Apabila seorang guru bertanya kepada murid tentang kefahaman (faham/belum) dan murid menjawab “ ya “ (sudah faham) maka jangan memberinya permasalahan yang baru setelah itu, terkecuali jika hal tersebut menyebabkan siswa malu dengan masalah tersebut karena dengan jelasnya perbedaan suatu jawaban yang dilontarkan siswa. Dan juga seyogyanya bagi guru untuk memerintah seorang murid dalam mempelajari pelajaran yang mencocokinya.Sebagaimana keterangan yang akan datang Insya’ Allah, dan dengan pengulangan pelajaran setelah selesai menjelaskan sesuatu antara mereka (murid) dengan tujuan agar tetap pada hati mereka dan meresap padanya kefahaman pelajaran. Kerena semua hal tersebut mendorong atas kesungguhan pikiran dan pengokohan badan Oiwa) dalam pencarian yang hag (benar).
Keenam, meminta kepada murid-muridnya untuk senantiasa mengulangi hafalannya dan menguji hafalannya yang telah lalu seperti kaidah-kaidah yang dianggap sulit dan masalah- masalah kontemporer. Tidak lupa hendaknya sang guru senantiasa memberikan informasi yang terkait dengan pokok pokok bahasan atau dalil-dalil yang telah dipelajari. Apabila diantara mereka memberikan jawaban benar dan tidak takut atau grogi maka berterima kasilah dan pujilah dihadapan kawan kawannya agar mereka tergugah semangatnya untuk mencari tambahan.
Begitu pula jika mereka beraspirasi dan tidak takut unjuk gigi dengan kemampuannya yang minim itu maka berilah semangat dengan memberikan iming-iming cita-cita yang tinggi atau kedudukan yang terkait dengan ilmu. Apalagi teguran itu bisa membuatnya semangat dan akhirnya dia bisa berterimakasih. Hendaknya pula mengulangi materi-meteri yang terkait bahasannya agar siswa faham.
Ketujuh, bilamana ada murid yang belajar sangat keras melebihi batas kemampuannya, atau masih dalam batas kemampuannya akan tetapi guru takut hal itu akan membuat murid bosan, maka guru menasihati murid tersebut agar mengasihi dirinya sendiri dan mengingatkannya pada sabda Rasulullah Saw:
“Orang yang telah hilang kekuatannya Itu, tiada bisa memutus bumi dan Hada pula kendaraan
tunggangannya.”
Bimbing murid agar perlahan-lahan dan bersikap biasa-biasa saja dalam kesungguhan belajarnya. Jika murid sudah kelihatan jenuh, bosan, atau ada tanda-tanda mengarah ke sana, guru memerintahkan murid agar beristirahat dan mengurangi kesibukan. Tidak diperkenankan menganjurkan murid agar mempelajari sesuatu yang berada di luar tingkat pemahaman dan usianya. Tidak juga menulis hal-hal yang pikiran murid belum mampu memahaminya. Jika guru dimintai saran oleh orang yang tidak diketahui tingkat pemahaman dan kemampuan menghafalnya, perihal mempelajari satu bidang ilmu atau buku tertentu, maka guru tidak perlu menyarankan sesuatu apapun sampai guru mengetes pikirannya dan mengetahui seperti apa kondisi dia sebenarnya. lika keadaannya tidak memungkinkan, maka sarankan dia untuk membaca referensi yang mudah dalam disiplin ilmu yang dia inginkan. Dan jika pikirannya terlihat mampu menangkap dan pemahamannya bagus, maka sarankan dia untuk pindah mempelajari buku yang sesuai dengan kemampuannya. Tapi jika keadaannya tidak seperti itu, maka jangan menyarankan apapun. Sebab memindahkan murid ke buku lain di mana pemindahannya itu menunjukkan baiknya tingkat pemikirannya, bisa menambah gairah dia dalam belajar. Sedangkan jika dia dipindah ke tingkatan buku yang menunjukkan buruknya tingkat pemikirannya, maka bisa menurunkan semangat belajarnya.
Seorang murid mustahil menekuni dua bidang ilmu atau lebih sekaligus, jika tidak mampu menguasainya dengan baik. Seharusnya dia mendahulukan ilmu yang lebih penting untuk dipelajari. Jika guru memiliki keyakinan atau dugaan kuat akan ketidaksuksesan murid dalam mempelajari suatu disiplin ilmu, maka sarankan dia agar meninggalkan ilmu itu dan beralih ke bidang lain yang diharapkan bisa berhasil dikuasai.
Kedelapan, hendaklah sang guru tidak menampakkan menonjolnya pelajar di hadapan kawan- kawan lainnya dengan menunjukkan kasih sayang perhatiannya padahal mereka sama sifat, umur / pengalaman ilmu agamanya karena itu semua menyakitkan hati, akan tetapi jika diantara mereka ada yang semangat dan bertata krama lah lebih sopan maka tampakkanlah kesopananya dan terangkan kepada mereka bahwa dia memuliakannya karena sebab itu maka tidak apa- apa.karena itu bisa menumbuhkan dan menimbulkan sifat seperti itu begitu pula tidak boleh mendahulukan salah seorang murid dengan giliran yang lain dan mengerjakan yang lainnya kecuali bila ada masalahnya bisa menambah maslahah giliran itu, apabila bisa dimaklumi.
Kesembilan, guru hendaklah lemah lembut kepada para murid dan menyebutkan murid yang tidak hadir, dengan penuh perhatian, mengetahui nama-nama mereka, nasab, asal dan mendoakan mereka agar mereka senantiasa baik, mengawasi tingkah laku dan tata kramanya secara dhohir ataupun batin, jika diantara mereka tampak sesuatu yang tidak layak seperti melakukan sesuatu yang haram atau makruh, kerusakan, malas atau kurang sopan baik kepada guru atau orang lain, ataupun banyak membicarakan sesuatu yang tidak berfaidah, bergaul kepada seseorang yang tidak patut digauli maka hendakmya sang guru mencegahnya dihadapan yang menyebabkan itu dengan mengarahkannya dan tidak menyalahkannya. Apabila itu semua tidak dapat menyelesaikan masalah maka diperingatkan secara rahasia (tertutup) atau dihadapan dua orang tersebut. Namun apabila hal itu belum bisa menyelesaikan maka dinasehati dengan agak keras berupa kata-kata yang lebih merasuk dan menjelaskan dihadapan umum.dan apabila masih belum bisa, maka diusir hingga jera dan mau kembali apabila jika dia sampai takut sebagian kawan akrabnya yang akan memojokkannya.
Kesepuluh, memperhatikan hal-hal yang akan merawat interaksi di antara sesama murid, seperti menyebarkan salam, bertutur kata yang baik dalam berbicara, saling mencintai, tolong- menolong dalam kebaikan dan ketakwaan, dan juga dalam mencapai tujuan-tujuan bersama selama mencari ilmu. Pokoknya, di samping guru mengajarkan hal-hal yang bermanfaat bagi agama mereka dalam beribadah kepada Allah subhdnahu wa tafild, guru juga mengajarkan hal- hal yang berguna bagi mereka dalam berinteraksi dengan sesama agar sempurna agama dan dunia mereka.
Kesebelas, berusaha untuk mewujudkan kebaikan bagi murid dan menjaga konsentrasi pikiran mereka. Menolong murid dengan memanfaatkan apa yang dimiliki oleh sang guru seperti status sosial dan harta, jika guru mampu untuk itu dan tidak sedang berada dalam kebutuhan yang mendesak.
“Sesungguhnya Allah akan menolong hambanya selama hamba itu menolong sesamanya. Barangsiapa membantu mewujudkan kebutuhan saudaranya, maka Allah akan mengabulkan kebutuhannya juga. Dan barangsiapa yang memudahkan jalan bagi orang yang kesusahan, maka Allah Ta’ala akan memudahkan proses perhitungan amalnya kelak di hari kiamat.”
Terutama, jika bantuan yang diberikan untuk kepentingan menuntut ilmu.
Keduabelas, jika ada murid kelas atau peserta kajiannya absen tidak seperti biasanya, maka guru harus menanyakannya, bagaimana kondisinya, dan siapa saja relasinya. lika tidak mendapatkan kabar tentangnya, maka guru hendaknya mengirim surat kepadanya atau lebih baik mendatangi rumahnya langsung. Jika dia sakit, jenguklah dia. Jika dia dalam kesusahan, ringankan penderitaannya. Jika dia dalam perjalanan, cari tahu siapa keluarganya dan orang yang berhubungan dengannya, tanya kepada mereka tentang murid tersebut dan berusaha untuk membantu memenuhi kebutuhan mereka, dan menyambung tali silaturahim dengan mereka sebisa mungkin walau dengan doa.
Ketahuilah, murid yang baik jauh lebih banyak memberi balasan kepada gurunya berupa kebaikan dunia dan akhirat dibandingkan orang yang terkaya sekalipun dan kerabat terdekat dari guru tersebut. Oleh sebab itu, ulama terdahulu yang mengajak kepada Allah dan agamanya melemparkan jaring kesungguhan untuk menangkap murid yang bakal berguna bagi orang lain dalam kehidupan dunia dan akhirat mereka. Bahkan kalau guru memiliki satu murid saja yang ilmu, perbuatan, kezuhudan, dan bimbingannya bermanfaat bagi orang banyak, niscaya satu murid itu sudah cukup menjadi amal kebaikan sang guru di sisi Allah Ta’ala. Sebab, bila ada sedikit ilmu saja yang tertransfer dari satu orang kepada orang lain sehingga orang lain tersebut bisa mengambil sisi manfaatnya, maka sang penyebar ilmu pertama akan mendapatkan bagian pahala, sebagaimana keterangan dalam hadis sahih dari Nabi Muhammad Saw:
“Jika seorang hamba meninggal dunia, amal perbuatannya terputus kecuali tiga perkara:
sedekah jariyah, Ilmu yang bermanfaat, dan anak salih yang mendoakan orang tuanya.”
Nah, ketiganya terejahwantahkan dalam diri seorang pengajar ilmu. Aktivitas mengajarkan ilmu dan inemahamkannya termasuk sedekah, seperti sabda Rasulullah tentang orang yang melakukan shalat sendirian, “Siapa yang mau bersedekah kepada orang ini?” Maksudnya, dengan cara ikut shalat bersamanya supaya diperoleh keutamaan shalat berjamaah. Pengajar ilmu mendatangkan keutamaan ilmu kepada muridnya, di mana keutamaan ilmu lebih unggul daripada keutamaan shalat berjamaah sebab dengan ilmu kemulian dunia dan akhirat bisa dicapai. Ilmu yang bermanfaat sudah jelas ada pada diri pengajar, karena dialah yang menjadi jembatan supaya ilmu sampai kepada setiap orang yang mengambil keuntungan dari ilmu tersebut. Sedangkan doa dari anak yang salih, menurut kebiasan yang berlaku dalam peristilahan para ahli hadis dan ulama, sama dengan doa murid untuk guru-gurunya.
Ketigabelas, hendaknya seorang guru merendahkan hati terhadap seorang murid atau siapa pun yang bertanya tentang pribadinya dengan Allah SWT.
Allah SWT berfirman kepada Nabi Muhammad Saw:
“dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang beriman yang mengikutimu.” (Q.S. as- Syu’ara: 215)
Nabi Muhammad Saw menegaskan bahwa Allah SWT memerintahkan hambaNya untuk merendahkan hati. Tidaklah seseorang yang merendahkan hatinya, akan diangkat derajatnya oleh Allah SWT.
Keempatbelas, berbicara dengan setiap murid, terutama murid yang memiliki kelebihan, dengan kata-kata yang menunjukkan penghormatan dan penghargaan. Memanggil mereka dengan sebutan yang mereka sukai. Menyambut mereka dengan hangat setiap kali bertemu dan ketika mereka menghadap guru. Memuliakan mereka ketika sedang duduk bersama, beramah- tamah dengan menanyakan keadaan mereka dan orang yang bersangkutan dengan mereka sesudah menjawab salam mereka. Menyambut mereka dengan muka berseri, ceria, penuh cinta, dan kasih sayang. Terutama kepada murid yang masih bisa diharapkan berhasil dan yang sudah berhasil dalam prestasi belajarnya.
Kesimpulannya, bagaimana guru memahami wasiat Rasulullah Saw dalam hadis riwayat Abu
Sa’id al-Khudri
“Sesungguhnya orang-orang mengikuti kalian. Dan akan ada beberapa orang berdatangan kepada kalian untuk belajar agama. Maka jika mereka telah mendatangi kalian, maka berwasiatlah kepada mereka perihal kebajikan.”








