Kitab Tasauf

Terjemahan Kitab Bidayatul Hidayah

AMALAN DISEPANJANG SIANG DAN MALAM

Ketika matahari telah menyingsing setinggi galah, hendaknya anda melakukan shalat sunnah /syrag dua rakaat. Hal ini dilakukan setelah hilangnya waktu Karahah, waktu makruh melakukan shalat.

Waktu Karahah berlaku sejak usainya melakukan shalat Subuh sampai matahari setinggi galah. Waktu Karahah bisa diklasifikasikan menjadi dua, yakni:

  1. Waktu antara selesainya melakukan shalat Subuh sampai matahari terbit, adalah haram untuk melakukan shalat, kecuali shalat yang mempunyai sebab. Antara lain, seperti shalat jenazah dan sejenisnya.
  1. Waktu antara terbitnya matahari sampai matahari menyingsing setinggi galah adalah makruh melakukan shalat.

Bila hari mulai agak siang, anda hendaklah melakukan shalat sunnah Dhuha empat rakaat, enam rakaat, maupun delapan rakaat. Shalat ini dilakukan dengan mengucapkan salam setiap dua rakaat. Pelaksanaan shalat Dhuha dengan mengucapkan setiap salam dua rakaat ini adalah tuntunan dari Rasulullah saw. Pada dasarnya, semua bilangan rakaat dari shalat Dhuha ini baik. Tapi, bila anda menginginkan pahala yang banyak, maka bilangan rakaatnya pun hendaknya juga banyak. Antara terbitnya matahari sampai dengan masuknya waktu shalat Dhuhur, tidak terdapat shalat sunnah kecuali shalat Dhuha. Oleh sebab itu, shalat Dhuha amat besar pahalanya.

Adapun waktu yang tersisa -setelah dimanfaatkan untuk shalat Dhuhahendaknya dipakai untuk:

  1. Menuntut ilmu

Waktu ini hendaknya dipergunakan untuk memperdalam ilmu pengetahuan yang bermanfaat bagi agama. Tentu berbagai cara bisa ditempuh, baik formal maupun non formal. Jangan mendalami ilmu yang mendatangkan mudharat, baik ilmu sihir maupun perdukunan.

Adapun ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang bisa dijadikan sebagai sarana peningkatan iman dan tagwa pada Allah. Ilmu bisa dipakai sebagai sarana mengintrospeksi diri -dari segala bentuk kekuranganhingga dapat mengantar kita untuk lebih mendekatkan diri kepada-Nya. Ilmu yang bermanfaat juga dapat mengendalikan diri untuk lebih mencintai kehidupan akhirat yang serba abadi. Dengan ilmu yang bermanfaat itu pula, kita dapat mengetahui tipu daya setan dalam memperdaya ulama munafig, bodoh dan tolol, ulama yang tergila-gila dengan kemewahan dunia. Setan memang telah membiusnya. Ulama seperti itu telah bangga mendapatkan kedudukan dan kehormatan di sisi penguasa. Mereka telah memperjual belikan ilmu dengan kesenangan dunia yang bersifat sementara. Kesenangan yang diperolehnya adalah kesenangan sesaat.

Ulama yang bodoh lagi tolol itu, tidak akan segan-segan dan merasa malu memakan harta wakaf maupun anak yatim. Sepanjang hari, yang diimpikannya adalah kemewahan dan kedudukannya diantara sesama. Mereka telah lupa pada keagungan Allah. Akibatnya, mereka menjadi congkak dan sombong. Merasa dirinya serta tahu dalam segala hal. Ini semua adalah ciri para ilmuan yang tidak bermanfaat ilmunya. Pembahasan tentang ilmu yang bermanfaat ini, bisa dikaji dalam kitab Ihya ‘Ulumuddin -bagian pertama.

Apabila anda ingin memiliki ilmu yang bermanfaat, hendaknya berusaha dengan maksimal. Setelah ilmu bermanfaat itu diperoleh, hendaklah diajarkan dan diamalkan pada sesama. Dengan demikian, ilmu itu akan punya nilai manfaat yang besar. Sebab, siapa memiliki ilmu yang bermanfaat lalu ilmu itu diajarkan kepada sesama, ia akan mendapatkan kedudukan yang tinggi dan agung di sisi malaikat dan disaksikan oleh Nabi Isa as.

Apabila mampu meraih ilmu yang bermanfaat, itu berarti anda telah mampu memperbaiki diri, baik lahir maupun batin. Istilah ilmu itu dengan ktikad dan keyakinan yang baik, hingga tidak ada lagi halangan untuk mempelajari khilafiah antar madzhab, seperti Maliki, Hambali, Hanafi dan Syafi’i. Hal ini dimaksudkan agar anda mengetahui tentang seluk beluk cabang ilmu agama yang jarang dilakukan dalam peribadatan, Disamping, tentu saja, untuk menyelesaikan permasalahan bila terjadi khilafiah diantara mereka.

Mempelajari faham madzhab lain hukumnya Fardhu Kifayah, Sedangkan mendalami faham dari madzhab tertentu adalah Fardhu ‘Ain, Oleh sebab itu, tidaklah dibenarkan anda mempelajari madzhab lain, sebelum mendalami faham dari madzhab yang dianut.

Apabila nafsu amarah telah mempengaruhi anda agar tidak melakukan amalan-amalan berupa wirid, maka itu pertanda bahwa anda telah terkena bujuk rayu setan yang terkutuk. Setan telah memasukkan benih penyakit dalam hati. Dan bila itu terjadi, maka sulitlah untuk mengobatinya. Bentuk penyakit yang akan mucul adalah cinta kemewahan, pangkat, dan kedudukan. Bila itu terjadi maka para setan akan bersuka ria menyambutnya, mereka -para setan itutelah berhasil membujukmu. Oleh sebab itu, janganlah bangga dan senang bila mendapat sanjungan dan pujian dari sesama manusia, jangan pula terlalu mendamba dan mencintai kemewahan dunia.

Seseorang yang mengidentitaskan diri sebagai muslim, tentu mau mengamalkan amalan-amalan yang telah dikemukakan di atas. Dengan demikian, maka sedikit demi sedikit, nafsu yang bersemayam dalam jiwa dapat ditundukkan, minimal dapat dijinakkan. Dengan melatih diri dalam melakukan kebajikan, perasaan berat dan bosan akan sirna, dan perasaan cinta pada ilmu yang bermanfaat pun akan dapat direalisasikan. Hanya orang yang berlatih secara rutin dan tekun yang bisa dikatakan sebagai orang yang mendambakan ilmu yang bermanfaat.

Bila anda melakukan ibadah secara rutin dan ikhlas, itu artinya mencari ilmu hanya untuk keridhaan Allah, mencari kehidupan akhirat. Dan ini merupakan ibadah yang utama. Niat mencari ilmu dengan penuh keikhlasan lebih utama bila dibanding dengan melakukan ibadah sunnah. Bila anda punya niat ikhlas -dalam melaksanakan sesuatuaka” mendapatkan kebahagiaan lahir dan batin, dunia akhirat. Sebaliknya bila dilakukan dengan niat yang kurang ikhlas, niscaya anda akan terjerumus pada jurang kehinaan. Mereka inilah yang termasuk dalam kategori orang-orang bodoh nan tolol, meskipun dimata umat, mereka mendapat gelar ilmuwan.

  1. Aktif beribadah

Apabila anda dapat melaksanakan apa yang tersebut di atas dengan baik, maka hendaklah diimbangi dengan beribadah kepada Allah secara aktif. Bentuknya macam-macam, bisa berdzikir, membaca Al-Ouran, maupun melaksanakan shalat sunnah. Juga, lakukanlah amalan-amalan yang pernah dilakukan para ulama terdahulu, yang shalih, yang mulia dalam pandangan agama. Ini semua, tidak lain, agar anda dapat mencapai derajat yang tinggi nan luhur.

  1. Melakukan amal kebaikan

Berupayalah untuk selalu memberikan pertolongan pada sesama. Pertolongan itu hendaknya diutamakan kepada sesama muslim, yang shalih, dan para ahli figih. Berhidmatlah pada para ahli tasawuf, ulama dan perbanyaklah sedekah. Berilah makan dan minum pada fakir miskin itu, jenguklah mereka yang sedang sakit, dan antarkan jenazah sampai ke liang lahat.

Itulah amal kebajikan yang diridhai Allah swt. Dalam beberapa nwayat disebutkan, amalan-amalan itu lebih utama bila dibanding dengan amalan sunnah lainnya. Sebab amalan itu lebih punya arti bagi sesama, lebih memiliki nilai solidaritas yang tinggi.

  1. Menyibukkan Diri Mencari Nafkah

Bila anda dapat melakukan tiga hal tersebut diatas -atau salah satunyamaka pilihlah yang terakhir ini. Pergunakanlah waktumu untuk mencari kebutuhan hidup. Bekerjalah untuk mendapatkan rizki yang halal, Sebagai sarana ibadah.

Sudah menjadi kewajiban bagi setiap muslim untuk mencari nafkah Secara halal. Dengan demikian, maka anda telah menyelamatkan kaum muslimin dan agama Islam. Apabila anda bekerja dengan dasar ikhlas, maka anda termasuk dalam Ashhabul Yamin, mereka yang bahagia di sisi Allah.

Tentu saja, bagian keempat ini boleh dilakukan, bila benar-benar tidak bisa melakukan pada salah satu dari tiga bagian tersebut diatas. Tapi usahakan anda dapat melakukan salah satu dari tiga bagian di atas, Hal ini memang bukan alasan. Sebab, mereka yang bisa melakukan amalan pertama, kedua atau ketiga adalah mereka yang bisa digolongkan masuk surga yang pertama. Itulah imbalan bagi mereka yang telah menghabiskan waktunya untuk beribadah kepada Allah.

Dari kacamata agama, mereka yang menyibukkan diri mencari nafkah secara halal, adalah termasuk rendah golongannya. Ini, kalau kita ukur dengan tiga tingkatan terdahulu. Adapun mereka yang terkena bujuk setan -dalam kacamata agamaadalah mereka yang sama sekali tidak punya keutamaan. Aktivitas yang mencemarkan nama baik agama, menyakiti sesama adalah sekedar contoh saja. Setiap muslim hendaknya mampu memelihara diri agar jangan sampai terjerumus pada kehancuran.

Dalam kacamata agama, manusia dapat diklasifikasikan menjadi tiga golongan:

  1. Mereka yang selamat. Adalah mereka yang selalu memenuhi perintah wajib, dan menjauhi segala kemaksiatan.
  2. Mereka yang mendapat laba. Adalah mereka yang melakukan perintah wajib plus sunnah. Dengan melakukan yang sunnah, mereka selalu dapat mendekatkan diri pada Allah, sekaligus menjauhi segala kemaksiatan.
  3. Mereka yang merugi. Adalah mereka yang meremehkan segala urusan peribadatan kepada Allah, baik yang wajib maupun yang sunnah.

Bila anda tidak dapat mencapai tingkat yang kedua -mereka yang mendapat labamaka berusahalah untuk mendapatkan tingkat pertama mereka yang selamat. Dan janganlah sampai meraih tingkat ketiga – mereka yang merugisebab anda dapat mendapatkan kerugian yang besar di akhirat. Kerugian ini, merupakan imbalan dalam hal meremehkan atau mengabaikan perintah wajib dan sunnah.

Dalam pandangan kita, manusia dapat diklasifikasikan menjadi tiga juga.

  1. Mereka yang bagai malaikat. Dalam segala tindak tanduknya, mereka menyerupai malaikat Kiramil Bararah, malaikat yang mulia nan suci. Mereka suka menolong di saat orang memerlukan bantuannya. Pertolongan yang diberikan dilandasi kasih sayang, dan bermaksud meringankan beban orang lain. Mereka mencari keridhaan Allah, bukan yang lain.
  2. Mereka yang bagai binatang. Mereka ini punya perilaku seperti binatang. Tidak bermanfaat terhadap sesamanya. Bahkan, kejelekan perbuatannya yang justru menimpa orang lain. Mereka itu, tentu tidak mungkin bisa bergaul dengan orang tipe pertama. Juga kebanyakan orang enggan bergaul dengan mereka. Sebab itu hanya akan menimbulkan kerugian saja.
  3. Mereka yang bagai binatang buas. Mereka -dalam pergaulandiibaratkan bagai binatang buas atau beracun dan tidak dapat diharapkan kebaikannya. Bahkan, sangat diakui tindak kejahatannya.

Apabila anda tidak dapat mencapai tingkat pertama, maka hendaknya jangan sampai masuk pada tingkat kedua. Apalagi masuk pada tingkat ketiga, itu sangatlah berbahaya. Tingkatan ketiga ini hendaknya dijauhi, sebab ia hanya menimbulkan kemudharatan.

Dan bila anda telah mencapai tingkat pertama, maka jangan rela terjerumus pada jurang kehinaan. Jangan sampai setelah mencapai tingkat A’lal ‘iliyyin merosot pada tingkat Asfala Safilin. Anda tentu akan mendapatkan keselamatan yang timbal balik, tidak rugi dan merugikan. Tidak untung dan tidak pula memberikan keberuntungan. Tidak ada laba atau pun rugi – dalam bergaul terhadap sesama.

Adapun upaya untuk mencapai tingkat malaikat, sepanjang hari, hendaknya anda isi dengan aktivitas yang bermanfaat. Baik dalam urusan duniawi maupun ukhrawi. Semua itu tidak pernah lepas dari pertolongan orang lain. Sebab manusia adalah makhluk sosial, saling membutuhkan bantuan.

Ketika anda mencari rizki, sebaliknya didasari niat agar bisa lebih khusyuk melakukan ibadah pada-Nya. Tentu untuk mencapai kebahagiaan ukhraw., Oleh sebab itu, bila anda berdagang, hendaknya dilakukan dengan penuh kejujuran. Demikian pula pekerja-pekerja lainnya.

Apabila anda hidup ditengah-tengah masyarakat tidak bisa memelihara ajaran agama, maka uzlah -mengisolir diriadalah lebih baik. Dengan uzlah anda akan mencapai kebahagiaan hidup dan akan selamat dari gangguan manusia. Tapi bila tidak tahan uzlah atau ragu-ragu, sebaliknya tinggalkan. Sebab, bila dipaksakan akan mengundang murka Allah. Bila dalam uzlah tidak bisa memperbanyak ibadah kepada Allah, lebih baik jangan dikerjakan. Tidur saja di rumah. Memang, daripada bergaul dengan masyarakat yang penuh dengan kemaksiatan, lebih baik tidur di rumah. Bila dalam pergaulan tidak mendatangkan manfaat, sebaiknya anda jauhi.

Dalam kacamata agama, bila seseorang bisa menyelamatkan ajaran agama, namun ia tidak memilki amal kebajikan, maka ia dipandang kina. Oleh sebab itu, bila anda tidur, dengan niat untuk menyelamatkan agama, menjauhi maksiat dalam pergaulan, maka itu termasuk ibadah pada Allah. Sebaliknya, bila tidur itu disebabkan malas bekerja, maka hal itu sudah termasuk perbuatan maksiat dan menjadi musuh agama.

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26Laman berikutnya
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker