Pasal Tentang Puasa
Puasa Ramadhan adalah wajib bagi seseorang yang mukallaf (baligh dan berakal) dan beragama Islam.
Puasa bagi wanita yang sedang haidh dan sedang nifas hukumnya tidak sah. Keduanya wajib melakukan qadha’.
Tidak berpuasa bagi orang yang sedang bepergian jauh hukumnya boleh, baik puasa itu membahayakan dirinya ataupun tidak.
(Juga boleh tidak berpuasa) bagi wanita hamil, wanita menyusul, dan orang sakit, yang mana puasa sangat memberatkan mereka dengan beban yang menjadi penghalang
Dan bilamana udzur bagi masing-masing mereka itu telah hilang, maka mereka wajib meng-qadha’.
Orang yang berpuasa Ramadhan wajib melakukan niat di malam hari, serta harus menentukan (jenis puasanya, semisal puasa Ramadhan atau puasa nadzar) setiap hari secara yakin.
Orang yang berpuasa wajib menahan diri dari sesuatu yang dapat membatalkan (puasanya) secara syar’i, meliputi bersetubuh meskipun dengan cara sodomi.
Dan muntah dengan sengaja, onani (atau masturbasi), serta murtad (keluar dari Islam) meskipun dalam waktu singkat.
Juga (wajib menahan diri) dari masuknya materi (benda) ke dalam lubang badan, tidak termasuk bau (atau aroma) sesuatu. Dan (wajib pula menahan diri) dari asap rokok yang umum kita ketahui.
Kecuali ludahnya sendiri yang masih murni dan suci yang keluar dari tempat asalnya.
Dan wajib terhindar dari kegilaan, meskipun sebentar (secara mutlak), dan tidak mengalami sakit ayan (epilepsi) sehari penuh.
Tidak sah berpuasa pada dua hari raya (‘idul fihtri dan ‘idul adha), bahkan orang yang berpuasa pada dua hari tersebut berdosa.
Begitu pula (berpuasa) pada tiga hari tasyrig (tanggal 11, 12, 13 Dzulhijjah), yakni tepatnya setelah hari raya qurban.
Serta (berpuasa) pada separuh terakhir dari bulan Sya’ban, Demikian pula pada hari syakk (meragukan), yakni pada tanggal 30 Sya’ban. Hendaklah kau pegang teguh (penjelasan ini). Kecuali jika (tanggal 30 dan separuh terakhir dari bulan Sya banj itu ia sambung dengan puasa sunnah sebelumnya, atau dengan puasa qadha’, atau puasa nadzar, ataupun puasa wirid (rutin) yang telah ada.
Seseorang yang membatalkan satu hari dari puasa (Ramadhan), tanpa adanya rukhshah (dispensasi, seperti karena bepergian jauh), dengan cara melakukan persetubuhan sempurna, maka ia berdosa dan harus di-ta’zir (diberi sanksi oleh penguasa jika tidak bertaubat), serta wajib meng-gadha’ puasa segera, sekaligus membayar kafarat.









One Comment