangan makhluk Allah yang mencium aroma harum tersebut, dan mengangkat derajat mereka sebanyak bilangan makhluk Allah tersebut. Meski dalam majlis itu hanya ada satu atau bahkan seratus ribu orang, maka masing-masing dari mereka akan bisa mendapatkan pahala yang sama dengan bilangan tersebut, dan pahala yang berada di sisi Allah adalah lebih banyak.
Disebutkan dalam sebuah syi’ir:
“Waktu-waktu menjadi harum semerbak selama dalam sebuah majlis disebutkan berita-berita tentang Nabi. Maha Suci Dzat yang telah menciptakannya sebagai cahaya dan menjadikannya dengan rupa yang sangat rupawan”.
Diceritakan dari Imam Kawaz al-Busthami, beliau mengatakan: “Saya meminta kepada Allah Ta’ala agar aku bisa dipertemukan dengan Abu Shaleh dalam mimpi, yang merupakan seorang muadzin. Kemudian saya melihatnya pada suatu malam dengan keadaan yang sangat baik, lalau saya berkata padanya: “Wahai Abu Shaleh, ceritakan padaku tentang sesuatu yang terjadi padamu,” kemudian beliau menjawab: “Aku termasuk dalam golongan orang yang mengalami kehancuran, jika aku tidak memperbanyak shalawat kepada Nabi Muhammad SAW.”
Imam Syibli menceritakan bahwasanya seorang tetangganya telah meninggal. Kemudian aku melihatnya dalam mimpi, lalu aku bertanya tentang keadaannya. Kemudian ia berkata padaku: “Wahai Syibli, aku telah mengalami keadaan yang mencekam, di mana pada saat aku ditanya, mulutku menjadi gagap. Tatkala dua Malaikat menghampiriku, dan salah satunya menginginkan untuk segera menyiksaku, maka tiba-tiba datang seorang dengan “wajah rupawan yang belum pernah aku jumpai sebelumnya, maka ia menjadi penengah antara aku dan kedua malaikat. Setelah ia mengajarkan hujjah kepadaku, kemudian aku berkata padanya: “Siapa kamu?” Ja menjawab: “Aku adalah Malaikat yang Allah ciptakan dari pahala bershalawat kepada Nabi Muhammad SAW. Dan kamu merupakan orang yang banyak bershalawat kepada Nabi Muhammad SAW di dunia. Maka Allah menciptakanku untukmu sebagai balasan shalawatmu kepada Nabi Muhammad SAW, supaya aku bisa menyelamatkanmu dengan izin Allah dari segala kesusahan dan dari siksa neraka sehingga aku memasukkanmu ke dalam surga atas rahmat Allah”,
Wahai saudaraku, janganlah bosan-bosan untuk selalu bershalawat kepada Nabi Muhammad SAW.









One Comment