BAB VII AKHLAK GURU TERHADAP MURID
Dalam bab ini dijelaskan ada empat belas macam budi pekerti seorang guru terhadap murid- muridnya. ..
Pertama, hendaknya dalam mengajar dan mendidik mereka berharap ridho Allah SWT dan bermaksud untuk. menyebarkan ilmu dan mengeksiskan syari’at dan mempertahankan kebenaran dan keadilan dan melestarikan kebaikan umat dengan memperbanyak para ilmuan, dan mengharapkan pahala dari orang yang menyelesaikan belajarnya dan mengharapkan barokahnya do’a mereka kepadanya dan kasih akung mereka dan memudahkan masuknya ilmu, antara Rosuln dan antara ulama’ dan menganggap bahwa seorang guru adalah termasuk orang yang menyampaikan wahyu dan hukum-hukum Allah kepada mahluknya sesungguhnya mengajarkan ilmu termasuk perkara yang penting didalam agama dan derajat yang tinggi bagi orang-orang mu’min. Rasulullah Saw bersabda:
“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikatnya dan penduduk langit dan bumi sampai semut yang berada didalam lubangnya mendo’akan kepada seseorang yang mengajarkan kebaikan kepada manusia.”
Demi sifat hayat-Mu (Allah) ini merupakan suatu bagian yang agung, maka mendapatkannya adalah suatu keuntungan yang besar. Ya Allah janganlah Engkau menghalangi kami dari ilmu dengan suatu penghalang dan kami mohon perlindungan Mu dari perkara-perkara yang memutuskan ilmu dan perkara yang mengotorinya dan kendala yang menghalanginya dan sirnanya ilmu.
Kedua, hendaknya seorang guru tidak tercegah untuk mengajar muridnya karena tidak ihklasnya niat muridnya itu. Sesungguhnya bagusnya niat diharapkan dengan barokah ilmu. Sebagian Ulama’ salaf berkata :”kami menuntut ilmu karena selain Allah, maka ilmu itu menolak kecuali karena Allah” dikatan : makna kaul tersebut adalah bahwasanya ilmu dapat diperoleh dengan niat karena Allah karena apabila niat yang ikhlas disyaratkan ketika mengjar para pemula, yang mana mereka sulit untuk ikhlas, maka hal itu akan menyebabkan hilangnya ilmu dari kebanyakan manusia. Akan tetapi seorang guru mengajarkan kepada para pemula dengan niat yang baik-baik secara pelan-pelan, baik ucapan atau perbuatan, dan memberitahu
kepadanya, bahwa sesungguhnya dengan bagusnya niat dia akan memperoleh derajat yang tinggi dari ilmu dan amal dan memperoleh anugerah yang baik, dan memperoleh berbagai macam hikmah dan terangnya hati dan lapangnya dada, dan mendapat kebaikan dan bagusnya keadaan dan lurusnya ucapan dan tingginya derajat dihari kiamat Dan seorang guru menumbuhkan rasa senang pada mereka terhadap ilmu dan mencarinya dengan masa yang panjang dengan menyebutkan apa yang telah Allah berikan kepada para ulama’ yang berupa derajad yang tinggi, sesungguhnya mereka adalah pewaris para nabi dan diatas mimbar dari yang diharapkan para nabi dan syuhada’ selain itu yang menjelaskan tentang keutamaan ilmu dan ulama’ adalah ayat-ayat khobar, atsar dab syair-syair, dan sebagiannya telah aku sebutkan pada bab awal. Dan menumbuhkan rasa senang terhadap ilmu terhadap apa yang ditetapkan untuk mewujudkan ilmu seperti merangkum sesuatu yang mudah dan secukupnya dengan perkara dunia dengan sibuknya hati perkara yang berkaitan dengan dunia dan perkara yang menyibukkan pikiran dan memisahkan keprihatinan dengan sebab dunia.
Maka berpalingnya hati dari berinteraksi (berhubungan) ketergantungan akan rakus dengan dunia dan memperbanyaknya dan merasa sudah akan terpisah darinya. Maka mengombinasikan (menyatukan) antara hati dan ruhnya hanya untuk agamanya saja atau untuk kemulyaan dirinya atas kedudukannya dan lebih sedikit perasaan dan yang lebih penting untuk menghafalkan ilmu dan menambahinya.
Ketiga, hendaknya menyukai mencari sesuatu (ilmu) sebagaimana yang dia sendiri menyukainya, seperti yang telah tercantum dalam hadits dan membenci sesuatu terhadapnya sebagaimana hadits membencinya. Dan bersungguh-sungguh dalam pencarian (ilmu) yang baik. Dan menggauli para santri sebagaimana dia menggauli sesuatu pada anak-anaknya yang mulia dengan kasih akung, berbuat baik, sabar atas keras kepala atas kurangnya sesuatu yang menimpanya dan tidak menjahui / menyendiri dari pergaulan manusia. Sama saja tatakrama di sebagian masa ini, dan membuat alasan sekiranya mungkin. Dan mengkondisikan semua itu dengan nasehat tutur kata yang lembut tak kasar atau menganiayanya. Dengan itu semua bertujuan atas pendidikannya yang baik dan bagusnya akhlaknya dan pekerti tingkahnya. Apabila cara mengetahui kecerdasan mereka dengan isyarat saja mak tidak ada kebutuhan / gunanya dengan cara ibarat (mencontohkan) dan apabila belum paham juga kecuali dengan terangnya ibarat maka didatangkan cara itu tidak apa-apa. Dan menjaga diri (bertahan) dari semua yang menjelekkan mereka dan bertutur kata yang halus dan bertata krama dengan budi pekerti yang luhur dan mensupport (mendorong) nya pada budi pekerti yang diridhoi dan
memberi wasiat (wejangan) dengan perkara-perkara yang bagus dan atas hukum-hukum syari’at.
Keempat, hendaknya mempermudah para santri menyampaikan materi dengan semudah mungkin dalam pengajarannya. Dan dengan tutur kata yang lembut dalam memberi kepahaman, apalagi santri itu keluarga sendiri. Oleh karena semua itu hanya untuk kebaikan tata krama dan bagusnya pencarian asas kaidah dan menjaga dari hal-hal yang langka. Dan tidak boleh menyimpan (menyembunyikan) bila ditanyai sesuatu karena itu adalah bagian dari dirinya, karena terkadang hal-hal tersebut membingungkan dan membuat bimbang hati, dan berpalingnya hati dan menyebabkan kegelisahan / kegusaran. Demikian juga jangan menyampaikan sesuatu yang bukan bidangnya karena itu dapat membekukan hati dan dengan kefahaman. Apabila santrinya bertanya sesuatu dari hal tersebut dan tidak menjawab dan tidak memberitahunya maka akan membahayakan dirinya sendiri dan tidak bermanfaat apabila dia (guru) mencegah hal tersebut dari pada santri bukan karena bakhil (pelit) tapi karena kasih akung dan karena hanya menyayanginya, kemudian menyukai hal tersebut dalam bersungguh- sungguh dan karena untuk mendapatkan sesuatu yang disukai atau yang lain. Imam Bukhori sungguh-sungguh telah mengatakan dalam kitab “Ar-Robbani” bahwasanya beliau dalam hal mendidik manusia dengan semudah-mudahnya (kecilnya) ilmu sebelum mengajarkan kepada mereka yang (besar) yang sulit.
Kelima, guru hendaknya bersungguh-sungguh dalam pengajaran dan memberi kepahaman pada santri dengan mencurahkan daya upaya dan menjelaskan materi walaupun hanya mendekati arti tidak berlebihan dan bukan memberatkan hati dan yang melampaui batas-batas hafalan. Dan menjelaskan sesuatu yang dimana ibarat hati menjadi terhenti karena telah mengerti arti tersebut. Dan mencari-cari hitungan seberapa dia telah mengulang-ulangi. Pertama-tama dengan menjelaskan gambaran masalah-masalah kemudian memberikan keterangan dengan sesuatu contoh dan menyebutkan dalil-dalil yang berhubungan dengan itu dan meringkas dalam pemberian gambaran beberapa contoh dan membuat perumpamaan (contoh) bagi yang belum menguasai materi (belum ahli) untuk kepahaman dalam mencerna (mengambil) contoh-contoh dan dalil-dalilnya. Dan menyebutkan dalil dan mengambil dalil dari orang yang mempunyainya. Dan menerangkan kepada santri yaitu makna (arti) yang samar hikmahnya. Dan alasan-alasan dan sesuatu yang berkaitan dengan masalah tersebut berupa asalnya maupun cabangnya. Dan dari salah sangka dalam masalah tersebut hukum, pengecualian (pemecahan masalah) dan memindah ibarat (perumpamaan) yang baik cara
penyampaiannya, dan jauh dari mengurangi derajad seorang ulama’, dan bermaksud menerangkan salah faham tersebut berupa nasehat dan devinisi pemindahan yang benar. Dan menyebutkan sesuatu yang menyamai dengan masalah-masalah tersebut dan kemudian mempraktekkannya, dan sesuatu yang membedai dan yang mendekatinya. Dan menerangkan mana yang harus diambil dari dua hukum dan perbedaan antara dua masalah yang bertentangan. Dan tidak boleh mencegah menyebutkan suatu lafadz dengan malu dari seorang yang lain. Biasanya apabila dia membutuhkan pada hal tersebut dan belum menyempurnakan penjelasannya kecuali dengan menerangkannya, apabila lafadz tersebut berupa kinayah (kiasan) maka guru harus memberikan kesimpulan hukumnya secara sejelas-jelasnya dan tidak menjelaskan dengan cara menyebutkan tapi cukup dengan kinayah pula.
Demikian juga apabila dalam suatu majelis ada seorang yang tidak layak dalam menyebutkan lafadz tersebut dengan hadirnya rasa malu pada dia atau secara samar, maka seorang guru harus membuat kinayah dari lafadz tersebut atau dengan selainnya oleh karena arti-arti itu perbedaan keadaan terdapat dalam hadits yang biasanya menjelaskan secara detail dan kadang juga dengan kinayah yang lain. Dan apabila guru sudah selesai pada pelajarannya maka tidak apa- apa seorang guru menyodorkan (mengemukakan) masalah-masalah yang berkaitan dengan hal tersebut atas para santri (murid) dengan tujuan sebagai ujian (pengetesan) dengan hal tersebut kefahaman mereka dan hafalan mereka atas semua yang telah dijelaskan. Apabila sudah tampak pada mereka pelajar yang kuat kefahamannya dengan cara mengulang-ulang jawaban yang benar maka berterimakasihlah padanya. Dan barangsiapa belum faham maka guru harus menyuruhnya dengan halus untuk mengulanginya. Adapun maksud dengan memberikan masalah masalah tersebut sesungguhnya santri ketika mereka kadang-kadang malu dari ucapannya (murid) maka dia belum faham adakalanya untuk menghilangkannya dengan membalas pengulangannya kepada guru atau untuk mempersempit waktu atau karena malu dari orang-orang yang hadir atau agar mereka tidak tertinggal dengan membaca dari yang lain dengan sebab malu itu.
Oleh karena itu seyogyanya bagi guru untuk tidak berkata / bertanya kepada murid “apakah engkau sudah faham ?” kecuali apabila tidak bermasalah (aman) dari ucapan guru yaitu jawaban “ ya ” yang dijawab murid sebelum mereka belum faham. Kemudian apabila tidak aman / membuat malu bagi murid atau yang lainnya maka janganlah bertanya tentang kepahaman karena hal itu kadang-kadang guru menanyakannya akan terjadi kebohongan
ucapan murid dengan ” ya ” karena sesuatu yang telah jelas dari beberapa sebab.Tapi seorang guru hendaknya melontarkan permasalahan kepada murid sebagaimana yang telah disebutkan.








