Ilmu Badi
Bagian ini menjadi akhir pembahasan dalam fan ilmu balaghoh yang berjumlah tiga.
Badi secara bahasa adalah menjadikan sesuatu perkara tanpa adanya contoh. Seperti Allah menciptakan manusia pertama: yakni nabi Adam di muka bumi, tanpa ada contoh.
Badi” secara istilah adalah ilmu yang digunakan untuk mengetahui cara mempercantik Kalam yang sudah cocok dengan Muqtadol Hal.
Jikalau model perbaikan Kalam kembali kepada makna, maka dinamakan Muhassinatul Maknawi. Dan sebaliknya, jikalau model perbaikan Kalam tersebut kembali pada lafadz maka dinamakan Muhassinatul Lafdiyah.
Perhatikan tabel berikut ini:
Muhassinatul Maknawi Muhassinatul Maknawi terbagi menjadi 12, antara lain :
1) Badi” Tauriyyah adalah menyebutkan suatu lafad yang memiliki dua makna, yaitu Oorib dan Ba’id tetapi yang dikehendaki makna Ba’id karena adanya Qorinah khofiyyah (samar).
Sedangkan yang dimaksud dengan makna Oorib adalah makna yang sering digunakan pada semestinya. Sedang makna Ba’id adalah makna yang tidak sering digunakan pada semestinya. Seperti firman Allah:
“Dan Dialah yang menidurkan kamu di malam hari dan Dia mengetahui apa yang kamu kerjakan di siang hari (yakni sebuah dosa yang kamu lakukan saat siang hari).” (QS. Al’ An’am: 60)
Keterangan:
Makna (Oorib lafadz adalah “melukai”, tetapi dalam ayat ini yang dikehendaki adalah makna Ba’id yaitu “ mengerjakan atau melakukan dosa.” Dan seperti sya’ir di bawah ini :
“Wahai tuan yang mendapatkan keramahan, baginya para makhluk (manusia) menjadi hamba-hambanya”
“Engkaulah Husain bin Ali bin abi Tholib akan tetapi keras kepala kami padamu semakin tambah”
Keterangan :
Makna Oorib lafadz adalah Alam (nama seseorang). Nama adalah Yazid bin Muawiyah. Akan tetapi yang kehendaki dalam syair di atas bukanlah hal itu, tetapi makna Ba’id yang berupa Fi’il Mudhori’ dari fi’il madi yang berupa lafadz “tambah”.
2) Badi’ Thibqg adalah menggabungkan atau mengumpulkan dua makna yang saling berlawanan. (Hal ini yang biasanya disebut dalam istilah bahasa Indonesia dengan istilah antonim atau lawan kata). Seperti:
”Dan engkau mengira mereka terjaga padahal mereka tidur ”. (QS. Al-Khafi:18) Seperti :
”Tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui, mereka hanya mengetahui yang tampak dari kehidupan dunia.”( QS. Ar-Rum: 6-7) Termasuk bagian dari Badi’ Thibag adalah Badi’ Thibag Mugobalah.
3) Badi” Thibag Mugobalah adalah mendatangkan dua makna atau lebih, kemudian didatangkan lawan kata dari makna tersebut secara berurutan (tartib). Seperti :
“Maka biarkanlah mereka tertawa sedikit (dunia) dan mereka akan menangis banyak (di akhirat).” (QS. AtTaubah:8)
4) Badi” Muroa’tun Nadir adalah mengumpulkan suatu perkara dengan perkara lain yang Munasabah (berhubungan) dengannya dan tidak berlawanan.
Seperti sya’ir di bawah ini:
“Hujan gerimis (yang menetesi) ranting pohon laksana mutiara yang basah dan berjabat tangan dengan angin yang sepoi-sepoi kemudian jatuh (ke bumi)” ,
“Burung itu seperti membaca, Air segar laksana lembaran kertas, dan angin itu bagai mencatat sedangkan awan itu ibarat sedang memberi titik” Keterangan: Pada syair di atas menyebutkan hujan gerimis, dan ranting ranting pohon serta angin sepoisepoi. Yang mana antara lafadz lafadz tersebut adanya keserasian dalam satu hal, yakni mengumpulkan perkara yang memiliki keserasian lembut dan ukuran kecil yang berupa gerimis, ranting-ranting pohon serta angin sepoi-sepoi. Semua perkara tersebut mempunyai keserasian dalam hal kecil dan lembunya.
Syair di atas mengumpulkan beberapa perkara yang memiliki keserasian antara burung dengan angin. Karena setiap burung pastilah terbang dan bersahabat dengan angin.
Disamping itu juga terdapat keserasian antara air dengan awan. Karena setiap awan pastilah yang mengeluarkan air hujan.
Begitu juga antara membaca dan menulis karena setiap membaca maka identik dengan menulis. Dan antara kertas dengan titik karena setiap kertas yang ditulis pastilah adanya titik. Semua perkara tersebut mempunyai keserasian. Dan inilah yang dikehendaki dengan Badi’ Muro’atun Nadir.
5) Badi” Isikhdam adalah menyebutkan suatu lafad dengan makna, dan lafadz tersebut dijadikan tempat kembalinya sebuah dhomir namun dengan menggunakan makna lain. Arau mendatangkan dua dhomir yang kembali pada lafad tersebur. Namun makna yang dimaksud dari dhomir kedua itu berbeda dengan makna dhomir yang pertama.
– Contoh yang pertama seperti :
“Barang siapa di antara kamu melihat bulan maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu ”. (QS. Al Baqarah : 185)
Keterangan : Makna lafad adalah “Bulan”, sedangkan dhomir lafad l yang kembali pada lafad HAM memiliki arti yang lain yaitu “Bulan Romadhon.”
– Contoh yang kedua seperti :
“Mudahmudahan Allah) menyirami pohon ghodho’ dan orang yang menempatinya meskipun mereka menghidupkan api disampingku dan tulang rusukku”.
Keterangan :
Makna lafadz: adalah “Salah satu pohon yang berada di pedesaan”, sedangkan Dhomir lafadz: yang kembali pada lafad ini bermakna “Tempat tumbuhnya pohon tersebut”. Sedang Dhomir lafadz: yang juga kembali pada lafadz: ini bermakna “Apinya pohon tersebut.”
6) Badi’ Jamak adalah mengumpulkan beberapa perkara dalam satu hukum. Seperti sya ‘ir di bawah ini :
“Sesungguhnya sifat muda, pengangQur’an dan kaya raya, itu adalah penyebab kerusakan yang besar kepada seseorang”
Keterangan : Syair di atas disebut Badi’ Jamak karena mengumpulkan sifat (muda) (penggangQur’an) dan (kaya raya) pada satu perkara yakni penyebab kerusakan.
71) Badi’ Tafrig adalah membedakan dua perkara yang berasal dari satu jenis lafadz yang sama. Seperti syair di bawah ini:
“Tidaklah ada pemberian awan pada musim peng hujan, seperti halnya pemberian raIa pada waktu dermawan.”
“Pemberian raIa ialah sejumlah harta sedangkan pembarian awan adalah tetesan air hujan”.
Keterangan :
Tidak adanya kesamaan antara pemberian awan dan pemberian raja. Perbedaan ini sungguh pantas. Karena pemberian raIa dengan sejumlah harta yang besar, sedangkan pemberian awan dengan tetesan hujan.
Sang penyair meletakkan perbedaan antara « » “dua pemberian”, akan tetapi keduanya tersebut berasal dari satu jenis yang sama yaitu pemberian yang mutlak.
8) Badi” Tagsim mempunyai tiga pengertian :
- Badi” Tagsim adakalanya membagi suatu perkara dan memenuhi semua bagian satu persatu dari perkara tersebut:
“Aku mengetahui pada hari ini dan hari kemarin akan tetapi untuk yang ada pada hari besok aku tidak mengetahui ”.
- Badi” Tagsim adakalanya menyebutkan lafadz yang banyak, kemudian mengembalikan pada suatu hal yang tertentu dengan jelas, seperti sya’ir di bawah ini :
“Tidak Akan menetap serta kedzoliman yang di kehendakinya, kecuali dua kehinaan (yang didapat) yaitu keledai dan pasak”
“Sedangkan keledai serta kehinaan diikat dengan tali, adapun pasak dipukuli (sampai-sampai) tidak ada seorangpung yang mengasihinya”
Keterangan:
Pada Contoh kali ini penyair menyebutkan lafadz: “keledai” dan lafadz: , “pasak”. Kemudian penyair mengembalikan sesuatu yang menjadi kebiasaan keledai yang berupa lafadz: “diikat dengan tali”. Setelah itu, penyair juga mengembalikan sesuatu yang berhubungan dengan , “pasak” yaitu lafadz “dipukuli”. Inilah yang dimaksud dengan Badi Taqsim.
- Badi’ Tagsim adalakalnya menyebutkan beberapa tingkah serta menyandarkan perkara yang layak pada satu persatu tingkah tersebut. Seperti sya’ir di bawah ini :
“Aku akan menuntut hakku dengan membawa tombak dan orang-orang tua, (karena) terlalu sering menutupi wajah, mereka laksana remaja”
“Mereka memberat (bagi para musuh) ketika peperangan, ringan ketika diundang, banyak ketika bertempur, sedikit ketika dihitung” Keterangan: Pada syair yang pertama, penyair menyebutkan lafad “orang-orang tua”. Setelah itu, penyair menyebutkan tingkah-tingkah mereka yang berupa:


One Comment