Balaghah

Terjemah Kitab Durusul Balaghah

“Berat Banyak  “Ringan”  “Sedikit”

Kemudian penyair menyandarkan masing-masing tingkah tersebut pada suatu yang layak bagi orang-orang tua, yakni keadaan mereka itu memberatkan bagi para musuh ketika peperangan, keadaan mereka ringan untuk menuruti permintaan ketika diundang, mereka itu banyak ketika keadaan mengkhawatirkan, dan lagi jumlah mereka sedikit ketika dihitung.

9) Badi” Takidul Madhi Bima Yusybihu Dzam adalah menguatkan pujian dengan ibarot yang serupa dengan cacian. Dalam bagian ini, dibagi menjadi dua, yakni:

  1. Mengecualikan sifat pujian dari sifat celaan yang ditiadakan dengan mengira-ngirakan masuknya sifat pujian pada sifat celaan tersebut. Seperti sya’ir di bawah ini “Tidak ada celaan (cacat) sama sekali bagi mereka hanya saIa pedang pedang mereka papak sebab menebas para musuhnya”

Keterangan :

Lafadz  adalah suatu penafian kepada semua cela. Tidak adanya cela yang dimiliki, adalah sebuah pujian baginya secara tidak langsung.

Kemudian penyair mendatangkan huruf Istisna'(  £) yang isinya adalah  (pedang pedang mereka papak) yang dikira-kirakan masuknya perkara yang diIstisna’i tersebut pada cela yang dinafikan, yakni lafad::  Hal ini menambah pujian bagi mereka serta menguatkan pujian.

  1. Menetapkan sifat pujian terhadap satu perkara. Kemudian mendatangkan huruf Istisna’, yang sesudah Istisna’ tersebut juga terdapat sifat pujian yang lain. Seperti sya’ir di bawah ini :

“Pemuda yang sempurna sifat-sifatnya kecuali dia juga seorang dermawan sehingga tidak menyisakan sedikitpun dari harta hartanya”

Keterangan :

Lafadz:   “Sempurna sifat sifatnya” adalah sebuah pujian yang diperuntukkan dan ditetapkan untuk sang pemuda. Kemudian penyair mendatangkan huruf Istisna’ ( ) yang sesudah huruf Istisna’ tersebut juga terdapat sifat pujian yang lain, yakni  “Dia juga seorang dermawan”. Hal ini menambah dan menguatkan pujian tersebut.

10) Badi” Husnul Ta’lil adalah seseorang yang mengaku adanya suatu “Ilat (alasan) yang tidak nyata (dalam artian tidak sesuai dengan kenyataan) bagi satu sifat. Seperti sya’ir di bawah ini: “Jika tidak ada niatan bintang Jauza’ untuk berkhidmah padanya maka kamu tidak akan melihat dia memakai kalung yang di sabukkan”.

Keterangan :

Adanya bintang Jauza’ mempunyai niatan berkhidmah (menyinari) seseorang adalah suatu hal yang tidak nyata keberadaannya. Karena pada hakikatnya yang menjadikan bintang bersinar adalah Allah, akan tetapi hal inilah yang diakui oleh penyair.

11) Badi” Yualaful Lafdi Ma’al Makna adalah keserasian sebuah lafadz pada maknanya. Maka dalam hal ini dipilihlah lafadzlafadz yang agung atau menunjukkan ketangguhan untuk makna kemulyaan, dan keberanian. Seperti sya’ir di bawah ini:

“Jika aku marah dengan marahnya Mudor, tentu kubelah penutup matahari sampai meneteskan darah”

Jika memilih lafad lafad yang lembut dan halus maka hal itu diperuntukkan untuk makna merayu. Seperti sya’ir di bawah ini:

“Malamku tak begitu lama akan tetapi aku tidak bisa tidur bak hilanglah dariku khayalan kekasihku ”.

12) Uslubul Hakim adalah memberi jawaban kepada Mukhotob atau Sa’il (orang yang bertanya) dengan jawaban yang tidak dia inginkan atau ditunggu-tunggu. Karena mengingatkan bahwasanya jawaban itulah yang lebih utama dari pada jawaban yang diinginkan.

  1. Mengucapkan kalam (perkataan) yang mengalihkan dari tujuan pembicaraan (mengalihkan pembicaraan). Seperti ucapan penyair Qoba’sar kepada Hajjaj. Dan Hajjaj mengancam Qoba’sar dengan perkataannya:

“Sungguh aku akan menyeret dan membawamu dengan diikat rantai besi ”. Qoba’sar menjawab :

“Seperti raIa saja, pantaslah seorang raIa menunggangi kuda hitam dan kuda putih”. Kemudian Hajjaj berkata lagi kepada Qoba’syar:

 “Maksudku adalah besi (hitam bukannya kuda hitam).” Qoba’sar berkata :

“Jika keadaan kuda tersebut kuat itu lebih baik dari pada kuda yang bodoh.”

Keterangan :

Sebenarnya Hajjaj menghendaki  “rantai besi yang hitam” Dan menghendaki “barang tambang khusus” dengan arti aslinya itu. Sedangkan Ooba’sar mengarahkan dua lafadz tersebut pada makna lain yakni: artinya “kuda hitam yang kuat.”

  1. Memberikan jawaban kepada Sa’il, yang jawaban tersebut dihasilkan dengan menempatkan pertanyaan Sa’il seperti pertanyaan lain yang lebih sesuai dengan masalah. Seperti firman Allah:

“Mereka bertanya padamu tentang bulan sabit. Katakanlah: itu adalah petunjuk waktu bagi manusia dan ibadah haji.(QS. AlBaqarah : 189)

Keterangan :

Sahabat Muadz bin Jabal dan Rabiah al-Anshori bertanya kepada Rasulullah mengenai hilal. Mereka bertanya: “Kenapa pada permulaan munculnya bulan sabit itu kecil, kemudian tambah membesar sehingga menjadi bulan purnama, kemudian setelah itu, mengecil sehingga kembali seperti semula?”

Maka datanglah jawaban mengenai hikmah yang terkandung di dalam hal tersebut. Disebabkan hikmah tersebut lebih penting bagi Sa’il. Maka pertanyaan mereka mengenai penyebab perbedaan bentuk bulan ditempatkan pertanyaan mengenai hikmah penyebab perbedaan tersebut.

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22Laman berikutnya
Show More

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker