Kini kita kembali kepada perbincangan mengenai tiga macam theori dimuka.
Jikalau yang pertama dan yang kedua sudah dapat diyakinkan ketiadaan benarnya, sebab memang nyata-nyata keluar dari bidang-bidang yang dapat diterima oleh akal fikiran serta cara penyelidikan dan ilmu pengetahuan, maka tidak ada lain yang dapat digunakan sebagai pegangan kecuali theori yang ketiga.
Adapun isi dari theori ini ialah bahwa jagad raya yang maujud ini pasti ada penciptanya dan ada pengaturnya. Inilah yang pasti sesuai dengan akal fikiran serta cara penelitian yang sehat. Pendapat semacam itu pulalah yang menyebabkan Socrates mempercayai serta beriman kepada Allah, juga yang dapat menundukkan Aristophanes yang mengingkari adanya Ketuhanan. Keduanya pernah mengadakan suatu percakapan yang dapat kami kutipkan sebagai berikut :
Socrates :
Adakah orang-orang yang dapat mengherankan Tuan karena kepandaian mereka atau karena keindahan buatannya?
Aristophanes :
Ya ada memang, seperti dalam hal sajak atau puisi saya sangat tertarik dan heran sekali kepada syair-syair ceritera dari Homero, dalam bidang lukisan ialah Zoxes dan dalam hal pembuatan patung ialah Polextic.
Socrates :
Pencipta-pencipta manakah yang kiranya patut lebih diherankan, yakni pencipta gambar-gambar yang tanpa dapat memberi akal serta gerakan ataukah yang menciptakan benda-benda yang juga dengan memberinya akal fikiran serta kehidupan ?
Aristophanes :
Tentu saja patut lebih diherankan yang menciptakan benda-benda yang dapat merasakan kenikmatan dengan memiliki akal fikiran serta kehidupan. Tetapi itupun yang terjadinya bukan karena sebagai hasil dari keadaan yang merupakan kebetulan belaka.
Socrates :
Apakah kiranya patut dianggap sebagai hal yang kebetulan, jikalau sekiranya anggauta-anggauta tubuh ini diberikan untuk digunakan maksud atau tujuan-tujuan yang tertentu, misalnya saja seperti mata yang dapat melihat, telinga dapat mendengar, hidung dapat mencium, lidah dapat merasakan. Lihat pula seperti mata ini disekitarnya terdapat berbagai penjagaan, karena sangat besar rasa keinderaan- nya dan pula sangat lemahnya. Oleh karena itu diwaktu tidur pasti ditutupkan ataupun juga ditutupkan diwaktu ada keperluan, dilindungi pula dengan bulu mata dan alis diatasnya.
Demikian pula seperti telinga, didalamnya diberi suatu alat penerima yang dapat mengumpulkan segenap macam suara .dan masih banyak lagi contoh yang lain-lain.
Cobalah Tuan fikirkan, patutkah itu semua terjadinya sebagai hasil dari yang secara kebetulan ?
Selain itu dapat pula dikemukakan adanya kecondongan dalam hati untuk mempunyai keturunan, begitu pula perasaan iba dan kasih sayang yang ada didalam kalbu setiap ibu terhadap anaknya, padahal suatu hal yang amat jarang sekali bahwa seorang ayah atau ibu dapat menerima balasan kemanfaatan atau keuntungan dari anaknya itu. Sementara itu bagaimana hal-ihwal seorang bayi yang dengan sendirinya lalu dapat memperoleh pengertian untuk menyusu dan cara menyusunya itu, sebentar setelah ja dilahirkan. Apakah menurut pendapat Tuan hal itu semua terlaksana hanya sebagai hasil yang didapat secara kebetulan ?
Aristophanes :
Tentunya juga bukan karena kebetulan. Yah, saya baru mengerti sekarang dengan secara pasti bahwa disana memang ada petunjuk akan adanya penciptaan. Tetapi yang pasti ialah bahwa yang menciptakan itu tentu bersifat sangat agung sekali, yang mencintai akan adanya segala yang hidup. Namun masih ada yang menyukarkan otak saya, – karena mengapa kita semua tidak dapat melihat yang menciptakan itu ?
Socrates :
Kalau begitu kita sudah menemukan titik yang sama yaitu mengakui adanya Maha Pencipta yang Maha Agung dan Mencintai kehidupan dialam semesta ini. Tentang persoalan mengapa kita tidak dapat melihat Maha Pencipta, maka saya Ingin mendapat jawaban Tuan, yaitu apakah Tuan merasa mempunyai nyawa, sebab kalau Tuan tidak her. nyawa, tentunya Tuan sudah mati. Punyakah atau tidak ?
Aristophanes :
Ya, tentu saja saya punya. Mengapa ?
Socrates :
Jikalau demikian sudah mudah pemecahannya. Mengapa Tuan sendiri tidak dapat melihat nyawa yang menguasai diri Tuan sendiri.
Jadi kalau Tuan tidak pernah melihat nyawa Tuan, apakah ini berarti kita boleh mengatakan bahwa pekerjaan-pekerjaan yang timbul dari diri Tuan itu adalah semata-mata disebabkan karena secara kebetulan semuanya, tanpa ada pemikiran sebelumnya ?
Sampai disini selesailah percakapan kedua orang ahli falsafat itu, yang sungguh-sungguh berfaedah untuk diresapkan dan direnungkan dalam-dalam.
Maha Benarlah Allah Subhanahu wa Ta’ala yang berfirman :
,,Dan setengah dari pada tanda-tanda (ayat-ayat) mengenai adanya Allah ialah malam dan siang, serta matahari dan bulan. Janganlah kamu semua bersujud kepada matahari atau kepada bulan. Tetapi bersujudlah kepada Allah yang Maha Menciptakan semuanya itu, jikalau kamu semua benar-benar menyembahNya”. S.Fushshilat 37.









One Comment