Pembahasan Ketiga,
Tujuan-Tujuan Tasbih
Seorang Mutakallim ketika menggunakan Tasbih pasti ada suatu tujuan tertentu yang dimaksud dengan Ghorod Tasbih (tujuan Tasbih). Tujuan pada tasbih itu adakalanya:
– Menjelaskan terhadap kemungkin wujudnya Musabbah, seperti:
“Apabila kamu mengungguli para mahluk sedangkan keadaanmu sejenis dengan mereka, maka sesungguhnya minyak misik itu sebagian dari darah kijang”
Keterangan:
Penyair mengakui bahwasanya orang yang dipuji itu berbeda dengan yang lainnya, karena memang terdapat sifat khusus yang dia miliki. Sehingga hal ini menjelaskan kemungkin wujudnya Musyabbah. Kemudian penyair membuat hujjah terhadap pengakuannya mengenai menyamakan orang yang dia puji dengan minyak misik, yang mana asal minyak misik tersebut adalah dari darah kijang.
Tetapi meskipun minyak misik tidak bisa disebut darah karena di dalam minyak misik terdapat sifat-sifat mulya yang tidak ditemukan pada darah.
Contoh lain yang menunjukkan mungkin wujudnya Musyabbah adalah:
“Nabi Muhammad ialah manusia tapi (ia) tak seperti layaknya manusia Balik ia bagaikan yagut (yang terletak) di antara dalam bebatuan”.
– Menjelaskan tingkah Musabbah yang belum diketahui oleh Sami’, seperti :
“Seolah olah kamu seperti matahari dan seorang raIa seperti bintang dan jikalau matahari terbit maka bintang tidak akan nampak”
Keterangan : Mukhottab diserupakan dengan Matahari karena menjelaskan keadaan Mukhottob yang sering nampak. Sedang para raIa diserupakan dengan bintang gemintang karena menjelaskan keadaan mereka yang jarang nampak di sisi penyair.
– Menjelaska kadar atau ukuran dari tingkah Musyabbah. Seperti:
“Di sana ada empat puluh dua unta perah yang hitam seperti bulu gagak yang hitam” Keterangan : Penyair menyerupakan Unta hitam dengan bulu gagak karena menjelaskan kadar kehitaman unta tersebut.
– Menetapkan keadaan Musyabah dalam hati Sami’, seperti:
“Sesungguhnya hati manusia ketika hilang perasaan cintanya seperti kaca yang sudah terlanjur pecah maka akan sulit disatukan lagi”
Keterangan :
Penyair menyerupakan bencinya hati dengan pecahnya kaca, karena menetapkan bahwasanya ketika hati sudah pecah maka tidak mungkin untuk mengembalikannya dengan penuh rasa cinta seperti sediakala.
– Menghias-hiasi Musyabbah, agar Musyabah disukai oleh Sami’, seperti :
“Perempuan yang cerah dan indah wajahnya laksana kelopak mata kijang yang bagus”
Keterangan :
Penyair menyerupakan hitamnya seseorang wanita dengan warna hitam mata kijang karena menetapkan kecantikannya.
– Menjelekjelekkan Musyabbah, agar dibenci oleh Sami’, seperti:
“Ketika dia berbicara dengan menunjuk-nunjuk maka ia seperti kera yang terbahak-bahak atau seperti neneknenek yang menampar mukanya sendiri”
Terkadang tujuan Tasbib itu kembali kepada Musyabbah bih ketika memang kedua torofnya dibalik, yakni mendahulukan Musyabbah bih kemudian menyebutkan Musyabbah. Hal seperti ini dinamakan Tasbih Maglub, seperti
Waktu subuh telah tiba, sinarnya seolaholah wajah sang kholifah (Ma’mun bin Harun Ar-Rosid) ketika dia mendapat pujian (sanjungan)”.


One Comment