BAB VIII TATA KRAMA PELAJAR DENGAN BUKU-BUKU SEBAGAI ALAT ILMU DAN YANG BERHUBUNGAN DENGAN CARA MEMPEROLEHNYA
Bab ini mencakup Iima pembahasan akhlak, yaitu:
Pertama, hendaknya seorang pelajar sebisa mungkin mempunyai buku pelajaran yang dibutuhkan, baik dengan cara membeli, menyewa, ataupun meminjam. Demikian ini karena buku pelajaran adalah alat untuk mendapatkan ilmu. Namun dengan memiliki buku, bukan berarti ilmu sudah didapat dan dengan mempunyai beragam referensi tidak berarti itu sebanding dengan kualitas pemahaman yang dicapai, sebagaimana banyak yang terjadi pada pelajar pada zaman ini. Sungguh indah syair sebagian ulama yang mengatakan:
maka segudang buku yang kau kumpulkan tak ada gunanya # Apabila kamu tidak bisa hafal dan faham
sementara ilmumu tertinggal di rumah # Apakah kamu membicarakan kebodohan pada suatu majlis
Dan jika memungkinkan dalam memperolehnya dengan cara membeli maka tak perlu repot- repot menyalinnya. Dan tidak sebaiknya menyibukkan diri sendiri dengan menyalin buku-buku tersebut kecuali hanya karena ada sesuatu yang menyebabkan kesulitan dalam memperolehnya, juga karena tidak adanya financial dan upah untuk menyalinnya.
Dan janganlah hanya memperhatikan dalam bersungguh-sungguh memperbaiki khot (tulisan) kitab tersebut. Dan juga janganlah meminjam bila memungkinkan untuk membeli atau menyewanya.
Kedua, jika seorang pelajar tidak berkeberatan, dianjurkan untuk meminjamkan bukunya kepada temannya yang dianggap tidak akan mencederai akad pinjaman. Seyogyanya, peminjam berterima kasih kepada pemilik buku atas pinjaman tersebut. Tidak diperkenankan menahan buku pinjaman di sisinya terlalu lama, bila sudah tidak perlu lagi dia harus mengembalikan buku kepada pemiliknya secepat mungkin ketika keperluannya sudah selesai, tidak boleh melakukan perbaikan tulisan tanpa izin pemiliknya, tidak memberi catatan pinggir,
tidak menuliskan sesuatu pada bagian kosong lembaran-lembaran depan dan belakang kitab kecuali yakin kalau pemiliknya rela akan hal itu, tidak boleh membuat buku jadi hitam, tidak meminjamkan dan menitipkan kepada orang lain bila tidak ada perlunya, tidak menyalin tulisan dari buku tersebut tanpa izin dari pemiliknya, dan jika dia mau menyalin atas izin dari pemiliknya maka ketika menulis salinan jangan sampai buku tulis diletakkan di atas buku yang akan disalin atau menindih tulisannya, dan jangan menaruh wadah tinta di atas buku yang akan disalin.
Ketiga, tatkala membuat salinan dari sebuah buku atau sedang menelaahnya, jangan sampai meletakkan buku terhampar di atas lantai. Namun, letakkanlah buku dalam keadaan terganjal oleh dua benda, buku atau lainnya, atau di atas meja kecil khusus buku yang sudah kita ketahui. Tujuannya supaya jilidan buku tidak cepat lepas dan terurai.
Jika buku diletakkan di tempat yang tersusun (rak), maka letakkanlah di atas kursi, papan, atau sejenisnya. Jangan meletakkannya di atas lantai (tanpa ganjalan), agar tidak cepat lembab dan rusak. Jika buku diletakkan di atas papan atau sejenisnya. maka taruhlah di atas dan di bawah buku sesuatu yang melindunginya dari benda-benda yang dapat menjatuhkannya, seperti dinding atau lainnya.
Memperhatikan etika peletakkan buku sesuai dengan klasifikasi disiplin ilmu berikut tingkat kemuliaannya, dan berdasarkan pengarang dan tingkat kepakarannya. Sehingga buku-buku yang lebih tinggi nilai kemuliaannya dibanding buku-buku yang lain harus diletakkan paling atas, lalu diikuti buku-buku level selanjutnya secara berurutan. Namun untuk mushaf al-Quran, jika ada, harus diletakkan paling atas sendiri. Lebih baik lagi jika mushaf diletakkan dalam kantong bertali dan digantungkan pada paku atau pasak yang bersih lagi suci, dan terletak di bagian depan ruangan. Kemudian di bawah mushaf, diletakkan kitab-kitab hadis, tafsir al- Quran, tafsir hadis, akidah, ushul fikih, fikih, nahwu, shorof, kitab syair-syair arab, dan ilmu arudh.
Hendaknya menuliskan judul buku (kitab) di sisi bagian bawah di halaman terakhir. Awal huruf-huruf judul itu ditulis lurus searah dengan tulisan basmalah dari buku tersebut. Fungsi dari judul ini adalah untuk mengenali buku dan memudahkan kita dalam pengambilan. Jika meletakkan buku, hendaknya sampul yang tepat di belakangnya adalah tulisan basmalah atau awal buku, berada di atas. Jangan meletakkan buku berukuran besar di atas buku yang
berukuran kecil. Jangan menjadikan buku sebagai tempat penyimpanan beraneka ragam kertas dan benda lainnya. Jangan menjadikannya bantal atau kipas. Jangan mengasih tanda pada buku dengan menggunakan stik kecil atau benda kering lainnya, tapi gunakanlah secarik kertas. Jangan melipat tepi atau sudut kertas buku.
Keempat, bila meminjam buku atau membelinya, periksalah dengan teliti bagian depan, belakang, tengah, susunan bab, dan kertasnya.
Kelima, tatkala menyalin tulisan dari buku-buku yang berisi ilmu-ilmu syariat, hendaknya dalam keadaan suci, menghadap kiblat, badan dan pakaian bersih, dengan menggunakan tinta yang suci. Tulislah basmalah pada awal setiap buku yang hendak Anda tulis. Bila buku itu ingin dibuka dengan prakata penulis yang mencantumkan pujian kepada Allah, shalawat dan salam kepada Rasulullah, maka prakata tersebut ditulis setelah basmalah. Begitupula, basmalah hendaknya ditulis di akhir buku dan di akhir setiap jilidnya. Setelah penulisan jilid pertama atau kedua selesai, hendaknya pula menuliskan kata-kata yang menunjukkan bahwa buku tersebut belum rampung (masih ada jilid berikutnya). Tapi jika wa Jalla, tabaraka wa ta’ala, jalla dzikruhu, tabaraka ismuhu, Jallat “adhamatuhu, dan lain sebagainya.
Setiap menuliskan nama Nabi shallallahu “alaihi wasallam, tulis setelahnya secara bergandengan lafal-lafal shalawat dan salam kepada beliau. Para ulama sejak zaman dahulu sampai sekarang terbiasa menuliskan lafal shallallahu “alaihi wasallam setelah nama Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Tujuan mereka adalah melaksanakan perintah
Allah dalam firmanNya:
Ingat! Jangan sampai penulisan shallallhu alaihi wasallam disingkat, meski shalawat itu berulang kali disebutkan, menjadi معلص atau م ص , atau singkatan lainnya yang tidak pantas disematkan terhadap Rasulullahn, seperti yang dilakukan oleh sebagian orang.
Bila melewati nama sahabat, maka iringi dengan kata-kata radliyallahu’anhu, dan rradiiyallahu anhuma kalau ada penyebutan nama ayah dari sahabat tersebut. Demikian juga bila melewati nama ulama salaf. Atau bisa juga diganti dengan kata-kata rahmatullahi “alaihi di belakang nama ulama tersebut, terlebih lagi jika yang disebut ulama besar. Kata-kata penyerta nama- nama sahabat dan ulama seperti di atas hendaknya tetap ditulis, meskipun tidak tercantumkan
dalam kitab asal yang disalin yang menjadi pedomannya, sebab ini bukanlah periwayatan melainkan sekedar doa. Dan bagi pembaca, sebaiknya juga membaca semua kata-kata doa itu, walaupun dalam kitab asli yang dia baca tidak tercantumkan, Segera janganlah bosan mengulanginya, sebab ini merupakan kebaikan yang agung dan keutamaan yang besar.
Kitab berjudul “Adabul ‘Alim wal Muta’allim,” ini selesai disusun pada waktu Subuh, hari Ahad, 21 Jumadal Tsaniyah 1343 H. Segala puji bagi Tuhan semesta alam. Dialah yang maha mengetahui kebenaran dan kepadaNya segala sesuatu berpulang dan kembali.








