Kitab Tasauf

Terjemahan Kitab Adabul Alim Wal Muta’allim

Kesembilan, sebisanya berkata yang baik kepada guru. Tidak boleh berkata “Mengapa?”, “Saya

tidak  terima  (dengan  jawaban  guru)”,  “Siapa  yang  berkata  demikian?”,  dan  “Di  mana

tempatnya?” (penjelasan guru). Bila murid memang minta penjelasan lebih dalam, sebaiknya melakukannya dengan perkataan yang halus. Yang lebih baik, ditanyakan pada forum lain yang khusus untuk minta keterangan yang lebih jelas. Ketika guru menerangkan sesuatu, murid tidak boleh mengatakan, “Ini pendapat Anda”, “Menurutku”, “Fulan berkata begini”, “Fulan berpendapat lain dari pendapat Anda”, “Pendapat ini tidak benar”, atau perkataan senada lainnya.

Ketika guru mengucapkan suatu pendapat atau dalil tapi tidak jelas, atau bahkan bertentangan dengan kebenaran karena lupa ataupun lalai, maka dalam kondisi seperti itu murid harus berpikir positif. Tidak boleh merubah mimik wajah dan pandangan mata, tetapi menampakkan raut muka yang berseri seraya menyadari bahwa keterjagaan dari kesalahan pada manusia hanyalah milik para nabi -semoga shalawat dan salam Allah tercurahkan kepada mereka semua.

Kesepuluh. ketika murid mendengar guru menyebutkan hukum suatu kasus atau suatu keterangan yang berfaedah. atau menceritakan suatu cerita, atau menembangkan sebuah syi’ir namun murid telah menghafalnya, maka murid tetap harus mendengarkan dengan seksama, mengambil manfaat, merasa haus (akan ilmu) dan gembira seolah-olah dia belum pernah mendengar. Imam Atho’ ra berkata, “Aku mendengar hadis dari seseorang padahal aku lebih tahu hadis itu daripadanya, lalu aku bersikap seakan-akan aku sama sekali tidaklah lebih baik dari orang itu.”

Selanjutnya, Imam Atho’ berkata, “Sesungguhnya sebagian pemuda pernah menyebutkan suatu hadis. Lalu aku mendengarkan layaknya orang yang belum pernah mendengarnya. Padahal aku telah dengar hadis itu sebelum pemuda itu lahir.”

Bila guru bertanya pada murid apakah dia sudah hafal (tahu) apa tidak suatu ilmu, sebaiknya murid tidak menjawab “Iya” karena hal itu berarti menunjukkan sikap tidak butuh pada guru. Tapi juga tidak baik menjawab “Tidak” karena termasuk bohong (pada guru). Yang baik mengatakan “Saya senang mendengarnya langsung dari guru” atau “Saya senang mempelajarinya dari guru.”

Kesebelas, tidak mendahului atau bersamaan dengan guru dalam menjelaskan suatu permasalahan atau dalam menjawab pertanyaan. Tidak menampakkan bahwa dia juga tahu akan hal itu Tidak memotong apapun omongan guru: mendahului atau menyamai (dalam

perkataan). Tapi harus bersabar sampai guru selesai berbicara, barn setelah itu murid berbicara. Tidak ngobrol dengan seseorang ketika guru sedang berbicara dengan orang itu atau ketika guru sedang berbicara dengan para jamaah majelis lainnya. Murid hendaknya selalu konsentrasi pada guru sekiranya bila guru memberi perintah, bertanya sesuatu, atau menunjuk padanya, tidak usah mengulangi lagi.

Keduabelas, bila guru memberikan sesuatu, murid harus menerimanya dengan tangan kanan. Bila murid yang memberikan sesuatu pada guru seperti kertas berisi bacaan menyangkut fatwa hukum Islam, cerita, ilmu syariat, atau apapun yang tertulis, hendaknya murid membentangkan kertas tersebut terlebih dahulu, baru menyerahkannya ke guru dalam keadaan tidak terlipat, kecuali bila guru yang menyuruhnya. Bila barang yang akan diberikan murid kepada guru itu berupa kitab, murid harus menyerahkan kitab dalam posisi siap dibuka dan dibaca sehingga guru tidak perlu membetulkan posisi kitab itu. Bila pembacaan kitab sudah sampai materi tertentu, maka halaman yang berisikan materi tersebut sudah harus terbuka dan murid menunjukkan bacaan mana yang harus disampaikan. jangan sekali-kali melemparkan sesuatu kepada guru seperti kitab. kertas, atau apapun itu.

Bila guru mau mengambil sesuatu dari murid atau memberinya sesuatu sedangkan guru berada agak jauh. maka murid lah, bukan guru yang harus mengulurkan kedua tangannya dengan berdiri, bukan merangkak menghampiri beliau. Ketika duduk didepan guru, posisi murid tidak boleh terlalu dekat sehingga berdampak pada buruknya etika. Murid tidak boleh meletakkan bagian tubuhnya seperti tangan, kaki, atau bagian bajunya di atas baju, bantal, sajadah, atau alas guru.

Bila murid hendak menyerahkan pena pada guru untuk digunakan menulis, hendaknya murid sudah meruncingkan ujung pena sebelum diserahkan kepada beliau. Dan bila meletakkan wadah tinta, hendaknya wadah tinta juga harus sudah terbuka tutupnya sehingga ketika mau menulis, guru langsung bisa mengambil tintanya. Bila pisau yang akan diberikan, langan sampai menyerahkan pisau dalam posisi mata/ujung pisau menghadap ke arah guru atau gagang pisau yang menghadap ke arah guru tapi tangan murid memegang mata pisau. Cara yang baik. murid menghadapkan bagian tajam dari mata pisau ke arahnya sambil memegang ujung gagang pisau lalu meletakkan gagang pisau di tangan kanan guru. Bila yang diberikan berupa sajadah yang akan dibuat guru mendirikan shalat, hendaknya murid juga menghamparkan sajadah itu. Terutama, ketika guru mau shalat.

Ketika berada di depan guru, murid tidak boleh duduk di atas sajadah atau shalat di atasnya kecuali bila tempatnya tidak suci atau butuh sajadah sebab uzur tertentu. Ketika guru berdiri (mau meninggalkan tempat shalat), hendaknya murid cepat-cepat membawakan sajadah guru. memegang tangan atau lengannya bila perlu, dan mempersiapkan sandalnya kalau guru memang tidak merasa keberatan dengan hal itu.

Murid melakukan semua hal di atas hendaknya tidak lain dengan niatan mendekatkan diri kepada Allah Serta mengharap ridla guru. Ada kata mutiara, “Empat hal orang mulia sekelas raja pun tidak akan sombong untuk melakukannya. yaitu berdiri dari tempat duduknya karena menghormati ayahnya. hormat kepada orang alim yang dia timba ilmunya, bertanya perihal yang tidak diketahui, dan memuliakan tamu.”

Ketika murid sedang menemani jalan guru pada waktu malam hari. hendaknya berada di depan guru. Jika pada waktu siang hari. hendaknya berada di belakang guru. Boleh tidak seperti itu. bila kondisinya menuntut lain seperti pada waktu berdesakan misalnya. Murid harus berjalan di depan guru ketika melintasi tempat-tempat yang tidak jelas aman tidaknya seperti tempat- tempat becek atau banjir dan tempat-tempat yang berbahaya. Ketika berjalan, murid hams berusaha tidak menciprati baju guru. Kalau kondisinya lagi berdesakan, murid harus melindungi guru baik dari depan atau belakang guru. Bila berjalan di depan, murid harus sering menengok guru. Kalau guru mengajak bicara murid dalam keadaan berjalan dan keduanya sedang berada di tempat teduh. maka hendaknya murid berada di sebelah kanan atau kiri guru, agak maju sambil menoleh pada guru.

Murid mengenalkan pada guru tokoh-tokoh yang tidak diketahuinya. Tidak boleh berjalan di samping guru kecuali bila dibutuhkan atau disuruh guru. Hendaknya murid tidak mendesak guru dengan pundaknya atau pundak binatang tunggangannya bila keduanya lagi menaiki binatang tunggangan. Dan juga tidak menempel baju guru.

Mendahulukan guru pada area-area teduh ketika berjalan pada waktu musim panas. Dan pada area pancaran sinar matahari ketika musim hujan. Dan pada arah di mana sinar matahari tidak mengenai muka ketika guru menoleh pada murid. Ketika guru lagi berbincang-bincang dengan seseorang, murid tidak boleh berada di antara mereka berdua. Tetapi di belakang atau di depan mereka,  tidak  boleh terlalu  dekat.  tidak  boleh menguping  pembicaraan,  dan  tidak  boleh

menoleh kepada mereka. Kalau mereka berdua mengajak murid ngobrol, maka murid harus datang mendekat.

Jika murid berpapasan dengan guru secara kebetulan di jalan, maka murid yang harus mengucapkan salam terlebih dahulu. Bila guru jauh, murid harus menghampiri beliau dan jangan memanggil beliau dari kejauhan. Begitu juga ketika uluk salam, jangan uluk salam dari kejauhan  atau dari  belakang  beliau,  tetapi  harus  dari  jarak  yang  dekat.  jangan  memulai pembicaraan sebelum guru yang memulai.

Murid tidak boleh bertanya apapun pada guru ketika berada di jalan. Kalau sudah sampai rumah guru, jangan berdiri di depan pintunya takut berpapasan dengan keluarnya kerabat guru yang tidak diinginkan guru untuk dilihat murid. Jika murid bersama guru sedang naik tangga, murid harus di belakang guru Ketika menuruni tangga, murid harus duluan turun sehingga ketika guru terpeleset guru bisa berpegangan pada murid. Jika pendapat guru salah, jangan katakan, “Salah” atau “Ini bukan pendapat yang baik.” Tetapi katakan, “Yang jelas lebih baik seperti ini.” Jangan katakan, “Pendapat saya seperti ini” atau perkataan yang senada lainnya.

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21Laman berikutnya
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker