MENJELANG TIDUR
Bila anda hendak tidur, bentangkanlah tikar ke arah kiblat. Aturlah tempat tidur dengan rapi. Dan berikanlah badanmu dengan meletakkan pipi kanan di bawah, seperti mayit ketika dibaringkan di liang lahat. Tidur itu ibarat mati. Dan bangun tidur itu sama dengan bangkit dari kubur. Oleh sebab itu, bila Allah mencabut nyawa di malam itu, anda telah siap. Sebagai bekal untuk bertemu Allah, tentu saja sebelum tidur hendaknya anda bersuci dan berdzikir pada-Nya. Dengan demikian, bila nanti nyawa dicabut, sudah dalam keadaan suci. Dengan demikian, tidur pun ada tata caranya:
- Ketika permulaan tidur berbaring di atas lambung kanan, menghadap ke arah kiblat.
- Mulai tidur dalam keadaan suci dari hadas dan berdzikir kepada Allah.
- Menulis wasiat dibawah kepala.
- Ingatlah bahwa anda akan diletakkan di liang lahat sendirian, tidak ada teman kecuali amalmu, dan tidak akan dibalas kecuali dengan usahamu.
- Sebelum tidur bertaubat dari dosa dan berniat tidak akan mengulangi maksiat yang telah dilakukan sepanjang siang. Niat akan berbuat baik kepada sesama muslim, bila masih diberi umur panjang. Selalu ingat, bahwa di kubur nanti tidak ada teman yang setia melainkan amal shalih. Dalam kubur hidup seseorang diri tanpa teman. Hanya amal shalih teman yang abadi, sehingga ia harus rajin mencari dan melakukannya.
- Jangan masuk pembaringan sebelum benar-benar merasa ngantuk. Jangan pula tidur di tempat yang serba mewah. Jangan tidur, kecuali kalau mendatangkan manfaat. Seperti untuk mempersiapkan diri melakukan shalat sunnah maupun amal lainnya. Lebih baik bangun daripada tidur. Sebab, tidur yang tanpa tujuan berarti menyia-nyiakan umur. Sedangkan tidur dengan niat menjauhkan diri dari maksiat, sekalipun menyia-nyiakan umur, namun lebih selamat dan menyelamatkan agama.
Dalam sehari semalam terdapat dua puluh empat jam. Karenanya jangan sampai tidur melebihi delapan jam dalam sehari. Seandainya seseorang setiap hari tidur delapan jam, sedangkan umur yang tersedia hanya enam puluh tahun, maka ia telah menyia-nyiakan sepertiga umur. Berarti dua puluh tahun umur tersia-siakan.
- Sebelum masuk pembaringan sebaiknya menggosok gigi terlebih dahulu. Dan mempersiapkan air untuk berwudhu apabila nanti bangun. Upayakan bangun untuk melakukan shalat malam atau shalat sebelum shalat Subuh. Shalat dua rakaat setelah bangun tidur, adalah salah satu perbendaraan kebaikan. Perbanyaklah perbendaraanmu untuk hari dimana kamu membutuhkannya. Bila kamu mati, maka perbendaraan dunia tidak kamu perlukan.
- Ketika akan tidur atau terjaga kemudian akan tidur lagi, disunnahkan membaca doa:
“Dengan menyebut nama-Mu ya Tuhanku, aku meletakkan badanku, dan mengangkatnya untuk bangun. Karena itu, berilah aku curahan ampunan. Ya Allah, hindarkan diriku dari api neraka di hari Engkau membangkitkan seluruh makhluk mati. Ya Allah, dengan menyebut nama-Mu aku hidup dan mati. Dan aku berlindung dari sesuatu yang dapat membuat kejelekan, serta dari kejelekan binatang yang Engkau menguasainya. Sesungguhnya Engkau adalah Tuhan yang selalu menunjukkan ke jalan yang lurus. Ya Allah, sesungguhnya Engkau adalah Dzat Yang Awal, tiada sesuatu pun sebelum-Mu. Engkau Dzat Yang Akhir, yang tiada sesuatu sesudah-Mu. Engkau Dzat yang Batin, tiada sesuatu yang dapat berdampingan dengan-Mu. Engkau Dzat Yang Lahir, tiada sesuatu yang di atas-Mu. Karena itu, curahkanlah kekayaan kepadaku, hingga dengannya aku dapat membayar hutang dan terhindar dari kefakiran.”
“Ya Allah, Engkau telah menciptakan diriku dan yang akan mematikannya pula. Hanya untuk berbakti kepada-Mu hidup dan matiku. Bila Engkau berkehendak mematikannya, maka berilah ampunan lebih dahulu. Bila Engkau berkehendak menghidupkannya, maka peliharalah, sebagaimana Engkau memelihara hamba-hambaMu yang beramal shalih. Ya Allah, aku memohon ampunan dan kesegar-bugaran kepada-Mu baik di dunia, dalam agama dan di akhirat. Ya Allah, bangunkanlah diriku pada waktu yang sangat engkau cintai, sehingga dapat melakukan amal yang engkau ridhai. Ya Allah, jauhkanlah diriku dari kemurkaan-Mu. Dan aku memohon kepada-Mu anugerah dan ampunan. Berilah curahan ampunan dari sisi-Mu dan kabulkanlah doaku.”
Lalu, lanjutkan dengan membaca ayat Kursi dan dua ayat terakhir surat Al-Bagarah. Juga membaca surat al-Ikhlas, Al-Falag dan An-Naas. Tidak ketinggalan pula membaca surat Tabarak.
Setelah membaca surat-surat tersebut, maka persiapkanlah diri untuk tidur dengan pulas. Permulaan tidur hendaklah diusahakan masih dalam keadaan berdzikir kepada Allah dan suci dari hadas. Barangsiapa yang melakukan amaliah seperti ini, maka ruhnya ketika tidur dinaikkan ke ‘Arsy dan baginya ditulis pahala seperti pahala orang yang beribadah sunnah semalam suntuk.
Setiap muslim hendaknya sabar dan tahan uji dalam melaksanakan amaliah sesuai yang telah dijadwalkan diatas. Apabila perasaan malas timbul dalam hati, hendaklah dapat mengambil ta’bir dari seseorang yang sedang sakit. Dengan sabar dan tahan uji ia menelan pil yang sangat pahit karena punya harapan agar cepat sembuh. Demikian pula ibadah. Harus tahan uji dan sabar, karena mempunyai harapan mendapatkan kebahagiaan di dunia dan akhirat.
Anda hendaklah selalu berfikir dan merenungkan, bahwa umur yang tersedia relatif sangat pendek dan sedikit bila dibandingkan dengan kehidupan akhirat. Sekalipun ia diberi umur seratus tahun misalnya, itu pun masih sedikit bila dibandingkan dengan kehidupan akhirat yang serba abadi. Hendaklah membayangkan dan memikirkan pula kehinaan dan kepayahan seseorang yang memenuhi kebutuhan hidup di dunia. Kita bekerja selama sebulan atau setahun dengan harapan bisa menikmati hasilnya selama dua puluh tahun. Lalu, bagaimana halnya dengan seseorang yang malas beribadah. Padahal ia menginginkan kebahagiaan yang kekal di akhirat. Perbandingan ini diharapkan dapat menggugah kesadaran setiap orang yang menamakan dirinya sebagai muslim untuk memperbanyak pengabdian kepada Allah, mencapai kebahagiaan abadi diatas ridha-Nya. Beribadah dengan tekun tanpa mengesampingkan pekerjaan yang menjadi sarana penguatnya.
Setiap muslim hendaklah menghindarkan diri dari lamunan yang tiada arti, yang mengakibatkan kemalasan melakukan amal kebajikan. Jangan sekali-kali mempunyai keyakinan bahwa umurnya masih panjang, sehingga segala sesuatu yang dapat dilakukan nanti dapat ditunda sampai dengan waktu tertentu. Dalam mengarungi hidup dan kehidupan penuh keyakinan bahwa ajal setiap saat siap menghampiri, sehingga lebih rajin melakukan amal shalih. Mempersiapkan bekal yang akan digunakan untuk menjemput datangnya ajal. Yakni meningkatkan pengabdian kepada Allah.
Semboyan “Hari ini aku harus memperbanyak pengabdian kepada Allah, sebab mungkin nanti malam ajal menghampiri.” Setiap saat harus dikumandangkan dalam hati setiap muslim. Ketika malam tiba Seharusnya mempunyai perasaan dan kesadaran bahwa besok pagi barangkali ajal menghampiri. Cara ini akan lebih mempermudah peningkatan ibadah, bahwa terasa ringan untuk beramal kebajikan, Kematian tidak akan datang pada umur maupun waktu tertentu, tapi kapan saja bisa terjadi. Ia datang secara tiba-tiba dan menimpa siapa saja. Tidak pandang muda maupun tua, miskin maupun kaya, rakyat jelata maupun penguasa. Karenanya, setiap muslim hendaklah selalu mempersiapkan diri dalam segala keadaan, kapan saja dan di mana saja. Cara ini paling tepat untuk menyambut datangnya kematian, sehingga dapat selamat dari bahaya keberakhiran yang jelek (su’ul khatimah).
Mempersiapkan diri -untuk menyambut datangnya ajallebih baik daripada menyambut kehidupan dunia yang diliputi kebahagiaan semu. Kebahagiaan larihiah belaka. Setiap muslim mengetahui bahwa kebahagiaan dunia bersifat sangat sementara, sedangkan kehidupan akhirat abadi sepanjang masa. Barangkali hidup dunia tinggal sehari, bahkan mungkin tinggal satu menit. Rasa bahwa ajal akan menghampin hendaklah ditanamkan dalam hati, sehingga setiap saat timbul tenggelam di lubuk sanubari. Ini berarti memberikan komando untuk selalu melakukan pengabdian kepada Allah swt.
Hawa nafsu memang musuh utama bagi orang yang hendak tekun melakukan ibadah kepada Allah. Karenanya, anda harus dapat memaksa diri dan memerangi kehendak hawa nafsu, yakni dengan bersabar dan tahan uji didalam melaksanakan peribadatan dan pengabdian kepada Allah. Lakukanlah ibadah sedikit demi sedikit, tetapi kontinyu. Dengan demikian hawa nafsu seseorang akan lebih condong kepada kebiasaan tersebut, sehingga dengan mudah pula melakukan ibadah kepada Tuhan, sekalipun ibadah tersebut berat dirasa.
Kalau seseorang telah mampu menjadikan ibadah sebagai kebiasaan dengan baik selama lima puluh tahun, misalnya, tentu suatu saat hawa nafsu akan memberontak, tidak mau lagi diajak ke arah kebaikan. Tetapi kalau nafsu itu terus menerus terlatih diajak melakukan kebajikan, tentu dengan sendirinya dapat teratasi. Sehingga, dikala ajal menghampiri diri dapat mendapatkan kebahagiaan. Kalau seseorang mendapatkan kebahagiaan dikala mendapati ajal, maka berarti mendapatkan kebahagiaan untuk sepanjang masa. Kebahagiaan yang luar biasa, karena maut menghampirinya dengan mudah.
Sebaliknya, manakala manusia membiasakan diri memperturutkan kemauan hawa nafsu, merasa malas melakukan ibadah kepada Allah, maka sudah tentu kesusahan yang sangat akan ditimpakan dan didapati dikala ajal menghampiri diri. Seorang penyair berkata: “Di waktu pagi kamu semua memuji perjalanan malam, dan ketika mati kabar akan datang padamu.”
Ketika ajal telah menemui seseorang, dia akan dapat membuktikan segala informasi tentang yang ghaib, yang terdapat di alam akhirat. Sesuatu yang ghaib itu dapat mereka yakini secara pasti. Keridhaan Allah pun dapat dibuktikan. Semuanya pasti akan menjadi kenyataan.








One Comment