Kitab Tauhid

Kitab Aqidah Islamiyah Karya Sayyid Sabiq

Pengokoh Ketuhanan

Kini marilah kita memperbincangkan tentang wujudnya Tuhan itu dari segi pengokohan yang dikeruniakan olehNya kepada kaum yang beriman padaNya.

Bukti-bukti adanya Tuhan diantaranya lagi ialah bahwa ummat yang beriman kepada Tuhan dengan keimanan yang sebenar-benarnya, mereka itulah ummat yang tertinggi dari yang lain-lainnya perihal ilmu pengetahuan dan lebih banyak pula peradaban dan tata kesopanannya. Selain ity juga pasti lebih suci jiwanya, lebih bersih hatinya, lebih banyak pengorbanannya dan lebih suka mengalahkan diri sendiri dan paling banyak memberikan kemanfaatan keya, da sesama manusia.

Resapkanlah baik-baik, apakah kiranya yang menye. babkan perubahan watak dan tabiat mereka itu, apa pula yang memalingkan kecondongan dan kegemaran mereka itu yang tentunya tidak sedemikian itu jadinya. sekiranya mereka itu bukan orang-orang yang beriman. Apakah kiranya yang menjuruskan arah mereka itu sehingga lebih senang menuju kepada yang hag, benar, baik, indah. bagus dan sempurna ?

Mengapakah mereka yakni kaum yang mukmin itu tidak berkeadaan seperti yang lain-lainnya yakni yang tidak beriman kepada Allah Ta’ala, yaitu tetap bersifat keras kepala dan diliputi oleh kebodohan, kekasaran watak, kebusukan jiwa, kegelapan dalam hati nurani, kerusakan akhlak dan budi pekerti serta ala binatang dalam mencari tuntutan dan kebutuhannya ? Sudah pastilah bahwa dibalik semua jni ada rahasia yang terpendam.

Sebenarnya rahasianya itu mudah saja diketahui dan bukan terlalu pelik untuk diselidiki. Rahasia itu ialah bahwa kaum mukminin itu memang sengaja diberi oleh Allah Ta’ala suatu pertolongan yang berupa kekuatan yang dapat digunakan untuk membetulkan perikemanusiaannya, agar de: ngan demikian dapatlah dicapai setinggi-tinggi kesempur naan hidup yang dapat diperoleh manusia sebagai makhluk Tuhan. Jadi adanya perubahan dalam jiwa kaum mukminin. sifat-sifat, akhlak atau budi pekerti serta kecondongan kecondongan itu adalah merupakan bukti yang seterang terangnya tentang adanya kekuatan rohaniah yang amat rahasia dan tersembunyi yang bekerja secara diam-diam dibalik tubuh yang kasar ini. Kesan-kesan sedemikian ini tampak jelas dalam apa yang ditempuh oleh kaum mukminin dalam perjalanan hidupnya dan dengan ikatan-ikatan yang penuh rahasia itu pula akan dicapainya kedudukan yang setinggi-tingginya.

Bukti-Bukti Dari Naqal (Keterangan Agama)

Diantara bukti-buktinya yang dapat kita saksikan tentang wujudnya Tuhan yang Maha Esa itu ialah bahwa para nabi dan rasul yang terpilih dari sekian banyak hamba-hambaNya, mereka itu semua adalah manusia yang amat pilihan sekali, seluruhnya itu sejak zaman nabiullah Adam a.s. sampai kezaman Rasulullah Muhammad s.a.w. mempunyai satu garis penyiaran yang benar-benar sama dan sejalan, yaitu memberitahukan dengan pasti kepada seluruh ummat manusia bahwa di alam semesta ini ada Tuhan yang Maha Bijaksana. Oleh segenap nabi dan rasul itu hanya satu itulah pokok penyiaran yang disampaikannya yang merupakan hal yang terpenting sekali.

Perihal bukti-bukti kebenaran para rasul itu kiranya tidak perlu diperbincangkan disini, sebab hanya manusia yang mengingkari terangnya cuaca dipanas matahari saja yang kiranya akan menanyakan kebenaran beliau-beliau itu. Allah Ta’ala sendiri memberikan pengokohan untuk beliau-beliau itu, dengan mengalahkan segenap musuh dan lawannya, kemudian menjadikan kalimat Tuhan sebagai mercusuar yang tertinggi sedang kalimat kekufuran dibenamkan sampai kebawah sekali.

Oleh sebab itu, bukti apakah pula yang hendak diinginkan ? Ucapan mana pulakah yang kiranya lebih gamblang kebenarannya dari pada sabda para rasul dan nabi shadiqin, benar dalam ucapannya terhadap Allah Ta’ala, berikhlas hati untukNya, penganjur untuk mengajak menuju jalanNya yang benar, membela keagungan agamaNya dan memperoleh pengokohan yang berupa kemukjizatan dari padaNya.

Tidak Ada Sandaran Yang Kuat Untuk Mengingkari

Sebagai ujung pembahasan dalam persoalan ini baiklah kami tekankan disini bahwa memang tidak ada suatu buktipun yang menetapkan tentang ketiadaan Allah Ta’ala itu. Ringkasnya tidak mungkin ada bukti apapun mengenai hal diatas itu yang dapat digunakan sebagai sandaran dan pegangan, baik dari segi akal fikiran ataupun dari segi penyelidikan ilmu pengetahuan.

Apakah yang diucapkan oleh kaum penentang tentang adanya Allah itu sebenarnya tidak lain hanyalah menggy, nakan dasar yang sama sekali tidak kokoh, tidak kuat, amat lemah sekali dari segi alasan dan hujahnya, tidak juga menggunakan kecantikan yang sehat, juga tidak dapat didasarkan kepada ilmu pengetahuan yang dapat di. pertanggung-jawabkan.

Penentangan semacam ini sebenarnya bukanlah barang yang baru bagi ummat manusia, juga bukan hanya hidup dizaman kita sekarang ini saja. Persoalan penentangan atau tegasnya pengingkaran perihal adanya Tuhan itu adalah soal kuna, yang amat lama sekali usianya. Dahulu persoalan sedemikian itu sudah pernah dihadapi oleh para nabi disepanjang generasi dan masa.

AlQuran Alkarim sendiri sudah menyebutkan perihal penentangan dan pengingkaran itu, sebagai berikut :

,,Mereka berkata : ,,Tidak ada lain kehidupan kita ini kecuali kehidupan di dunia sekarang ini saja. Kita mati dan kita . hidup dan tidak ada yang menyebabkan kerusakan (kematian) kita ini melainkan berlalunya masa (sudah tua)”.

Mereka itu tidak mempunyai pengetahuan yang benar perihal apa yang mereka katakan. Mereka itu tidak lain hanyalah mendasarkannya kepada sangkaan-sangkaan belaka”. S. Jatsiah 24.

Cobalah bayangkan, apakah disitu ada perbedaannya antara apa yang diucapkan orang-orang kuna dahulu dizaman jahiliah dengan apa yang diucapkan oleh orang-orang sekarang pada zaman kita ini yang menurut istilah mereka dinamakan sebagai masa perkembangan cahaya dan ilmu pengetahuan ?

Padahal dalam masa kemajuan sebagaimana zaman sekarang ini dimana keadaan ilmu pengetahuan sudah memuncak terus dan belum pernah ada pencapaian sebelum: nya itu, ternyata seluruh penyelidikan dalam ilmu-ilmu yang modern tadi tidak dapat mengingkari akan adanya Allah Ta’ala, bahkan semuanya menetapkan bahwa benar-benar ada Dzat yang Maha Kuasa yang menciptakan alam semesta ini. Sementara itu para sarjana-sarjana dari ilmu-ilmu pengetahuan, para cerdik cendekiawan, malahan termasuk orang-orang yang amat kuat keimanannya kepada Tuhan. Tentu saja yang kami maksudkan disini bukanlah para sarjana yang termasuk kaum materialis atau yang masih dangkal isinya, tetapi yang kami maksudkan adalah benarbenar para sarjana yang sudah mendalam dan yang matang penyelidikannya secara hakiki.

Apa yang kami uraikan diatas itu dapatlah dikuatkan dengan ucapan yang disiarkan oleh Dr. Denret, demikian :

,,Dari penelitian untuk pemecahan pendapat-pendapat golongan ilmu falsafat yang dilakukan oleh para sarjana yang besar-besar dan ternama, dengan maksud untuk mengetahui bagaimana kepercayaan-kepercayaan yang dianut mereka itu, maka ternyatalah bahwa dari sejumlah 290 sarjana, perihal kepercayaan keagamaannya tercatat sebagai berikut :

242 orang dari para sarjana itu menyatakan percaya dan beriman secara sempurna kepada Allah.

28 orang menyatakan belum sampai menemukan kepercayaan yang dimantapi.

20 orang menyatakan tidak memperhatikan pemikiran pemikiran mengenai keagamaan.

Letakkanlah perimbangan angka-angka diatas dalam neraca. Kita dapat menemukan bahwa lebih dari 90% secara perhitungan kasar sudah menyatakan dengan terang terangan akan keimanannya kepada Tuhan dengan melalui penyelidikan-penyelidikan ilmu pengetahuan yang mereka lakukan. Sementara itu sebagian dari mereka masih dalam keragu-raguan atau tidak menaruh perhatian sama sekali tentang kepercayaan keagamaan, sesuai dengan penelitian ilmu pengetahuan yang dilakukan itu.

Sekalipun demikian, kita dapat berharap dan berbaik sangka bahwa golongan yang masih dalam kebimbangan itu pada suatu saat nanti rasanya akan dapat juga sampai kepada hakikat yang sebenarnya, sedang bagi yang belum memperoleh petunjuk dari ilmu pengetahuan yang diselidikinya untuk dapat sampai kepada bidang yang dikaruniakan oleh Allah ta’ala, tidak mustahil bahwa mereka itupun mengalami kekurangan dalam penelitiannya dan andaikata kekurangan itu sudah dipenuhi dan disempurnakan, sudah pasti akan dapat pula mencapai kepada kebenaran yang diinginkan dan pasti akan mengakui akan adanya Dzat yang Maha Agung itu.

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21Laman berikutnya
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker