Kitab Tauhid

Kitab Aqidah Islamiyah Karya Sayyid Sabiq

Jalan Yang Ditempuh Para Rasul Dalam Menanamkan ‘Akidah

Sekalian rasul Tuhan memberitahukan kepada masingmasing ummatnya ‘akidah sebagaimana yang tersebut dimuka dan mereka menempuh cara yang semuanya itu dapat dikatakan mudah, ringan dan gampang. Juga semuanya itu mudah dimengerti, difahamkan dan diterima. Beliaubeliau ‘alaihimus salam itu menyuruh ummatnya supaya mengarahkan pandangan mereka ke kerajaan langit dan bumi, digerakkanlah akal fikiran mereka itu supaya suka mengenang-ngenangkan serta memikir-mikirkan tanda-tanda kekuasaan Tuhan. fithrahnya dibangunkan agar jiwanya dapat menerima tanaman dengan mempunyai perasaan yang teguh lagi cocok dalam beragama dan selain itu diajaknya pula merasakan suatu alam lain yang ada dibalik alam semesta yang dapat dilihat ini.

Diatas landasan-landasan sebagaimana diatas itu pulalah Rasulullah — shalawatullah wa salamuhu ‘alaih — menanamkan ‘akidah itu dalam hati dan jiwa ummatnya, umat Muhammad yang terbesar ini.

Beliau s.a.w. menyuruh agar pandangan mereka diarahkan dan pemikiran mereka ditujukan kejurusan ini. Akal mereka digerakkan dan fithrah mereka dibangunkan sambil mengusahakan penanaman ‘akidah itu dengan memberikan didikan, lalu disuburkan dan dikokohkan, sehingga dapat mencapai puncak kebahagiaan yang dicita-citakan.

Rasulullah s.a.w. dapat mengubah ummat yang asal mulanya sebagai penyembah berhala dan patung, yang dahulunya melakukan syirik dan kufur menjadi ummat yang ber’akidah tauhid, mengesakan Tuhan Seru sekalian alam. Hati mereka dipompa dengan keimanan dan keyakinan. Sementara itu beliau s.a.w. dapat pula membentuk sahabat-sahabatnya menjadi pemimpin-pemimpin yang harus diikuti dalam hal perbaikan budi dan akhlak, bahkan menjadi pembimbing-pembimbing kebaikan dan keutamaan. Bahkan lebih dari itu lagi, karena beliau s.a.w. telah membentuk generasi dari ummatnya itu sebagai suatu bangsa yang menjadi mulia dengan sebab adanya keimanan dalam dada mereka. berpegang teguh pada hak dan kebenaran. Maka pada saat itu ummat yang langsung dibawah pimpinannya adalah bagaikan matahari dunia, disamping sebagai penga jak kesejahteraan dan keselamatan pada seluruh ummat manusia.

Allah Ta’ala membuat kesaksian sendiri pada generasi itu bahwa mereka itu benar-benar memperoleh ketinggian dan keistimewaan yang khusus, sebagaimana firmanNya :

,,Kamu semua adaluh sebaik-baik ummat yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kebaikan mencegah kemunkaran dan beriman kepada Allah”. S. Ali ‘Imran 110

Keimanan yang dimiliki oleh sebagian sahabat-sahabat beliau s.a.w. itu sampai mencapai suatu tingkat yang dapat dikatakan : ,Andaikata tabirpun disingkapkan, tidaklah bertambah keyakinanku”. Maksudnya ialah sudah penuh dan ada dipuncak yang tertinggi, maka sekalipun tabir keghaiban terbuka, keyakinan itu tidak dapat ditambah lagi.

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Harits bin Malik Anshari r.a. terdapat suatu gambaran yang gamblang untuk memberikan pengertian kepada kita, betapa dahsyatnya keimanan yang dimiliki oleh sebagian sahabat: sahabat beliau s.a.w. Inilah gambaran yang cemerlang sekali mengenai keimanan seseorang.

Diceriterakan bahwa Haritsah berjalan melalui tempat Rasulullah s.a.w. lalu beliau s.a.w. bertanya dengan sabdanya :

Bagaimanakah engkau berpagi-pagi ini. hai Haritsah ? Haritsah menjawab . ,,Saya sebagai seorang mukmin yang sungguh-sungguh”.

Rasulullah s.a.w. bersabda lagi : ,,Fikirkanlah baik-baik apa yang kaukatakan itu, sebab segala sesuatu itu pasti ada kenyataannya. Maka dari itu, apakah kenyataan keimananmu ?”.

Haritsah menjawab : , Jiwaku tidak memperhatikan lagi keduniaan. Waktu malam saya beriaga dan waktu siangnya saya haus (artinya malam bangun shalat dan siang berpuasa).

Seolah-olah saya melihat ‘arasy Tuhanku yang tampak jelas.

Seolah-olah saya melihat para ahli surga saling: ziarah-menziarahi dan seolah-olah saya melihat para ahli neraka sama berteriak-teriak didalamnya”.

Rasulullah s.a.w. lalu bersabda : Engkau sudah benar-benar mengerti itu, hai Haritsah, Kalau begitu, tetapilah”.

Hadits ini diriwayatkan oleh Thabrani dengan sanad dla’if.

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21Laman berikutnya
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker