Kitab Tauhid

Kitab Aqidah Islamiyah Karya Sayyid Sabiq

Penyelewengan Dari Jalan Yang Ditempuh Para Rasul Dan Akibatnya

Semenjak kedaulatan Negara Tauhid berdiri dibawah pimpinan Rasul Tuhan yang terakhir yakni Nabi Besar Muhammad s.a.w. keadaan ‘akidah masih tetap dalam kesuciannya yang berasal dari wahyu Ilahi dan ajaran-ajaran yang diberikan dari langit. Dasar utamanya yang digunakan sebagai pedoman adalah AlQuran dan Assunnah. Pada tingkat permulaan arah yang dituju ialah memberikan didikan dalam watak dan tabiat, meluhurkan sifat-sifat yang bersangkutan dengan gharizah kalbu dan cara didikan yang harus dilalui dan ditempuh. Maksudnya ialah agar setiap manusia dari kalangan masyarakat itu dapat memperoleh keluhuran yang sesuai dengan kehormatan dan kemuliaan dirinya dan dengan demikian akan tumbuhlah suatu kekuatan secara automatis yang amat kokoh dalam kehidupan.

Selanjutnya setelah datang masa kekhilafatan yang banyak bersendikan soal siasat dan politik, apalagi setelah ada hubungannya dengan cara-cara pemikiran yang ditimbulkan berbagai mazhab yang berdasarkan filsafat atau yang di bawa oleh agama-agama lain kemudian memaksa Otak manusia supaya menyelami sesuatu yang ia tidak kuasa mencapainya, maka Itulah yang menjadi sebab pokok sehingga terjadinya pergantian atau penyelewengan dari jalan yang lazim ditempuh oleh para nabi dan rasul Inj pula yang merupakan aebah ulama mengapa keimanan yang asalnya cukup luas dan mudah diterima, tetapi yang amat tinggi nilainya itu lalu menjadi berbagai macam pemikiran yang berisikan filsafat atau menjadi bahan kiasan yang banyak diperselisihkun menurut ketentuan mantik atau ilmu bahasanya. juwa menjadi pokok perdebatan dan perselisihan pendapat yang kiranya hampir menyerupai persengketaan bizantium. yang tidak berujung dan berpangkal sama sekali.

Ajaran keimanan yang sudah berubah itu akhirnya tidak lagi mencerminkan keimanan yang dengannya dapatlah jiwa menjadi suci, amal perbuatan menjadi mulia dan baik ataupun yang dapat memberi semangat gerak pada perorangan atau yang dapat memberikan daya hidup pada ummat dan bangsa.

Sebagai bekas dari adanya perselisihan dalam persoalan-persoalan siasat dan politik itu dan disebabkan pula adanya penyelewengan dari jalan yang lazim ditempuh oleh para rasul Tuhan sebagai fithrah, “bahkan ditambah pula dengan kesan-kesan pemikiran-pemikiran secara mazhab dan aliran yang baru datang dan dilanjutkan pula oleh pemaksaan akal untuk menyelidiki yang bukan semestinya, sehingga akhirnya penganjur-penganjur ‘akidah itu berpecah-belah menjadi beberapa golongan yang memberikan pengajaran yang berlain-lainan, berbeda antara satu dengan lainnya. Setiap ajaran atau madrasah mencerminkan suatu corak tersendiri dari cara pemikiran yang tertentu. Masing-masing pihak menganggap bahwa apa yang dimiliki dan dipegang itu sajalah yang benar, sedang yang tidak cocok dengan pendapatnya adalah salah belaka. Demikianlah anggapan setiap golongan itu. Malahan ada anggapan yang lebih kejam lagi dari itu yakni siapa saja yang tidak masuk dalam golongan kelompoknya, maka menurut pandangannya dianggap sudah keluar dari Islam.

Oleh karena itu, maka disana timbullah madrasah untuk ahli hadits. disitu ada madrasah kaum ‘Asy’ariah, disini ada pula madrasah bagi kaum Maturidiah. Ada pula mad: rasah untuk kaum Mu’tazilah, madrasah kaum Syi’ah, madrasah kaum Jahmiah dan masih banyak lagi madrasah-madrasah yang berlain-lainan dan berbeda-beda aliran dan mazhabnya. malahan berselisih pula pendapat-pendapatnya antara yang segolongan dengan golongan lainnya.

Ada seorang ahli sya’ir berkata :

,,Setiap orang mengaku, Ada hubunganku dengan puteri Laila. Tetapi Laila sendiri membisu, Tidak ikut disini ataupun sana. Dikala air mata sudah bertimbun, Membasahi seluruh pelupuk mata, Nyatalah nanti siapa sebenarnya yang menangis Dan siapa pula yang berpura-pura”. Diantara perselisihan yang tersohor yang memperluas jurang antara ummat Muhammad yang satu ini ialah yang terjadi antara kaum ‘Asy’ariah dan kaum Mur’tazilah.

Pokok-pokok utama yang menyebabkan timbulnya pertengkaran dan perbedaan pendapat itu ialah yang berkisar dalam hal-hal dibawah ini :

  1. Apakah keimanan itu sebagai kepercayaan saja ataukah kepercayaan dan amal perbuatan ?
  2. Apakah sifat-sifat Allah Ta’ala yang dzatiah itu kekal padanya ataukah dapat lenyap dari padanya ?
  3. Manusia itu musayyar atau mukhayyar ?

Tentang musayyar atau mukhayyar, harap diperiksa dalam bab Takdir.

  1. Apakah wajib atas Allah Ta’ala itu mengerjakan yang baik atau yang terbaik, ataukah tidak wajib ?
  2. Apakah baik atau buruk itu dapat dikenal dengan akal atau dengan syari’at ?
  3. Apakah Allah Ta’ala itu wajib memberi pahala kepada orang yang taat dan menyiksa pada orang yang bermaksiat, ataukah tidak wajib yang sedemikian itu ?
  4. Apakah Allah Ta’ala itu dapat dilihat diakhirat nanti taukah hal itu mustahil sama sekali ?
  5. Bagaimanakah hukumnya seseorang yang menumpuk-numpuk dosa besar dan sehingga matinya tidak bertaubat ?

Dan masih banyak lagi persoalan-persoalan yang merupakan bahan perselisihan pendapat antara berbagai golongan kaum muslimin dan itu pula yang menyebabkan tersobek-sobeknya ummat Islam menjadi berbagai-bagai golongan dan partai.

Benar-benar menyedihkan, sebab sebagai hasil dari pada pertengkaran yang tidak berujung pangkal ini. juga sebagai bekas dari perpecahan itu. lalu kaum muslimin membuat suatu kesalahan yang amat besar sekali, suatu kekeliruan yang amat berbahaya.

Apakah itu ? Yaitu bahwa ‘akidah yang asalnya teguh dan mantap telah menjadi goyah dan goncang dalam hati, keimananpun tidak meresap tertanamnya dalam jiwa, sehingga ‘akidah itu tidak lagi dapat menguasai pada jalan kehidupan yang harus ditempuh oleh setiap manusia muslim dan bahkan keimanan itu sendiri tidak dapat lagi menjadi pusat pemerintahan yang menjiwai segala tindak dan langkahnya orang yang mengaku sebagai pemeluknya.

Sebagai kelanjutan dari ‘akidah yang sudah lemah itu. lalu kelemahan itu merata pula pada peribadi perorangan. seluruh keluarga, masyarakat dan negara dan bahkan pengaruh kelemahan tadi mengenai pula segala segi kehidupan ummat manusia. Kelemahan itu merayap disegenap penjuru, sehingga ummat itu akhirnya tidak kuasa lagi bangun dan bergerak sampai menurun kepada generasi-generasi yang berikutnya, tidak pula dapat memberikan pertanggungan jawabnya baik kedalam maupun keluar.

Ummat Islam tidak lagi menetapi sebagaimana yang (dikehendaki oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadi pribadi yang cukup cakap untuk menjadi pemimpin ummat serta pemberi petunjuk kepada seluruh bangsa di dunia. Ini adalah akibat dari kelemahan yang datang bertubi-tubi sebagaimana diuraikan diatas itu.

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21Laman berikutnya
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker