BAB V AKHLAK PRIBADI SEORANG GURU
Mengenai akhlaq guru (ustadz) kepada diri sendi ada dua puluh akhlak, yaitu hendaknya seorang guru:
Pertama, selalu istigamah dalam muragabah kepada ” Allah, baik ditempat yang sunyi atau ramai. Pengertian muragabah ialah melihat Allah dengan mata hati dan menghubungkannya dengan perbuatan yang dilakukan selama ini, kemudian mengambil hikmahnya atau jalan yang terbaik bagi dirinya dengan mempertimbangkan dan merasakan tentang adanya pemantauan Tuhan kepadanya. Salah satu ciri muragabah menurut Dzunnun Al Misry adalah mengagungkan apa yang diagungkan oleh Tuhan dan merendahkan apa yang direndahkan oleh Tuhan. Muragabah merupakan salah satu dari sekian banyak tingkatan dan langkah dalam kesufian, selain khauf, raja’, tawadlu’, khusu’, zuhud’, dan sebagainya. (Lihat Risalah Al Qusyairiyah: 189-191).
Kedua, senantiasa berlaku khauf (takut kepada Allah) dalam segala ucapan dan tindakanya, baik ditempat yang sunyi atau tempat ramai, karena orang yang alim adalah orang yang selalu dapat menjaga amanat, dapat dipercaya terhadap sesuatu yang dititipkan kepadanya, baik itu berupa ilmu, hikmah, dan perasaan takut kepada Allah. Sedangkan kebalikan dari hal tersebut diatas dinamakan khianat. Allah telah berfirman dalam al-Qur’an:
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian semua mengkhianatt terhadap Allah dan rasul-Nya dan (juga) jangan kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedangkan kamu mengetahuinya”. (Q.S. Al Anfal: 27)
Maksud dari khauf disini adalah takut terhadap kemungkinan azab dari Allah, didunia atau diakhirat. Dasar yang dipakai adalah firman Allah dalam surat Al Imran ayat 175, tujuannya adalah agar manusia bisa mempertimbangkan tingkah lakunya. Abu al-Gasim mengatakan, “siapa yang takut kepada sesuatu, maka fa akan berlari darinya, tetapi takut kepada Allah justru semakin mendekati-Nya.” (Risalah Al Qusyairiyah, 125-126).
Ketiga, senantiasa bersikap tenang.
Keempat, senantiasa bersikap wira’i. Wira’i menurut Ibrahim ibn Adham, adalah meninggalkan setiap perkara subhat sekaligus meninggalkan setiap perkara yang tidak bermanfaat, yakni perkara yang sia-sia. Sedangkan menurut Yusuf ibn Abid, Wara’ adalah keluar dari setiap perkara subhat dan mengoreksi diri dalam setiap keadaan. (Risalah Al Qusairiyah, 109-111)
Kelima, selalu bersikap tawadlu’. Syaikh Junaidi menyatakan bahwa, Tawadlu’ adalah merendahkan diri terhadap makhlug dan melembutkan diri kepada mereka, atau patuh kepada kebenaran dan tidak berpaling dari hikmah, hukum, dan kebijaksanaan. (Risalah al Qusairiyah,
145-148).








