Balaghah

Terjemah Kitab Durusul Balaghah

Majaz

Majaz adalah lafadz yang digunakan pada selain makna aslinya, karena ada Alagoh (hubungan yang serupa antara keduanya) dan disertai Qorinah yang mencegah untuk mendatangkan makna asli. Seperti :

“Fulan berbicara dengan kalimat yang fasih”

Pada contoh ini, lafad  tidak digunakan pada makna semestinya, karena ketika digunakan pada makna aslinya seharusnya “mutiara“, kemudian dipindah pada makna Majagzi yaitu” kalimat yang fasih”

Perpindahan tersebut karena adanya suatu Alagoh (hubungan) antara mutiara dan kalimat fasih dalam masalah indahnya. Dan lafad  adalah Qorinah yang mencegah lafadz  dimaknai dengan arti sesungguhnya.

Dan seperti lafad  yang digunakan pada makna  yang terdapat pada firman Allah:

“Mereka menjadikan ujung jari-jemari mereka (untuk menyumbat) telinga telinga mereka.” (QS. Al-Baqarah : 19)

Pada contoh ini, lafad  (jarijemari) tidak manggunakan pada arti semestinya, melainkan menggunakan makna  (ujung jarijemari), karena adanya Alagoh, yaitu  adalah bagian dari  . yang berarti Alagoh adalah:

“Mengucapkan keseluruhan tetapi menghendaki sebagian”

Sedangkan Morinah-nya adalah ketidak mungkinan memasukkan semua jari secara sempurna dalam lubang telinga, dan hal ini sangat muhal terjadi. Dan karena Qorinah inilah yang mencegah untuk mendatangkan makna asli sehingga harus pindah pada makna Majazi.

Ketika ada majaz yang Alagohnya Musyabahah, yakni adanya keserupaan antara makna Majazi dan makna Hagigi maka dinamakan majaz Isti’aroh, seperti contoh pertama.

Dan jikalau tidak ada keserupaan, maka dinamakan majaz Mursal, seperti yang terdapat pada contoh kedua.

Majaz Isti’aroh

Majaz Isti’aroh adalah majaz yang memiliki Alagoh Musyabahah, yakni ada keserupaan antara makna majazi dan makna hagigi. Seperti firman Allah:

“Inilah kitab yang kami telah menurunkannya kepadamu agar engkau mengeluarkan manusia dari kegelapan kepada cahaya terang.” (OS, Ibrahim: 1)

Taqdirnya adalah lafadz : Yakni dari kesesatan menuju petunjuk keimanan.

Lafad  dan  ini, tidak digunakan pada makna hagigi, melainkan menggunakan makna majazi, karena Alaqoh yang serupa antara  (kesesatan) dan  (kegelapan) dalam masalah keduanya sama-sama tidak mendapat petunjuk. Dan ada Alaqah pula antara  dan ,  dalam masalah keduanya samasama mendapatkan petunjuk.

Adapun Qorinah yang mencegah untuk mendatangkan makna asli adalah lafad :

“(Inilah) kitab yang kami telah menurunkannya kepadamu agar engkau mengeluarkan manusia…”

Dengan adanya Qorinah ini, jelas lafad  dan  tidak dimaknai makna haqiqi.

Pada dasarnya majaz Isti’aroh adalah Tasbih yang salah satu dari kedua sisi Thorof (Musyabbah bih dan Wajah Syabbah) dan Huruf Tasbih dibuang. Contoh majaz istiaroh :

“Aku melihat (laki-laki pemberani bagaikan) harimau di dalam madrasah.”

Dan apabila dijadikan Tasbih, maka asalnya adalah :

“Aku di madrasah melihat lakilaki pemberani bagaikan harimau dalam masalah pemberani”

Kemudian Musyabbah yang berupa:  dibuang. Huruf Tasbih yang berupa:  dibuang. Serta Wajah Syabbah yang berupa: juga dibuang.

Dari keterangan di atas sudah jelas bahwa Majaz Isti’arah adalah Tasbih yang dua sisi Thorof dan Huruf Tasbih dibuang. Disamping itu:

– Musyabbah (Perkara yang diserupakan) dinamakan sebagai Musta’ar Lah.

– Musyabbah Bih (Perkara yang menyerupai) dinamakan sebagai Musta ‘ar Minhu.

– Lafadz Musta’ar Minhu disebut dengan Musrta’ar.

Dan ketika diterapkan pada contoh yang pertama yakni :

“Inilah) kitab yang kami telah menurunkannya kepadamu agar engkau mengeluarkan manusia dari kegelapan kepada cahaya terang.” Yakni: dari kesesatan menuju petunjuk keimanan.

– Musra’ar Lah adalah: “.   “

– Musta’ar Minhu adalah makna: 

– Sedangkan lafad:  dan , m dinamakan Musta’ar (Perkarara yang diisti’arahkan)

Isti’aroh ketika dilihat dari sudut pandang menyebutkan kedua Thorof Tasbih, terbagi menjadi tiga, yaitu:

  1. Mushorrohah adalah Isti’aroh yang menyebutkan lafadz Musyabbah Bih secara jelas, seperti:

“Lalu (dia) meneteskan hujan mutiara dari bunga Narjis, menyirami bunga Mawar dan menggigit tumbuhan Unab menggunakan embun”

Pada syair di atas, penyair meminjam:

 untuk   Air mata

 untuk   Mata

 untuk   Pipi

 untuk   Ujung jari

 untuk   Gigi

  1. Makniyah adalah Isti’aroh yang membuang Musyabbah Bih namun menyertakan lazim-nya Musyabbah Bih (yakni suatu perkara yang tidak akan terpisah dari Musyabbah Bih), seperti :

“Dan rendahkanlah (turunkanlah) dirimu kepada keduanya dengan sayap kerendahan dari kasih sayang.” (QS. Allsra’: 24).

Ayat tersebut membuat Isti’arah sifat  (hina) diserupakan dengan lafad  (burung). Kemudian Musyabbah Bih yang berupa lafadz  dibuang dan menetapkan Lazim-nya Musyabbah Bih yakni lafadz  (sayap). Karena sayap adalah sesuatu yang tidak bisa pisah dari burung.

  1. Sedangkan menetapkan lafad pada lafad ini dinamakan sebagai Ist ‘aroh Tahliyah.

Istiaroh ketika dilihat dari sudut pandang lafadz Musta’ar terbagi menjadi dua, yaitu:

  1. Asliyyah adalah Isti’aroh yang Musta’ar-nya berupa isim Ghoiru Mustag yakni Isim Jamid, seperti meng-lsti’arohkan: (kegelapan) kepada (kesesatan) dan  (cahaya) kepada  (petunjuk).
  1. Taba’iyyah adalah Isti’aroh yang Musta’ar-nya berupa Fi’il, Huruf, Isim Mustaq. Seperti:

“Fulan naik pundaknya orang yang hutang dengannya”  

“Yakni Fulan selalu menekan orang yang berhutang kepadanya”. Dan Firman Allah:

“Mereka adalah orangorang yang mendapat petunjuk dari Tuhannya.” (QS. Al-Baqarah : 5)

Yakni mereka benarbenar mendapatkan petunjuk yang sempurna.

“Jika aku benar-benar mengucapkan terima kasih atas kebaikanmu, maka lisan magal (ucapan) tidak akan lebih kuat dari lisan hal (gerakan atau tingkah laku)

Istiaroh ketika dilihat dari sudut pandang menyebutkan atau tidak Mula’im (perkara yang serasi) Musyabbah dan Musyabbah Bih terbagi menjadi tiga, yaitu:

  1. Murosyihah adalah Isti’aroh yang menyebutkan Mula’im Musyabbah Bih, seperti :

“Mereka itulah yang membeli kesesatan dengan petunjuk (keimanan), maka perdagangan mereka tidak beruntung.” (QS. Al-Baqarah : 16)

Lafad  dalam ayat diayat diartikan dengan  Kemudian ayat tersebut menyebutkan  dan adalah yang dinamakan Tarsyih. Sebab lafadz dan  itu aadalah Mula’im (perkara yang serasi) dengan Musyabbah Bih yakni lafadz: .

  1. Mujarrodah adalah Isti’aroh yang menyebutkan Mula’im Musyabbah. Seperti firman Allah:

“Maka Allah menjadikan mereka merasakan pakain kelaparan (tujuh tahun paceklik) dan ketakutan.” (QS. An-Nahl: 112)

Lafad  dalam ayat tersebut diartikan dengan sesuatu yang dirasakan oleh manusia ketika lapar dan takut. Sedangkan lafad   dinamakan sebagai Tajrid, karena lafad   adalah lafadz yang Mulaim dengan Musyabbah yakni sesuatu yang dirasakan oleh manusia ketika lapar dan takut.

  1. Mutlaqoh adalah Isti’aroh yang tidak menyebutkan Mula’im Musyabbah maupun Musyabbah Bih. Seperti : “Mereka melanggar perjanjian Allah.” (QS. Al-Baqarah : 27)

Keberadaan Tarsyih dan Tajrid tidak di-Ytibar, kecuali setelah Isti’aroh sempurna dengan adanya Qorinah.

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22Laman berikutnya
Show More

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker