Bab 6 IJAZ, ITNAB, MUSAWAT
Bab ini termasuk dari bab penting ilmu balaghoh. Sehingga tidak mengherankan apabila sebagian ulama’ balaghoh berkata: “Ilmu balaghoh adalah Ijaz dan Itnab.”
Setiap kehendak yang muncul atau yang melintas dalam hati, itu bisa dimungkinkan diungkapkan dengan tiga metode, yakni: Musawat, Ijaz, dan Itnab.
- Musawat adalah mengungkapkan kehendak Mutakallim dengan menggunakan ibarot yang sama dengan kehendak tersebut. Sekiranya Ibarat tersebut berada dalam batas yang berlaku pada kebiasaan Austatun Nas, yakni orang-orang yang tidak naik hingga mencapai derajat Balaghoh dan tidak turun hingga derajat Fahahah. Seperti :
“Dan apabila engkau (Muhammad) melihat orangorang mengolok ayat-ayat Kami, maka tinggalkanlah mereka.”
- Ijaz adalah menggunkapkan kehendak mutakallim dengan menggunakan ibarot yang lebih ringkas dari pada kehendak tersebut serta memenuhi tujuan tersebut. Seperti:
“Sesungguhnya bisa menjadi sahnya suatu amalan hanya dengan adanya niat.” Suatu amalan (pekerjaaan-pekerjaan Syariat) bisa dianggap sah oleh Syara’ dengan adanya niat. Dan apabila ibarot tersebut tidak memenuhi terhadap tujuan maka di namakan /khla. Seperti :
“hidup dalam kebodohan itu lebih baik dari pada hidup susah (kesulitan).”
Adapun yang dikehendaki syair di atas adalah keadaan hidup senang, lapang, serba kecukupan serta kebodohan itu lebih baik dari pada keadaan hidup berat, serba kesulitan beserta ke pinteran.
- Itnab adalah mengungkapkan kehendak mutakallim dengan ibarot atau lafad yang lebih panjang dari kehendak tersebut tetapi di sertai faidah. Seperti :
“Zakaria berkata: “Ya tuhanku sesungguhnya tulang ku telah lemah dan kepalaku telah rata dipenuhi uban.” (QS. Maryam: 4)
Kata-kata seperti ini dipanjangkan, sedang aslinya adalah: “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku sudah tua.”
Dan jika penambahan tersebut tidak ada faidah dan tidak jelas makna zaidah, maka dinamakan Tatwil. Seperti : (Jadimah) menemukan ucapan (Zabda) dalam keadaan dusta dan bohong”.
Jika yang Ziadah jelas, maka dinamakan Haswu. Dan Haswu sendiri ada yang merusak makna dan ada yang tidak, seperti : “Aku mengetahui pada hari ini dan hari kemarin sebelum hari ini”.
Di antara pendorong untuk mendatangkan kalam dengan bentuk Ijaz adalah:
– (mudah menghafal)
– (mudah memahami) – seperti ucapan:
Saya sudah tua” lafadz ini lebih ringkas dari pada ucapan: “Tulangtulangku sudah lemah dan kepalaku telah dipenuhi uban.”
– (sempitnya keadaan) – seperti takut kehilangan kesempatan. Seperti ucapan pemburu yang sedang melihat kijang: karena keadaan yang tidak mungkin untuk mengucapkan .
– (samarkan dari selain mukhotob) – seperti ucapan seseorang pada orang yang lain di depan orang banyak: “Datang”, sedangkan yang di kehendaki mutakallim adalah Zaid.
– (bosan untuk berbicara secara luas)
Adapun pendorong untuk mendatangkan dengan cara Itnab adalah.
– (menetapkan makna pada sami”) – seperti firman Allah :
“Katakanlah: Dia Yang Maha Esa, Allah yang dituju dan tempat meminta sesuatu.” (QS. Al-Ikhlas: 1-2)
– (menjelaskan makna murod) – seperti ucapan: “Kholid disampingku”, yang menjadi jawaban dari pertanyaan:
“Dimana Kholid! .
– (menguatkan) – seperti firman Allah :
“Mereka yang mendapatkan petunjuk dari tuhannya dan mereka itulah orangorang yang beruntung.” (QS. Al-Baqarah : 5)
– (menolak kesalah pahaman) – Seperti firman Allah : “Katakanlah: Wahai Tuhan pemilik kekuasaan, Engkau memberi kekuasaan (di dunia).” (QS. Ali Imran: 26)
Sebab jika Allah berfirman bukan maka akan terjadi kesalah pahaman bahwa dhomir “ “ akan kembali pada lafadz yang pertama.


One Comment