- Tamanni:
Mengharapkan suatu perkara yang disukai namun tidak mungkin terjadi, karena keberadaan perkara tersebut muhal, atau sulit terjadi. Seperti ucapan syair :
“Seandainya masa muda kembali lagi pada suatu hari, maka akan ku kabarkan apa yang d kerjakan orang yang berubanforang tua)”.
Apabila perkara yang disukai itu bisa terjadinya, maka hal itu dinamakan Taroji, yang mana hal itu diungkapkan dengan menggunakan lafad ( atau ) , seperti :
Artinya: “Barang kali setelah itu Allah mengadakan suatu ketentuan.” (QS. ath-Thalaq:1)
Adapun lafadz Tamanni itu ada empat, sedangkan yang asli hanya ada satu yaitu : dan yang tiga tidak asli, yakni:
– Artinya: “Maka adakah pemberi syafaat bagi kami, sehingga memberi pertolangan kepada kami?” (QS. ALA’raf: 53)
– Artinya: “Seandainya kami mendapatkan kesempatan (kembali ke dunia) maka kami akan menjadi orangorang yang beriman.” (QS.AsySyu’ara: 102) .
– “Wahai kerumunan burung gotho” adakah satu di antara kalian yang mau meminjamkan sayapnya untukku ,agar aku bisa terbang untuk menemui kekasihku. ”
Karena adat ini digunakan untuk Tamani, maka Fiil Mudori’ yang menjadi jawabnya harus dibaca nasob.
- Nida”: Menuntut atau mengundang seseorang untuk menghadap dengan menggunakan huruf yang mengganti dari pada kedudukan lafadz Huruf-huruf nida’ jumlahnya ada delapan:
Adapun huruf nida’ dan digunakan untuk Qarib (mengundang seseorang yang jaraknya dekat). Sedangkan huruf huruf nida’ yang selainnya, digunakan untuk Ba’id (mengundang seseorang yang jaraknya jauh).
Tetapi terkadang orang yang jauh diposisikan sebagai orang yang dekat. Sehingga mutakkalim memanggil menggunakan Munada dan untuk mengisyarohkan bahwasanya seorang yang jauh tersebut itu sangat dekat pada hati mutakallim (Orang yang berbicara). Seolah orang yang jauh tersebut seperti hadir bersamanya, seperti ucapan penyair :
“Wahai penduduk Na’manul Arak, yakinilah bahwa kalian bersinggah dihatiku ”
Dan terkadang orang yang dekat itu diposisikan sebagai orang yang jauh, maka mutakkalim memanggil menggunakan salah satu huruf nida’ yang jauh. Karena:
– Mengisyarohkan seorang yang diundang tersebut itu tinggi pangkatnya, sehingga seakan akan sangat jauh drajatnya orang yang diundang dari derajatnya mutakallim dalam masalah agugnya. Seperti:
“Wahai tuanku, sedang keadaanmu bersamanya”.
– Mengisyarohkan terhadap rendahnya pangkat nya orang yang di undang. Seperti: “Wahai kau !” Perkataan ini diucapkan bagi orang yang berada di sampingmu (mukhotob).
– Mengisyarohkan bahwasanya orang yang mendengar itu lupa seperti tertidur atau bingung, seakan akan orang yang di undang itu tidak hadir di majlis, seperti ucapan seseorang pada Orang lupa “hai Fulan”.
- Ghoiru Tholab itu berupa Ta’ajub , Sumpah dan beberapa sighot akad seperti : dan lain sebagainya. Sedangkan pembagian Kalam Insya’ Ghoiru Tholab itu bukanlah termasuk pembahasan dalam lingkum Ilmu Ma’ani. Oleh karenanya, kami membuat halaman yang lain.


One Comment