ADAB DI HARI JUM’AT
Hari Jum’at merupakan hari besar bagi kaum muslimin, terutama bagi umat Nabi Muhammad saw. Allah swt. telah memberikan saat mustajab yang dirahasiakan pada hari itu. Bila kaum muslimin mengajukan permohonan doa pada saat itu akan dikabulkan Allah. Waktu tersebut khusus diturunkan Allah pada hari Jum’at. Adapun adab kesopanan di hari Jum’at ada tujuh:
- Bersiap siaga. Berkemas mulai hari Kamis untuk menyambut datangnya hari Jum’at, dengan membersihkan pakaian (mencucinya), memakai wangi-wangian dan menyediakannya apabila kebetulan habis. Pada Kamis malam memperbanyak membaca tasbih dan istighfar. Sebab di malam itu terdapat waktu yang utama sebagaimana waktu yang utama yang terdapat dalam hari Jum’at. Berniatlah melakukan puasa sunnah di hari Jum’at, tetapi harus disertai puasa di hari Kamis atau hari Sabtu. Sebab kalau puasa hari Jum’at saja hukumnya haram.
- Jika fajar Subuh telah menyingsing, mandilah. Berniatlah mandi sunnah untuk menyambut shalat Jum’at. Sebab mandi Jum’at – caranya seperti mandi wajibmerupakan sunnah muakad hukumnya bagi setiap orang yang telah baligh.
- Berhias dengan mengenakan pakaian yang serba putih, sebab warna putih sangat dicintai oleh Allah swt. Bila mungkin, gunakan wewangian atau minyak wangi yang berkualitas tinggi. Usahakanlah membersihkan badan, seperti mencukur rambut, merapikan kumis, memotong kuku, menyikat gigi, dan lain sebagainya yang termasuk katagori membersihkan badan.
- Setelah itu pergilah ke masjid pada pemulaan awal waktu dengan berjalan pelan, jangan tergesa-gesa. Rasulullah saw. telah bersabda:
“Barangsiapa mendatangi (shalat) Jum’at di awal permulaan waktu, maka seakan berkorban unta. Barangsiapa mendatangi (shalat) Jum’at pada waktu yang kedua, maka seakan berkorban sapi. Barangsiapa mendatangi (shalat) Jum’at pada waktu ketiga, maka seakan berkorban (bersedekah) seekor kambing. Barangsiapa mendatangi (shalat) Jum’at yang keempat, maka seakan berkorban seekor ayam jantan. Barangsiapa mendatangi (shalat) Jum’at yang kelima, maka seakan berkorban sebutir telur Bila imam telah naik mimbar untuk berkhutbah, maka tidak adi bagian (keutamaan pahala) lagi buatnya. Buku catatan amal telat ditutup dan para malaikat (yang bertugas mencatat amal) berkumpul disebelah mimbar untuk mendengarkan khutbah,”
Diterangkan, bahwa kelak di hari kiamat seseorang akan dapat melihat langsung kepada Allah swt. Jarak antara orang itu dengan Allah tergantung dari jarak mendatangi shalat Jum’at sewaktu di dunia. Kalau datang shalat Jum’at pada waktu, maka akan melihat Allah swt. dari jarak yang lebih dekat.
- Apabila seseorang telah memasuki masjid, maka carilah shaf (barisan) yang paling awal, paling depan.
- Apabila para jamaah telah banyak yang datang, dan telah mengambil tempat masing-masing, jangan melangkahkan kaki guna mendapatkan shaf awal melewati barisan mereka.
- Jangan berjalan di muka orang yang sedang shalat. Carilah tempat yang aman dari gangguan orang lewat dikala sedang shalat, yakni, memilih tempat dekat tiang atau tembok. Dengan demikian shalat yang dilakukan akan lebih khusyu”.
Jangan duduk di masjid sebelum shalat sunnah Tahiyyatul Masjid, yakni dengan empat rakaat satu kali salam, yang setiap rakaatnya setelah membaca surat al-Fatihah dilanjutkan dengan membaca surat al-Ikhlas lima puluh kali. Jadi dalam empat rakaat membaca dua ratus kali surat al-Ikhlas.
Dalam suatu hadits Nabi saw. telah diterangkan, siapa shalat sunnah Tahiyyatul Masjid seperti yang telah diterangkan diatas, maka dia tidak akan dicabut nyawanya oleh Allah sebelum melihat tempat persemayamannya di surga.
Jangan sekali-kali anda meninggalkan shalat Tahiyyatal Masjid, sekalipun imam telah naik ke mimbar melakukan khutbah. Didalam melakukan shalat sunnah ini, pada rakaat pertama disunnahkan membaca
Surat al-An’am, rakaat kedua membaca surat Al Kahfi, pada rakaat ketiga membaca surat Thaha dan pada rakaat keempat membaca surat Yasin. Kalau tidak mampu membaca surat-surat tersebut, boleh memilih diantara surat Yasin, surat Alif lam mim Sajdah, surat ad-Dukhan atau surat Tabarak. Kalau tidak mampu membaca surat-surat diatas dalam shalat sunnah Tahiyyatul Masjid, maka hendaklah dibaca disepanjang hari Jum’at tersebut.
Surat-surat tersebut mempunyai keistimewaan dibanding surat-surat lainnya. Bagi mereka yang tidak kuasa membaca surat-surat diatas, hendaklah memperbanyak membaca surat al-Ikhlas disepanjang malam dan siang hari Jum’at, disamping juga memperbanyak membaca shalawat Nabi saw.
Dikala imam telah siap melakukan khutbah di mimbar, sedang seseorang sedang melakukan shalat sunnah, hendaklah mempercepat shalatnya, Disamping itu, hendaklah berhenti dari segala kegiatan, seperti berdzikir, membaca tasbih atau al-OGuran dan sebagainya. Selanjutnya, dengarkanlah dan jawablah apa yang dikumandangkan muadzin. Disamping itu, setelah menjawab adzan kemudian dengarkanlah dan renungkanlah maksud dan arti khutbah yang disampaikan khatib. Jadikan khutbah tersebut sebagai nasehat. Dikala khatib sedang khutbah, jangan sekali-kali bicara dengan orang lain. Rasulullah saw. memberi peringatan kepada kita:
“Barangsiapa berbicara dengan temannya dikala imam sedang berkhutbah -sekalipun hanya mengucap”diamlah”, maka dia tidak akan mendapat pahala Jum’at yang sempurna.”
Sebab kata “diamlah” termasuk ucapan juga, yang mengandung makna dan memberikan keterangan pada pihak lain. Karenanya, apabila hendak memberikan peringatan kepada orang lain, lebih baik menggunakan isyarat saja. Tidak usah diucapkan, sekalipun hanya ucapan “diamlah” dan sejenisnya.
Seusai melakukan shalat Jum’at, duduklah dulu dan jangan berbicara. Bacalah surat Al-Fatihah tujuh kali, surat al-Ikhlas, surat Al Falag dan surat An-Naas masing-masing tujuh kali pula. Amalan ini dapat menjadi perantara diampuninya dosa yang diperbuat selama satu minggu. Yakni, mulai hari Jum’at tersebut sampai hari Jum’at berikutnya. Juga, dapat dijadikan penangkal godaan setan.
Setelah membaca surat-surat diatas, hendaklah dilanjutkan dengan membaca empat kali doa:
“Ya Allah Yang Maha Kaya, Yang Maha Terpuji dan Yang Maha Pemula, Yang Maha Mengembalikan (sesuatu) dan Yang Maha Penyayang, serta Maha Penyinta. Cukupilah diriku dengan apa saja yang telah Engkau halalkan dan jauhkan dari apa saja yang Engkau haramkan. Berilah aku pertolongan dengan banyak melakukan ketaatan dan menjauhi larangan-Mu. Demikian juga cukupkanlah diriku dengan anugerah-Mu, sehingga tiada menyekutu sesuatu terhadap-Mu.”
Setelah itu, lakukanlah shalat sunnah ba’dal Jum’at dua, empat atau enam rakaat. Setiap dua ratus kali salam. Rakaat-rakaat yang telah dibahas diatas berdasarkan ajaran Rasulullah saw. sekalipun disampaikan Rasulullah dalam keadaan yang berlainan.
Tetap tinggal di masjid setelah melakukan amaliah diatas, adalah lebih utama, apalagi sampai datang waktu Maghrib atau Ashar. Maksud berdiam diri tersebut diisi dengan i’tikaf, dzikir dan lain sebagainya dari berbagai jenis ibadah. Jadi dengan cara ini berarti telah berusaha mendapatkan waktu ijabah yang masih rahasia yang terdapat di hari Jum’at. Yakni, dengan memperbanyak amaliah ibadah. Sebab pada dasarnya, waktu ijabah tersebut sangat dirahasiakan Allah, dan waktunya antara fajar menyingsing sampai matahari terbenam. Karena itu pantas sekali disepanjang hari Jum’at menyibukkan diri beribadah dengan disertai kekhusyu’an dan ketawadlu’an. :
Didalam masjid jangan sekali-kali memandangi majlis yang kurang ada manfaatnya. Apalagi majlis orang yang menceritakan sesuatu atau membaca dongeng. Tetapi, datangilah majlis ilmu pengetahuan atau majlis lain yang membawa manfaat. Hal yang demikian akan membawa ketagwaan kepada Allah dan mengurangi kecintaan terhadap kemewahan duniawi. Sebab, sesungguhnya ilmu pengetahuan yang tidak menyebabkan berkurangnya kecintaan terhadap kemewahan dunia dan tidak menambah ketagwaan kepada Allah hanya akan mengantar seseorang ke jurang kehinaan. Sehingga, tidak perlu dipelajari apalagi didalami, bahkan lebih baik tidak usah tahu sama sekali.
Daripada memiliki ilmu yang tidak bermanfaat, lebih baik tidak berilmu. Oleh karena itu mintalah perlindungan kepada Allah swt. dengan memperbanyak doa sepanjang hari. Disamping itu, perbanyaklah pula doa ketika imam naik mimbar, dikala igamat dan dikala umat manusia tergesa-gesa berdiri melakukan shalat Jum’at. Usahakanlah, jangan sampai di hari Jum’at melupakan bacaan doa dan amal kebajikan lainnya, agar mendapatkan waktu ijabah yang sangat rahasia.
Di hari Jum’at, hendaklah memperbanyak shadagah sesuai dengan kemampuan sekalipun hanya sedikit. Hal ini agar dapat mengumpulkan pahala shalat, puasa, shadagah, membaca Al-Ouran, berdzikir, bertasbih, beri’tikaf dan memelihara shalat.
Disamping yang kami bahas tadi, hari Jum’at dijadikan sebagai hari khusus dalam setiap minggunya. Khusus untuk memperbanyak amalan akhirat yang mungkin dapat dijadikan penawar dosa yang dapat diperbuat selama seminggu.









One Comment