Hal-Hal yang Membatalkan Wudhu’
في نواقض الوضوء
وينقض الوضو خروج الكائن # من قبل أو دبر غير المني
Wudhu’ menjadi batal sebab keluarnya sesuatu selain air mani dari lubang qubul (kelamin) atau dubur (anus)
ومس بطن الكف جزء القبل او حلقة الدبر دون حائل
Dan karena menyentuh bagian qubul atau lubang dubur dengan menggunakan bagian dalam telapak tangan tanpa ada
penghalangز
ولمس جلد أجنبية ظهر كلثة مع كبر لا مع صغر
Juga karena menyentuh kulit luar (bukan gigi, kuku, rambut, atau tulang) dari perempuan yang bukan mahram, sebagsimany
menyentuh gusi (juga termasuk membatalkan wudhu’), dengan syarat keduanya sama-sama besar, bukan masih anak kecil,
كذا زوا العقل لا من قاعد بنومة ممكن للمقعد
Demikian juga karena hilang akal (sebab gila, kesurupan, mabuk ayan, atau tidur), kecuali tidurnya seseorang yang duduk
dengan merapatkan pantatnya ke lantai.
Hal-Hal yang Mewajibkan Istinja’ dan Syarat-Syarat Istinja
فيما يوجب الاستنها، وفي شروطه
يجب الاستنجاء من رطب صدر من السبيلين بماء أو حجر
إلى طهارة المحل ما عدا مني شخص فطهوره بدا
Wajib melakukan istinja’ (bersuci setelah buang air) dari sesuatu yang basah yang keluar dari qubul atau dubur selain air mani karena air mani sudah jelas (dihukumi) suci. (Hal itu) denean cara menggunakan air atau batu, sampai tempat (yang terkena najis itu) menjadi suci.
أو بثلاث مسحات إن حصل بهذه الثلاث إنقاء المحل
بصفة القلع مع الجمود والطهر لا محترم الوجود
من أن ينتقل النجس ولا يجف فالماء إذا شرط خلا
(Atau ber-istinja’ hanya) dengan tiga kali usapan saja (tanpa memakai air), jika tempat najis itu dapat dibersihkan dengan tiga kali usapan tersebut (meskipun masih tersisa bekasnya). Dengan syarat (alat usapnya) dapat melenyapkan materi najis, berupa benda padat (batu atau semisalnya), suci, tidak dimuliakan, dan juga materi najis tidak berpindah (dari tempat asal ia keluar), serta belum mengering. Jika salah satu syarat di atas tidak terpenuhi, maka wajib (istinja) memakai air.









One Comment