Kitab Tasauf

Terjemahan Kitab Bidayatul Hidayah

Memelihara Farji (kemaluan)

Jagalah farji dari segala yang telah diharamkan Allah, dan jadilah manusia sebagaimana yang digambarkan dalam firman-Nya:

“Dan orang yang menjaga kemaluannya. Kecuali terhadap istri-istri mereka atau budak yang mereka miliki, maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tidak tercela.” (OS. Al Mu’minun: 5-6)

Perlu diketahui, kita tidak akan mampu memelihara farji dari perbuatan keji, tanpa terlebih dulu mengekang tiga perkara, yakni:

  1. Mengekang mata dari memandang sesuatu yang haram.
  2. Mengekang hati dari memikirkan sesuatu yang haram.
  3. Mengekang perut dari makanan yang syubhat, haram dan selalu kenyang.

Ketiga hal tersebut merupakan penggerak syahwat. Ketiga anggota badan itu merupakan sumber dari segala nafsu birahi. Karenanya, sebelum memperhatikan masalah farji, yang harus lebih dulu ditanggulangi dari perbuatan maksiat adalah tiga anggota badan tersebut.

  1. Memelihara Tangan

Jaga dan peliharalah tangan, jangan sampai kita gunakan untuk melakukan:

  1. Memukul sesama kaum muslimin.
  2. Memperoleh barang haram.
  3. Menyakiti sesama makhluk.
  4. Mengkhianati amanah atau titipan.
  5. Menulis sesuatu yang tidak boleh diucapkan. Sebab pena merupakan alat dan pelayan bagi mulut. Karenanya jagalah sebagaimana memelihara lidah.
  1. Memelihara Kaki

Jagalah kaki untuk tidak digunakan berjalan mendatangi raja (penguasa) yang zalim, tanpa ada sebab darurat (terpaksa), sebab termasuk dosa besar. Tindakan seperti itu termasuk tawadhu’ dan memuliakan mereka karena kezalimannya. Dalam Al Qur’an Allah swt. telah menegaskan dengan firman-Nya:

“Dan janganlah kamu cenderung kepada orang zalim yang menyebabkan kamu disentuh api neraka.” (OS. Huud: 113)

Jelasnya, mendatangi orang zalim tanpa uzur syara’, berarti telah menambah anggota para zalim tersebut dan menguatkan pengaruhnya. Kalau mendatangi orang zalim tersebut karena mengharapkan harta kekayaan dari sisinya, maka perbuatan yang demikian adalah haram. Rasulullah saw. bersabda:

“Siapa merendahkan diri pada orang kaya yang shahih karena kekayaannya, maka ia kehilangan dua pertiga agamanya.”

Hukum ini berlaku bagi yang mendatangi orang kaya yang shalih, apalagi mendatangkan orang kaya yang zalim. Mendatangi orang kaya yang shalih karena kekayaannya dilarang oleh agama, tetapi kalau mendatangi karena keshalihannya, ingin meneladani, dibolehkan. Tentu saja mendatangi orang kaya yang zalim lebih dilarang, yang berarti diharamkan oleh agama. Kesimpulannya, segala gerak dan tenangnya anggota badan kita adalah satu nikmat pemberian Allah. Karenanya, jangan sekali-kali gerak dan diam kita itu diarahkan untuk melakukan maksiat kepada-Nya, Hendaklah dikonsentrasikan melakukan apa saja yang menyebabkan keridhaan-Nya, dengan demikian berarti kita telah mensyukuri nikmat yang telah dicurahkan-Nya, disamping memelihara amanat-Nya.

Perlu diketahui, jika kita meremehkan masalah ketaatan kepada Allah, maka akibatnya akan menimpa diri sendiri. Tetapi jika kita betul. betul taat dan menggunakan seluruh anggota badan untuk melakukan mujahadah, pendekatan diri kepada Allah sebagai tanda syukur atas nikmat yang telah Allah curahkan, maka buah manfaatnya pun tentu kembali kepada kita, serta dapat kita rasakan dengan nyata. Sebab, Allah senantiasa tidak membutuhkan kita. Tetapi seluruh amal akan mendapatkan balasan setimpal. Sebaliknya, kita yang selalu membutuhkan Allah.

Selanjutnya, untuk memelihara diri dari ancaman Allah yang maha dahsyat, janganlah sekali-kali mengucapkan: “Allah adalah Dzat Yang Maha Dermawan dan Kasih Sayang, serta mengampuni segala dosa hamba-Nya yang durhaka.”

Sebab ucapan seperti itu sering disalahgunakan. Kalimat diatas pada dasarnya adalah benar. Tetapi, karena sering disalahgunakan, maka tidak boleh dilakukan. Tindakan yang demikian tidaklah benar, sehingga Rasulullah saw. menamakan orang yang sering mengucapkan disebut orang dungu atau lemah akal. Sebagaimana telah ditegaskan dalam sebuah hadits:

“Yang disebut orang pandai adalah orang yang merendahkan dirinya serta senantiasa melakukan amal-amal yang dapat diambil manfaatnya setelah (dia) mati. Adapun orang yang dungu, adalah orang yang menuruti hawa nafsunya tetapi berangan-angan mendapatkan berbagai kemurahan Allah.”

Ucapan seperti itu adalah ucapan orang yang mengigau dikala bermimpi. Boleh juga bagaikan orang yang ingin alim tetapi tidak mau mempelajari dan mengkaji kitab-kitab agama. Bahkan selalu bermalasmalasan, lalu berkata:

“Allah adalah Dzat yang Maha Dermawan dan Kasih Sayang serta Maha Kuasa dan dapat mendatangkan ilmu-Nya yang telah diberikan kepada para Nabi dan para wali, diberikan kepadaku tanpa kesukaran belanja dan mengkaji ilmu agama.” Ibarat orang berdagang tetapi tidak mau menjajankan dagangannya. Tentu hal itu tidaklah mungkin bisa dicapai. Ingat, sepanjang masa tidak akan ada perahu berlayar di daratan! Sekalipun zaman sudah serba maju. Kalau toh ada, itu perahu mainan bukan beneran. Kemudian berkata:

“Allah Maha Dermawan dan Kasih Sayang, semua simpananNya yang berupa harta kekayaan sebanyak tujuh langit dan bumi merupakan milik-Nya. Dia berkuasa memperlihatkan kepadaku akan salah satu gudang yang menyebabkan diriku kaya tanpa bekerja. Hal ini pernah Allah lakukan kepada sebagian hambaNya,” Termasuk juga suatu lamunan ataupun fatamorgana dikala matahari dengan garangnya memancarkan sinar terik di tengah-tengah padang sahara.

Selanjutnya, apabila kita mendengarkan ucapan orang yang ingin pandai dan ingin kaya, tetapi tidak mau belajar dan bekerja keras, tentu itu akan menganggapnya sebagai orang yang tolol. Disamping itu orang yang menertawakannya, meski dia dalam ucapannya menggantungkan kepada sifat Maha Dermawan, Maha Kasih Sayang dan Allah Maha Kuasa itu benar. Tetapi suatu keinginan tidak disertai ikhtiar tidak mungkin dapat terwujud.

Ingatlah, orang yang mengetahui dengan pasti seluk beluk agama tentu akan menertawakan, apabila kita mengharapkan suatu ampunan dari Allah, tetapi tidak mau menempuh jalan mendapatkan ampunan tersebut.

Dalam hal ini, ingatlah selalu firman Allah swt. yang berbunyi:

“Dan bahwasannya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya.” (OS. An Najm: 39)

Pada ayat yang lain Allah swt. juga berfirman:

“Sesungguhnya kamu hanya diberi balasan menurut apa yang kamu kerjakan.” (OS. At Tahrim: 7)

Dalam ayat yang lain, Allah swt. juga telah berfirman:

“Sesungguh-nya, orang-orang yang baik dalam kenikmatan (kesenangan). Dan sesungguhnya orang-orang yang durhaka dalam neraka (Jahim).” (OS. Al Infithaar: 13-14)

Karena itu kita tidak boleh meninggalkan mencari ilmu pengetahuan dan mencari rizki yang halal, hanya dengan mengandalkan sifat kemurahan, belas kasihan dan pemberian Allah semata. Kita wajib berusaha dan berikhtiar dalam mewujudkan hal tersebut. Demikian juga jangan sampai kita meninggalkan usaha untuk mendapatkan bekal kelak di akhirat dengan memperbanyak amal shalih. Amal shalih yang mengantar ke arah kebahagiaan akhirat ini, jangan sampai dilupakan.

Ingatlah, bahwa Tuhan yang menguasai dunia dan akhirat itu hanyalah satu, yakni Allah Yang Maha Esa. Oleh karena kasih sayang Allah menyeluruh, baik di dunia ataupun di akhirat, maka pada dasarnya ketaatan yang kita lakukan semata-mata tidak menjadikan sebab untuk menambah sesuatu dari pemberian Allah.

Adapun pemberian Allah yang telah diberikan kepada kita antara lain: Dengan ringan dan mudah kita dapat melakukan amal-amal shalih yang mengantarkan kita untuk mendapatkan kebahagiaan lahir dan batin, kenikmatan yang kekal abadi kelak di akhirat. Disamping itu, kita dengan tabah dan sabar meninggalkan segala kesenangan dan keinginan hawa nafsu selama mengarungi hidup dan kehidupan di dunia. Yang demikian ini merupakan puncak pemberian dari Allah swt.

Oleh karena itu, hendaklah kita berusaha jangan sampai hati dan hawa nafsu mudah terkena bujuk rayu setan, tergelincir kepada ahli kebathilan, yakni mereka yang tidak mau melakukan amal kebajikan. Hendaklah kita senantiasa mengikuti orang-orang yang teguh dan tabah hati, serta kuat akal didalam mengabdikan diri kepada Allah, yaitu mereka para Nabi dan para shalihin.

Kalau sekiranya kita tidak mau menanam amal kebajikan sewaktu di dunia, maka jangan mengharapkan buahnya di akhirat. Sebab, sesungguhnya dunia merupakan tempat bercocok tanam yang hasilnya dapat diketam di akhirat kelak. Allah swt. telah menegaskan, bahwa barangsiapa yang ingin bertemu dengan keridhaan-Nya, hendaknya memperbanyak amal shalih.

Karena itu, semoga orang-orang yang dengan tekun tetap melakukan shalat, puasa, memperbanyak mujahadah dan kuat menghadapi cobaan, tantangan iman dan tagwa selalu mendapatkan ampunan dari sisi-Nya. Semoga pula, seluruh amalnya diterima disisi-Nya.

Selanjutnya, informasi yang telah disampaikan diatas, merupakan seruan bagi kita untuk menjaga anggota badan dari segala perbuatan maksiat, yang dapat menhancurkan seluruh amal kebajikan. Adapun perbuatan yang dilakukan anggota badan yang nampak itu merupakan realisasi dari apa yang terkandung didalam hati. Hati merupakan sentral dari segala perbuatan, tindakan dan perilaku umat manusia.

Untuk memelihara hati dari noda maksiat, sebagian ulama menyampaikan pendapatnya bahwa hati dapat menjadi baik jika melakukan lima perkara, yakni:

  1. Tahan lapar.
  2. Membaca Al-Qur’an dengan memahami artinya.
  3. Betadharru’ hingga mencucurkan airmata di tengah malam, dikala seluruh insan lelap tidur.
  4. Melakukan shalat (sunnah) malam.
  5. Bergaul dengan para shalihin.

Hati, yang kalau bahasa Arab disebut dengan Oalbun adalah berupa segumpal daging. Meski bentuknya kecil, tetapi derajat dan kedudukannya sangatlah agung. Karena keagungannya, sampai dikatakan:

“Apabila hati baik, maka seluruh badan pun baik. Tetapi, kalau hati rusak, maka seluruh tubuh pun menjadi rusak pula.”

Karena itu, hendaklah kita selalu berusaha memperbaiki hati dengan sungguh-sungguh, agar seluruh amal perbuatan yang dilakukan anggota badan menjadi baik. Hingga, kebahagiaan lahir batin dapat dicapai dengan baik.

Perlu diingat, bahwa sebaik-baik aktivitas hati, senantiasa merasa bahwa dalam segala tindakan dilihat dan diawasi Allah. Baik dalam keadaan apapun dan dimana saja kita berada. Hendaklah dalam segala tindak laku dan usaha semata-mata bertujuan untuk mencari ridha Allah, karena menyadari bahwa Allah selalu mengawasinya.

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26Laman berikutnya
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker