Fiqh

Terjemahan Kitab Sulam Taufiq Lengkap

Pasal tentang Nafkah dan Sesuatu yang Berkaitan dengannya

Wajib atas (anak atau cucu dan seterusnya) yang kaya Untuk memberi nafkah kepada orang tuanya yang hidup dalam kekurangan (baik itu ayah, ibu, kakek, atau nenek, dan seterusnya, dan meskipun mereka mampu untuk bekerja), karena adanya perintah yang berlaku secara mutlak.

Juga (wajib memberi nafkah) kepada anak cucunya yang hidup dalam kesulitan, atau yang tidak mampu bekerja karena masih kecil atau karena sakit.

Begitu pula, wajib secara yakin bagi seorang suami untuk memberi nafkah kepada isterinya sebab tamkin (telah menyerahkan diri sepenuhnya kepada suaminya).

Dan juga wajib atas suami memberi mahar (mas kawin) kepada Isterinya, serta memberinya mut’ah jika menceraikannya.

Lalu, wajib atas seorang isteri untuk mentaati suaminya dalam urusan yang berkaitan dengan dirinya (seperti bersetubuh atau bercumbu rayu), selama hal itu diperbolehkan (oleh syariat) untuk dikerjakannya.

Para ulama’ menghukumi haram, wanita keluar rumah dan puasa sunnah, bila tanpa seizin suaminya.

Orang yang memiliki budak dan hewan piaraan, wajib memberi nafkah kepada mereka dengan kadar semestinya.

Dan ia tidak boleh membebani mereka dengan pekerjaan yang di luar kemampuan mereka, dan juga tidak boleh memukul mereka tanpa alasan yang dapat dibenarkan.

Pasal tentang Sifat yang Terpuji dan yang Tercela

Di antara kewajiban hatimu adalah beriman kepada Allah Swt. yang terdiri dari empat rukun. (Wajib pula beriman) kepada segala apa yang datang dari Allah Swt. (meliputi perintah dan rangan-Nya), dan (beriman) kepada Rasul-Nya, serta semua ajaran yang beliau bawa, dengan menerima sepenuhnya.

Juga harus disertai rasa yakin (percaya penuh tanpa keraguan), ikhlas (tulus) karena Allah semata, menyesali semua perbuatan maksiat, tawakkal (hanya bergantung) kepada Allah, dan ridha (rela penuh) terhadap semua yang telah ditagdirkan Allah, serta ber-murdgabah kepada-Nya (selalu menyadari pengawasan Allah terhadap setiap perbuatannya).

Begitu pula harus selalu husnuzhan (berprasangka baik kepada Allah dan mahkluk-Nya), serta mengagungkan syiar-syiar agama Nabi pilihan Allah yang lurus.

Hendaklah selalu mensyukuri nikmat-nikmat Allah, serta bersabar dalam menunaikan apa yang telah diwajibkan oleh Allah Yang Maha Luhur.

Dan bersabarlah dalam meninggalkan perbuatan-perbuatan maksiat, serta dalam menjalani cobaan Allah kepada dirimu. Dan hendaklah selalu ridha terhadap segala rizki yang telah dibagikan oleh Allah (kepadamu).

Hendaklah engkau senantiasa curiga kepada nafsu, dengan selalu menganggapnya berkhianat, dan hendaklah engkau benar-benar tidak menurutinya.

Janganlah kamu turuti (godaan) syetan dan orang-orang ahli maksiat, dan hendaklah senantiasa zuhud (tidak terpikat dan terbujuk) terhadap dunia untuk mendapatkan keselamatan.

Hendakla selalu mencintai Allah Swt. beserta kalam-Nya (al-Qur’an), dari mencintai Nabi-Nya, para sahabat beliau, para keluarga beliau, serta para sahabat Anshar, dan orang-orang “alim yang shaleh lagi mulia.

Wahai ahli kalimat “la ilaha illallah”, pegang teguhlah sebuah nasehat yang amat jernih makna kandungannya, yang telah disampaikan oleh seorang Sayyid yang tinggi derajatnya, yang terkenal dengan julukan al-Haddad, yakni Habib Abdullah bin ‘Alawi namanya. Setiap orang mukmin seyogyanya berhias diri dengan nasehat tersebut. Isi nasehat itu adalah sebagaimana (pada nazham-nazham) berikut, maka hendaklah engkau meraihnya.

Hendaklah engkau bersikap khusyu’ (menunduk-penuhkan hati kepada Allah Swt), tawadhu’ (rendah hati), takut, dan segan Hepada Allah Yang Maha Menciptakan.

Serta zuhud (tidak terpikat dan terbujuk) terhadap dunia, dan gang’ah (merasa rela) terhadap bagian yang ada, maka waspadailah pula sifat thama’ (ambisi atau serakah).

Dan hendaklah engkau berhati lapang, suka mendermakan sesuatu yang lebih (dari kebutuhan), suka menasehati, dan sangat peduli (berempati) kepada orang lain. Juga, sangat menyayangi para hamba Allah, memerintahkan kebaikan, dan mencegah kemungkaran.

Bersegeralah menuju kebaikan dan tetaplah selalu taat kepada Allah Swt.

Jadilah penunjuk dan penuntun menuju kebajikan, serta penyeru kepada kebenaran dan hidayah Allah Swt.

Hendaklah engkau berpribadi santun, berhati tenang, bersikap diam (dari pembicaraan yang tidak berguna), dan penuh kehati-hatian (tidak terburu-buru) yang amat berharga. Lapangkanlah dadamu, lemah-lembutkanlah sikapmu dengan penuh rendah hati, dan perbaikilah akhlaqmu.

Maka, pergaulilah manusia dengan akhlaq yang baik. Sesungguhnya turunnya bala’ (musibah/petaka) itu dikuasakan kepada ucapan. Sebuah ungkapan telah menunjukkan kepada kita, wahai sahabatku, “pangkal keselamatan seseorang adalah dalam memelihara lisannya.”

Janganlah kamu bersikap takabbur (sombong), terlebih kepada orang di bawahmu, dan jangan pula berlaku sewenang-wenang. Maka, peliharalah lisanmu, niscaya ia pun akan memeliharamu. Kata Imam al-Ghazali: “Setiap orang yang memandang dirinya sendiri lebih baik dari pada orang lain, maka ia telah bersikap sombong.”

Janganlah bersifat rakus terhadap urusan dunia yang selalu menggoda, dan janganlah suka mengakhirkan urusan akhirat. Janganlah suka menumpuk harta, dan jangan pula menghalangi harta dari haknya (yang harus ditunaikan, seperti zakat atau sedekah), sehingga engkau menjadi orang yang bakhil (kikir).

Janganlah merenggangkan tali persaudaraan, berhati bengis, bertutur kata kasar, saling menjatuhkan dengan ucapan (mira’), dan berbantah-bantahan (mujadalah).

jauhilah sifat keras hati (menolak nasihat dan kebenaran), suka bertengkar, berjiwa sempit, bertabiat buruk, dan menjilat (purapura baik karena ada kepentingan).

Janganlah menipu, berbuat curang, dan lebih mengutamakan orang kaya dari pada orang fakir. Ini semua untuk menghindarkan diri dari berbagai fitnah (bala’).

Janganlah sekali-kali mondar mandir mendatangi penguasa, dan jangan pula menyertainya sepanjang waktu.

Berbuatlah sesuatu dan jangan berdiam diri untuk ingkar kepada (kezhaliman) para penguasa, selama mampu melakukannya.

Karena, jihad yang paling utama adalah menyuarakan kebenaran kepada penguasa yang zhalim serta bersikap bodoh.

Janganlah engkau bersikap gila kedudukan, semisal menjadi pemimpin, dan gila harta (termasuk bakhil), serta gila kekuasaan. Bahkan, engkau (seharusnya lebih) tidak menyukai yang terakhir ini (kekuasaan), kecuali karena hajat (dituntut secara syar’i) atau keadaan darurat (terpaksa).

Nasehat-nasehat Sayyid Abdullah bin ‘Alawi al-Haddad yang kaya pertolongan ini telah selesai. Wahai Sang Pencipta alam semesta, taburilah kubur beliau dengan keridhaan-Mu yang paling harum mewangi.

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23Laman berikutnya
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker