MENJAUHI MAKSIAT HATI
Perlu diketahui bahwa sifat hati yang tercela banyak sekali ragamnya. Untuk membersihkannya butuh waktu yang cukup lama. Pada dasarnya, manusia mempunyai empat sifat yang terkumpul dalam hati, yakni: sifat sabu’iyyah (binatang buas), bahimiyyah (kebinatangan), setaniyah dan rabbaniyyah (ketuhanan).
Oleh karenanya, untuk mengobatinya tidaklah mudah. Sebab, manusia banyak yang lalai introspeksi diri. Banyak manusia yang terlena kemewahan duniawi dan lupa akhirat. Hati mereka penuh dengan penyakit. Obatnya telah habis, namun masih belum juga sembuh. Tentang penyakit hati dan cara pengobatannya, anda bisa membaca dibuku Ihya’ Ulumuddin dalam bab Rubu’ul Muhlikat dan Rubu’ul Munjiyat.
Ada tiga penyebab utama dari penyakit hati itu, yakni:
- Hasud (dengki). Merasa iri hati dan benci bila ada orang yang mendapat kenikmatan. Dan merasa senang bila ada orang terkena musibah.
- Riya’ (pamer), melakukan suatu aktivitas bukan karena Allah, tetapi mengharapkan adanya sanjungan dan pujian dari sesama.
- Ujub (memuji diri). Menganggap bahwa dirinyalah yang paling mulia dalam segala hal.
Oleh karenanya, bersihkan diri dari sifat tersebut. Bila kita tidak dapat membersihkan hati dari tiga sifat tersebut, tentu untuk mengobati penyakit hati yang lain pun akan mengalami kesulitan.
Meskipun dalam menuntut ilmu itu sudah ikhlas, tapi jangan menganggap hal itu sudah terlepas dari noda dan dosa. Apalagi kalau sifat hasud, riya dan ujub masih menempel pada diri kita. Rasulullah saw. pernah bersabda:
“Tiga hal yang dapat merusak amal, yakni: bakhil (kikir) yang dituruti, hawa nafsu yang diikuti dan mengagumi diri sendiri.”
Tiga perkara tersebut dalam hadits ini, merupakan perusak moral Seseorang. Juga, bisa merusak mental dan harga dirinya.
Hasud merupakan cabang dari Syukh, sedangkan Syukh jeleknya melebihi bakhil. Sebab, bila bakhil hanyalah untuk mempertahankan Miliknya agar tidak dimiliki pihak lain: namun, syakhih -mereka yang syukhadalah orang yang tidak rela kalau ada nikmat Allah yang dicurahkan kepada pihak lain. Padahal, nikmat Allah itu disediakan untuk seluruh hamba-Nya.
Adapun orang yang hasud, adalah mereka yang tidak senang kalau ada pihak lain mendapat nikmat dari Allah. Ia juga mengharapkan agar nikmat itu pindah ke tangannya. Sifat yang demikian itu merupakan puncak dari keburukan dan kejahatan moral. Tentang hal ini, Rasulullah saw. bersabda:
“Jagalah dirimu dari sifat hasud. Sebab, hasud akan meruntuhkan amal kebajikan, sebagaimana api memakan kayu bakar.”
Sifat hasud ini sama sekali tidak menguntungkan, baik akhirat maupun di dunia. Di akhirat, jelas ia akan menerima siksa yang amat pedih. Sedangkan di dunia, dia tidak bisa lepas dari melihat kenyataan adanya nikmat Allah yang diberikan pada orang lain. Nikmat itu bisa berupa: ilmu pengetahuan, kekayaan, dan kedudukan. Karenanya, orang yang hasud, tentu, akan merasa tersiksa melihat kenyataan tersebut.
Perlu diketahui bahwa manusia tidak akan mencapai hakekat iman, sebelum mencintai sesama muslim bagai mencintai dirinya sendiri. Rasa kasih sayang itu bisa ditunjukkan, baik ketika seseorang itu menerima nikmat atau musibah dari Allah. Bukankah sesama muslim itu ibarat satu bangunan yang kokoh, yang satu dengan lainnya saling kuat menguatkan? Juga bagaikan tubuh bila ada anggotanya yang sakit, semua tubuh merasakannya?
Adapun yang dimaksud dengan riya’, adalah semua aktivitas yang dilakukan, agar mendapat pujian dan sangjungan dari mereka. Riya’ merupakan syirik sirri (rahasia). Gila kehormatan seperti itu adalah termasuk hawa nafsu yang diikuti. Karena gila kehormatan inilah banyak manusia mendapat kerusakan. Sebab, pada dasarnya yang merusak umat manusia jtu adalah manusia itu sendiri. Bukan yang lain.
Dalam suatu hadits disebutkan:
“Besok pada hari kiamat, ada orang yang mati syahid diperintahkan untuk dibawa ke Neraka. Lalu ia protes: “Ya Allah, mengapa aku dimasukkan ke Neraka? Bukankah aku sudah berperang membela agama-Mu, dan aku mati di medan juang?” Lalu, Allah pun menjawab: “Niatmu bukan begitu. Kau lakukan itu agar disebut sebagai pemberani, pahlawan. Maka kepahlawanan itulah yang merupakan pahala bagimu dikala gugur dalam peperangan.”
Demikian pula bagi orang alim, yang menunaikan ibadah haji, dan yang membaca Al-Ouran.”
- Larangan Ujub, Takabur dan Fakhru
Tiga sifat dilarang oleh Islam. Oleh karenanya wajib untuk dijauhi. Tiga sifat tersebut adalah penyakit yang sulit disembuhkan. Para dokter pun akan kesulitan menyembuhkannya. Penyakit ini ada dalam hati, yang merasa lebih dibandingkan lainnya.
Orang yang dihinggapi penyakit ini, biasanya muncul sikap keaku-annya. Seringkali mereka berucap: “Itulah aku, kalau tanpa aku, kalau bukan aku ….” Ucapan ini sama dengan yang diucapkan Iblis, tatkala ia membangkang perintah Allah agar sujud pada Adam, Waktu Iblis mengatakan:
“Aku lebih baik darinya. Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan ia Kau ciptakan dari tanah.” (OS. Al A’raaf: 12)
Ciri-ciri takabur itu, antara lain, adalah merasa lebih tinggi – dalam segala haldibanding yang lain. Di dalam majlis, mereka merasa malu kalau pendapatnya dibantah, apalagi bila tidak dipakai. Juga ketika memberi nasehat dan ditolak, mereka marah-marah.
Sesungguhnya anggapan kita terhadap orang lain itu lebih rendah, sebenarnya hanyalah menunjukkan kebodohan sendiri. Kita adalah manusia biasa, yang serba dha’if dan khilaf. Untuk itu, hendaknya kita punya tenggang rasa, menghormati terhadap sesama. Untuk itu, perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut:
- Bila melihat anak kecil, hendaklah dilihat, bahwa akan itu belum berbuat dosa sama sekali. Tetapi, diri kita tentu telah berbuat banyak dosa. Dengan demikian, maka, anak kecil itu lebih baik dari kita.
- Bila melihat orang tua, hendaklah mempunyai perasaan bahwa mereka lebih dulu, dan lebih utama melakukan ibadah kepada Allah. Maka, tentu, orang tua tersebut lebih mulia dan lebih baik dibanding kita.
- Bila melihat ilmuan, hendaknya dipandang, bahwa ia lebih pandai dibanding kita.
- Dan bila melihat orang bodoh, hendaknya dilihat bahwa mereka melakukan maksiat dan kedurhakaan, karena kebodohannya semata. Tetapi, kita yang diberi ilmu pengetahuan oleh Allah, masih juga melakukan kemaksiatan. Tentu, siksa Allah lebih besar dibanding siksaNya pada mereka yang bodoh itu.
- Kalau melihat orang kafir, hendaknya kita merasa tidak mengerti secara pasti. Sebab boleh jadi esok pagi dia masuk Islam. Lalu berbuat amal kebajikan yang menyebabkan dosanya terampuni. Adapun diri kita, bisa jadi kejahatan yang menutup usia, yang akhirnya menjadi orang yang merugi.
Dan bila kita punya perasaan seperti diatas, niscaya sifat takabur akan sirna. Dalam pandangan Allah, kemuliaan seseorang, adalah mereka yang mendapat keberakhiran yang baik, khusnul khatimah. Padahal, tentang khusnul khatimah itu sendiri, tak seorang pun tahu.
Oleh karenanya, maka takabur itu tentulah tidak perlu kita miliki. Apa artinya takabur, bila nasib yang akan menimpa kita tidak diketahui secarapasti. Bukankah Allah punya sifat Muqallibal-Qulub, memutar balikkan — hati manusia? Allah memang berkehendak memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki. Juga, berkenan menyesatkan mereka yang dikehendaki-Nya pula.
- Nasehat Nabi kepada Mu’adz
Banyak sekali hadits Rasulullah saw. yang membahas tentang takabur, hasud, dan ujub. Tetapi cukup satu saja yang ditampilkan di sini. Hadits itu diriwayatkan oleh Abdillah bin Mubarrak, dalam bentuk pitutur. Rasulullah saw. yang memberikan nasehat kepada Mu’adz. Inilah kisahnya.
Suatu hari Mu’adz bin Jabal didatangi Khalid bin Ma’dan: “Wahai Mu’adz,beritahulah aku satu hadits yang kamu dengar langsung dari Rasulullah saw.?” Mendengar perintah seperti itu, Mu’adz menangis tersedu-sedu. Ia rindu pada Rasulullah saw. dan ingin segera bertemu. Sebab, bila Mu’adz membaca hadits yang akan disampaikan ini, seakan ia telah bertemu dengan junjungannya itu. “Seakan beliau hadir langsung memberikan nasehatnya.”
“Aku memang pernah mendengar sebuah hadits,” kata Mu’adz. Kepada Khalid, Mu’adz menuturkan: “Wahai Mu’adz, aku akan memberimu nasehat. Jika kau berpegang teguh padanya, maka kau akan mendapatkan manfaat disisi-Nya. Jika kamu mengabaikan atau mempermudahnya, maka di hari kiamat kelak akan terputus hujjahmu di hadapan Allah.”
“Wahai Mu’adz, sesungguhnya, sebelum Allah menciptakan langit dan bumi, Dia telah menciptakan tujuh Malaikat. Setelah Allah menciptakan tujuh langit dan tujuh bumi, para Malaikat itu dilantik. Mereka ditugaskan untuk menjaga setiap pintu langit. Para malaikat Hafazhah yang bertugas mengontrol dan mengawasi amal perbuatan manusia. Mereka membawa amal perbuatan manusia sejak pagi sampai sore. Amal tersebut bersinar, bagai matahari. Setelah amal tersebut dibawa naik sampai ke langit dunia (langit I), para malaikat Hafazhah pun memuji dan menyanjungnya. Mereka -para malaikat itujuga menghitung-hitung amal itu sebagaai suatu amal yang banyak.”
“Namun, setelah amal itu dilihat oleh malaikat penjaga langit I, spontan ia berkata kepada Malaikat Hafazhah: “Amal ini tidak perlu dilanjutkan ke atas. Akulah yang mengawasi tentang ghibah (mengumpat). Allah telah memerintahkan kepadaku untuk melarang keras, bahwa amal seseorang yang suka dengan ghibah, sama sekali tidak boleh melewati tempatku ini. Apalagi sampai dinaikkan.”
Malaikat Hafazhah datang membawa amal kebajikan dan amal shalih seorang manusia. Para Malaikat Hafazhah itu memuja dan memuji amalan tersebut. Mereka juga menghitung-hitung, sebagai amal kebajikan yang dapat dihaturkan kepada Allah, dapat sukses melewati langit dunia. Sesampainya di langit kedua, maka malaikat yang bertugas mengatakan kepada Malaikat Hafazhah: “Amal ini sampai disini saja. Jangan kau teruskan ke atas. Pukulkanlah amal ini pada pemiliknya! Dia beramal dengan tidak ikhlas, memamerkan diri, pembohong dan menginginkan kenikmatan duniawi! Akulah malaikat yang diberi tugas mengawasi kebohongan. Allah memerintahkan agar melarang amal seperti ini tidak dibawa naik. Amal seperti ini tidak diperkenankan melewati tempatku ini, sebab, si empunya amal, dikala berkumpul dengan sesama manusia, ia merasa tinggi hatinya.”
Malaikat Hafazhah datang dengan membawa amal seseorang dengan sinar yang berkilau. Ia berasal dari amal sedekah, shalat dan puasa. Para malaikat Hafazhah merasa kagum dibuatnya. Di langit dan II, ia lepas sensor. Namun setelah sampai langit yang III, ia dihentikan. “Pukulkanlah amal ini pada pemiliknya. Ia takabur sewaktu berkumpuk dengan sesama manusia. Aku tugaskan untuk mengontrol masalah takabur. Allah memerintahkan kepadaku, Kalau orang yang takabur tidak boleh dinaikkan.” Kata Malaikat penjaga langit ke III pada malaikat Hafazhah.
Amalan membaca tasbih, shalat, puasa, haji dan umrah, dibawa oleh malaikat Hafazhah dengan cahaya terang dan suara gemuruh. Langit I, II, dan III bisa dilewati dengan sukses. Tapi, begitu memasuki langit ke IV ia diberhentikan oleh malaikat penjaga. “Amal ini tidak bisa dilanjutkan ke atas, kembalikan dan pukulkan kepada pemiliknya. Ia beramal dengan ujub. Allah melarang meluluskan amal orang yang ujub, juga untuk sampai ke atas.
Malaikat Hafazhah pun membawa amal kebajikan manusia yang sangat baik. Ibaratnya, pengantin baru yang sedang di kirab. Amal ini dapat dibawa ke atas -sampai ke langit IVdengan sukses. Namun, sesampainya di langit V, ia dihentikan oleh malaikat penjaganya. Bahkan, malaikat Hafazhah disuruh memukul amal itu kepada pemiliknya. Juga dipukulkan dibahunya. Ternyata, pemilik amal tersebut berbuat hasud terhadap orang yang menandingi amal kebajikan yang diperbuatnya. Baik amal tersebut berupa menuntut ilmu, ibadah dan lain sebagainya. Bahkan ia tidak rela terhadap ibadah orang lain. Ia selalu hasud dan menyakiti hati. “Aku ini yang diperintahkan oleh Allah agar mengoreksi orang yang dihasud. Allah telah memerintahkan kepadaku untuk melarang amal yang hasud dibawa naik, melewati tempatku ini. Pukulkanlah amal itu pada pemiliknya.”
Ada lagi malaikat Hafazhah naik membawa amal manusia yang berupa amal shalat, puasa, zakat, haji, umrah dan jihad di jalan Allah. Amal yang bercahaya itu bagaikan matahari. Ketika mau memasuki langit VI, ia bertahan. Tidak boleh naik, bahkan -oleh malaikat penjaganya disuruh memukulkan kepada pemiliknya. Pemilik amal ini, ternyata tidak punya rasa belas kasihan terhadap sesama. Bahkan, ketika ada orang yang terkena musibah, ia malah gembira. “Aku mengawasi tentang kasih sayang. Oleh karena Allah, aku diperintahkan mengawasi amal orang yang tidak memiliki kasih sayang terhadap sesama. Ia tidak boleh melewati tempatku ini.” ucap malaikat penjaga langit IV pada malaikat Hafazhah.
Malaikat Hafazhah naik lagi. Kali ini ia membawa amal seseorang yang berasal dari puasa, shalat, zakat, nafkah, jihad dan wira’i. Suaranya bergerumuh, sinarnya terang benderang. Oleh karena kebaikan dari amal tersebut, 3000 malaikat pun mengawalnya. Dengan rasa optimis, Malaikat Hafazhah naik kelangit ketujuh. Langit I sampai VII dilewati dengan mulus, tanpa rintangan. Ternyata, sesampai ke langit ke VII, amal ini dihentikan oleh malaikat penjaganya. Bahkan, Malaikat Hafazhah disuruh memukulkan amal itu kepada pemiliknya, dan dikelupas hatinya. “Akulah yang diberi tugas oleh Allah agar menahan dan melarang amal perbuatan seseorang dibawa ke langit yang lebih tinggi. Sebab, yang dilakukannya bukanlah semata-mata karena keridhaan Allah. Tetapi, dengan maksud agar mendapat pangkat Fugaha (ilmuwan), dan sanjungan. Amal ini adalah amal riya’. Bukan Lillaahi Ta’ala. Allah tidak mau menerima amal seperti itu.” Kata malaikat penjaga memberi penjelasannya.
Sekali lagi, Malaikat Hafazhah membawa amal kebaikan seseorang, yang berasal dari shalat, zakat, puasa, haji, umrah, bermoral, pendiam, dzikir dan sebagainya. Oleh karena lengkap dan baiknya amal tersebut, maka malaikat yang berada di tujuh langit dan tujuh bumi mengiringinya. Malaikat Hafazhah dan para pengiringinya sukses, bisa menghadap pada Allah. Kepada Allah, amal kebajikan itu diserahkan. Amal seorang hamba yang penuh ikhlas. Setelah Allah memeriksanya, ia pun berfirman: “Wahai para Malaikat (Hafazhah), kamu mengetahui dan melihat amal hamba-Ku. Sedangkan aku senantiasa mengetahui apa yang terjadi dihatinya. Dan ketahuilah, bahwa hamba-Ku ini melakukan amal kebajikan bukan karena mencari keridhaan-Ku, tapi karena yang lain. Oleh karenanya, hamba yang beramal ini tetap Aku laknati.” Oleh sebab itu pula, para malaikat itu berikrar: “Ya Allah, semoga latnat-Mu tetap kepada si empunya amal ini. Kami juga ikut melaknatinya. Juga, Malaikat penghuni tujuh langit dan tujuh bumi, ikut pula melaknatinya.”
Mendengar penuturan dari Rasulullah saw. ini, Mu’adz bin Jabal menangis sejadi-jadinya. “Wahai Rasulullah saw., engkau adalah utusanNya, maka engkau jelas selamat. Tapi bagaimana dengan aku?” Tanya Mu’adz pada Rasul. “Jalan yang dapat menyelamatkanmu, ikuti aku, sekalipun amalku ini masih ada kekurangan,” jawab Rasulullah saw. dengan bijak. Untuk itu -masih kata Rasulullah saw.wahai Mu’adz, perhatikan ini:
- Jagalah lisanmu. Jangan sampai membicarakan keburukan saudaramu, sesama muslim, khususnya yang ahli (membaca) Al-Ouran.
- Dosamu kau tanggung sendiri. Jangan sampai dosamu kau bebankan pada orang lain.
- Jangan menyanjung dan memuji diri sendiri. Jangan pula mencemooh atau mencela sesama manusia.
- Jangan bertinggi hati dan meremehkan orang lain.
- Jangan mencampurkan amal akhirat dengan amal dunia, seperti menuntut ilmu demi kemanfaatan dunia.
- Ketika bergaul dengan orang, jangan takabur, agar mereka dapat menjaga keburukanmu.
- Jangan berbisik, sehingga dapat menimbulkan syak wasangka orang lain.
- Meskipun kau kaya dan berilmu, tapi jangan merasa besar, dan menganggap orang lain di bawahmu. Hal ini, kalau sampai terjadi -dirimu akan terputus dari kebaikan dunia wal akhirat.
- Jangan mencaci maki orang lain. Hal ini akan menyebabkanmu dikeroyok anjing neraka Jahannam di hari kiamat kelak.
Ingatlah firman Allah:
“Dan (malaikat-malaikat) yang mencabut nyawa dengan lemah lembut.” (OS. An Nazi’at: 2)
“Tahukah kau, apakah Nasythath itu?” Tanya Rasulullah saw. pada Mu’adz.
“Aku tidak mengerti, apakah Nasythath itu, wahai Rasulullah saw.?” Mu’adz balik bertanya.
“Nasythath itu adalah anjing-anjing neraka, yang menggerogoti daging-daging manusia, hingga tinggal tulang belulang belaka.” Jawab Rasulullah saw. memberikan penjelasan.
“Ya Rasulullah saw. siapa yang kuat merasakan, dan selamat dari itu?”
“Itu mudah, bagi orang yang dimudahkan Allah. Kau tidak perlu prihatin,” jawab Rasulullah saw. Kalau kau ingin selamat, masih kata Rasulullah saw., sayangilah apa yang kau dan orang lain sayangi.
Sebaliknya apa yang tidak kau senangi, jangalah diberlakukan pada orang lain. “Wahai Mu’adz, jika kau dapat melakukan yang demikian ini, maka dirimu akan selamat.”
Dari kisah tersebut diatas, Khalid bin Ma’dan berkomentar: “Sepengetahuanku, tidak ada orang yang paling sungguh-sungguh dalam membaca Al-Qur’an, seperti Mu’adz. Hadits Rasulullah saw. tersebut dibacanya berulang-ulang, seperti dia membaca Al-Qur’an.
Oleh sebab itu, wahai penuntut ilmu! Renungkanlah hadits tersebut secara dalam. Ketahuilah, bahwa sifat buruk dalam hati adalah karena menuntut ilmu pengetahuan karena pamrih. Untuk mendapatkan sanjungan dan terkenal. Bagi orang yang bodoh, hal ini kecil kemungkinannya. Tapi bagi mereka yang pandai, itu adalah sasaran empuk. Maka, kerusakanlah akibatnya. Hindarkanlah kerusakan dengan cara bertadharru’ kepada Allah, sepanjang siang dan malam.
Oleh sebab itu, mawas dirilah dalam segala urusan. Hindarkanlah hal-hal yang meyebabkan datangnya kerusakan. Sifat-sifat seperti: takabur, riya’, hasud dan ujub, merupakan sebagian dari induk sifat hati yang buruk. Ibarat pohon, satu pohon bercabang tiga. Adapun pohon yang dimaksudkan adalah cinta kemewahan dunia. Karenanya, Rasulullah saw. dengan tegas bersabda:
“Cinta dunia adalah awal timbulnya segala kesalahan.”
Perlu pula diingat, bahwa dunia adalah ladang untuk mendapatkan buah di akhirat kelak. Maksudnya, barangsiapa yang menggunakan dunia sekedar memperoleh kepentingan akhirat, maka dunia adalah ladangnya. Sedangkan bila ia mengejar kepentingan duniawi, maka dunia merupakan media buat merusak diri sendiri. Karenanya berhati-hatilah dalam mencari kepentingan dunia.
Apa yang tersebut diatas adalah penjelasan tentang tagwa lahiriah, yang disebut dengan Bidayatul Hidayah. Jika sekiranya kita sudah dapat meramaikan batin hati dengan ketagwaan, maka disitulah hijab (tabir pemisah) antara kita dengan Allah akan terbuka dengan luas. Teranglah cahaya ma’rifah, disamping sumber hikmah ibarat air memancar dari hati sanubari. Kalau itu telah ada, maka kita akan dapat melihat dengan jelas, tentang rahasia-rahasia Allah yang tersimpan di langit dan bumi. Dengan demikian, kesuksesan akan terbuka dengan cemerlang.
Segala ilmu yang telah dita’rifkan oleh para ulama -yang pada masa sahabat dan tabi’in tak disebut-sebutseperti ilmu Figih, Nahwu, Sharaf dan lain sebagainya, semuanya itu seakan kita anggap mudah.
Apabila kita menuntut ilmu dengan cara berbicara, debat dan diskusi, maka kita adalah orang yang tertimpa musibah yang sangat besar. Sayang sekali, kita memang telah mengalami kesukaran yang Amat sangat, yakni, mempertahankan pendapat tetapi tidak mendapatkan hasil apa-apa, kecuali hanya kerugian belaka. Bila kita tidak mau merasakan keberatan untuk melakukan kewaspadaan dan ketelitian dalam segala hal, maka, lakukanlah dengan kehendak hati, Tapi, ketahuilah, bahwa kesenangan duniawi adalah sementara sifatnya. Dan bila kita cari dengan menjual agama, maka sama sekali tidak akan selamat. Bahkan, akhirat yang selama ini kita harapkan akan menjadi hampa, hilang sama sekali.
Barangsiapa mencari kemewahan dunia dengan berkedok agarna, la telah merusak keduanya: dunia dan agama! Di akhirat tidak mendapat pahala di dunia tidak mendapat kemewahan duniawi yang langgeng. Sebaliknya, barangsiapa meninggalkan dunia dengan tujuan menegakkan agama, maka dia akan mendapat kebahagiaan dunia dan akhirat.









One Comment