Kitab Tauhid

Kitab Aqidah Islamiyah Karya Sayyid Sabiq

Apa Sebabnya ‘Aqidah Itu Satu Dan Kekal

‘Akidah sebagaimana yang diuraikan dimuka itu oleh Allah Ta’ala dijadikan umum dan merata untuk seluruh ummat manusia, kekal sepanjang masa, sebab sudah nyatalah bekas-bekas kemanfaatan dan keperluannya, baik dalam kehidupan perorangan ataupun perkembangan masyarakat ramai.

Marilah kita kupas secara terperinci :

Pertama ialah ma’rifat kepada Allah Ta’ata yang akan memancarkan berbagai perasaan yang baik dan dapat dibina diatasnya semangat untuk menuju kearah perbaikan. Marrifat ini dapat pula memberi didikan kepada hati untuk senantiasa menyelidiki dan meneliti mana-mana yang salah dan tercela, malahan dapat menumbuhkan kemauan untuk mencari keluhuran kemuliaan dan ketinggian budi dan akhlak dan sebaliknya juga menyuruh seseorang supaya menghindarkan dirinya dari amal perbuatan yang hina, rendah dan tidak berharga sedikitpun.

Kedua ialah ma’rifat kepada malaikatnya Allah Ta’ala. Hal ini dapat mengajak hati sendiri untuk mencontoh dan meniru perilaku mereka yang serba baik dan terpuji itu, juga dapat tolong-menolong dengan mereka untuk mencapai yang hak dan luhur. Selain itu mengajak pula untuk memperoleh penjagaan yang sempurna, sehingga tidak satupun yang timbul dari manusia itu melainkan yang baik baik dan segala tindakannya pun tidak akan ditujukan melainkan untuk maksud yang mulia belaka.

Ketiga ialah ma’rifat kepada kitab-kitab suci Allah Ta’ala. Ini adalah suatu ma’rifat yang memberikan arah untuk menempuh jalan yang lurus: bijaksana dan diridlai oleh Tuhan yang tentunya sudah digariskan oleh Allah Ta’ala agar seluruh ummat manusia itu mentaatinya. Sebabnya ialah karena hanya dengan melalui jalan inilah, maka seseorang itu dapat sampai kearah kesempurnaan yang hakiki, baik dalam segi kebendaan (materi) atau segi kerohanian dan akhlak (adabi).

Keempat ialah ma’rifat kepada rasul-rasul Allah Ta’ala. Dengan mar’ifat ini dimaksudkan agar setiap manusia itu mengikuti jejak langkahnya, memperhias diri dengan meniru akhlak para rasul itu. Selain itu juga bersabar dan tabah hati dalam mencontoh sepak terjang beliau-beliau itu sebab sudah jelaslah bahwa tindak langkahnya para rasul itu mencerminkan suatu teladan yang tinggi nilainya dan yang bermutu baik sekali, bahkan itulah yang merupakan kehidupan yang suci dan bersih yang dikehendaki oleh Allah Ta’ala agar dimiliki oleh seluruh ummat manusia.

Kelima ialah ma’rifat kepada hari akhir dan ini akan menjadi pembangkit yang terkuat untuk mengajak manusia itu berbuat kebaikan dan meninggalkan keburukan.

Keenam ialah ma’rifat kepada takdir dan ini akan memberikan bekal kekuatan dan kesanggupan kepada seseorang untuk menanggulangi segala macam rintangan, siksaan, kesengsaraan dan kesukaran. Sementara itu akan dianggap kecil sajalah segala penghalang dan cobaan. sekalipun bagaimana juga dahsyat dan hebatnya.

Hal-hal sebagaimana diatas itu tampak dengan jelas bahwa ‘akidah itu tujuan utamanya memberi didikan yang baik dalam menempuh jalan kehidupan, menyucikan jiwa lalu mengarahkannya kejurusan yang tertentu untuk mencapai puncak dari sifat-sifat yang tinggi dan luhur dan lebih utama lagi supaya diusahakan agar sampai tingkatan mar’ifat yang tertinggi.

Menempuh jalan yang dilandasi oleh didikan yang mur. ni dan utama yang dilakukan oleh seseorang dengan me: lalui penanaman ‘akidah keagamaan adalah suatu saluran yang terbesar yang paling tepat dalam memperoleh cita-cita pendidikan terbaik.

Sebabnya demikian itu ialah karena agama itu nyata-nyata mempunyai suatu kekuasaan yang tertinggi dalam hati dan jiwa juga memberikan kesan yang mendalam pada perasaan, bahkan rasanya tidak ada kekuasaan atau pengaruh serta kesan yang dapat ditimbulkan oleh hal-hal lain yang dapat lebih menghasilkan dari pada agama itu sendiri, baik yang sudah dicoba oleh para cerdik cendikiawan para ahli kebijaksanaan ataupun para sarjana pendidikan.

Jadi teranglah bahwa penanaman ‘akidah atau kepercayaan didalam hati dan jiwa itu adalah setepat-tepatnya jalan yang wajib dilalui untuk menimbulkan ungur-unsur kebaikan yang dengan bersendikan itu akan terciptalah kesempurnaan kehidupan, bahkan akan memberikan saham yang paling banyak untuk membekali jiwa seseorang dengan sesuatu yang lebih bermanfaat dan lebih sesuai dengan petunjuk Tuhan.

Bentuk pendidikan yang semacam ini akan memberikan hiasan kehidupan itu dengan baju keindahan, kerapihan dan kesempurnaan, juga menaunginya dengan naungan kecintaan dan kesejahteraan.

Manakala kecintaan sudah terpateri dalam kalbu dan berkuasa untuk menimbulkan tindakan, maka pastilah permusuhan akan lenyap, pertengkaran akan sirna, persepakatan akan diperoleh sebagai ganti percekcokan dan persahabatan akan muncul sebagai ganti permusuhan. Dengan demikian seluruh manusia akan saling dekat-mendekati, hubung-menghubungi dan muncullah kerukunan, persatuan serta ikatan yang seerat-eratnya. Setiap orang akan berusaha untuk memberikan sumbangan sebanyak-banyaknya guna kebaikan ummat dan masyarakat dan sebaliknya ummat dan masyarakat itupun berusaha keras untuk memberikan kebahagiaan kepada setiap perorangan serta menyumbangkan tenaganya untuk kebaikan siapapun.

Dari segi ini tampaklah betapa besar hikmatnya, mengapa keimanan itu dijadikan umum dan kekal, tidak berbeda antara keimanan yang diajarkan oleh Tuhan dizaman dahulu dan dizaman sekarang, bahkan dimasa dan di tempat manapun. Semua sama dan satu macam.

Tidak suatu generasi atau ummatpun yang dibiarkan kosong oleh Allah Ta’ala tanpa mengutus rasulNya kepada mereka itu yang diberi tugas.untuk mengajak kepada keimanan yang sedemikian ini serta menancapkan dalam-dalam akarnya ‘akidah itu dalam hati.

Sebagian besar dakwah untuk pembaharuan ‘akidah itu diberikan oleh Allah Ta’ala setelah rusaknya hati ummat manusia dan tersesatnya kepercayaan yang mereka miliki: juga runtuhnya semua akhlak dan perikemanusiaan. Disaat itu pasti nyata sekali kebutuhan manusia kepada suatu kekuasaan yang ampuh yang dapat mengembalikan mereka kepada fithrah aseli mereka yang benar dan sejahtera. Bimbingan semacam itu mutlak diperlukan oleh umat, agar secara langsung dapatlah manusia itu meneruskan perbaikan kemakmuran bumi dan agar kuat pula untuk membawa amanat kehidupan di alam semesta ini.

‘Akidah ini merupakan ruh bagi setiap orang: dengan berpegang teguh padanya itu ia akan hidup dalam keadaan yang baik dan menggembirakan, tetapi dengan meninggalkannya itu akan matilah semangat kerohanian manusia. Ia adalah bagaikan cahaya yang apabila seseorang itu buta dari padanya, maka pastilah ia akan tersesat dalam liku-liku kehidupannya, malahan tidak mustahil bahwa ia akan terjerumus dalam lembah-lembah kesesatan yang amat dalam sekali.

Dalam hal ini Allah Ta’ala berfirman :

..Adakah orang yang sudah mati, kemudian Kami (Allah) hidupkan dan Kami berikan padanya cahaya yang terang yang dengannya itu ia dapat berjalan ditengah-tengah manusia, sama dengan orang yang dalam keadaan gelap gulita yang ia tidak dapat keluar dari situ ?”, S. An’am 122.

Memang. akidah adalah sumber dari rasa kasih sayang yang terpuji, ia adalah tempat tertanamnya perasaan-perasaan yang indah dan luhur, juga sebagai tempat tumbuhnya akhlak yang mulia dan utama. Sebenarnya tidak suatu keutamaan pun, melainkan ia pasti timbul dari situ dan tidak Suatu kebaikanpun, melainkan pasti bersumber dari padanya.

AlQuran Alkarim, diwaktu memperbincangkan perihal kebaikan, maka disebutkanlah bahwa ‘akidah itulah yang menjadi perintis atau pendorong dari amal-amal perbuatan yang shalih itu. Jadi ‘akidah diumpamakan sebagai pokok yang dari situlah munculnya beberapa cabang, atau sebagai fundamen yang diatasnyalah bangunan didirikan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

..Bukanlah kebaikan itu jika kamu semua menghadapkan mukamu kearah timur atau barat, tetapi yang disebut kebaikan itu ialah kebaikan seseorang yang beriman kepada Allah, hari akhir (hari kiamat), malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi, memberikan harta yang dicintainya itu kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, orang yang terlantar dalam perjalanan, orang minta-minta, orang-orang yang berusaha melepaskan perbudakan, mendirikan shalat, menunaikan zakat, memenuhi janji apabila berjanji, sabar dalam kesengsaraan dan kemelaratan dan juga diwaktu peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar dan merekalah orang-orang yang bertaqwa kepada Allah”. .S. Baqarah 177.

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21Laman berikutnya
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker