Balaghah

Terjemah Kitab Durusul Balaghah

Pembagian Ijaz

Ijaz itu di bagi manjadi dua :

– Ijaz Oishor

– Ijaz Hadizfi

  1. Ijaz Oishor adalah ijaz yang dihasilkan dengan ibarot atau lafad yang ringkas, akan tetapi mengandung makna yang banyak Dan ini adalah pusat perhatian ahli balaghoh, seperti :

“Sesungguhnya dalam hukum Oishas terdapat kehidupan.” (QS. AlBaqarah : 179)

Keterangan :

Ayat ini termasuk yang sangat baligh dalam masalah ijaz. Karena lafadznya ringkas tetapi mengandung makna yang sangat banyak. Yakni dengan ditetapkanya hukum gishos, disitulah akan adanya kehidupan manusia. Dalam arti ketika manusia mengetahui bahwasanya membunuh terhadap sesamanya akan dibunuh juga maka dia tidak akan sewenangwenang membunuh orang. Jika sudah tidak ada pembunuhan, maka akan lestarilah kehidupan manusia. Dan inilah yang di kehendaki ayat di atas.

  1. Ijaz Hadzfi adalah ijaz yang dihasilkan dengan membuang kalimat, jumlah atau lebih banyak disertai Qorinah yang menunjukkan adanya pembuangan.

– Contoh pembuangan satu kalimat, seperti huruf yang terdapat pada ucapan Umru’ul Oais:

“Aku berkata demi Allah (tidak) akan henti-henti aku duduk, walaupun mereka memotong-motong kepalaku dan sendi-sendiku di sandingmu”

“Tidak akan henti-henti aku duduk”

– Contoh pembuangan jumlah adalah seperti firman Allah :

“Dan jika mereka mendustakan engkau (setelah engkau memberi peringatan) maka sungguh rosulrosul sebelum engkau telah di dustakan pula.” (QS. Ali Imran: 184)

“Maka terhiburlah dan bersabarlah”

– Contoh pembuangan lebih dari satu Jumlah adalah seperti firman Allah:

“Maka kirimkanlah aku Yusuf, wahai orangorang yang dapat dipercaya.” (QS. Yusuf 45-46)

“Kirimkanlah aku kepada Yusuf agar aku minta penafsiran mimpi ini kepadanya. Kemudian mereka mengirimnya dan dia pun mendatangi Yusuf, kemudian berkata: wahai Yusuf ”

Keterangan:

Ayat di atas ini membuang beberapa jumlah:

Jumlah pertama  

Jumlah kedua 

Jumlah ketiga 

Jumlah keempat

Jumlah kelima

Pembagian Itnab

Itnab bisa dihasilkan dengan salah satu dari beberapa perkara, di antaranya adalah :

  1. Menyebutkan lafadz yang bersifat khusus setelah lafad yang bersifat umum. Seperti:

“Bersungguh sungguhlah kalian dalam semua pelajaran kalian dan (bersunguh-sungguh) dalam (mendalami) bahasa arab”

Adapun faidahnya mengingatkan pada keutamaan perkara yang khusus, seakan tingginya perkara khusus itu menjadi jenis yang berbeda dari jenis sebelumnya.

  1. Menyebutkan lafad yang bersifat umum setelah menyebutkan lafad yang bersifat khusus. Seperti :

“Wahai Tuhanku, ampunilah diriku, kedua orang tuaku, siapapun orang yang memasuki rumahku dalam keadaan iman, dan semua orang mukmin dan mukminat”

  1. Menjelaskan suatu perkara setelah kesamaran, seperti :

“Allah telah menganugerahkan kepadamu apa yang kamu ketahui, Dia telah menganugerahkan kepadamu hewan ternak dan anak-anak.” (QS. Asy-Syu’ara’: 132-133)

  1. Mengulangulang karena ada faidah, seperti panjangnya pemisah. Contoh :

“Dan sesungguhnya seorang yang masih konsisten dalam perinsipnya dalam keadaan seperti ini adalah orang yang mulia”

– Di antara faidah mengulang-ulang lafadz, adalah memotivasi mukhotob untuk memaafkan:

“Sesungguhnya di antara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka. Dan jika kamu memaafkan (mereka), kamu santuni dan kalian mengampuni (perbuatan mereka), maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. AtThaghabun: 14)

Lafadz lafadz dan lafadz   merupakan lafadz yang memiliki arti yang sama.

– Menguatkan Indzar (menakut nakuti). Seperti : “Sekali-kali tidak, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu) dan sekali-kali tidak, kelak kamu akan mengetahui.” (OS-AtTakatsur: 3-4)

  1. Mu’taridhoh yaitu lafadz yang menengah-nengahi bagian satu Jumlah, dua Jumlah atau lebih yang mana antara dua jumlah tersebut masih ada hubungan makna, dengan adanya tujuan tertentu. seperti :

“Sesungguhnya umur delapan puluh -dan semoga engkau sampai padanya betulbetul membuat telingaku butuh terhadap juru bahasa ”

  1. Tadzbil yaitu mendatangkan satu Jumlah setelah Jumlah yang lain. Dimana jumlah kedua mengandung makna Jumlah pertama, karena untuk menaukitinya. Dan hal ini adakalanya:

– Berlaku seperti kalam Matsal, karena maknanya jumlah kedua mampu difahami tanpa jumlah yang pertama. Seperti :

“Dan katakanlah: “Kebenaran telah datang dan yang batil telah lenyap. Dan sungguh perkara yang batil itu pasti lenyap.” (QS. Al-Isra’: 81)

– Tidak berlaku seperti kalam Matsal, karena tidak bisa memberikan faidah tanpa adanya kalam yang pertama. Seperti :

“Demikiianlah kami memberi balasan kepada mereka, karena kekafiran mereka. Dan kami tidak menjatuhkan adzab (yang demikian itu), melainkan hanya kepada orangorang yang sangat kafir.” (QS. Saba’: 17)

  1. Ikhriras yaitu mendatangkan lafadz dalam suatu kalam yang lafadz tersebut menolak kesalahpahaman. Seperti :

“Semoga awan musim semi dan hujan yang deras mau menyiram-nyirami rumah-rumahmu tanpa harus merusaknya”.

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22Laman berikutnya
Show More

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker