Kitab Tauhid

Kitab Aqidah Islamiyah Karya Sayyid Sabiq

Selanjutnya jikalau kita berpindah dari persoalan atom dan kita menengadahkan kepala keatas sebentar untuk melihat matahari, maka kita mendapatkan suatu keajaiban yang lebih-lebih lagi.

Resapkanlah apa yang dikemukakan oleh para sarjana kosmografi :

,,Matahari adalah benda bulat berbentuk bola yang penuh berisi zat api yang jauh lebih dahsyat dan lebih dapat membakar dari semua api yang ada di bumi.

Matahari adalah lebih besar dari pada bumi, lebih dari Sejuta kalinya. Tentang letaknya jauhnya dari kita ini, diperkirakan ada kira-kira 92.500.000 mil. Demikian keadaan Matahari itu dan sekalipun demikian, ia tidak lain hanya sebuah bintang saja dan bukan termasuk dalam golongan bintang yang terbesar.

Ada suatu persoalan yang memusyrikkan tetapi amat mengajaibkan yang lain lagi yakni pemecahan terakhir yang dilakukan akal fikiran para ahli falak dan sarjana-sarjana perbintangan.

Sebagaimana dapat diketahui dari ilmu pembentukan lapisan bumi terdapat sebuah uraian yang menyatakan bahwa matahari itu secara terus-menerus tetap memancarkan ukuran atau kadar panasnya, selama berjuta-juta tahun. Jikalau panas yang diberikannya itu adalah hasil dari pembakarannya, maka apakah sebabnya matahari itu tidak pernah kehabisan bahan bakarnya, padahal sudah dipakainya sejak berjuta-juta tahun yang lampau ? Jadi dengan keterangan ini jelaslah rasanya bahwa jalan pembakaran yang berlangsung pada matahari itu tidaklah sebagaimana yang lazim kita ketahui ini, sebab andaikata proses pembakarannya itu seperti yang ada dibumi, maka kiranya untuk menerangi jagad ini hanyalah cukup untuk digunakan selama 6000 tahun saja dan setelah itu pasti akan habislah daya panasnya.

Mengenai kelebihan atau keistimewaan yang diberikan oleh matahari kepada kita semua ini, maka dapatlah kita ketahui bahwa matahari itu bukanlah hanya sebagai sumber cahaya serta api kita ini saja, tetapi matahari juga merupakan sebagai sumbu dari susunan tatasurya kita dan sebagai sumber kehidupan kita. Bukankah matahari itu yang menguapkan air lautan kemudian mengangkatnya keatas dan beralih menjadi awan di angkasa untuk selanjutnya berubah pula menjadi hujan yang turun diatas permukaan bumi ini. Dari inilah timbulnya saluran air sungai besar dan kecil yang dapat mengairi sawah ladang kita, lalu menumbuhkan tanam-tanaman kita pula. Selain itu matahari juga yang meniupkan angin, menyebabkan timbulnya gelombang lautan dan menjadikan udara menjadi bersih dan suci. Ia pula yang menggerakkan kapal dan perahu ditengah samudera besar, bahkan ia pulalah yang menjalankan kendaraan-kendaraan, memutarkan mesin-mesin berasap dan lain-lain lagi. Betul bahwa mesin-mesin itu dijalankan oleh arang batu, tetapi bukankah arang batu itu hanyalah berasal dari panas cahaya yang terpendam sejak bertahun-tahun yang lampau. Lama benar tersimpannya itu untuk dapat diambil kemanfaatannya oleh putera-putera dunia yang datang kemudian.

Ringkasnya andaikata tidak ada matahari, sudah pasitilah tidak akan ada pula kehidupan bagi binatang dan tumbuh-tumbuhan. Binatang-binatang menjadi bersemangat karena panas matahari itu, burung-burungpun bersiul setelah tampak sinarnya, mengucapkan tasbih serta memahasucikan Dzat yang Maha Menciptakannya. Juga karena panas dan sinar matahari itu pula tanam-tanaman tumbuh, pohon-pohonpun menjadi kian hari kian bertambah besar, bunga-bungapun muncul, buah-buahanpun menjadi masak dan banyak lagi akibat-akibat lain yang ditimbulkan olehnya.

Kita semua amat berhutang budi pada matahari itu karena kita terpaksa menggantungkan padanya akan hasil makan dan minum kita semua. Itulah sebab adanya kita diatas permukaan bumi ini”.

Jikalau kita sekalian sudah puas rasanya untuk melihat keindahan dan kedahsyatan matahari, maka marilah kini kita melihat kelain benda lagi. Kita akan menemukan bahwa :

,,Sedekat-dekat bintang yang ada disisi bumi kita ini setelah matahari itu sama dengan 260.000 kali jauh matahari dari kita”,

Ini dianggap sebagai bintang yang tersuram cahayanya kalau ditilik dari bintang-bintang Bimasakti yang oleh orang-orang kuna disebutnya dengan nama ,,Jalan penanaman”.

Bahkan tatasurya yang terdiri dari berbagai bintang yang merupakan tatasurya, kita ini hanyalah akan dianggap sebagai sebuah atom kecil saja, jikalau dibandingkan dengan gugusan Bimasakti itu, sebab isi kandungannya ini: adalah sebanyak seratus juta bintang yang terpencar dan tersebar luas seolah-olah sebagai suatu bidang yang luas secara nisbi.

Pengarang buku ,,Ilmu Falak Umum” yang bernama Herbert Spenser Jones berkata :

Cahaya memakan waktu selama seratus ribu tahun untuk dapat sampai antara kedua tepi gugusan bintang. bintang Bimasakti. Sebagaimana telah dimaklumi bahwa cahaya itu berjalan dengan kecepatan sebanyak 116.000 mil setiap detik atau 300.000 kilometer.

Berdasarkan uraian ini, maka ketentuan cahaya setahun itu sama dengan sepuluh biliyun kilometer.

Padahal apa yang dikenal dengan nama gugusan bintang-bintang Bimasakti yang sudah mencapai kebesaran sebagaimana diuraikan diatas itu, yang akal fikiran manusia sudah pasti tidak mungkin akan meraihnya, kiranya tidak lain hanyalah salah satu dari sekian banyak susunan yang ada di alam cakrawala yang sama sekali tidak dapat dihitung.

Masih ada sebuah lagi yang tertinggal yang perlu kita maklumi yakni bahwa gedekat-dekat tatasurya yang mendampingi tatasurya kita ini jauhnya ialah dalam jarak tujuhratus ribu tahun cahaya.

Kini setelah kita mengetahui dan memahami uraian (liatas itu. maka marilah kita renungkan dalam akal fikiran kemudian bertanya : Apakah mungkin diterima oleh akal kita bahwa semua keadaan semacam susunan tatasurya dan lain-lain itu timbulnya hanyalah dari sel atau dengan jalan proses yang ditumbuhkan oleh sel belaka ?

Sesungguhnya pendapat yang mengatakan bahwa sel itulah yang sebagai permulaan adanya alam semesta ini, maka yang sedemikian itu sungguh-sungguh tidak dapat tergambarkan oleh akal yang sehat, tidak pula dapat cocok dengan ilmu pengetahuan yang hakiki dan agaknya tidak seorangpun yang akan mengatakannya itu, melainkan jikalau ia telah kehilangan kekhususiatannya yang membedakan antara manusia dengan yang bukan manusia. Manusia semacam ini rasanya sudah tidak dapat menemukan kebenaran dan tidak pula dapat membeda-bedakan sesuatu dengan lainnya.

Seorang failasuf bangsa Jerman, bernama Edward Harenman wakil dari Syopenhor berkata dalam bukunya yang bernama ,,Aliran Darwin”, demikian : ,,Sebenarnya pendapat yang menetapkan ketiadaan kesengajaan dalam alam semesta ini yang dianut oleh pengikut Darwinisme adalah suatu pendapat yang sama sekali tidak dapat dibuktikan. Itu hanyalah disebabkan karena adanya angan-angan salah yang sama sekali tidak ada dasarnya dalam penyelidikan ilmu pengetahuan”.

Prof. Von Bayer bangsa Jerman dalam bukunya yang berjudul ,,Kedangkalan aliran Darwin”, mengatakan :

Apabila golongan Darwinisme itu melancarkan suara sekeras-kerasnya bahwa memang tidak ada kesengajaan dalam pembuatan atau penciptaan alam semesta ini, atau . dengan kata lain bahwa alam ini terjadinya tidak lain hanya karena suatu proses kebetulan belaka yang semata-mata terpimpin oleh kedaruratan yang buta, maka saya berkeyakinan bahwa salah satu kewajiban saya ialah saya harus menyatakan disini apa yang telah menjadi keyakinan dan kepercayaan saya dalam persoalan ini.

Adapun keyakinan saya itu adalah sebagai kebalikan sama sekali dari yang tersebut diatas. Saya berpendapat bahwa semua kedaruratan inilah justeru yang membuka bahwa disana ada berbagai tujuan yang luhur dan besar”.

Ustadz alkabir Mohammad Farid Wajdi — rahimahullah — setelah menguraikan persoalan ini, maka pada akhir katanya menyebutkan : .,Jikalau sekiranya kita dapat merasa puas dengan beratus-ratus puncak ilmu pengetahuan dan filsafat mengenai pendapat perihal tidak adanya unsur kesengajaan dalam penciptaan alam semesta dan jagad raya ini, maka tentulah kita tidak diharuskan untuk mengikuti yang itu, lebih dari apa yang sudah jelas tertera dalam nash-nash agama (dalil naqal)”. ,

Oleh sebab itu, manakala sudah tetap bahwa penciptaan alam semesta ini memang karena adanya kesengajaan, maka tetap pulalah perihal adanya Tuhan sebagai Dzat Maha Pengatur yang bijaksana, Maha Mulia dan Tinggi, yakni dari jalan yang sama-sama dapat dirasakan. Dengan demikian tidak ada jalan lain untuk membantah atau mengingkarinya dan ini tepat sekali dengan apa yang difirmankan oleh Allah Ta’ala :

,,Apakah dalam Dzat Allah masih ada keragu-raguan, yaitu Tuhan Maha Pencipta langit dan bumi ?” S. Ibrahim 109.

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21Laman berikutnya
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker