ADAB BERPUASA
Tidaklah pantas, bila anda hanya melaksanakan puasa Ramadhan saja, tanpa diimbangi dengan puasa sunnah. Puasa sunnah akan mengantar kita ke suatu derajat yang tinggi, yakni surga yang paling tinggi: Firdaus. Mereka yang tidak melaksanakan puasa sunnah, kelak akan merasa susah. Sebab ia kelak akan melihat kemewahan dan tingginya kedudukan mereka yang memperbanyak puasa sunnah di dunia.
Mereka berada ditingkatan yang tinggi, yang dapat dilihat oleh orang lain sebagaimana mereka melihat bintang “Duriyyah”, bintang yang cermerlang di langit. Dalam kenyataan memang demikian. Mereka mendapat kedudukan yang serba mewah dan tinggi, karena amal kebajikan yang telah diperbuat sewaktu di dunia. Mereka memang pantas menempati surga dalam keridhaan Allah.
Adapun hari-hari besar yang disunahkan berpuasa, sesuai dengan apa yang diajarkan Rasulullah saw. selaku pembawa syariat Islam ialah: Hari Arafah (tanggal 9 Dzulhijjah) bagi orang yang tidak dan melakukan ibadah haji. Hari Asyurah (tanggal 10 Muharram). Mulai tanggal satu bulan Dzulhijjah dan tanggal satu bulan Muharram. Mulai tanggal satu bulan Rajab dan Sya’ban sampai dengan tanggal sepuluh.
Adapun memperbanyak amaliah puasa sunnah pada bulan-bulan yang mulia, yakni: Bulan Dzulhijjah, Dzulqa’dah, Muharram dan Rajab adalah sangat utama.
Sedangkan kesunnahan puasa di setiap bulannya ialah pada permulaan bulan, yakni tanggal satu di setiap bulan (gamariyah). Ditengah bulan, yakni tanggal tiga belas, empat belas, lima belas setiap bulan. Tanggal ini biasa disebut dengan “Ayyamil BidI”. Dan diakhir setiap bulan.
Adapun kesunnahan puasa di setiap minggunya ialah pada hari Senin, Kamis dan Jum’at. Dosa-dosa yang diperbuat selama seminggu dapat diampuni Allah karena melakukan puasa di hari Senin, Kamis dan Jum’at (yang disambung dengan Kamis atau Sabtu, tidak hanya hari Jum’at saja). Sedangkan dosa (kecil) yang diperbuat selama sebulan dapat diampuni Allah karena melakukan puasa sunnah dipermulaan bulan, tengah-tengah bulan dan akhir bulan. Sedangkan dosa yang diperbuat selama satu tahun dihapus lantaran melakukan puasa di bulan-bulan mulia seperti yang telah disebutkan diatas, demikian pula lantaran hari-hari mulia yang juga telah dijelaskan di muka.
Jangan mempunyai anggapan bahwa yang disebut dengan ibadah puasa hanyalah meninggalkan makan dan minum, dan tidak menggauli istri sepanjang siang. Tetapi, harus pula meninggalkan pula perbuatan dosa atau tidak pantas dalam pandangan agama. Dalam masalah ini Rasulullah saw. telah bersabda:
“Berapa banyak orang yang berpuasa, tetapi tidak mendapat
pahalanya, kecuali lapar dan dahaga.”
Untuk menyempurnakan ibadah puasa. Hindarkan diri dari segala yang tidak dicintai Allah swt. Bagi yang melakukan puasa harus menjauhi lima perkara yang dapat merusak (keutamaan dan pahala) puasa. Lima perkara itu ialah:
- Memelihara mata dari melihat sesuatu yang tidak dicintai oleh Allah, atau melihat barang maksiat.
- Menjaga lisan dari berbicara yang tiada maknanya.
- Memelihara telinga dari suara yang diharamkan Allah. Sebab, orang yang mendengarkan barang haram itu hukumnya maksiat sebagaimana orang yang mengucapkannya.
Orang yang berpuasa hendaklah menjaga anggota badan dari segala perbuatan yang dilarang agama, seperti mencegah makanan dan minuman yang masuk ke perut. Disamping itu harus memelihara farji. Rasulullah saw. telah bersabda:
“Ada lima perkara yang membatalkan (pahala) puasa, yakni bohong, mengumpat, mengadu domba, bersumpah palsu dan melihat sesuatu disertai syahwatnya.”
Disamping itu Rasulullah saw. mempertegas dengan sabdanya:
“Sesungguhnya puasa adalah penangkal api neraka. Maka apabila seseorang diantara kamu sedang melakukan puasa, hendaklah menjauhi diri dari percakapan dan perbuatan yang kotor (tidak senonoh) yang tidak disertai ilmu. Apabila ada seseorang yang menyerang untuk mengajak bertengkar, maka katakanlah kepadanya: “Aku sedang berpuasa.”
- Berhati-hati didalam berbuka. Hendaklah mencari makanan dan minuman yang halal, jangan sampai kemasukan yang haram.
- Jangan memperbanyak makan dan minum dikala berbuka, sekalipun dengan barang yang halal. Apalagi melebihi kebiasaan makan dan minum dikala tidak berpuasa. Kalau yang demikian dilakukan, maka tidak ada bedanya antara puasa atau tidak. Apalagi kebiasaan makan di setiap harinya dua kali, maka dikala berpuasa hendaklah satu kali. Demikian seterusnya.
Tujuan puasa adalah mengurangi syahwat, memperkuat tagwa, serta mengurangi kekuatan. Kalau seseorang di malam hari makan dua kali lipat, sebagai pengganti makan siang, lalu apa artinya dia berpuasa. Puasanya tidak akan mendatangkan faedah, dan tidak sempurna pahalanya. Tindakan seperti ini menyebabkan seseorang malas beribadah. Padahal perut yang dipenuhi dengan barang-barang halal akan dimurkai Allah, apalagi yang haram. Makan terlalu kenyang mendatangkan kemurkaan Allah swt.
Setelah mengetahui maksud dan tujuan puasa, hendaklah memperbanyak untuk melakukannya. Tentu saja, sesuai dengan kemampuan yang ada. Sebab puasa merupakan fundamen dari segala amal ibadah dan merupakan kunci untuk mendekatkan diri kepada keridhaan Allah.
Rasulullah saw. telah memberikan sabda yang menerangkan firman Allah dalam hadits Oudsi:
“Setiap amal kebajikan pahalanya dilipat gandakan sepuluh kali, bahkan sampai tujuh ratus kali, kecuali pahala puasa. Sesungguhnya puasa itu adalah buat-Ku dan hanya Akulah yang memberikan pahalanya.”
Disamping hadits Oudsi diatas, Rasulullah saw. juga bersabda:
“Demi Dzat yang diriku dalam kekuasaan-Nya. Sungguh bau mulut orang yang berpuasa lebih semerbak daripada minyak Kasturi.”
Didalam riwayat yang lain diterangkan pula, bahwa Allah swt. telah berfirman dalam sebuah hadits Oudsi:
“Sesungguhnya orang yang berpuasa meninggalkan syahwat (kesenangan), makanan dan minuman hanya karena mencari keridhaan-Ku. Karenanya, ibadah puasa adalah milik-Ku dan Akulah yang memberi pahalanya.”
Disamping itu Rasulullah saw. bersabda:
“Di surga nanti ada sebuah pintu yang disebut dengan pintu “Rayyan”. Tidak boleh seorang pun ke surga lewat pintu itu, kecuali orang yang melakukan ibadah puasa.”
Sebagai penutup pembahasan kali ini, perlulah diketahui bahwa apa yang telah diuraikan dari permulaan pembahasan sampai akhir tulisan merupakan Bidayatul Hidayah, pemula hidayah yang membahas tentang cara melakukan ketaatan kepada Allah, disamping menerangkan tentang tata cara pengabdikan diri pada-Nya. Pembahasan ini, sengaja disajikan secara detail, maka itu bisa didapatkan didalam buku Ihya’ ‘Ulumuddin. Juga masalah-masalah lain soal zakat dan haji misalnya, juga terbahas dalam buku itu.









One Comment