Balaghah

Terjemah Kitab Durusul Balaghah

Kinayah

Kinayah adalah menggunakan sebuah lafadz namun yang dikehendaki makna lazimnya’, serta dimungkin mendatangkan makna Hagigi (asli).

Dengan ini bisa diambil kesimpulan, bahwa antara Majaz dan Kinayah terdapat perbedaan yang jelas. Kalau majaz tidak diperbolehkan menghendaki makna Hagigi (asli), sedang Kinayah diperbolehkan menghendaki makna Hagigi (asli). Seperti:

“Zaid itu panjang sarung pedangnya.”

Namun yang dimaksud dari lafadz di atas adalah makna Lazimnya yaitu:

“Zaid seorang yang tinggi tubuhnya.”

Karena sudah pasti bahwa orang yang memiliki sarung pedang yang panjang, mestinya orang itu memiliki tinggi tubuh yang panjang. Sebab sarung pedang mesti mengimbangi sang pemiliknya.

Kinayah ketika dilihat dari sudut pandang Makni ‘Anhu (arti yang dimaksud dengan lafad tersebut) itu terbagi menjadi tiga, yaitu: 1. Kinayah yang Makni ‘Anhu berupa Sifat. Seperti :

“Panjang sarung pedangnya, tinggi tiang rumahnya dan banyak abunya ketika memberi.”

Dari syair di atas yang dikehendaki adalah orang yang tinggi badannya, orang mulia serta orang yang dermawan.

Lafadz:  (panjang sarung pedangnya) adalah sebuah Kinayah bagi orang yang tinggi, yakni Sifat yang dimiliki orang tersebut tinggi tubuhnya.

Sedangkan lafadz:  (banyak abunya) adalah Kinayah dari orang yang dermawan, yakni Sifat yang dimiliki Orang tersebut itu suka memberi. (Karena orang yang senang memberi makan kepada orang lain, maka dia sering memasakn makanan yang menyebabkan banyaknya debu.)

  1. Kinayah yang Makni “Anhu berupa Nisbat (menetapkan sifat pada Mausuf atau menafikan sifat dari Mausuf), seperti: “Keagungan (kemulyaan) itu terletak di antara kedua bajunya, dan kedermawanan itu terletak di bawah selendangnya.

Pada contoh yang dikehendaki adalah menisbatkan sifat kemulyaan dan sifat kedermawanaan pada seseorang.

  1. Kinayah yang Makni “Anhu tidak berupa Sifat dan Nisbat. Seperti

“Pujianku untuk) para penebas dengan pedang putih yang memutus dan para penusuk tempat berkumpulnya rasa dendam.”

Kinayah apabila dilihat dari sudut pandang Wasa’ith (perantara untuk memahami makna Kinayah) dibagi menjadi empat, yaitu:

1) Talwih adalah Kinayah yang memiliki Wasaith banyak, seperti:

“Banyak abunya” Adalah sebuah kinayah bagi orang yang dermawan. Karena ketika banyak debu, berarti menetapkan bahwa orang tersebut sering membakar. Ketika sering membakar, berarti bahwa orang tersebut sering membuat roti. Dan ketika sering membuat roti, berarti di rumah orang tersebut banyak orangorang yang makan. Dan ketika banyak orang yang makan menetapkan, bahwa orang tersebut banyak tamunya dan menetapkan bahwa dia adalah dermawan karena sering menyuguhi tamu.

2) Romzam adalah Kinayah yang memiliki Wasaith sedikit dan samar, seperti:

“Dia orang yang gemuk lagi lebar.”

Lafadz itu adalah Kinayah bagi orang bodoh dan tidak jelas. Karena ketika seseorang badannya gemuk, berarti menetapkan bahwa orang tersebut dahinya lebar. Dan ketika dahinya lebar berarti menetapkan bahwa orang tersebut bodoh.

3) Ima’an dan Isyaroh adalah Kinayah yang memiliki Wasaith sedikit, atau tidak ada dan menjadi jelasnya Kinayah tersebut. Seperti :

“Apkah engkau tidak melihat bahwa keagungan telah meletakkan rumahnya dalam keluarga Tholhah lalu tidak berpindah lagi”

Syair ini adalah Kinayah bahwa sesungguhnya keluarga Tholhah adalah orang yang agung.

Dalam pembahasan ini, ada sebuah Kinayah yang maknanya hanya bisa dipaham lewat Siyagul Kalam (runtutan kalam). Kinayah ini disebut Ta’rid.

4 Ta’rid adalah mengarahkan suatu kalam pada makna kinayah yang hanya bisa di pahami lewat siyagul kalam. Seperti ucapan kita kepada seorang yang membayahakan orang lain:

“Sebaik-baiknya manusia dalah orang yang memberi manfaat pada orang lain.”

Lafadz tersebut adalah Kinayah dari tidak adanya kebaikan pada orang yang menyakiti orang lain. Karena mengekang arti adanya kebaikan hanya kepada orang yang yang memberi manfaat kepada orang lain maka secara lazimnya tidak adanya kebaikan bagi orang yang tidak bersifat demikian. Dan makna Kinayah ini hanya bisa dipaham lewat Siyagul Kalam.

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22Laman berikutnya
Show More

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker