Kitab Tasauf

Terjemahan Kitab Bidayatul Hidayah

PERGAULAN DENGAN ALLAH DAN SESAMA MAKHLUK

  1. Sopan Santun Bermunajat Kepada Allah Ketahuilah, bahwa dalam keberadaanmu ini ada yang menemanimu yang tidak pernah pisah denganmu, baik ketika engkau sedang berada di rumah, bepergian, tidur atau ketika engkau terjaga, bahkan selama engkau hidup dan mati. Dia itu adalah Tuhamu, penghukum, penolong dan penciptamu. Setiap engkau menyebut-Nya, pasti dia ada bersamamu, sebagaimana firmanNya dalam hadis qudsi:

“Aku adalah teman duduk orang yang menyebut-nyebut (berdzikir) kepada-Ku.”

Dia juga setia menemanimu, ketika engkau dalam keadaan cemas dan sedih, disebabkan engkau teledor menjalankan kewajiban-kewajiban agama. Sebagaimana firman-Nya dalam hadis gudsi:

“Aku akan selalu berada disisi orang yang cemas dan bersedih hati, disebabkan mengingat-Ku.”

Apabila engkau mengenal Tuhanmu dengan sebenarnya, tentu engkau akan berusaha keras menjadikan-Nya sebagai pendamping, dan engkau akan mengesampingkan orang-orang selain-Nya. Apabila engkau tidak mampu berbuat demikian disetiap waktu, maka luangkanlah sebagian waktumu di siang hari atau malamnya, khusus untuk bermunajat kepada Tuhanmu. Ketika engkau sedang bermunajat, berarti engkau telah berhadapan dengan Allah. Karena itu, engkau wajib mempelajari tata cara dan kesopanan bergaul dengan-Nya. Tata cara itu ialah :

  1. Menundukkan kepala.
  2. Merendahkan pandangan.
  3. Penuh konsentrasi.
  4. Selalu berdiam, tidak berbicara.
  5. Mendiamkan anggota fisik.
  6. Menjalankan perintah dengan cepat.
  7. Segera menjauhi larangan.
  8. Tidak memprotes keputusan Allah (takdir).
  9. Aktif berdzikir.
  10. Selatu berfikir tentang nikmat Allah.
  11. Memilih perkara yang haq dan meninggalkan yang batil.
  12. Tidak terlalu banyak mengharap atau bergantung kepada selain Allah

13.Merendah karena takut kepada Allah.

14.Cemas atau bersedih karena malu kepada Allah.

15.Tidak terpengaruh oleh segala macam pola bekerja, karena telah percaya dengan jaminan Allah.

16.Pasrah kepada anugerah Allah dengan tanpa meninggalkan usaha yang baik.

Itulah Semua tata cara atau kesopanan yang harus engkau jadikan syiarmu disepanjang malam dan hari dalam bergaul dengan Tuhan Yang menemanimu yang tidak pernah pisah denganmu disaat orang-orang meninggalkanmu.

  1. Sopan Santun Seorang yang Berilmu (Guru)

Apabila engkau menjadi seorang yang berilmu atau guru, maka engkau harus memperhatikan sopan santun dibawah ini :

  1. Bertanggungjawab.
  2. Sabar.
  3. Duduk tenang penuh wibawa.
  4. Tidak sombong terhadap semua orang, kecuali kepada orang yang zalim dengan tujuan untuk menghentikan kezalimannya.
  5. Mengutamakan bersikap tawadlu’ di majlis-majlis pertemuan.
  6. Tidak suka bergurau atau bercanda.
  7. Ramah terhadap para pelajar (murid).
  8. Teliti dan setia mengawasi anak yang nakal.
  9. Setia membimbing anak yang bebal.

10.Tidak gampang marah kepada murid yang bebal atau lambat pemikirannya.

  1. Tidak malu berkata: “Saya tidak tahu,” ketika ditanyai persoalan yang memang belum ditekuninya.

12.Memperhatikan murid yang bertanya dan berusaha menjawabnya dengan baik

13.Menerima alasan yang diajukan kepadanya.

  1. Tunduk kepada kebenaran, dengan kembali kepadanya apabila dia salah.

15.Melarang murid yang mempelajari ilmu yang membahayakan.

16.Memperingatkan murid mempelajari ilmu agama tetapi untuk | kepentingan selain Allah.

17.Memperingatkan murid agar tidak sibuk mempelajari ilmu fardlu kifayah sebelum selesai mempelajari ilmu fardlu ‘ain.

  1. Memperbaiki ketagwaannya kepada Allah zahir dan batin.
  2. Mempraktekkan makna tagwa dalam kehidupan sehari-harinya sebelum memerintahkan kepada murid agar para murid meniru perbuatannya dan mengambil manfaat ucapan-ucapannya.
  1. Sopan Santun Seorang Murid

Apabila engkau seorang murid, maka perhatikanlah adab kesopanan terhadap guru sebagaimana berikut ini :

  1. Hendaknya memberi ucapan salam kepada guru terlebih dahulu.
  2. Tidak banyak bicara dihadapannya.
  3. Tidak berbicara selagi tidak ditanya gurunya.
  4. Tidak bertanya sebelum meminta izin terlebih dahulu.
  5. Tidak menentang ucapan guru dengan ucapan (pendapat) orang lain.
  6. Tidak menampakkan penentangannya terhadap pendapat gurunya, apalagi menganggap dirinya paling pandai dari pada gurunya.
  7. Tidak boleh berbisik kepada teman yang duduk di sebelahnya ketika guru sedang berada di majlis itu.
  8. Tidak menoleh-noleh ketika sedang berada di depan gurunya, tetapi harus menundukkan kepala dan tenang seperti dia sedang melakukan shalat.
  9. Tidak banyak bertanya kepada guru, ketika dia dalam keadaan letih.

10.Hendaknya berdiri ketika gurunya berdiri dan tidak berbicara dengannya ketika dia sudah beranjak dari tempat duduknya.

  1. Tidak mengajukan pertanyaan kepada guru di tengah perjalanannya.
  2. Tidak berprasangka buruk kepada guru, ketika dia melakukan perbuatan yang zahirnya mungkar, sebab dia lebih mengetahui rahasia (maksud perbuatannya).

Dalam kasus ini si murid hendaknya mengingat ucapan Nabi Musa kepada Nabi Khidr as. seperti yang diterangkan dalam Al-Ouran:

“Musa berkata: “Mengapa kamu melobangi perahu itu yang akibatnya kamu menenggelamkan penumpangnya, sesungguhnya engkau telah berbuat sesuatu kesalahan yang besar.” Nabi Musa dalam kasus tersebut menyangkal perbuatan nabi Khidr karena nabi Musa melihat dari sisi zahir apa yang dilakukan oleh nabi Khudr.

  1. Sopan Santun Anak Kepada Orang Tua | Apa engkau memiliki kedua orang tua, maka hendaknya engkau memperhatikan sopan santun bergaul dengan mereka, diantaranya ialah:
  1. Mendengar ucapan mereka.
  2. Berdiri ketika mereka berdiri, untuk menghormatinya.
  3. Mentaati semua perintah mereka.

4, Tidak berjalan didepan mereka.

5, Tidak bersuara lantang kepadanya, atau membentak, meskipun hanya dengan kata-kata hus.

  1. Memenuhi panggilannya.
  2. Bersuara menyenangkan hati mereka.
  3. Bersikap ramah (tawadlu’) terhadap mereka.
  4. Tidak boleh mengungkit kebaikannya yang telah diberikan kepada mereka.
  5. Tidak boleh melirik kepada mereka atau menyinggung perasaannya.
  6. Tidak boleh bermuka masam (cemberut) di hadapan mereka.
  7. Tidak melakukan bepergian kecuali dengan izin mereka.
  1. Tata Cara Pergaulan dengan Orang Awam

Apabila engkau berada ditengah-tengah orang yang belum engkau kenal akrab, maka engkau hendaknya memperhatikan tata cara atau sopan santun sebagai berikut ini:

  1. Tidak ikut campur dalam pembicaraan mereka.
  2. Tidak seberapa mendengar atau memperhatikan cerita-cerita bohong atau ucapan-ucapan jelek mereka.
  3. Melupakan kata-kata jelek mereka.
  4. Berusaha tidak sering berjumpa dengan mereka.
  5. Mengingatkan mereka dengan halus apabila mereka berbuat kesalahan.
  1. Tata Cara Pergaulan dengan Sahabat Dekat Ada dua hal penting yang harus engkau perhatikan dalam persahabatan, yaitu:
  2. Memilih sahabat.
  3. Tata cara bersahabat.
  1. Memilih sahabat

Sebelum engkau bergaul dengan sahabat, maka engkau harus memperhatikan syarat-syarat bersahabat dan berteman, tidak sembarang orang bisa engkau jadikan teman, untuk itu janganlah engkau bersahabat kecuali dengan orang layak dijadikan sahabat. Rasulullah saw. bersabda:

 “Seseorang itu mengikut atau menurut agama (cara hidup) temannya, oleh karena itu hendaklah seseorang diantara kamu melihat terlebih dahulu siapakah yang sekiranya pantas atau cocok dijadikan teman.”

Jika engkau mencari teman dalam belajar atau teman dalam urusan agama atau bekerja, maka pilihlah orang yang memenuhi lima syarat yaitu:

  1. Orang yang berakal (cerdas). Sebab bergaul dengan orang yang bodoh hanya mengakibatkan cekcok dan keretakan yang akhirnya bermusuhan. Dia akan menyulitkan engkau sendiri. Sebenarnya musuh yang berakal itu lebih baik dari pada teman yang bodoh. Ali bin Abi Thalib berkata:

“Janganlah engkau bersahabat dengan orang yang bodoh, yaspadalah engkau dengan orang-orang bodoh. Banyak sekali orang yang alim menjadi hina dan rendah karena bergaul dengan orang bodoh. Seseorang itu dianggap sama dengan seseorang ketika sedang berjalan bersama-sama. Seperti dua pasang sandal yang sudah tentu menyamai satu dengan yang lainnya. Segala sesuatu itu memiliki kesamaan dan kemiripan dengan sesuatu yang lain. Hati seseorang itu dianggap sama dengan hati orang lain, ketika satu dengan lainnya dapat bertemu (bersahabat).”

  1. Orang Yang Baik Akhlaknya.

Janganlah engkau bersahabat dengan orang yang jelek akhlaknya, yaitu orang yang tidak dapat mengendalikan dirinya ketika marah dan juga tidak dapat menahan kemauan/ syahwatnya. Sehubungan dengan ini, Algomah Al-Tharidy menjelang ia wafat berpesan kepada puteranya:

Wahai anakku! Apabila engkau hendak menjalin persahabatan dengan seseorang, maka pilihlah orang-orang yang memiliki sifat-sifat sebagai berikut:

– Dapat menjagamu, apabila engkau berkhidmah kepadanya.

 – Dapat memperbaiki kamu, apabila engkau berteman dengannya.

-. “Dapat membantu kamu, apabila engkau sedang memerlukan bantuan.

– Selalu membalas jasa baikmu dengan kebaikan pula.

– Selalumengakui kebaikanmu.

– Selalumenutupi kejelekanmu.

– Dapat menghargai atau mempercayai ucapanmu.

– Selalu memberi bantuan apabila engkau mengerjakan sesuatu.

– Mau mengalah apabila berebut sesuatu denganmu.

Ali bin Abi Thalib berkata:

“Sahabatmu yang sebenarnya ialah orang yang selalu bersamamu (di waktu senang dan susah) dan orang yang sanggup mengorbankan diri demi kebaikanmu. Dan orang yang sanggup memecahkan segala urusannya, untuk menolongmu ketika engkau sedang dilanda bencana.”

  1. Orang Yang Shaleh.

Janganlah engkau berteman dengan orang yang fasiq, yaitu orang yang terus menerus melakukan dosa-dosa besar.

Sebab orang yang bertagwa kepada Allah tidak akan melakukan perbuatan maksiat yang berdosa besar secara terus menerus, dan orang yang tidak takut kepada Allah itu tidak dapat dipercaya sepenuhnya, bahkan pendiriannya selalu berubah-ubah menurut keadaan dan kebutuhannya. Allah berfirman dalam Al-Qur’an:

“Dan janganlah engkau mengikuti orang yang telah Kami lalaikan dari mengingat Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas.”

Janganlah engkau bergaul dengan orang fasiq, sebab melihat kefasiqan secara terus menerus itu dapat menghilangkan kebencianmu terhadap kemaksiatan, lalu engkau menganggap enteng terhadap perbuatan maksiat itu, dan akhirnya engkau gampang melakukannya.

  1. Tidak Rakus dengan Harta. Janganlah engkau bersahabat dengan orang rakus (cinta) harta kekayaan, sebab persahabatan dengan orang yang cinta dunia merupakan racun yang ganas, karena tabiat manusia selalu ingin meniru dan mengikuti tabiat orang lain, bahkan watak itu dapat menular tanpa disadari. Dengan demikian, bergaul dengan orang yang rakus terhadap harta itu akan menambah cintamu pada harta dan bergaul dengan.orang tidak cinta dengan harta juga akan mengurangi kecintaan terhadap harta kekayaan.
  1. Orang yang Jujur. Janganlah engkau bersahabat dengan orang pendusta, sebab engkau kemungkinan tertipu olehnya dengan kelicinan lidahnya. .

Itulah lima syarat yang perlu engkau perhatikan dalam memilih teman. Tetapi apabila engkau merasa kesulitan menemukan orang yang memiliki Semua sifat tersebut di lingkungan pondok pesantren atau masjid, maka engkau boleh memilih satu diantara dua perkara, yaitu:

Pertama: Uzlah, artinya mengasingkan diri, tidak bergaul dengan siapapun, karena dengan uzlah ini engkau pasti selamat.

Kedua: Bergaul menurut kondisi orang yang bersangkutan. Artinya, Jika berteman untuk tujuan supaya bahagia di hari kemudian, maka yang harus engkau pertimbangkan benar adalah masalah agamanya. Jika engkau berteman dengan kepentingan dunia, maka yang harus engkau perhatikan adalah kebaikan akhlak dan jika engkau menjalin persahabatan agar hatimu tenteram, maka engkau harus memperhatikan keselamatan dari kejahatan.

Macam manusia itu dapat diumpamakan seperti benda, yaitu:

  1. Orang yang seperti makanan pokok, maksudnya orang yang seperti ini pasti engkau butuhkan dan tentu saja engkau harus berteman dengannya setiap hari. :
  1. Orang yang seperti obat, maksudnya orang seperti ini memang perlu dipergauli tetapi jika diperlukan saja, tidak setiap hari
  1. Orang yang seperti penyakit, yang selalu dihindari. Tetapi terkadang orang itu tertimpa juga oleh penyakit. Semua orang itu sebenarnya berusaha keras menghindari orang yang membahayakan seperti menghindari penyakit, tetapi kadang-kadang dia didekati dan ditemani orang yang berbahaya, meskipun dia membencinya. Untuk menghadapi orang seperti ini engkau dituntut berusaha bebas dan selamat dari padanya. Meskipun demikian, orang itu dapat memberi faedah yang besar kepadamu, kalau engkau memang mampu menghadapinya, dengan cara engkau mengamati kejelekan dan kejahatannya yang engkau benci, lalu engkau menjauhi kejahatan itu.

Orang yang beruntung itu sebenarnya orang yang dapat mengambil pelajaran dari orang lain dan orang mukmin adalah cermin bagi orang mukmin lain. Dulu nabi Isa as. pernah ditanya oleh seseorang: “Siapakah yang mengajarkan kesopanan atau tata cara pergaulan kepadamu?” Beliau menjawab: “Tak seorangpun mengajarkan hal itu kepada saya. Tetapi jika aku mengetahui tingkah laku jelek orang yang bodoh, maka aku harus tidak bertingkah seperti itu.” Beliau lalu berkata: “Andaikata orang-orang ini mau menjauhi sesuatu yang tidak mereka sukai, ketika sesuatu itu dikerjakan orang lain, pasti kesopanan mereka itu menjadi sempurna dan mereka tidak lagi memerlukan pendidik.”

  1. Tata cara bersahabat

Setelah mengetahui cara-cara memilih teman, maka engkau harus mengetahui hak-hak persahabatan. Apabila telah terjalin persahabatan antara engkau dan temanmu, maka engkau wajib memenuhi hak-hak persahabatan. Dalam melaksanakan kewajiban-kewajiban ini ada beberapa tata cara yang harus engkau perhatikan pula. Rasulullah saw. telah bersabda:

“Perumpamaan dua orang yang bersahabat itu seperti dua tangan yang satunya membasuh yang lainnya.”

Dalam satu riwayat diterangkan, bahwa pada suatu waktu Rasulullah saw. masuk ke hutan. Beliau lalu memetik dua potong kayu siwak, yang satu bengkok dan yang satu lagi lurus. Kemudian kayu yang lurus itu diberikan kepada seorang sahabat yang menyertainya. Sedangkan yang bengkok diambilnya sendiri. Sahabat itu kemudian bertanya kepada Rasulullah saw.: “Hai Rasulullah! Sebenarnya engkau lebih berhak mengambil kayu yang lurus ini daripada aku.” Beliau kemudian menjawab:

“Orang yang berteman, meskipun sesaat di waktu siang akan ditanyai tentang persahabatannya. Apakah dia dalam persahabatannya itu telah memenuhi hak-hak yang diatur oleh Allah atau menyia-nyiakannya.” Beliau bersabda:

“Dua orang yang berteman yang paling disenangi oleh Allah adalah yang paling menyayangi temannya.”

Adapun tata cara atau kesopanan dalam persahabatan ialah:

  1. Lebih mengutamakan teman dalam urusan harta. Apabila tidak mampu berbuat demikian, maka hendaklah seorang teman itu memberikan kelebihan harta yang telah diperlukan.
  2. Segera memberi bantuan tenaga kepada teman yang sedang memerlukannya sebelum diminta.
  3. Menyimpan rahasia teman.
  4. Menutupi cacat atau kekurangan yang ada pada diri teman.
  5. Tidak memberitahukan kepada teman omongan negatif orang-orang tentang dirinya.
  6. Selalu menyampaikan pujian orang lain kepada teman.
  7. Mendengarkan dengan baik ucapan teman, ketika dia sedang berbicara.
  8. Menghindari perdebatan dengan teman.
  9. Memanggil teman dengan panggilan yang paling disukai.
  10. Memuji kebaikan teman.
  11. Berterima kasih atas perbuatan baik teman.

12.Membela kehormatan teman seperti halnya dia membela kehormatan dirinya.

13.Memberi nasehat kepada teman dengan cara yang halus dan bijaksana.

14.Selalu memaafkan kekeliruan dan kesalahan teman.

  1. Selalu mendoakan baik kepada teman, ketika dia masih hidup maupun sesudah mati.
  2. Tetap menjalin hubungan baik dengan keluarga teman, meskipun temannya telah meninggal dunia.

17.Tidak memberi beban tanggung jawab kepada teman, bahkan semestinya dia berusaha meringankan beban berat atau tanggung jawab teman agar dia hidup senang.

18.Menampakkan rasa senang ketika temannya sedang mendapat kesenangan dan ikut bersedih hati apabila teman mengalami kesusahan.

19.Menyamakan perasaan terhadap teman antara yang di dalam hati dan yangdiluar.

20.Memberi salam terlebih dahulu kepada teman.

21.Berusaha meluaskan tempat duduk untuk temannya ketika dia masuk ke dalam majlis. Apabila tidak memungkinkan, maka hendaknya beranjak dari tempat duduknya dan mempersilahkan teman untuk duduk di tempatnya.

  1. Mengantarkan teman ketika dia berdiri hendak keluar dari rumahnya.

23 Hendaknya dia diam ketika teman sedang berbicara dan tidak menimpali ucapan teman.

Kesimpulannya ialah, bahwa seseorang itu harus memperlakukan lemannya dengan perlakuan yang menyenangkan, seperti dia ingin diperlakukan baik oleh orang lain. Barang siapa yang tidak bisa mencintai teman seperti halnya dia mencintai dirinya sendiri, maka persahabatan orang seperti ini tidak tulus dan akan membawa bencana di dunia dan di , akhirat. Itulah tata cara atau kesopanan yang harus engkau perhatikan dalam memenuhi hak-hak persahabatan dengan orang-orang awam dan teman-teman dekat.

  1. Tata cara Bergaul dengan Kenalan Dalam menghadapi orang-orang kenalan ini engkau harus lebih hatihati, harus benar-benar bisa menjaga kejelekan kenalan. Kalau teman dekat itu bukan persoalan sulit, tidak perlu ada curiga terhadapnya sebab watak dan sifat sudah dikenal dengan jelas, dan dia akan membantumu. Adapun orang awam atau yang belum engkau kenal tidaklah akan mengusik hatimu, mengganggumu atau merintangimu. Tetapi orang-orang kenalan inilah yang sering membawa kejahatan, lebih-lebih kenalan yang menunjukkan persahabatan melalui kata-katanya, tetapi hakekatnya tak pernah diketahui. Oleh karena itu janganlah engkau memperbanyak kenalan. Tetapi apabila engkau terpaksa memiliki kenalan, baik di sekolah, masjid atau kampus, kota atau pasar, maka engkau harus mengetahui tata cara menghadapi mereka. Tata caranya adalah:

– Janganlah engkau meremehkan atau menghina salah seorang dari mereka. Sebab engkau belum tahu benar tentang dia. Mungkin dia itu lebih baik dari padamu.

– Janganlah engkau memandangnya besar atau mulia, jika mereka memiliki kekayaan, sebab yang demikian ini akan membinasakanmu. Dunia ini sebenarnya kecil tiada berarti dalam pandangan Allah, begitu pula segala isinya. Dan ketika hatimu memandang besar pemilik harta kekayaan dunia, maka jatuhlah harga dirimu dalam pandangan Allah.

– Janganlah mengorbankan agamamu hanya untuk sekedar mendapatkan sesuatu dari kekayaan. Sebab siapa saja yang berbuat demikian dia pasti semakin hina, tidak berharga dihadapan mereka, bahkan dia akan dipermainkan mereka.

– Apabila mereka memusuhimu, maka janganlah engkau balas permusuhan mereka. Sebab engkau tidak akan mampu menandingi mereka, bahkan agamamu akan rusak sebab permusuhan itu, sehingga engkau menderita yang berkepanjangan dan sia-sia kerjamu.

– Janganlah engkau merasa senang jika mereka memuliakan kepadamu, memuji-muji dan menampakkan kecintaannya kepadamu. Sebab jika engkau meneliti hakekat semua itu engkau pasti tidak mendapati lebih dari satu persennya, dan jangan mengharapkan kebaikan mereka itu bisa lahir batin.

– Janganlah engkau heran apabila mereka kenalan-kenalanmu itu menjelekkan kau ketika engkau sedang tidak ada dan jangan pula engkau marah kepadanya. Sebab kalau engkau mau menginsafi atau bersikap adil, engkau sendiri juga pernah berbuat seperti itu, baik kepada teman dekat, keluarga, bahkan kepada guru dan kedua orang tuamu sekalipun. Engkau telah pula berani memperkatakan orangorang yang dekat dan telah berjasa besar kepadamu itu di belakang mereka.

– Janganlah engkau mempunyai harapan atau keinginan mendapatkan kekayaan, jabatan dan bantuan kenalanmu. Sebab orang yang selalu ingin mendapatkan pemberian orang lain pasti akan kecewa, rugi dan menjadi orang yang hina.

– Apabila engkau meminta kepada salah seorang kenalan sesuatu yang engkau butuhkan dan dia memenuhi, maka bersyukurlah kepada Allah dan ucapkan terima kasih kepadanya. Tetapi apabila dia tidak dapat memenuhi permintaanmu, maka janganlah engkau mencemoohnya dan jangan pula menceritakan kepada orang lain, karena yang demikian itu akan menimbulkan permusuhan. Bersikaplah Seperti sikap orang mukmin yang selalu memahami dan menerima alasan orang lain dan janganlah seperti orang munafik yang selalu mencari kesalahan orang lain. Kemudian katakanlah dalam hati : Dia tidak dapat memenuhi kebutuhan saya, karena kemungkinan sesuatu hal yang tidak dapat dia elakkan yang tidak saya ketahui.

– Janganlah engkau memberi nasehat kepada seseorang dari para kenalanmu selama engkau belum melihat tanda-tanda, bahwa mereka akan menerima nasehatmu. Kalau tidak, mereka tidak akan mendengar nasehatmu dan mereka akan memusuhi kamu.

Apabila mereka melakukan suatu kesalahan dalam suatu persoalan, sedangkan mereka tidak mau belajar kepadamu, maka janganlah engkau menggurui mereka, sebab mereka akan mengambil ilmu darimu lalu memusuhimu. Kecuali jika kesalahan yang mereka lakukan itu suatu perbuatan maksiat yang tidak mereka sadari. Kalau memang demikian, maka katakanlah kepada mereka yang sebenarnya dengan cara yang halus. Jika mereka nampak menghargai nasehatmu, maka syukurlah kepada Allah, dan apabila engkau melihat ketidak senangan mereka terhadapmu, maka serahkanlah urusan mereka kepada Allah, lalu mintalah perlindungan kepada-Nya dari kejahatan mereka, dengan tanpa mencemooh mereka dan tidak berkata kepada mereka dengan kata-kata : kamu tidak tahu siapa saya! saya adalah si ….! Saya orang yang ahli dalam bidang ini dan itu. Sebab ucapan-ucapan seperti itu menunjukkan kebodohan dan mempunyai kesan menganggap bersih kepada diri sendiri. Sedangkan orang yang paling bodoh adalah orang yang menganggap dirinya bersih dan suka memuji-muji diri sendiri. Ketahuilah bahwa Allah swt. tidak mendorong mereka berbuat jahat kepadamu kecuali karena dosa atau kesalahanmu yang engkau lakukan sebelumnya, dan hal ini merupakan siksaan Allah swt. atas dosa dan kesalahan yang telah kamu perbuat.

– Dengarkanlah ucapan-ucapan baik mereka dan abaikan ucapan mereka yang batil. Ceritakan kebaikan-kebaikan mereka dan jangan sekali-kali membicarakan kejelekannya.

Demikian itulah tata cara atau kesopanan bergaul dengan para kenalan dan kalau kita mau melaksanakan petunjuk-petunjuk tersebut, insyaAllah akan selamat dari kejahatan dan kejelekan mereka.

Kemudian kami nasehatkan kepadamu pula : Berhati-hatilah engkau dalam bergaul dengan para ahli hukum figih pada masa sekarang, lebihlebih yang sibuk dengan urusan khilafiyah dan terlibat dalam perdebatan dan polemik. Hindarilah mereka, karena mereka selalu menantikan kehancuranmu, akibat sifat hasud yang ada dalam hati mereka. Mereka itu cepat memvonis kamu dengan asas dugaan semata dan ketika dibelakangmu berusaha menjelekkan serta mencela kamu lalu mereka dengan teman-temannya mencari-cari kesalahanmu, sehingga mereka pada suatu saat dengan terang-terangan mencaci dan menjebloskan kamu, untuk melampiaskan kemarahan dan kejengkelannya kepadamu. Pada saat itu mereka tidak mau menerima kesalahanmu dan tidak mau memaafkannya, tidak mau menutupi kekuranganmu, mereka tidak akan melupakan kesalahanmu, mereka sangat hasud kepadamu, baik karena perkara sepele atau besar, bahkan mereka mendorong teman-temannya untuk memusuhimu, mengobarkan fitnah dan berita-berita bohong. Apabila hati mereka sedang merasa lega terhadap kamu, maka lahir mereka tampak serba manis. Apabila mereka sedang marah kepadamu, maka hati mereka mendidih, sedang garang dari pada yang tampak. Jasad mereka dibungkus dengan pakaian yang bagus tetapi hati mereka seperti serigala.

Apa yang kami sebutkan ini adalah suatu kenyataan yang nampak pada sebagian besar mereka, kecuali beberapa segelintir orang saja yang dijaga oleh Allah. Barang siapa yang bersahabat dengan orang-orang seperti itu pasti rugi dan menjadi hina.

Begitulah keadaan sebagian besar orang-orang yang menampakkan persahabatan denganmu, yang ternyata perlu diwaspadai, dan perlu hatihati dengan cara menggunakan beberapa tata cara tertentu apabila hendak mendekati atau didekati mereka. Lalu bagaimana menghadapi orang yang terang-terangan memusuhimu? Jaksa Ibnu Ma’ruf telah berkata:

Hati-hatilah engkau terhadap lawanmu sekali saja dan hatihatilah terhadap temanmu seribu kali. Barangkali temanmu itu akan berubah (menjadi musuhmu), sudah tentu dia akan lebih tahu bagaimana cara menyakitimu.

Musuh yang berasal dari teman itu perlu diwaspadai, dan Janganlah engkau memperbanyak teman.

Sesungguhnya penyakit yang sering engkau lihat itu kebanyakan dari makan dan minumanmu sendiri.

Jadilah engkau seperti apa yang dikatakan oleh Hilal bin Al-‘Ala dalam sya’irnya:

Ketika saya memaafkan seseorang dan tidak mendendam kepada siapapun, saya terasa telah menyelamatkan diri dari segala kesedihan dan permusuhan.

Saya selalu memberi penghormatan kepada musuh ketika saya melihatmu. Dengan cara ini saya menolak kejahatan mereka.

Saya selalu menampakkan kegembiraan kepada orang yang hendak saya marahi, dengan ini hati saya selalu penuh dengan kebahagiaan.

Saya sebenarnya tidak bisa selamat dari kejahatan orang yang belum saya kenal, maka bagaimana saya akan bisa selamat dari kejahatan orang yang telah saya cintai.

Manusia itu sebenarnya penyakit dan penyembuhannya adalah tidak melibatkan diri dalam urusan mereka. Tetapi menghindari mereka itu berarti memutus ukhuwah.

Karenanya yang terpenting adalah tidak mengganggu mereka, pasti akan selamat dari gangguan mereka. Berusahalah engkau mencari kedamaian dan kerukunan.

Bergaullah dengan orang-orang, tetapi bersabarlah menghadapi perangai mereka. Jadikanlah dirimu seperti tidak mendengar, bisu dan buta terhadap kesalahan mereka.

Dan jadikanlah dirimu seperti apa yang dikatakan oleh seorang filusuf.

Jumpailah kawan dan lawan dengan muka yang manis berseri, tetapi bukan karena merendah dan takut. Berusahalah dengan tegas dan tegar, tetapi bukan karena sombong, dan lemah lembutlah terhadap mereka, tetapi bukan menghinakan diri. Berusahalah engkau sederhana dalam segala hal.

Tersebut dalam sya’ir :

Hendaklah engkau selalu sederhana dalam segala urusanmu, karena sederhana adalah jalan terbaik menuju kebahagiaan.

Janganlah engkau teledor atau gegabah, karena keduanya tindakan tercela.

Janganlah engkau memandang hebat terhadap dirimu dengan banyak memandang ke kiri dan ke kanan serta menoleh-noleh ke belakang ketika sedang berjalan dan jangan pula berhenti menjumpai mereka yang sedang berkerumun di satu tempat, kecuali jika engkau mempunyai kepentingan.

Apabila engkau sedang duduk bersama orang banyak, maka janganlah mengangkat kaki, jangan pula menyilang jari-jari tangan bermainmain (mengelus-elus) jenggot atau cincin, membersihkan gigi dengan tusuk gigi, membersihkan hidung dengan jari telunjuk dan sering meludah atau berdahak. Jangan suka menggeliat dan menguap ketika berada di hadapan orang banyak atau ketika shalat. Duduklah engkau dengan tenang, teratur dalam berbicara, mendengar ucapan orang yang sedang berbicara dengan tanpa menampakkan kekaguman yang berlebihan dan jangan meminta kepada orang yang sedang berbicara supaya mengulangi ucapannya. Janganlah engkau berbicara dengan hal-hal yang lucu dan jangan pula berbicara yang isinya mengagumi anak, ucapan, karya tulis atau hal-hal yang berkaitan dengan pribadimu.

Janganlah engkau bergaya seperti orang wanita, berdandan necis, tetapi jangan pula menggerombel seperti hamba sahaya. Jangan berlebihan memakai celak dan minyak rambut.

Berhati-hatilah dalam pergaulan dengan orang dan keluarga. Engkau jangan terbiasa menekan seseorang untuk memenuhi keperluanmu dan jangan mendorong siapapun untuk berbuat zalim. Adapun terhadap keluargamu, maka janganlah engkau memberitahu, baik kepada istri maupun anak-anak lebih-lebih orang lain tentang jumlah atau nilai harta (uang) yang sedang engkau miliki. Sebab, apabila mereka mengetahui sedikit, mereka akan mengejekmu dan apabila banyak, mereka tidak akan puas dengan pemberianmu. Bersikaplah tegas terhadap mereka tanpa kekerasan dan bersikap ramah tetapi tegas.

Janganlah engkau suka bersenda gurau dengan para pembantumu, agar wibawamu tidak jatuh. Apabila engkau bertengkar, maka hendaklah engkau dapat mengendalikan diri dan berhati-hatilah dalam berbicara dan bertindak, supaya engkau tidak kelihatan bodoh dan gegabah dengan cara berfikir dulu sebelum melontarkan alasanmu, dan janganlah terlalu sering menuding-nuding. Jika kemarahanmu telah mereda, maka bicaralah dengan baik.

Apabila engkau didekati oleh pejabat pemerintah, maka anggaplah bahwa dirimu itu sedang berada di ujung tombak (harus selalu waspada), Hindarilah berkawan denmgan orang-orang yang dekat denganmu ketika engkau sehat dan banyak harta dan akan meninggalkanmu jika engkau Jatuh sakit atau miskin, sebab orang seperti itu adalah musuhmu yang paling berbahaya.

Soal harta jangan engkau jadikan lebih mulia atau lebih berharga dari nada kehormatanmu.

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26Laman berikutnya
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker