Amalan ruh jismani dengan dasar berbagai ilmu lahir ini ganjarannya hanyalah surga. Di sini akan ditampakkan pantulan sifat-sifat Allah berupa cahaya. Tapi, untuk masuk ke kawasan suci, tak cukup dengan menguasai ilmu lahir saja, karena itu adalah wilayah langit. Seorang hamba harus terbang untuk menuju ke sana. Untuk bisa terbang, kita perlu dua sayap (ilmu lahir dan ilmu batin). Jadi, hanyalah hamba yang menguasai ilmu dua ilmu, yaitu ilmu lahir dan ilmu batin yang dapat terbang ke alam tersebut. Sebagaimana difirmankan oleh Allah Ta’ala dalam sebuah hadits qudsi,
“Wahai hamba-Ku, jika engkau ingin menapaki wilayah kesucian-Ku (Haram-Ku) maka janganlah engkau terpukau pada alam mulki, alam malakut, dan alam jabarut. Sebab sesungguhnya alam mulki itu setan bagi orang alim, sementara alam malakut itu setan bagi orang ‘arif, dan alam jabarut itu setan bagi orang waqif (orang yang
masuk ke alam qudsiyah). Orang yang tergiur (dan ridha) dengan salah satu dari semua itu maka dia akan terusir dari sisi-Ku.”
Maksud dari hadits ini adalah, terusir dari wilayah kedekatan dengan-Nya (alam al- qurbah), bukan terusir dari surga. Meski mereka mencari al-qurbah, namun tidak akan pernah sampai. Ini karena mereka mendambakan sesuatu yang tidak mungkin bisa dicapai, padahal ia hanya memiliki satu sayap (Ilmu lahir) saja.
Sementara itu, orang-orang yang mencapai alam al-qurbah (dekat dengan Allah) berarti telah sampai pada tingkatan sempurna. Di sana ia mendapatkan anugerah yang tidak pernah terlihat oleh mata, tidak pernah terdengar oleh telinga, dan tidak pernah terbesit di hati manusia. Itu adalah Surga Al-qurbah, yang di dalamnya tidak terdapat bidadari, istana, madu, dan susu.
Maka dari itu, sudah sepantasnya manusia tahu kualitas dirinya, dan tidak mengakui tingkatan (maqam) apa tidak pantas baginya.
Amirul mukminin Ali bin Abi Thalib karamallahu wajhah berkata, “Allah menyayangi orang yang mengetahui kualitas dirinya, tidak melampaui batas, menjaga lisannya, dan tidak menyia-nyiakan umurnya (yang tersisa).”
Maka dari itu, seorang ‘alim haruslah mampu mencapai makna hakikat manusia yang disebut thiflul ma’aani (bayi maknawi), lalu menjaganya dengan cara senantiasa melazimkan asma-asma tauhid. Setelah itu, mengeluarkan diri dari alam jasmani menuju alam ruhani, yaitu alam tersembunyi (sirri), yang tak ada di dalamnya selain Allah. Jika dianalogikan maka ia laksana gurun cahaya yang tidak bertepi, sementara thiflul ma’aani akan terbang menuju alam al-qurbah (kedekatan dengan-Nya), melihat berbagai keajaiban dan keanehan di alam tersebut.
Itu adalah tempat para ahli tauhid (maqam al-muwahhidin) yang telah tenggelam (fana”) dalam keesaan-Nya. Di alam tersembunyi itu mereka tidak melihat kecuali cahaya keindahan Allah (Jamalullah). Ini seperti seseorang yang tidak dapat melihat dirinya sendiri saat diterpa cahaya sinar matahari yang sangat kuat. Jadi, saat
berhadapan dengan keindahan Allah (Jamalullah), manusia tidak dapat melihat dirinya sendiri karena silau akan cahayanya.
Nabi Isa bin Maryam as., “Manusia tidak akan dapat masuk ke alam malakut langit
sampai ia dilahirkan dua kali, sebagaimana burung yang dilahirkan dua kali.”
Maksud dari kelahiran kedua pada manusia adalah terlahirnya thiflul ma’aani (bayi maknawi) yang tidak lain merupakan buah dari pengelolaan maksimal manusia atas al-insan al-hakiki. Dan itu adalah rahasianya. Dimana wujud dan ilmu-ilmunya akan tampak jelas dengan menyatunya cahaya ilmu syariat dengan ilmu hakikat. Ini sebagaimana seorang anak tidak akan lahir kecuali dengan bertemunya sperma laki- laki dan ovum perempuan.
Allah Ta’ala berfirman,
“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur.”
(al-Insaan: 2)
Dan setelah nampaknya makna ini, itu artinya ia (thiflul ma’aani) telah melewati samudera makhluk menuju puncak hakikat. Seluruh alam yang ada di lingkungan alam ruh akan terasa laksana setetes air di lautan. Setelah itu, ilmu-ilmu ruhani dan ladunni akan menyeruak luas tanpa huruf dan suara.









One Comment