Memelihara Lisan
Perlu pula diperhatikan, apakah maksud dan tujuan Allah swt. menciptakan lisan buat kita, sehingga kita akan sadar dari kelalaian dan dari perbuatan maksiat, disamping sebagai tanda syukur kepada-Nya.
Betapa banyak kenikmatan yang telah kita terima melalui lisan. Karenanya, hendaklah kita syukuri dengan jalan menggunakan lisan tersebut untuk:
- Memperbanyak dzikir kepada Allah swt. yang telah menciptakannya.
- Memperbanyak membaca Al-Ouran.
- Menuntun orang lain menuju ajaran agama Allah.
- Menyatakan sesuatu yang ada didalam hati, dari segala hajat kebutuhan yang berkenaan dengan masalah agama dan urusan keduniaan kita.
Seandainya lisan kita tidak digunakan untuk sesuatu yang baik, malah dipakai untuk mengucapkan sesuatu yang tidak semestinya, berarti kita telah mengkufuri Allah swt. Perlu diketahui, sesungguhnya lisan merupakan salah satu anggota badan yang paling dominan dan paling banyak perannya dalam mengalahkan seseorang.
Seseorang dijebloskan dalam api neraka Jahannam dan dijungkir balikan merupakan akibat lisan juga. Karenanya, hendaklah kita dapat menjaga dan memelihara lisan tersebut. Hendaknya dijaga dengan sungguh-sungguh dan sekuat tenaga, sesuai dengan kemampuan yang ada. Sehingga, lisan tidak akan menjebloskan kita kedalam api neraka Jahannam yang sangat keji dan hina. Untuk itu perhatikan dan renungkan hadits Nabi saw. di bawah ini:
“Sesungguhnya, seseorang yang karena mengeluarkan perkataan dengan ucapan yang mengandung maksud meremehkan kawan, maka karena ucapan itu, dia dimasukkan ke nereka Jahannam selama tujuh puluh tahun.”
Disamping hadits diatas, perlu pula diperhatikan keterangan riwayat hadits di bawah ini:
“Telah diriwayatkan, bahwa sesungguhnya ada salah seorang yang gugur dalam sebuah pertempuran yang terjadi di zaman Rasulullah saw. Disitu ada salah seorang yang mengatakan: “Untung sekalin si orang yang mati syahid itu, mati dalam pertempuran, dia tentu masuk surga.” Maka Rasulullah saw. bersabda: “Darimana kamu tahu kalau dia berada dalam surga? Padahal boleh jadi ia pernah mengatakan sesuatu yang tidak memberikan manfaat kepadanya, dan pernah berbuat bakhil terhadap sesuatu yang tidak dapat memberikan kecukupan terhadap dirinya.”
Berdasarkan kedua keterangan hadits diatas, dapat dimengerti bahwa lisan sangat potensial mendatangkan bahaya apalagi tidak bisa dijaga dan kebaikan dengan baik. Oleh karena itu, hendaklah kita dapat memelihara diri dari delapan perkara yang sangat besar mendatangkan bahaya bagi keselamatan jiwa, baik di dunia maupun di akhirat kelak. Adapun delapan perkara tersebut adalah:
- Dusta
Yang kami maksud disini adalah dusta sungguhan atau hanya mainmain saja. Sebab, dusta merupakan sejelek-jelek perbuatan dosa.
Janganlah kita membiasakan diri melakukan perbuatan dusta sembarangan. Sebab akan mengantar kita melakukan dusta yang sebenarnya, atau dengan kata lain, akan mengantar kita menjadi seorang pendusta. Sebab, kebiasaan bermain-main dengan dusta akan mengantar menjadi dusta sungguhan.
Perlu diketahui, sesungguhnya perbuatan dusta merupakan induk dari segala perbuatan dosa besar. Karenanya, kalau telah mengetahui keburukannya, hendaklah menjauhinya. Kalau masih saja kita lakukan, sudah pasti akan hilang sifat keadilan kita, dan hilang pula sifat kepercayaan manusia terhadap ucapan kita. Kalau ini terjadi, akibatnya manusia tiada akan percaya lagi terhadap ucapan atau tindakan kita selamanya.
Jika seseorang ingin mengetahui kejelekan perbuatan dusta yang keluar dari lisannya, hendaklah melihat perbuatan atau ucapan dusta yang dilakukan orang lain. Lalu merenungkan bagaimana rasanya didustai orang, dan bagaimana perasaannya terhadap orang yang berdusta tersebut. Kalau seseorang menganggap hina perbuatan dusta, berarti dia merasa menjadi orang terhina bila berbuat dusta.
Jika seseorang dapat mengambil kesimpulan dari masalah dusta yang dilakukan orang lain, maka hendaklah introspeksi, menjaga diri terhadap segala aib yang terdapat dalam dirinya. Sebab kita tidak dapat melihat dan mengetahui aib diri kita sendiri, tanpa cara yang demikian. Ibarat seorang yang tidak dapat melihat paras muka sendiri, maka untuk melihatnya memerlukan cermin. Karena itu, sesuatu yang kita anggap tidak baik yang timbul dari orang lain, tentu akan dianggap jelek ataupun buruk pula dari orang lain bila kita lakukan. Karena itu jangan mau kemasukan atau ditempati sifat tercela, yang menurut pandangan umum tidak baik. Demikian Islam mengajarkan kepada pemeluknya agar berakhlag yang baik, yang mengantarkan mereka menuju keselamatan dunia dan akhirat.
- Ingkarjanji
Apabila kita tidak bisa menepati janji, lebih baik tidak berjanji. Sebab mengingkari janji merupakan larangan agama yang harus dihindari oleh setiap kaum muslimin. Kalau ingin berbuat pada orang lain, sebaiknya langsung dilaksanakan, tidak usah berjanji terlebih dahulu.
Kalau memang terpaksa berjanji, hendaklah dijaga dengan sungguhsungguh, jangan mengingkarinya. Boleh mengingkari janji kalau dalam keadaan lemah ataupun dalam keadaan darurat (terpaksa). Sebab, mengingkari janji dengan tidak ada alasan merupakan bagian dari tandatanda munafik, disamping termasuk akhlag yang jelek pula. Rasulullah saw. bersabda:
“Ada tiga perkara yang apabila dimiliki oleh seseorang, maka dia orang munafik, sekalipun dia melakukan shalat dan puasa. Tiga perkara itu ialah: Apabila berjanji mengingkari, apabila berkata dusta, dan apabila dipercaya khianat.”
- Ghibah (mengumpat)
Kita harus pandai mengendalikan lisan, jangan sampai digunakan untuk mengumpat ataupun membicarakan kejelekan orang lain. Perlu diketahui, dosa menuturkan kejelekan orang lain adalah lebih besar daripada dosa melakukan perbuatan zina tiga puluh kali dalam pandangan ajaran Islam. Sebagaimana diterangkan dalam sebuah hadits Nabi saw.
Ghibah ialah membicarakan keadaan orang lain yang jikalau ia mendengar tidak merasa senang. Kalau kita melakukannya, berarti telah melakukan ghibah, menganiaya diri sendiri, walaupun yang dibicarakan itu benar-benar terjadi. Apa yang kita katakan merupakan kenyataan dari keadaan orang yang kita bicarakan.
Janganlah sekali-kali menggunjing orang yang ahli Al-Qur’an, atau or ang lain yang dianggap riya’ (pamer). Meggunjing Qurra’, yaitu dalam memberikan pengertian dengan maksud dan tujuan tertentu secara samar, Sebagai misal, kita mengucapkan: “Semoga Allah memperbaiki Qurra’, karena perbuatannya hanya menyusahkan dan merugikan diriku. Semoga Allah memperbaiki perbuatanku dan perbuatannya.”
Ucapan diatas adalah mengandung dua keburukan, yaitu:
- Ghibah, sebab ucapan seperti itu dapat memberikan pengertian terhadap sesuatu yang dimaksud, sehingga pendengar memahami isinya.
- Menganggap baik dan menyanjung diri sendiri, yang menunjukkan merasa sedih dan mendoakan kepada Qurra’ dengan mengucapkan: “Semoga Allah memperbaiki perbuatannya.”
Pada dasarnya perbuatan itu adalah mendoakan baik kepada Qurra’, ketika mendoakannya setiap usai shalat. Dan kalau sekiranya kita dibuat susah oleh Qurra’, tentu tidak akan mau membuka cacat dan celanya. Sebab yang demikian dilarang agama.
Jelaslah sekarang, dikala seseorang mengungkapkan rasa susah lantaran cacat Qurra’ berarti telah membuka dan menampakkan cacat dan cela Qurra’ tersebut. Untuk mencegah perbuatan ghibah tersebut, cukuplah kiranya kita selaku kaum muslimin yang mengaku mengabdikan diri kepada Allah meninjau kembali dan merenungkan arti kandungan firman Allah swt.:
“Dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang diantara kamu yang memakan daging Saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya.” (OS. Al Hujaraat: 12)
Pada ayat diatas Allah swt. merupakan orang yang memakan daging Saudaranya yang telah membusuk. Oleh karena itu hendaklah kita menyadari, bahwa sesungguhnya membicarakan kejelekan orang lain bahayanya besar sekali. Oleh karenanya, berusahalah dengan semaksimal mungkin untuk dapat menjauhinya. Jangan sampai membicarakan aib sesama kaum muslimin. Jika sekiranya kamu mau berfikir dan merenung sejenak, tentu akan sadar, bahwa dalam pribadi kita terdapat banyak cacat dan cela. Coba pikir dan selidikilah! Diri kita banyak cela dan cacat atau tidak, baik cacat lahir maupun batin, tentu saja ada. Adakah kita melakukan maksiat secara rahasia atau terang-terangan. Setelah kita mengetahui diri sendiri yang serba memiliki kelemahan, maka ketahuilah, bahwa orang lain pun menghadapi kesulitan untuk menjauhi kelemahannya. Begitu pula kita tidak dapat terhindar dan terlepas dari perbuatan maksiat sama sekali.
Keadaan orang lain yang banyak cacat dan cela itu adalah sama dengan keadaan kita. Demikian halnya, tentu kita tidak merasa senang kalau keburukan ataupun rahasia kita di buka orang lain. Demikian sebaliknya, orang lain pun merasa senang pula apabila cela dan cacatnya kita buka. Sebab itu hindarilah ghibah, membicarakan kejelekan orang lam. Oleh karenanya, hendaklah kita selalu ingat, jika sekiranya kita mau menutup dan merahasiakan cela orang lain, maka Allah berjanji akan menutup dan merahasiakan cacat dan cela kita, baik di dunia maupun di akhirat. Tetapi sebaliknya, kalau kita sudah membuka rahasia orang lain, Allah pun akan mengungkapkan rahasia kita dimuka umum, baik di dunia maupun di akhirat kelak. Allah akan memerintah orang-orang yang memiliki lisan yang lebih tajam untuk membeberkan rahasia kita di permukaan bumi. Di akhirat nanti akan dibuka pula rahasia itu di muka umum, disaksikan oleh seluruh makhluk.
Kalau kita telah mengoreksi diri kita sendiri apa yang ada pada lahir dan batin kita, tetapi ternyata tidak dapat menemukan cela dan cacat serta kekurangan yang ada, baik mengenai urusan dunia ataupun agama, maka ketahuilah: “Sesungguhnya kita adalah seburuk-buruk orang yang paling tolol, dan tiada aib yang lebih jelek daripada kebodohan.”
Manakala Allah menghendaki diri kita menjadi orang yang baik, niscaya Allah akan berkenan memperlihatkan seluruh cacat dan kekurangan yang terdapat pada diri kita. Maka jika kita beranggapan bahwa diri kita dalam keadaan yang baik, seperti tidak memiliki cacat dan cela, merasa puas, itu merupakan puncak kebodohan kita sendiri. Akan tetapi bila anggapan itu benar, cocok dengan angan-angan bahwa kita benar-benar dalam keadaan yang baik, maka hendaklah bersyukur kepada Allah. Sebab demikian lebih baik. Selanjutnya, jangan sampai kebaikan yang telah kita peroleh ini rusak karena kita mencela ataupun menganggap hina orang lain, memburuk-burukkan, membuka cacat dan cela orang lain. Sebab, perbuatan seperti itu merupakan cela yang benar.
- Debat dan banyak bicara
Tindakan bertengkar mulut, debat dan terlalu banyak bicara adalah menyakitkan orang yang diajak bicara. Juga, menganggap bodoh dan mencacinya. Tindakan seperti itu, didasari atau tidak telah menyanjung diri sendiri, dan mengira bahwa dirinya lebih bersih, pandai dan cerdik. Perilaku seperti itu dapat mengakibatkan kotornya hidup dan kehidupan.
Bila kita bertengkar lisan dengan orang yang bodoh, tentu hanya akan menimbulkan permusuhan yang senantiasa menjengkelkan hati. Sedang kalau kita bertengkar lisan dengan orang yang arif, orang yang lebih tinggi ilmu pengetahuannya, tentu kita tidak akan mendapatkan hasil apa-apa, melainkan dibenci oleh mereka. Kita dianggap kurang sopan atau bahkan dianggap berilmu pengetahuan rendah. Diterangkan dalam sebuah hadits Nabi saw.:
“Barangsiapa meninggalkan bertengkar lisan dan dia berada dalam posisi yang salah, maka Allah membangunkan rumah untuknya di surga, dan barangsiapa meninggalkan bertengkar lisan sedang dia dalam posisi yang benar. maka dibuatnya sebuah rumah oleh Allah di surga.”
Karena itu waspadalah, jangan sampai terkena rayuan setan yang selalu berbisik kepada kita. Tampakkanlah hak dan kebenaran, jangan kalah dalam menegakkan kebenaran tersebut, dalam keadaan apapun. Sebab, sebenarnya setan selalu berusaha menarik orang-orang bodoh untuk dijerumuskan dalam jurang kejahatan. Oleh karena itu janganlah menjadi bahan tertawaan setan, karena setan dapat membujuk dan merayu kitsa, memerosokkan ke jurang kehinaan dan kesengsaraan. Karenanya, kebenaran perlu ditegakkan dan dipertahankan, sekalipun berat.
Menampakkan hak dan kebenaran merupakan suatu perbuatan yang baik, apabila ditujukan kepada orang yang sekiranya mau menerima dan mengikuti ajakan yang disampaikan. Yang demikian itu pun harus ditempuh dengan jalan memberikan nasehat secara halus dan dalam suatu tempat tersendiri, tidak dimuka umum. Perlu kita ketahui, memberikan nasehat kepada orang lain itu ada caranya. Ia harus dapat menempuh jalan yang bijaksana. Karenanya, nasehat membutuhkan kehalusan, baik dalam perangai maupun dalam tutur kata. Disamping itu, disampaikan bahasa yang memikat. Jika cara itu tidak dapat ditempuh, tentu nasehat tersebut akan menjadi sia-sia. Bahkan mungkin menjadi Fadlihat, yakni membuka cacat dan cela orang lain. Kalau ini sampai terjadi, maka mudarat yang ditimbulkan oleh nasehat itu lebih besar daripada manfaatnya. Sehingga maksud untuk mendatangkan kebaikan malah berbalik mendatangkan kejelekan, sebab tidak melalui cara yang baik dalam memberikan nasehat.
Lalu, bila anda bergaul dengan para ahli figih di zaman ini -masa dimana al Ghazali hidup bahkan sampai zaman dimana kita hidup sekarang inimaka kebanyakan mereka suka bertengkar lisan berdebat dan bersitegang leher. Sukanya mau menang sendiri dalam segala permasalahan, tak mau mengalah. Hal yang demikian dikarenakan fanatik terhadap fatwa ulama su’. Ulama munafik yang menerangkan bahwa sesungguhnya pandai bertengkar mulut dan berdebat merupakan suatu tindakan yang utama. Beranggapan bahwa pandai berhujjah (mengajukan argumentasi) dan provokasi merupakan suatu kecerdikan yang sangat terpuji.
Oleh karena itu, hendaklah kita dapat menjauhi dari pengaruh ulama su’, sebagaimana kita lari dari ancaman harimau. Perlu diketahui, bahwa sesungguhnya bertengkar lisan merupakan penyebab murka Allah dan dibenci seluruh makhluk. Karenanya, perlu berhati-hati didalam memelihara lisan.
- Memuji diri
Yang dimaksud dalam pembahasan ini adalah menyinggung diri sendiri, seakan merasa bahwa dirinya tidak mempunyai dosa. Hal yang demikian dimaksudkan untuk pamer (riya’) terhadap orang lain. Sedangkan merasa suci dari dosa dengan maksud untuk mengakui kenikmatan yang telah dicurahkan Allah, merupakan bagian dari syukur kepada Allah dan tidak dilarang ajaran Islam.
Didalam masalah ini, Allah swt. berfirman:
“Maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertagwa.” (OS. An Najm: 32)
Oleh karena adanya keterangan diatas, janganlah kita mem-biasakan menyanjung diri sendiri. Ketahuilah, sesungguhnya menyanjung diri dapat mengurai kedudukan dihadapan sesama umat manusia, dan menjadi penyebab mendapat murka dari sisi Allah. Selanjutnya, sekiranya kita ingin melihat dan mengetahui kalau sanjungan yang kita lakukan terhadap diri sendiri tidak akan menambah kedudukan, maka lihat dan rasakanlah terhadap teman-teman kita. Ketika mereka menyanjung diri sendiri dan menganggap baik terhadap diri sendiri dengan mengaku utama, mengaku agung dan mengaku banyak harta.
Bagaimana perasaan hati kita dan ketidakcocokan pikiran kita, serta bagaimana kita mencela mereka setelah berpisah, karena ucapan ataupun perbuatan mereka yang menyanjung diri sendiri? Oleh karena itu, orang lain pun akan merasa seperti yang kita rasakan.
Tentu, mereka pun akan menganggap tidak baik, sebagaimana anggapan kita dikala melihat mereka melakukan hal serupa. Dan perasaan kurang enak tersebut apalagi telah berpisah dengan kita, tentu akan mereka lahirkan dengan ucapan.
- Melaknat
Hendaklah kita menjauhi dan menghindarkan diri dari melaknat makhluk Allah, baik pada binatang, makanan dan lain sebagainya. Demikian pula, jangan sekali-kali kita melaknati orang lain.
Jangan pula berkata kepada orang Islam dengan mengatakan syirik, kafir atapun munafik. Sebab, yang mengetahui batin seseorang hanyalah Allah. Karenanya, janganlah sekali-kali kita masuk dalam masalah yang berada diantara hamba dan Allah.
Ketahuilah, di hari kiamat anda tidak akan ditanya: “Mengapa kamu tidak melaknat Fulan, dan mengapa kamu mendiamkannya?” bahkan seandainya kamu tidak pernah melaknak Iblis sepanjang umurmu, dan tidak menyibukkan lidah dengan menyebutnya, anda pun tidak akan ditanya tentang hal itu.
Tetapi sebaliknya, bila kita melaknati salah satu makhluk Allah, maka kita akan dituntut sebagaimana mestinya di hari kiamat. Karenanya, janganlah kita mencela makhluk Allah, sebab Rasulullah saw. belum pernah sama sekali mencela terhadap makanan hina. Kalau kiranya beliau menghendaki, dimakan, kalau tidak, cukup diam dan tidak mencela.
- Mendoakan Jelek sesama Makhluk
Hendaklah menjauhkan lisan dari mendoakan kejelekan makhluk Meskipun makhluk itu telah berbuat aniaya ataupun menyakitkan kita. Cukuplah persoalan tersebut diserahkan kepada pengadilan Allah swt. Allah akan memberi hukuman dan balasan terhadap makhluk yang berbuat zalim tersebut. Rasulullah saw. pernah menegaskan:
“Sesungguhnya orang yang dianiaya, jika mendoakan kepada orang yang menganiaya, tentu dikabulkan (oleh Allah), sehingga mengimbangi penganiayaan si zalim. Jika masih sisa, maka kelak di hari kiamat akan diminta orang yang dianiaya.”
Masyarakat terlalu berlebihan dalam menceritakan kejelekan dan kekejian al-Hajjaj bin Yusuf, kemudian seorang tokoh Salaf berkata: “Sesungguhnya Allah akan membalaskan bagi al-Hajjaj orang yang menjelek-jelekkannya, sebagaimana Allah akan menyiksa al-Hajjaj bagi orang yang telah dianiayanya.”
- Mencela, sinis dan Menghina
Hendaknya pandai memelihara diri, jangan sampai lisan kita dipakai mengejek, merendahkan dan mempermainkan orang lain. Baik secara sungguhan ataupun hanya main-main. Sebab, semua itu dapat mempermalukan, menghilangkan kewibawaan dan kehormatan, serta menimbulkan gelisah, bahkan menyakitkan hati orang.
Tiga perkara yang disebut diatas, merupakan sumber dari timbulnya pertengkaran, kemarahan, perpecahan dan kedengkian. Oleh karena itu, hendaknya kita dapat memelihara diri, jangan mengejek siapa saja.
Jika kita diperlukan orang lain sembarangan, tidak perlu ditanggapi. Kemudian jauhilah mereka sehingga mereka terlibat pembicaraan lainnya. Dan jadilah seperti orang-orang yang jika menemui tindakan sia-sia, mereka menjauhinya dengan mulia.
Delapan perkara yang disebut diatas merupakan pusat bahasa lisan. Kitatidak akan dapat menghindari atau menyelamatkan diri dari delapan perkara tersebut, kecuali dengan uzlah (menyendiri). Atau tidak perlu berbicara kalau tidak ada kepentingan yang sangat mendesak.
Oleh sebab itu sahabat Abu Bakar Shidig pernah menutup mulutnya dengan batu, agar tidak berbicara yang tidak ada gunanya, serta mengurangi bicara. Abu Bakar menunjuk mulutnya sambil berkata: “Lisanku ini yang dapat mendatangkan bahaya.”
Karena itu hendaknya kita dapat memelihara dan menjaga lisan dengan sebaik mungkin. Janganlah lisan ini digunakan untuk melakukan sesuatu yang tidak mendatangkan manfaat, yang mengantarkan kita dalam jurang kenistaan dan kehinaan. Lisan merupakan anggota badan yang paling besar mendatangkan kerusakan bagi seseorang baik di dunia maupun di akhirat.









One Comment