Kitab Tasauf

Terjemahan Kitab Madza Fi Sya’ban

Lailatul Mubarokah

Artinya Malam yang penuh berkah dalam Dzatnya, atau karena makna lain yang terkandung di dalamnya, juga karena pada malam itu para malaikat berdekatan dengan anak Adam.

Lailatul Qismah (Malam Pembagian)

Diantara nama nisfu Sya’ban adalah malam pembagian rizqi dan malam dimana Allah SWT pada malam itu membagi segala sesuatu yang sudah dipastikan kepada manusia.

Nama ini diambil dari kesimpulan riwayat dari Atho’ bin Yasar ia menuturkan :

“Ketika datang malam Nisfu Sya’ban, maka bagi malaikat maut akan dituliskan nama-nama setiap orang yang akan mati dar bulan Sya ‘ban ke bulan Sya ‘ban lagi. Sesungguhnya seseorang ity berbuat dholim, berbuat lacur, menikahi perempuan dan menanan pepohonan, padahal namanya telah digantikan dari deretan orang hidup menjadi tertulis jajaran orang-orang yang mati dan tidak ada malam yang lebih mulia setelah Lailatul odar selain malam Nisfi Sya ‘ban

Dalam riwayat lain :

“Ketika datang malam Nisfu Sya ‘ban, malaikat maut diberi sebuah lembaran. Kemudia dikatakan kepadanya : Cabutlah nyawa orang-orang yang tecantum dalam lembaran ini. Sesungguuhnya seorang hamba menanam tananam, menikahi istri-istrinya dan membangut bangunan padahal namanya telah ditulis dalam deretan orang yang akan meninggal, lalu malaikat maut tidak akan menunggu apapun kecuali dia diperintahkan lalu ia mencabut nyawanya”.

Dalam riwayat lain :

“Ajal hamba itu ditentukan dari Sya’ban sampai bulan Sya’bal selanjutnya, sehingga seorang laki-laki menikah dan dilahirkan untuknya anak, padahal namanya telah keluar termasuk golonga! prang-orang yang meninggal”.

Dalam riwayat lain :

“Sesungguhnya dalam malam nisfu Sya’ban Allah memutuskan seluruh keputusan-Nya dan menyerahkannya kepada masing-masing petugas-Nya pada Lailatul Qodr”,

Dalam riwayat lain disebutkan bahwa penyerahan itu pada malam ke dua puluh tujuh dalam bulan Ramadlan. Dari sini bisa disimpulkan bahwa malam dua puluh tujuh Ramadhan ketika terjadi peristiwa itu adalah bertepatan dengan Lailatul Oodr.

Lailatul Takfir (Malam Penghapusan Dosa)

Diantara nama Nisfu Sya’ban adalah malam penghapusan dosa, karena pada malam ini seluruh dosa selama setahun dihapuskan, sebagaimana hari Jum’at menghapuskan dosa selama seminggu dan malam lailatul Qodar menghapus dosa seumur hidup. Keterangan ini disampaikan oleh Imam as-Subki dalam kitab tafsirnya.

Lailatul Ijabah (Malam Pengabulan Doa)

Diantara nama Nisfu Sya’ban adalah malam pengabulan permohonan berdasarkan hadits yang diriwayatkan dari Sahabat Abdullah bin Umar ra ia berkata :

“Lima malam dimana doa di dalamnnya tidak akan ditolak, yaitu malam Jum ‘at, awal malam dari bulan Rajab, malam Nisfu Sya ‘ban, malam Lailatul Qodar dan malam dua hari raya”.

Lailatul Hayat dan Lailatul Idil Malaikat (Malam Kehidupan dan Malam Hari Rayanya Malaikat)

Diantara nama Nisfu Sya’ban adalah malam kehidupan dan malam hari raya malaikat. Keterangan ini disampaikan oleh Imam Abu Abdullah Thohir bin Muhammad bin Ahmad al-Haddadi dalam kitabnya “Uyunul Majalis. “Sesungguhnya malaikat di langit itu memiliki dua malam hari raya sebagaimana yang dimiliki oleh orang Islam. Adapun 2 hari rayanya malaikat itu adalah Lailatut Baro’ah (malam pembebasan) yaitu malam Nisfu Sya’ban dan malam Lailatul Qodar. Sedangkan hari raya manusia adalah hari Idul Fitri dan Adha. Hari rayanya malaikat itu pada malam hari, karena mereka tidak pernah tidur, jadi bagi mereka antara siang dan malam tidak ada perbedaan. Dan para manusia berhari raya pada siang hari karena waktu malam bagi mereka adalah waktu tidur agar pada malam harinya mereka bisa tidur nyenyak dan beristirahat”.

Lailatus Syafa’at (Malam Syafa’at)

Diantara nama Nisfu Sya’ban adalah Malam Syafa’at, keterangan ini menurut Imam Abu Mansyur Muhammad bin Abdullah alHakim an-Naisaburi dan beberapa ulama lain.

Lailatul Baro’ah dan Lailatus Shok (Malam Pembebasan dan Malam Sertifikasi)

Diantara nama Nisfu Sya’ban adalah Malam Pembebasan dan Malam Sertifikasi, dinamakan demikian karena pada malam itu setiap mukmin ditetapkan sebuah kebebasan dari neraka dan pemberian sertifikat pengampunan.

Sebagian ulama pernah ditanya, mengapa malam ini dinamakan dengan malam pembebasan? Mereka menjawab: Ketika seorang pegawai menarik pajak dan sedekah kemudian ia telah menunaikan segala hak-hak yang dimiliki oleh baitul mal, maka ia akan diberi sebuah tulisan dan dinyatakan bebas. Karena ia akan terbebas dari semua tanggung jawab yang menjadi bebannya. Begitu juga dengan malam pembebasan, setiap orang akan diberikan sebuah kebebasan dan akan diucapkan kepadanya. Engkau sudah menunaikan segala hak dan engkau sudah melaksanakan semua syarat-syarat peribadatan, maka sekarang ambillah kebebasanmu dari neraka. Kemudian diucapkan kepada salah seorang, engkau telah memperingan hak-ku dan engkau tidak menjalankan syarat-syarat peribadatan, maka ambillah kebebasanmu dari Dzat yang Maha Perkasa.

Lailatul Jaizah, lailatur Rujhan, Lailatul Ta’dhim dan Lailatul Qodar

Diantara nama Nisfu Sya’ban adalah adalah Lailatul Jaizah (malam penobatan), lailatul Rujhan (malam unggulan), Lailatul Ta ‘dhim (malam pengagungan) dan Lailatul Qodar. Penamaan malam Nisfu Sya’ban dengan nama-nama ini itu berdasarkan keterangan Imam as-Subki dalam kitab tafsirnya.

Lailatul Gufron (Malam Pengampunan)

Diantara nama Nisfu Sya’ban adalah Malam Pengampunan dan Kemerdekaan dari neraka.

Cara Menghidupkan Malam Nisfu Sya’ban

Dalam menghidupkan malam nisfu Sya’ban, ulama Syam berbeda pendapat atas dua qoul :

  1. Disunnahkan menghidupkan malam ini dengan berkelompok di masjid. Dulu, Kholid bin Ma’dan, Luqman bin Amir dan beberapa tokoh ulama’ lain, pada waktu malam nisfu Sya’ban mereka memakai pakaian terbaik, memakai bukhur dan memakai celak lalu melakukan ibadah di masjid pada malam itu juga. Hal seperti mi disetujui oleh Ishag bin Rohuyah. Beliau berkomentar tentang pelaksanaan tersebut: Menghidupkan malam Nisfu Sya’ban dengan berkelompok tidaklah termasuk bid’ah. Keterangan ini disebutkan oleh Imam Harb al-Karmani dalam kitab Masailnya dari Ishag bin Rohuyah.

2, Makruh hukumnya berkumpul bersama-sama di masjid pada malam nisfu Sya’ban untuk melakukan sholat, bercerita dan berdoa, dan tidak dimakruhkan pada malam itu bagi seseorang yang melakukan sholat sendiri-sendiri, Keterangan ini disampaikan oleh Imam al-Auza’i, Seorang Pemuka, Ahli Fikih dan Ulama Negara Syam. Keterangan inilah yang lebih dekat kebenarannya. Insya Allah.

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28Laman berikutnya
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker