Pembagian Khobar
Ketika tujuan Muhbir (orang yang memberitakan) itu memberikan faidah pada mukhotob, maka sebaiknya Muhbir meringkas perkataannya dengan mengunakan Khobar yang dibutuhkan saja.
Sehingga tidak mengeluarkan perkataan-perkataan yang tidak berfaidah karena dikhawatirkan memberi pembicaraan yang tidak ada gunanya.
* Ketika mukhotob itu Kholiu adz-Dzihni (orang yang tidak tahu akan berita dan tidak ragu dan tidak ingkar pada berita) maka berikanlah berita yang kosong dari adat Taukid. Seperti :
“Saudaramu datang” dan kalam ini dinamakan kalam Kalam Ibtidai.
* Ketika Mukhotob tersebut ragu-ragu pada beritanya, sehingga ia ingin mencari kebenaran berita tersebut maka yang lebih bagus Mutakalim memberikan adat Taukid. Seperti :
“Sesungguhnya saudaramu datang” dan kalam ini di namakan Kalam Tholabi.
* Ketika Mukhotob tersebut mengingkari pada beritanya, yakni tidak percaya pada berita tersebut, maka Mutakalim wajib memberikan adat taukid, dengan satu atau dua adat taukid ataupun lebih banyak dengan memandang kadar ingkarnya, seperti :
- (Demi Allah sesungguhnya saudaramu benar benar datang )
- (Sesungguhnya saudaramu benar-benar datang)
- (Sesungguhnya saudaramu datang)
Membahas Tentang Insya’
Kalam Insya’ terbagi menjadi dua : Tholabi dan Ghoiru Tholabi.
* Tholabi : Menuntut atau mencari suatu perkara yang belum hasil ketika waktu penuntutan dan pencarian.
* Ghoiru Tholabi : Tidak menuntut suatu perkara yang belum hasil.
- Tholabi terbagi menjadi lima macam :
1) Amar. 2) Nahi. 3) Istifham. 4) Tamanni. 5) Nida.
- Amar:
Adalah permohonan untuk mengerjakan suatu perkara, dengan bentuk yang menunjukanadanya kedudukan yang lebih tinggi dan amar sendiri itu mempunyai empat sigot :
1) Fiil Amar, seperti :
Artinya “Wahai yahya, ambilah (pelajarilah) kitab taurot itu dengan sungguh sungguh.” (QS. Maryam: 12)
2) Fiil Mudori’ yang bersamaan dengan Lam Amar seperti : Artinya: “Hendaklah orang yang mempunyai keluasan memberi nafaqoh menurut kemampuannya.” (QS. At-Taubah: 7)
3) Isim Fiil Amar, seperti:
“Mari menuju kemenanngan”
4) Masdar yang mengganti dari fiil amar seperti:
“Bercepat-cepatlah dalam urusan kebaikan “
Shigot Amar terkadang keluar dari makna asalnya ke makna yang lain, yang mana hal ini bisa diketahui dari runtutan kalam dan beberapa petunjuk-petunjuk keadaan. Di antaranya adalah :
- a) Do’a, permohonan seorang bawahan kepada atasan, seperti :
Artinya: “Adam berkata: yatuhan ku, anugrahkan lah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmatMu.” (QS. An-Naml: 19)
- b) Iltimas, permohonan seseorang kepada seseorang yang samasama derajatnya, seperti:
“Berilah aku kitab”
- c) ‘Tamanni, mengharapkan suatu perkara yang tidak mungkin terjadinya seperti :
“Wahai malam yang panjang, teranglah engkau dengan cahaya subuh, namun cahayamu tidaklah lebih utama (bagimu)”
- d) Tahdid, menakut nakuti ( mengancam ) seperti :
Artinya : Lakukanlah apa yang kamu hendaki, Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kalian kerjakan. (QS. Fushilat: 40)
- e) Ta’ajub, kagum pada sesuatu. Seperti :
“Wahai keluarga Bakar hidupkanlah dan bangkitkan lah kulaib untukku, wahai keluarga Bakar dimanakah tempat untuk melarikan diri”
f)Taswiyah, menganggap sama. Seperti :
Artinya: “Bersabarlah atau kalian tidak bersabar,( yakni baik kamu sabar atau tidak sabar sama saIa bagimu.) (QS. At-Thur: 16)
- Nahi:
Menuntutnya seorang atasan kepada bawahannya agar meninggalkan suatu pekerjaan. Sighot nahi hanya memiliki satu, yakni fi’il mudhori’ yang di sertahi La nahinyah seperti firman Allah :
Artinya: “Janganlah kalian semua berbuat kerusakan di bumi setelah memperbaikinya.” (QS. Ala’raf:7)
Sighot nahi terkadang juga keluar dari makna asalnya menuju ma’na yang lain, yang mana hal ini bisa diketahui dari runtutan kalam. Di antaranya adalah :
- a) Do’a, keterangannya sama seperti di atas, seperti :
Artinya: “Maka janganlah engkau jadikan musuh-musuh menyoraki (gembira) melihat kemalanganku.” (QS. ALA ‘raf: 150)
- b) Iltimas, seperti ucapannya seseorang pada orang lain yang samasama derajatnya:
“Jangan sampai kamu pergi dari tempatmu sehingga aku kembali padamu”
- c) Tamanni, seperti lafad yang terdapat pada sya’ir:
“Wahai malam hari perpanjanglah (waktumu)wahai kantuk pergilahlkau dari hadapanku)wahai fajar subuh berhantilah jangan terbit (untuk menampakan sinarmu).
- d) Tahdid (mengancam), seperti perkataan tuan pada pembantu nya :
“janganlah engkau menuruti perintahku”
- Ystifham: Mencari pengetahuan dengan suatu perkara yakni adat-adat istifham diantarnya :
1) (Hamzah Istifham) gunanya untuk mencari Tashowwur dan Tasdiq.
– Tashowwur ialah mencari ma’na mufrod, dalam arti mencari masing masing dari maudhu’ dan mahmul. Seperti : “apakah Ali berpergian ataukah Kholid?” Dalam contoh di atas sudah diyakini bahwasanya safar (bepergian) sudah terjadi dari salah satu Ali atau Kholid. Akan tetapi yang ditanyakan adalah Ali atau Kholid yang bepergian! dan karena ini yang ditanyakan, maka jawabannya adalah: Ali, semisal.
– Tasdiq ialah menemukan makna nisbat atau mencari nisbat seperti: “Apakah ali bepergian ?” Pada contoh di atas, yang diTasdiqkan adalah apakah ada ketetapan terjadinya safar atau tidak pada ali, dan karena ini yang di tanyakan, maka yang menjadi jawabannya adalah, ya atau tidak semisal.
2) Ia: digunakan hanya untuk mencari Tasdiq. Seperti :
“Apakah saudaramu sudah datang?”.
Sedang yang menjadi jawabannya adalah ya atau tidak. Dan karena itu hanya mencari pada Tasdiq, maka tidak boleh menyebutkan Muadil (Perkara yang membandinginya) “Apakah temanmu atau musuhmu sudah datang ?”


One Comment