Keenambelas, bergaul dengan orang lain dengan akhlaq yang baik, seperti menampakkan wajah yang berseri-seri, ceria, menyebar luaskan salam, memberikan makanan, menahan rasa amarah dalam jiwa, menahan diri agar tidak menyakiti orang lain, menanggung dan bersabar apabila disakiti oleh orang lain, mendahulukan oramg lain, tidak meminta orang lain supaya mengutamakan dirinya, mengabdi kepada orang lain, tidak mau dirinya dijadikan sebagai tuan, mensyukuri terhadap kenikmatan yang telah diberikan oleh Allah SWT kepada dirinya, membuat dirinya sendiri menjadi tenang, berusaha untuk memenuhi seluruh kebutuhan hidupnya, mempertaruhkan jabatan, pangkat untuk menolong orang lain, belas kasihan kepada
fakir miskin, selalu mengasihi kepada para tetangga, sanak kerabat, selalu mengasihi kepada para murid, menolong dan berbuat baik kepada mereka.
Apabila guru melihat seseorang yang tidak bisa mengerjakan shalat, bersuci dengan sempurna atau keawajibankewajiban yang lain, maka ia memberikan pengarahan, petunjuk dengan lemah lembut, sebagaimana yang telah dilakukan oleh Nabi kepada orang-orang a’raby (orang dusun) ketika ia kencing di dalam masjid, dan bersama Mu’awiyah bin Hakam ketika dalam keadaan shalat sambil berbicara.
Ketujuhbelas, membersihkan hati dan tindakanya dari akhlaq-akhlaq yang jelek dan diteruskan untuk merealisasikannya dalam perbuatan-perbuatan yang konkrit dan baik. Termasuk akhlaq yang tidak baik, rendah adalah: hasud, khianat, marah bukan karena Allah, menipu, sombong, riya’, membanggakan diri, supaya didengar orang, pelit, angkuh, tamak, menyombongkan diri sendiri, boros, bermewahmewahan, berhias diri dihadapan orang lain, senang di puji oleh orang lain terhadap sesutau yang tidak pernah ia kerjakan, purapura tidak tahu terhadap aibnya sendiri, selalu memperhatikan aib orang lain, urakan, terlalu fanatik pada sesuatu selain Allah (ta’assub), suka membicarakan orang lain, mengadu domba, berbohong, berkata jelek, dan menghina orang lain.
Guru (pengajar) harus menghindarkan diri dari sifat-sifat yang jelek dan budi pekerti yang tidak baik, karena sifat yang telah disebutkan di atas merupakan pintu dari setiap kejelekan, bahkan seluruh kejelekan berawal dan masuk dari sifat tersebut.
Sebagian para ulama’ dan para ahli fiqih yang mempunyai hati yang jelek sebagian besar di coba oleh Allah dengan sifatsifat tersebut diatas, kecuali orang yang di jaga langsung oleh Allah, terutama sifat hasud, membanggakan diri sendiri (ujub), riya’ dan sombong.
Beberapa obat dari berbagai macam penyakit ini telah dijelaskan dalam kitab yang memuat tentang halusnya watak (kutub al raqa’iq). Barang siapa yang hendak mensucikan dirinya dari penyakit tersebut, maka hendaknya ia memiliki kitab tersebut. Termasuk kitab yang paling penting dan paling halus yaitu kitab “Bidayatul Hidayah” karya imam Al Ghazali.
Termasuk cara untuk mengobati penyakit hasud adalah selalu berfikir bahwa hasud itu selalu bertentangan dengan Allah.
Termasuk cara untuk mengobati penyakit ujub adalah selalu mengingat bahwa ilmu yang diperolehnya, pemahaman yang dimilikinya, akal yang cerdas dan baik, serta kafasihan lisan dalam mengucapkan kata-kata dan lainnya, segala kenikmatan yang diperolehnya semuanya berasal dari Allahl, dan merupakan amanat yang harus dipegang dan dijaganya supaya bisa menjaga dengan sebaik-baiknya.
Dan sesungguhnya dzat yang memberi amanat tersebut untuk dititipkan kepada seseorang adalah dzat yang Maha kuasa, yang mampu mengambil dan menariknya dari pemiliknya dalam sekejap mata, tiada lain adalah Allah Yang Maha Luhur. Sebgaimana firman-Nya:
“Dan yang demikian itu sekali-kali tidak sukar bagi Allah.” (QS. Ibrahim :20)
Dalam firmanNya yang lain:
“Maka apakah mereka merasa aman dari azab Allah (yang tidak terduga-duga)? Tiadalah yang merasa aman dari azab Allah kecuali orang-orang yang merugi.” (Q.S. Al-A’raf: 99)
Termasuk cara untuk mengobati penyakit riya” adalah selalu berfikir, berangan-angan bahwa semua makhluk yang ada di alam raya ini, dilaut, di angkasa, dan di darat tidak ada yang bisa memberikan manfaat atau bahaya kecuali dengan izin Allahl. Oleh karena itu kenapa dia melebur dan menghapuskan amal ibadahnya sendiri, membahayakan terhadap dirinya sendiri, melakukan aktifitas, kesibukan dan berusaha untuk diperhatikan orang lain, sedangkan makhluk tidak bisa memberikan manfaat dan bahaya secara hakiki, padahal Allah telah menampakkan niat dan kejelekan hati pada diri mereka, sebagaimana yang telah diungkapkan dalam sebuah hadits :
“Barang siapa yang mempunyai niatan supaya didengar oleh orang lain, maka Allah akan memperdengarkannya, dan barang siapa yang memamerkan dirinya, maka Allah juga akan menampakkan sifat pamer orang tersebut”.
Termasuk cara untuk mengobati penyakit suka menghina orang lain adalah selalu berangan- angan terhadap firman Allah yang berbunyi :
“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diperolokolokkan) lebih batk dari mereka (yang mengolok- olok) dan jangan pula perempuan-perempuan (mengolok-olokkan) perempuan lain (karena) boleh jadi perempuan (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari perempuan (yang mengolok- olok). janganlah kamu saling mencela satu sama lain dan janganlah saling memanggil dengan gelar-gelar yang buruk Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk (fasik) setelah beriman. Dan barangsiapa tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zhalim.”
Dan firman Allah SWT dalam QS al Hujurat ayat: 13
“Wahai manusia, sesungguhnya kami menciptakan engkau dari seorang laki-lakd dan perempuan dan menjadikan engkau berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu disisi Allah ialah orang yang paling tagwa di antara engkau. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Hujurat: 13)
“…Maka janganlah kalian memuji terhadap diri sendiri karena sesungguhnya Allah lebih
mengetahui orang-orang yang lebih tagwa.” (QS. An Najm: 32)
Sebab terkadang orang yang dihina itu hatinya lebih bersih disisi Allah dan lebih suci tindak tanduknya, amal perbuatannya dan niatnya lebih ikhlas, sebagaimana yang dikatakan dalam sebuah sya’ir :
Bisa jadi hina itu adalah manusia paling agung
Jangan engkau hina orang yang rendah di alam ini
Dikatakan bahwa Allah itu merahasiakan tiga hal dalam tiga hal, yaitu : wali-Nya ditengah para hamba-Nya, ridha-Nya dalam taat kepada-Nya, murka-Nya dalam maksiat kepada-Nya.
Termasuk salah satu kategori akhlaq mardiiyyah, akhlaq yang di ridhai oleh Allah adalah memperbanyak taubat, ikhlas, yakin, tagwa, sabar, ridha, gana’ah (menerima apa adanya), zuhud, tawakkal, menyerahkan diri kepada Allah, hati yang baik, berprasangka baik, memaafkan, budi pekerti yang baik, melihat hal-hal yang bagus, mensyukuri terhadap nikmat
Allah, belas kasih terhadap makhluk Allah, memiliki sifat malu baik kepada Allah maupun manusia, serta takut dan mengharap kepada Allah.
Mencintai Allah (mahabbah ilallah) salah satu kunci untuk memiliki sifat-sifat yang baik, rasa cinta, mahabbah kepada Allah akan bisa diaktualisasikan dengan cara mencintai dan menjalankan tradisi-tradisi yang telah dijalankan oleh baginda Rosulullah SWT, karena Allah sendiri telah berfirman dalam al-Quran:
“Katakanlah (Muhammad), “Jika kamu mencintal Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS. Ali Imran: 31)
Kedelapanbelas, senantiasa bersemangat dalam mencapai perkembangan keilmuan dirinya dan berusaha dengan bersungguh sungguh dalam setiap akitivitas ibadahnya, misalnya membaca, membacakan orang lain, muthala’ah, mengingat-ingat pelajaran, memberi makna kitab, menghafalkan, dan berdiskusi dan tidak menyia-nyiakan umurnya dan waktunya sehingga tidak ada waktu yang terbuang kecuali dalam kerangka thalabul ilmi, kecuali hanya sekedar untuk keperluan ala kadarnya (hajatul basyariyah), seperti makan, minum, tidur, istirahat karena bosan atau penat, melaksanakan kewajiban suami istri, menemui orang yang bersilaturrahim, mencari maisyah (kebutuhan hidup) yang diperlukan oleh setiap manusia, sakit, dan sebagainya serta aktifitas-aktifitas diperbolehkan .
Sebagian ulama’ salaf, mereka tidak pernah meninggalkan untuk mempelejari, menelaah dan mengkaji kitab salaf, hanya karena menderia penyakit yang tidak terlalu berat (ringan), bahkan mereka mengharapkan kesembuhan penyakitnya dengan belajar, dan selalu melakukan aktifitas ilmu selama memungkinkan. Rasulullah sendiri telah bersabda :
“Sesungguhnya amal perbuatan itu tergantung pada niatnya.”
Keluhuran derajat sebuah ilmu tidak akan bisa diraih oleh pelajar kecuali dengan bersusah payah.
Dalam kitab Shahih Bukhari disebutkan riwayat dari Yahya Bin Katsir, ia berkata :
“Ilmu tidak bisa dikuasai dengan bersantai-santai”. Dalam hadits yang lain juga disebutkan bawa :
“Surga dikelilingi hal-hal yang tidak menyenangkan”. Dalam sebuah syi’ir dikatakan bahwa :
Padahal madu harus diperoleh setelah disengat lebah # Engkau menghendaki keluhuran dengan harga murah
Imam Syafi’i berkata : “Kewajiban bagi orang yang berilmu, adalah menyampaikan ilmu yang ia miliki sekuat kemampuanya untuk memperbanyak ilmu, sabar terhadap segala rintangan dalam belajar, selalu di dasari dengan niat yang ikhlas ketika ia menggapai sebuah ilmu, baik itu berupa nash (al Qur’an dan Al Hadits) atau dalam istinbath hukum, mengambil dalil sebuah hukum berdasarkan syara, selalu berharap pertolongan Allah dalam mencari ilmu.
Nabi Muhammad Saw telah bersabda:
“Semangatlah kamu dalam mencari hal yang bermanfaat bagimu dan mintalah pertolongan
kepada Allah SWT”
Kesembilanbelas, mengambil pelajaran dan hikmah apapun dari setiap orang tanpa membeda- bedakan status, baik itu berupa jabatan, nasab, umur dan persoalan yang lainya. Bahkan ia harus selalu menerima hikmah itu dimanapun ia berada, karena sesugguhnya hikmah itu adalah ibarat harta benda orang mukmin yang hilang, yang diambilnya dimanapun ia menemukannya.
Sa’ad bin Jubair berkata, seorang lelaki selalu mendapat sebutan orang yang alim selama ia berusaha untuk belajar, namun apabila ia meninggalkan belajar dan menyangka bahwa is adalah orang yang tidak membutuhkan ilmu, maka sebenarnya is adalah orang yang paling bodoh . Sebagian orang-orang arab membacakan sebuah syi’ir yang berbunyi :
Kebutaan total itu berdiam diri atas kebodohan # Bukan kabutaan/kebodohan selama bertanya, sesungguhnya
Orang buta bukanlah orang yang banyak bertanya, orang buta yang sempurna adalah orang yang terlalu diam karena kebodohanya sendiri.
Sekolompok orang dari ulama’ salaf, dulu mereka belajar kepada murid-muridnya atas sesuatu yang tidak mereka ketahui. kemudian hal itu dibenarkan oleh golongan para sahabat dan para tabi’in. Dan yang lebih hebat dari semua itu adalah Rasulullah Saw membaca al-Quran dihadapan Ubay bin Ka’ab, Beliau bersabda:
“Aku telah mendapat perintah dari Allah untuk membacakan kepadamu ayat “Jam yagunilladzina kafarauu” .
Kemudian para ulama’ berkata bahwa : termasuk faidah dari ayat tersebut adalah orang yang mulia tidak boleh mencegah untuk menjadi murid, dan menimba ilmu dari orang yang lebih rendah darinya (pangkat).
Al Humaidi, berkata: ia merupakan salah satu dari muridnya imam Syafi’i, la mengatakan bahwa: aku menemani iman Syafi’i mulai dari kota Makkah sampai ke kota Mesir, aku selalu mengambil hikmah, yaitu aku menanyakan kepada beliau beberapa masalah, kemudia beliau juga menanyakan masalah hadits kepada aku”.
Ahmad bin Hanbal telah berkata: Imam Syafi’i berkata kepada aku, kalian lebih alim, lebih mengetahui tentang ilmu hadits dari pada aku, oleh karena itu apabila ada sebuah hadits yang shahih tolong sampaikan pada aku, dan aku akan mengambilnya.
Keduapuluh, membiasakan diri menyusun atau merangkum kitab, jika memang mempunyai keahlian dalam bidang itu, karena apabila hal itu dilakukan, maka akan membuat seorang guru selalu menelaah, mempelajari hakikat keilmuan baik yang tersurat atau yang tersirat dan pada akhirnya dapat memperdalam esensi keilmuan dan juga banyak manfaat yang diperolehnya.
Sebagaimana yang telah dikatakan oleh Al Khatib Al Baghdadi, bahwa membuat karya tulis, merangkum, meresume akan menguatkan hafalan seseorang, mencerdaskan akal pikiran, mempertajam daya nalar, mengembangkan argumentasi, mengahasilkan nama yang harum, nama yang baik, besar pahalanya sampai hari kiamat.
Yang paling utama adalah hendaknya memprioritaskan sesuatu yang manfaatnya lebih umum sehingga bisa untuk dinikmati oleh orang lain, disamping itu sangat dibutuhkan oleh masyarakat luas.
Dalam membuat karya tulis, hendaknya jangan terlalu memperpanjang pembahasan sehingga menimbulkan kebosanan terhadap orang yang membaca, tidak terlalu pendek sehingga subsatansinya tidak bisa dimengerti yang membaca, dan selalu menyerahkan, memberikan karya tulisnya yang layak, pantas untuk diberikan kepada orang lain. Jangan sampai memberikan karya tulis tersebut sebelum diteliti, di telaah, dan di tashih dengan baik.
Sebagian orang pada zaman sekarang ada yang menolak karya baik berupa karangan maupun hasil kumpulan, meskipun itu karya dari orang yang jelas-jelas ahli dan dikenal keluasan ilmunya. Tidak ada dasar dari penolakan itu kecuali hanya akan menimbulkan persaingan di antara orang-orang yang berilmu. Orang yang menorehkan tinta di atas kertas untuk menulis apa yang dia kehendaki, syair, cerita yang diperbolehkan atau apapun bentuknya, tidak ada yang menolak karyanya. Apalagi kalau ada yang menulis tentang ilmu syariat dan ilmu-ilmu alatnya yang jelas berguna, maka tentu semestinya tidak ditolak.
Adapun orang yang tidak memiliki pengetahuan yang mumpuni menulis sesuatu, maka penolakan terhadap karyanya harus dilakukan karena karya itu mengandung kebodohan dan penipuan terhadap orang yang mempelajarinya. Lagipula penulis karya dusta itu hanya akan membuang-buang waktu untuk sesuatu yang tidak dikuasainya, dan dia telah meninggalkan upaya untuk memperkuat keahliannya yang seharusnya dilakukan terlebih dahulu sebelum menulis karangan.








